Secret Wedding

Secret Wedding
Para anggota Red Shadows


__ADS_3

Nathan menoleh dan menatap semua satu persatu.


Kemudian Nathan itu menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ada yang berkhianat kecuali Carla dan Erlan sendiri, tapi semua itu hanya diucapkan dalam hatinya saja.


Mereka kembali fokus dengan peta di atas meja.


”Saat transaksi nanti Pasada akan membawa anak buahnya yang handal untuk menjaga sekitarnya.” Erlan menunjuk bagian penting yang akan dijaga.


“Apa kamu akan ikut?” taya Zara yang langsung ditatap tajam oleh Nathan.


Zara menoleh ke suaminya, wanita itu begitu gemas dan langsung mengecup bibir suaminya singkat membuat yang lain terkejut melihat apa yang dilakukan wanita berhijab itu


“So sweet, Erlan aku mau,” rayu Carla yang langsung disentil oleh pria itu.


Carla memanyunkan bibirnya, setelah itu semua kembali lagi fokus akan penjelasan Erlan, begitu juga Nathan lebih serius setelah mendapatkan suntikan semangat dari istrinya.


 


Hari ini, kelompok sembilan penjahat elit itu telah berkumpul di tempat persembunyian rahasia mereka di pinggir kota. 


Rencana besar akan segera dilaksanakan, dan pasukan yang dipimpin oleh Erlan sedang menggodok strategi terakhir yang akan mengguncang Pasada hari ini. Mereka yang dikenal sebagai "The Red Shadows," mencuri, merampok, dan beberapa di antaranya bahkan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi jalan mereka.


Hening sesaat terjadi setelah pasca kisruh selama beberapa menit. Nathan, pemimpin de facto kelompok The Red Shadows, menghela nafas dan mulai menguraikan rencana detail mereka kembali.


"Erlan, malam ini jika kita perlu memotong komunikasi perangkat saat transaksi. Zara, pastikan perlengkapan kita sudah lengkap dan siap diberikan kepada Pasada sebagai bukti barang dagangan kita masih utuh. Carla, kamu akan menunggu di pos cadangan dengan senjata yang telah kita peroleh, siap untuk memberikan tembakan penutup jika terjadi perkembangan yang tidak diinginkan."


Para anggota Red Shadows mengangguk setuju, sudah terganggu dengan rencana yang mereka dengar sebelumnya. Mereka semua menyadari betapa penting dan berbahayanya misi mereka kali ini. 


Rencananya adalah menjual senjata curian dari gudang pemerintah kepada kartel kejahatan bernama Pasada yang terlatih dan powerful di wilayah tersebut. 


Erlan memiliki agen infiltrasi yang memberikan rincian tentang waktu dan tempat yang tepat untuk transaksi berlangsung.


“Kita semua harus bekerja sama dan fokus. Jika kita bekerja dengan baik, kesuksesan ini akan membuka jalan bagi The Red Shadows untuk menguasai dunia kejahatan sepenuhnya. Sekarang, kita harus bersiap,” tegas Nathan.


Zara melihat suaminya seperti itu hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu mengecek semua alat komunikasi karena ia yang akan mengarahkan jalan.


Hari yang ditunggu pun datang. Malam telah tiba, dan anggota The Red Shadows sudah berada di titik pertemuan yang gelap dan terpencil. 


Lokasinya merupakan lumbung gandum tua dan terbengkalai yang dihuni oleh tikus dan nyamuk. Beberapa anggota harus berdiri di pintu besi yang rusak untuk menjaga penampakan dari luar sambil sebagian bersembunyi di belakang tumpukan karung gandum yang tertinggal.


Udara malam yang dingin menusuk tulang, namun itu tidak mengurangi semangat mereka. Cahaya bulan yang redup melalui beberapa celah atap lumbung memantulkan teduh pada wajah para anggota Red Shadows yang tampak tegang. Saat mereka menunggu, Nathan melihat ada kecemasan dan keraguan di wajah Zara.


Zara, Nathan dan Jhon harus membantu Erlan membantu misi ini.


"Kau tak perlu takut," bisik Nathan ke telinga Zara. 


“Aku hanya gemetar,” aku Zara.


"Selama kita bersama, kita aman." Nathan ******* bibir ranum istrinya.


Erlan melihat itu ingin rasanya memukul saudara kembarnya.


Zara tersenyum ke Nathan, lalu menggenggam tangan suaminya erat. Itulah kekuatan yang mereka miliki, karena cinta mereka memberikan keberanian. Dalam benak wanita itu   mungkin ini menjadi malam terpanjang dalam hidupnya.


Tepat pukul dua dini hari, mobil berhenti tidak jauh dari tempat yang dijanjikan Pasada. Dua orang pria keluar untuk melihat situasi.


anak buah Erlan sudah waspada, diantara mereka ada yang sudah siap tinggal menunggu aba-aba dari bosnya.


lima penembak jitu juga sudah siap di tempat yang sudah ditentukan.


Mobil itu masuk dan dengan cepat Jhon dan Nathan langsung menyergap dua pria itu. 


Anak buah Erlan segera membereskan dua pria yang dibuat langsung tak berdaya oleh  Jhon dan Nathan.


Nathan dan Jhon kembali ke tempatnya lagi, jarak tiga puluh menit mobil milik orang yang akan bertransaksi dengan Pasada masuk. 


kini Carla yang keluar dan membawa pria tua itu untuk masuk. sedangkan anak buah dari pria itu disuruh berjaga di di luar.

__ADS_1


Sampai di atas, Carla dibantu Zara langsung menyandera pria itu. pria itu di ikat dan mulutnya di tutup kain.


Setelah selesai, Carla segera keluar dan menunggu Pasada datang, sedangkan Nathan dan Jhon bersiap untuk menyambut Pasada.


Seiring waktu berlalu, Pasada beserta anak buahnya muncul dari balik kegelapan. Mereka berjalan dengan percaya diri dan penuh wibawa, mencerminkan kekuatan dan dana yang dimiliki oleh grup kejahatan mereka. 


Sosok mereka yang menakutkan mengenakan jubah tebal berwarna hitam dengan wajah setengah tertutup, hanya memperlihatkan mata dingin mereka dan mulut yang penuh nafsu.


Jhon yang sedang menyamar memeriksa anak buah Pasada satu per satu dengan pandangan tajam, mengingat informasi dari agen infiltrasinya. Ia ingin memastikan mereka menghadapi pihak yang tepat. Ia mencatat setiap detail dari anak buah Pasada: tato di leher mereka, bekas luka di wajah, bahkan jenis senjata yang mereka pegang.


"Kau?" tanya pria bernama Pasada yang setengah kepala lebih tinggi darinya. Ia memiliki jenggot tebal yang kasar dan suara yang serak. 


"Mobilku sudah siap dengan uangnya. Apakah kau sudah menyiapkan senjata untuk kami?" tanya Pasada dingin


Jhon yang memakai masker mengangguk. "Akan kukirim sinyal kepada anak buahku untuk membawa senjata," balas Jhon tenang dan berwibawa.


Carla, yang sedang bersembunyi di belakang gudang, mendengarkan obrolan itu dengan telinga terketuk. Ia sudah siap dengan dengan senapan mesin ringan yang tersembunyi di balik karung gandum. Begitu mendapat sinyal dari Erlan yang mengedipkan pandangannya ke pintu, dia menghela nafas dan bersiap.


Jhon berbicara kepada Pasada dengan suara rendah, konstan. "Mari kita verifikasi barangmu sebelum kami menyerahkan barang kepada Anda."


Pasada mengangguk dan menggerakkan salah satu anak buahnya, yang dengan berhati-hati membuka koper berisi uang. Jhon melihat isi koper dan memberikan isyarat setuju kepada Nathan.


Nathan menyeringai di balik maskernya.


Di sudut gelap jauh dari tempat kejadian, Erlan memerhatikan semuanya dengan penuh perhatian. 


Ia mengevaluasi setiap gerakan anak buahnya, agar tidak ada kesalahan yang dilakukan. Sesuai rencana, saat Pasada tiba, mereka akan menumpasnya dan mengambil alih bisnisnya yang sangat menguntungkan.


Tepat pukul tiga, sebuah mobil mewah berwarna gelap memasuki lokasi. Dari dalamnya, keluar Pasada - lelaki paruh baya berperawakan tegap - yang segera dikerumuni oleh anak buahnya. Jhon menatap Pasada dengan tatapan tajam dan penuh niat jahat.


Di dalam gedung, pria yang disandera itu mulai panik dan mencoba melepaskan diri dari ikatan yang menyekap tubuhnya. 


Wajahnya memerah karena tercekik oleh kain yang menutup mulutnya. Zara mengamati pria itu dengan ekspresi campur aduk, antara penyesalan dan ketakutan. Namun, dia tahu itu adalah bagian dari rencana Erlan.


Carla menunggu di luar gedung dengan hati berdebar-debar, tangannya berkeringat. Ia merasa takut, tetapi  ingat apa yang Erlan berikan padanya – sebuah radio kecil. Menggenggam erat radio tersebut di tangan, Carla mulai menghitung waktu.


Sementara itu, Erlan  bersiap di posisi mereka. Ia bersembunyi di balik tumpukan kotak di gudang, sementara Zara diselipkan di luar jendela dengan senapan yang diarahkan langsung ke tempat Pasada akan tiba. 


Keduanya penembak jitu terbaik yang kini sudah siap,  sikap keduanya menggambarkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.


Selang beberapa menit, Pasada tiba di tempat pertemuan. Ia melihat sosok wanita yang menunggunya di depan pintu gedung – Carla. Carla menarik napas panjang sebelum menghadapi Pasada.


"Carla, jadi kamu yang akan menemani perundingan kita? Kukira Erlan pasti menempatkan orang lebih berpengalaman untuk menangani urusan seperti ini," cibir Pasada sambil tertawa sinis.


Carla mendesis dalam hati, mengendalikan dirinya dan menatap Pasada dengan senyum manisnya. 


"Erlan percaya pada kemampuanku, Tuan Pasada. Jangan meremehkan apa yang bisa aku lakukan," balas Carla dengan suara tegas.


Pasada mengangkat tangannya dalam jeda, tersenyum lebar. "Baiklah, cukup bertele-tele. Mari masuk, bereskan urusannya, lalu kita bisa kembali ke kehidupan kita.


Mereka memasuki gedung, dan begitu pintu tertutup di belakang mereka, Carla memberi kode kepada Erlan dan Zara lewat earphone. Kedua penembak jitu itu langsung bersiap untuk mengeksekusi rencananya – menghabisi Pasada, dan anak buahnya di luar gedung.


Erlan melihat pergerakan tersebut dari kejauhan. Hatinya memacu adrenalin saat keadaan semakin mendebarkan, ia sangat gugup tetapi senang karena rencana akhirnya dapat.


Pasada tidak tahu apa yang terjadi di luar karena pria itu sedang sibuk dengan transaksi di dalam ruang kedap suara.


Pasada tidak tahu apa yang terjadi di luar karena pria itu sedang sibuk dengan transaksi di dalam ruang kedap suara.


Nathan dan Jhon mulai mengecek uang dan barang-barang milik Pasada. 


Jhon mengangkat tangannya, tidak lama satu tembakan mengenai kaki Pasada.


Pasada terjatuh ke lantai, menjerit kesakitan karena tembakan yang mengenai kakinya. Carla yang terkejut langsung berteriak dan menjauh dari Pasada.


Di  ruang kedap suara itu, Nathan dan Jhon terus mengecek barang-barang milik Pasada. Keduanya adalah agen undercover yang bertugas untuk mengejar  serta menumpas jaringan kejahatan yang melibatkan Pasada.


Mendengar suara tembakan, Nathan berkata, "Apa yang sedang terjadi di sana, Jhon?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Tuan. Tetapi kita harus segera mengambil tindakan. Mereka mungkin akan mencoba melarikan diri," jawab Jhon, sambil berlari ke arah pintu keluar.


Erlan menoleh ke arah Zara." kenapa kakinya? seharusnya jantung atau kepalanya?" 


"Aku tidak ingin membunuh," jawab Zara.


Erlan segera menembak anak buah Pasada yang menyerang Nathan dan Jhon.


Sementara itu, Erlan  yang sudah berhasil menembak beberapa anak buah Pasada bersembunyi di balik pilar. 


"Kita harus memberi mereka kesempatan untuk menyerahkan diri dan membongkar seluruh jaringan kejahatan ini,” kata Zara


"Terserah kamu," desah Erlan, lalu kembali ke persembunyiannya.


Erlan segera menembak anak buah Pasada yang menyerang Nathan dan Jhon. Keduanya bisa mengendalikan situasi, tapi kekhawatiran mereka bertambah ketika mendengar suara teriakan dan tembakan dari ruang kedap suara yang pintunya sudah terbuka.


Zara yang hendak melangkah keluar dari persembunyiannya, mendadak berhenti karena pistol yang menempel di pelipisnya. 


Ia berbalik perlahan dan melihat pria  yang disanderanya tadi lepas dan tersenyum sinis dengan senjata sudah siap untuk memporandakan isi kepala Zara.


"Jangan buat gerakan bodoh, Nona," ucap pria itu. 


"Kalau kamu mencoba melawan atau berteriak minta tolong, aku tak segan-segan menembak jantungmu."


Dalam keadaan terdesak, Zara melihat Nathan dan Jhon yang masih sibuk melawan anak buah Pasada. ia berusaha memberikan isyarat dengan matanya, tapi mereka masih belum menyadari.


Erlan merasa Zara tidak mengikutinya, pria itu menoleh dan begitu terkejut saat melihat Zara sudah di Sandra dengan senjata api di pelipis iparnya itu."Sial!"


Pria tua itu menyuruh Zara untuk berjalan menuju ruang transaksi.


"Berhenti atau kutembak wanita ini!" seru pria itu.


Jhon, Nathan dan anak buah Pasada langsung menghentikan perkelahian. 


Nathan mengeraskan rahangnya melihat istrinya dijadikan Sandra.


Akan tetapi, saat Erlan akan bergerak. Pria itu menyadari dan kini meminta semua menurunkan senjatanya.


Zara memejamkan matanya, wanita itu harus mencari cara agar terbebas dari pria yang kini sedang menyanderanya.


Saat Zara akan menghentakkan kepalanya pada pria itu, satu tembakan mengenai tangan hingga pria itu melepaskan lehernya.


Zara segera menjauh, tapi sedetik kemudian wanita itu tersenyum melihat Tama dan Albert datang dengan menembakkan peluru pada pria tua itu. Sedangkan Nathan dan Jhon segera melumpuhkan anak buah Pasada.


Satu jam kemudian semua berhasil dilumpuhkan, Pasada menatap tajam pada Albert dan Tama.


Tama berjalan dengan tegap walaupun umurnya sudah tidak muda lagi. Pria itu menatap Pasada yang duduk dengan tangan menekan luka di kakinya.


"Kamu sudah kalah, Pasada." Tama tersenyum menatap wajah pucat Pasada.


"Kamu harus sadar siapa lawanmu, tapi aku akan mengucapkan terima kasih karena bagaimanapun kamu sudah membesarkan putraku, tapi kamu sadar tidak ada anak yang akan membunuh orang tuanya sendiri hanya untuk pria sepertimu!" Albert menyeringai dan meminta anak buah Erlan untuk membereskan kekacauan.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Nathan langsung memeluk istrinya.


"Mas, lepas. Kita jadi perhatian yang lain." 


"Biarkan saja." Nathan semakin membuat malu karena pria itu tanpa ragu mengendong istrinya keluar dari gedung itu.


"Dasar Bucin," kata Erlan.


"Erlan." Carla mengulurkan tangannya.


Melihat itu Erlan langsung keluar tanpa memperdulikan wanita yang kini sedang mengejarnya.


Jhon tersenyum melihat tingkah mereka, pria itu keluar bersama Tama dan Albert.


Kini semuanya sudah berada di luar gedung, Nathan sudah tidak ada karena lebih dulu membawa istrinya pulang.

__ADS_1


Kini tinggal Erlan, Tama, Jhon dan Albert.


Albert menatap putranya dan bertanya," Apa rencanamu, Nak. Ingat kamu masih ada kami, mansion akan terbuka untukmu sampai kapanpun?"


__ADS_2