
Mereka makan dengan lahapnya tanpa memperdulikan sekitarnya. dan sepanjang acara makan siangmya, mereka berlima tak henti hentinya bicara.
"loe ternyata lucu juga ya Ris," ucapnya dengan tersenyum kecil.
hal itu membuat Risa menoleh ke arah gadis itu seraya mengerutkan alisnya.
"lucu kenapa,? gue bukan pesulap ya, jadi nggak ada yang lucu," ucapnya mendegus kesal. namun, percayalsh hal itu hanya gurauan semata.
tak lama berselang, Syafira dan teman temanya datang yntuk makan siang juga.
"wah, hebat banget ya, si Feby, baru juga putus dari Reza, udah sama Rangga aja," Syafira berkata dengan sinisnya.
Feby yang mendengarnya, hanya terssnyum tipis. " kenapa,? loe iri karena nggak ada yang ngeributin loe,?" tanya Feby tertawa sinis.
iyalah Frb, mana ada coba, laki laki yang tahan sama cewek bar bar kayak dia, apalagi, dandanannya kayak tante tante yang mau kondangan," ucap Imelda dengan tawa renyahnya.
membuat Syafira yang mendrngarnya, seakan meradang. " kurang ajar!!" Syafira melangkah mendekati meja Feby. dan,...
byur
Syafira menumpahkan minuman itu ke atas kepalanya sendiri. kemudian, menangis secara sesenggukan.
" hiks hiks loe jahat Feb," ucap Syafira dengan menangis penuh penghayatan.
hal itu membuat semua orang yang ada di meja Feby, menggelengkan kepala. karena merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"gila, hebat banget aktingnya," gumam Risa. seraya menatap jengah ke arah Syafira yang masih sesenggukan di lantai.
karena memang, di ksntin itu sudah sangat sepi. hanya ada Feby dan yang lain.
menjadikan hal itu lebih mudah untuk Syafira melancarkan aksinya.
" helwh, drama banget sh loe Fir," ucap Rangga yang merasa kesal pada gadis itu.
walaupun, dirinya juga murid baru di sini, namun Rangga telah mengetahui sifat asli dsri gadis itu.
Syafiratiba tiba berlari ke arah Feby, dan menampar wajahnya sendiri. sontak saja, hal itu membuat Semua yang ada di sana, terperangah kaget.
"ada apa ini,!" tanya seseorang dari belakang. hal itu membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
dan dengan secepat kilat, Syafira segera berlari kearah Pak Imam."pak, saya dibuly oleh Feby. " gadis itu mengadu pada pak Imam. bak seprti anak kecil yang mengadu pada orang tuanya.
__ADS_1
"benar yang di katakan Syafira Feb,?" tanya laki laki paruh baya berkumis tebal itu.
sontak saja, Feby segera menggelengkan kepalanya. sebagai pertanda bahwa dirinya tak melakukannya.
"saya tidak melakukan apa apa Pak," ucapnya berwajah serius.
namun,sepertinya percuma saja. karena Pak Imam lebih percaya pada Syafira.
" bohong pak," tiba tiba, Renata bersuarq dan membuat mereka semua menoleh ke arah gadis itu.
"tuh kan pak, sahabatnya sendiri saja, mengakui jika Feby melakukan perundungan," ucap salah satu teman Syafira.
dan hal itu membuat semua orang menganggukan kepala. sebagai pertanda jika apa yang di katakan Syafira adalah benar adanya.
"Feby. kamu ya, kenapa selalu membuat onar, Bapak sudah tidak tau harus melakukan apa lagi," keluh pak Imam dengan memijat kepalanya yang berdenyut.
" sudah lah Pak, lebih baik Feby di skors lagi aja," ucap Renata dengan nada sinisnya.
mereka semua menyetujui, usulan dari Renata. bahwa Feby harus di skors agar bisa mereneungi kesalahannya.
"tunggu," ucap seseorang dari belakang. hal itu membuat semua yang berada di sana, menoleh ke arah sumber suara.
"ada apa ?" tanya Pak Imam dengan memasang wajah datar.
hal itu membuat semua orang yang ada di sana tercengang. " Aiden, loe ngomong apa,?"tanya Syafira.
Aiden tak menjawab pertanyaan itu, laki laki itu melangkah pergi. namun, sebelum Aiden pergi, laki laki itu memberikan sebuah rekaman pada pak Imam.
laki laki itu segera memutar rekaman itu. matanya membulat saat mendapati kenyataan yang baru saja terkuak itu.
"Syafira, Bapak nggak menyangka, ternyata kamu adalah seorang Drama Quin," Pak Imam segera menggelengkan kepala.
"pak, saya nggak,..." belum sempat gadis itu membela diri, Pak Imam telah terlebih dahulu menyelanya.
"sudah. tidak usah beralasan lagi, mulai besok, kamu di.skors selama satu Minggu," ucap Pak Imam tegas tak terbantahkan.
setelahnya, laki laki itu segera berlalu pergi dari sana. sementara Feby dan teman temannya, tertawa puas.
"hahaha emang enak," Feby berkata dengan menjulurkan lidahnya kemudian berlalu pergi dari sana.
sementara Syafira dan teman temanya, mendegus kesal. ras bencinya semakin menggunung terhadap Feby.
__ADS_1
******
sementara itu, Feby dan teman temannya, sangat merasa puas saat Syafira di hukum oleh Pak Imam barusan.
"eh, kalian lihat nggak kalau tadi, muka Syafira, masam banget tau," ucap Risa dengan tersenyum tipis.
mereka swmua mengangguk tanda mengiyakan ucapan gadis itu. lalu, meteka semua, kembali ke dalam kelas.
***
bel pulang berbunyi membuat mereka semua bethamburan keluar kelas. termasuk juga Feby dan teman temanya.
"Feb, loe bawa mobil sendiri kan,?" tanya Imelda. sontak saja, pertanyaan dari sahabatnya itu membuat Feby mengernyit tak mengertj.
" lah, kan emang gue setiap hari bawa mobil sendiri," ucapnya kebingungan. "emang kenapa,?" tanya Feby.
Imelda menggelengkan kepala dan tersenyum tipis." kirain di antar jemput Reza," ucapnya tanpa Dosa.
"gue kan sama dia udah putus," jawab Feby santai. Imeldan dan yang lainya pun mengangguk setuju.
"siapa bilang gue mantan loe, gue belum putus ya," tiba tiba, ada suara dari belakang yang membuat mereka semua menoleh.
"Reza," gumam Feby bersamaan dengan Renata. ya gadis itu. masih ada di dalam kelas.
Reza melangkah maju mendekat ke arah Feby. menatap dalam mata gadis itu. sejenak, laki laki itu tertegun karena melihat mata itu kini berbeda.
dulu, mata indah itu memancarkan aura kelembutan namun sekarang, Reza melihat hanya ada aura kebencian dari dalam mata itu.
"Frb, apa yang terjadi, kenapa kamu mutusin aku,?" tanya laki laki itu seakan tak pernah membuat masalah.
Feby yang menfmdengarnya, berdecak kesal. ingin rasanya gadis itu meninju wajah sok polos di hadapannya itu.
"Ck, kau mau sampai kapan bersandiwara seperti ini Za?" tanya Feby sekuat tenaga menahan emosi.
"sandiwara apa Feb, aku benar benar tidak mengerti," jawabnya masih dengan wajah polosnya.
Feby ingin menjawab pertanyaan laki laki di depannya itu. namun, tangan gadis itu di tahan oleh Sivia.
"jangan bersuara. kita lihat oertunjukan yang akan segeradi mulai," bisiknya di telinga gadis itu.
Feby yang mendengatnya, mengurungkan niatnya untuk bersuara.
__ADS_1
dan benar saja, setelahnya, Renata maju dan menarik tangan Reza " Za, udah, nggak usah bersandiwara lagi, mereka semua sudah tau, kalau kita ada hubungan, ucapnya begitu lembut dan mendayu.
Bersambung.......