
Jhon menatap Nathan, pria itu menarik napas panjang dan berkata,"Ini di sebelah saya, rencana Minggu depan saya anak Menikah dengan Meli."
Mendengar itu Zara langsung tersedak. Nathan awalnya terkejut, tapi dengan cepat merubah mimik wajahnya.
Nathan melihat ke arah asistennya itu, pria itu menoleh pada istrinya.
"Sejak kapan?" tanya Zara.
"Apanya, Nona?"
Zara menatap Jhon dan Meli bergantian dan bertanya,"Sejak kapan kalian jadian, selama ini Meli tidak cerita. Eh, tunggu jangan-jangan pria yang kamu ceritakan itu Jhon?"
Meli yang malu wanita itu langsung menundukkan kepalanya, hal itu membuat Jhon gemas. Namun, pria hanya diam karena saat ini sedang di depan umum.
"Meli apa itu benar?" Zara begitu penasaran.
"Iya, Nona." Meli semakin menunduk karena malu ada majikannya.
"Astaghfirullah, jadi pria yang kamu bilang romantis itu Jhon." Zara menepuk lengan Meli gemes.
"Sayang, jangan seperti itu kasihan Meli sudah malu," kata Nathan.
Zara menatap Meli. Istri dari Nathan itu hanya tersenyum dan berkata,”Aku akan menyiapkan pernikahan kalian.”
“Tapi Nona.”
“Tidak ada penolakan, kamu bukan hanya sahabat. Kamu itu sudah aku anggap adik jadi jangan panggil Nona lagi, Panggil aku Zara saja,” ujar Zara.
Jhon menatap Nathan, melihat bosnya itu mengangguk tanda setuju akhirnya membuat pasangan itu lega.
Kini mereka kembali lagi makan. Hingga Nathan berkata,” Maryam besok datang.”
Zara menoleh, wanita itu menatap suaminya minta penjelasan karena ia tidak tahu kalau mantan suaminya itu akan datang.
“Apa Maryam menghubungimu?” Zara menatap lekat netra suaminya untuk mencari kejujuran dari Nathan.
“Sayang aku dikasih tahu Jhon,” jawab Nathan.
Kini Meli dan Zara menatap Jhon, Hal itu membuat pria itu hanya bisa menelan salvianya.
“Maryam hanya ingin minta penjelasan pada Tuan Nathan, kenapa tiba-tiba tuan besar memecatnya,” jelas Jhon.
“Aku meminta Jhon mengatur pertemuanku dengan Maryam, agar semua selesai,” ujar Nathan.
__ADS_1
Zara mendengar apa yang dikatakan suaminya hanya mengangguk, tapi jujur wanita itu juga ada rasa was-was karna bagaimanapun, Nathan dan Maryam sudah menjalin hubungan begitu lama.
Rasanya tidak ikhlas suaminya menemui mantannya, tapi melihat Nathan sampai mabuk dan merasa begitu sakit hati karena melihat wanita yang begitu dicintainya sedang berhubungan begitu intim.
“Apa aku boleh ikut?” tanya Zara.
“Apa kamu tidak kerja?” Nathan menatap istrinya.
“Bisa digantikan Meli,” jawab Zara.
Nathan akhirnya mengangguk, pria itu tidak ingin ada yang ditutupinya dari istrinya.
Zara tersenyum,ia merasa lega. Padahal tadi agak ragu, tapi karena suaminya sudah mengizinkan akhirnya wanita itu yakin Nathan benar-benar ingin menyelesaikan hubungannya dengan mantan kekasihnya.
“Apa Tuan masih berhubungan dengan Nona Maryam?” tanya Meli yang begitu penasaran.
“Tidak, Wanita itu dulu selingkuh,” jawab Nathan.
“Dulu juga selingkuh, tapi masih dimaafkan,” kata Meli, tapi segera menutup mulutnya.
Zara terkekeh mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Namun, wanita itu melihat suaminya hanya diam. Merasa jika apa yang dikatakan Meli benar apa adanya.
“Kalau pertama selingkuh dimaafkan, boleh juga dicoba,” goda Zara.
Zara langsung memeluk lengan suaminya, wanita itu tersenyum girang. Lalu berkata,”Saat aku tahu kalau Mike pergi dan ayah mencarikan suami pengganti aku membalas bukan dengan berselingkuh, tapi kami langsung menikah.”
Nathan menari napas, beruntung ia menerima permintaan Tama waktu itu, jika tidak sudah pasti Diego yang akan menjadi mempelai prianya.
“Makasih,” kata Nathan.
“Makasih untuk apa?” tanya Zara,
“Saat itu kalau saja aku tidak mau menikah denganmu, Diego yang akan maju,” ujar Nathan.
“Serius?” tanya Zara.
“Lalu alasan apa Tuan terma pada hal Anda sudah menjalin hubungan dengan Nona Maryam?” tanya Meli.
“Saat minta waktu pada ayah untuk bertemu, Zara adalah wanita yang menolongku dari kejaran anak buah Mike,” ujar Nathan.
“Aku tidak ingat jika tidak menemukan potongan kain dari gamisku.” Zara mengingat kejadian sebelum ia kembali ke indonesia.
Tanpa diduga itu pertama keduanya bertemu sebelum menikah, Tapi setidaknya ia dan Mike tidak sampai menikah. Wajah Zara berubah sendu, jika mengingat bagaimana sang bunda yang meninggal begitu tragis.
__ADS_1
Nathan melihat istrinya pasti ingat bundanya akan langsung diam dengan raut wajah sedih. Pria itu menggenggam tangan Zara. Hal itu tidak luput dari perhatian Jhon dan Meli.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Zara dan Nathan pamit lebih dulu. Sedangkan Jhon besok akan baru mengantar Meli pulang.
“Tuan, kenapa aku tidak langsung saja ikut nona Zara?” tanya Meli.
“Kamu harus menemaniku tidur malam ini,” jawan Jhon.
“Tidur saja, ingat itu Tuan Mesum,” kata Meli dengan nada penekanan.
Jhon terkekeh, pria itu segera beranjak dari duduknya, diulurkannya tangannya. Melihat itu Meli tersenyum dan menyambutnya.
Kini keduanya jalan menuju mobil dengan tangan saling menggenggam. Jhon yang biasa begitu dingin kini sudah mencair.
Jhon membukakan pintu mobil untuk wanitanya, setelah itu pria itu juga segera masuk dan duduk di belakang kemudi.
Selama dalam perjalan hanya ada keheningan, Mobil berhenti di basement. Jhon tersenyum melihat wanita di sampingnya sudah terlelap. Pria itu segera membuka pintu dan keluar untuk membuka pintu samping Meli.
Jhon mengendong Meli, pria itu menekan lift dan segera masuk. Kebetulan ia bertemu Rosi. Rosi diam-diam memperhatikan pria di depannya itu.
Suara pintu lift akan terbuka, Jhon segera keluar dan menuju unti apartemennya.
“Butuh bantuan?” tanya Rosi.
Jhon hanya menggelengkan kepalanya, pria itu tidak mungkin memberitahu password apartemennya pada orang asing.
Setelah pintu terbuka, Jhon segera masuk dan menuju ke kamar. Pria itu membaringkan tubuh Meli, wanita itu sama sekali tidak terusik selama di gendongannya.
Ditatapnya wajah cantik tanpa make up itu.”Kamu pasti akan aku bahagiakan, Sayang.”
Setelah mengatakan itu Jhon segera menuju ke kamar mandi. Setelah sepuluh menit pria itu keluar dan lagi-lagi tersenyum karena selimut yang ditubuh Meli sudah terjatuh.
Jhon mengambil selimut, pria itu kembali memasangkan di tubuh wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya.
“Makasih, kamu wanita yang pertama dan terakhir dalam hidupku Meli.” Jhon menarik tubuh Meli dalam dekapannya.
Pria itu terkejut saat tubuh Meli naik di atas tubuhnya, setelah itu kembali lagi tidur dengan telungkup di atas tubuhnya.”Aku bisa tidak tidur kalau begini Sayang.”
Saat Jhon akan menurunkan tubuh Meli, Wanita itu erat memeluknya seakan tidak mau. Jhon akhirnya membiarkan kekasihnya tidur di atas tubuhnya, tapi sialnya sesuatu di bawah sana on karena tubuh Meli menghimpitnya.”Sayang bangun.”
Namun, bukan bangun. Meli terlihat terusik tidurnya hingga badanya bergerak, hal itu membuat Jhon tersiksa.
__ADS_1