Secret Wedding

Secret Wedding
Kekecewaan Zara


__ADS_3

Hingga suara  Adzan berkumandang, Jhon belum bisa tidur. Tiba-tiba Meli menggeliatkan tubuhnya, sedangkan Jhon pura-pura tidur agar wanita yang masih asik di atas tubuhnya itu tidak malu.


Meli membuka matanya, gadis itu begitu terkejut. Spontan turun dari tubuh pria dingin itu.


Ia segera berlari menuju kamar mandi, Meli berharap Jhon tidak tahu apa yang terjadi.


Setelah lima belas menit wanita itu keluar dari kamar mandi, ia menarik napas panjang setelah melihat Jhon sudah tidak ada di atas kasur.


Meli segera memakai pakaiannya, setelah selesai ia keluar dari kamar. 


Dilihatnya punggung lebar yang sedang asik di dapur.


"Pagi."


Jhon menoleh, pria itu hanya tersenyum. Setelah itu kembali fokus dengan apa yang dilakukannya.


Meli merasa tidak enak karena seharusnya dirinya yang memasak. 


"Ada yang bisa aku bantu, Bee."


"Tidak, Sayang. Kamu tunggu di meja makan saja."


Meli mengangguk, Wanita itu segera duduk di meja makan. Setelah itu senyum mengembang saya melihat piring di depannya.


"Harum, jadi lapar," ucap Meli melihat hasil masakan pria itu.


Jhon hanya mengulas senyum, senyum yang selama ini tidak pernah dilihat oleh wanita yang begitu terpesona akan ketampanan pria yang selalu bersikap dingin itu.


Meli merasa hidupnya saat ini begitu bahagia, gadis itu berharap pernikahannya dengan Jhon akan berlangsung lama.


Jika diingat sebelumnya, Jhon jarang sekali memperhatikan, baik saat di rumah majikannya, ataupun sedang bertemu tidak sengaja di luar.


Tanpa ia duga, pria itu ternyata menyimpan rasa kepadanya. Mely baru sadar jika cinta dalam diamnya terbalaskan saat ini.


Keduanya makan bersama, setelah selesai makan dan segera mengantar Melli  pulang.


Jujur rasanya ia tidak ingin berpisah dengan gadis itu, tapi pria itu sadar. Tidak akan lama lagi ia akan menjadi satu dengan Meli. Wanita yang  ia jadikan pilihannya sebagai ibu untuk anak-anaknya nanti.


Jhon hanya  berharap, Meli adalah pilihan terakhir untuknya. Ia juga yakin begitu juga dengan yang dirasakan oleh wanita yang kini sedang berada di sampingnya.


Mobil dikemudikan Jhon berlanjut dengan kecepatan sedang, selamat dalam perjalanan tangan pria itu tidak lepas menggenggam tangan sang kekasih.


Meli tersipu malu, dari kemarin sikap pria di sampingnya itu begitu hangat. 

__ADS_1


Namun, terkadang pria itu bersikap dingin. Semua itu tidak masalah bagi gadis berambut panjang itu.


Setelah selama tiga puluh menit mengemudikan mobilnya. Mereka sampai di kediaman Zara.


Meli segera turun dari mobil, kemudian Jhon mengikutinya dari belakang.


Zara menyambut dengan hangat kedatangan calon pengantin itu. Istri dari Nathan itu tidak sama sekali menganggap kalau Meli adalah pelayan di rumahnya.


Zara  selalu menganggap, Melly adalah saudaranya. Bahkan Nathan saja tidak keberatan akan keputusan sang istri.


Hubungan Zara dan Nathan semakin membaik. Keduanya sama-sama berkomitmen untuk menjalani rumah tangga dan tidak menimbulkan apapun.


Walau awal pernikahan mereka, tidak ada landasan cinta karena Nathan adalah mempelai pengganti. Saat Mike memilih kabur dari hari pernikahannya.


Setelah itu Nathan dan Jhon segera berangkat ke kantor. Kini tinggal Zara dan Meli.


"Meli bagaimana persiapan pernikahanmu, mau resepsi di hotel atau di mana?" tanya Zara.


"Nona kami menikah sederhana saja." Meli menatap Zara dengan lembut.


"No, ini sudah menjadi tanggung jawab kami. Kamu tahu ini ide dari Nathan. Khusus untuk hadiah pernikahan kalian."


Mendengar itu Meli meneteskan air matanya, wanita itu tetap terharu. Memiliki majikan seperti Zara dan Nathan.


Meli si kekeh dengan keputusan yang ia dan Jhon rencanakan.


"Aku harap jangan ditolak, kamu tidak ingin aku sedih. Bukan?"


Meli hanya memutar bola matanya malas, nonanya itu pemaksaan sekali.


Namun, Meli tidak bisa keinginan dari Zara.


Siang ini keduanya akan pergi, untuk memilih hotel yang cocok untuk acara pernikahan Meli dan Jhon.


Jujur Zara tidak menyangka, Kalau pria yang selama ini dikagumi oleh Meli adalah Jhon.


Pria yang sifatnya sebelas dua belas dengan suaminya, padahal jarak lebih suka pria yang ceria. 


Waktu Mike mengajaknya untuk menikah, wanita itu menyetujuinya. Banyak yang ia suka dari tipe pria seperti Mike.


Sikap hangat yang  berikan kepadanya selama ini, ternyata hanya isapan jempol semata.


Keduanya masuk mobil, kali ini cara mengemudikan mobil sendiri. Walau awalnya Nathan tidak memberikan izin karena khawatir sesuatu terjadi pada istrinya.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi Zara. Berhasil membujuk suaminya.


Kedua wanita itu, salah satu cafe. Cara membuka handphonenya, masih berselancar mencari hotel yang terbaik untuk acara pernikahan dua minggu lagi.


Tiba-tiba wajah cara terlihat sendu, ia merindukan ayahnya.  Sampai sekarang wanita itu tidak tahu di mana Ayah Tama sekarang berada.


Suami selalu mengatakan kalau ayah baik-baik saja, Ayah jangan perlu waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian menimpa Zeni.


Tidak mudah bagi ayahnya, bagaimanapun ayahnya itu begitu mencintai Bunda.


Takdir berkata lain, Zara merasa dadanya sesak. Ingin wanita itu membunuh menggunakan tangannya sendiri.


Nathan, menasehatinya selalu menasehatinya.


Di kafe ini juga Nathan hendak bertemu dengan Maryam tepat sore jam empat. Zara sengaja datang lebih dulu karena sudah tidak sabar suaminya untuk menyelesaikan hubungan dengan Maryam.


Zara yakin suaminya akan menepati janjinya. Zara sengaja tidak akan muncul saat Nathan dan Maryam akan bicara. Namun, wanita itu akan melihat dari jauh.


Zara merasa jika dirinya adalah pemenang, ia tahu suaminya sudah begitu sakit hati akan penghianatan yang dilakukan wanita yang dulu begitu dicintainya itu.


Tepat pukul empat,. Wanita itu melihat mobil yang dikemudikan oleh suaminya terparkir di depan kafe. 


Tidak lama keluar Nathan, begitu juga dari pintu sebelah ada Maryam dengan senyum manisnya.


Hal itu membuat Zara dan Meli saling pandang.


Zara segera mengenakan cadarnya. Sedangkan Meli memakai masker dan topi yang diberikan Zara padanya.


Keduanya kini mendekati meja di mana Nathan dan Maryam sedang mengobrol layaknya pasangan kekasih.


"Nathan aku mohon kamu percaya padaku. Aku tidak masalah dijadikan istri kedua."


"Tapi aku tidak ingin menikah lagi."


"Kamu tahu Mike memanfaatkan aku, kalau aku tidak mau melayani pria brengsek itu. Mike akan mencelakakan kamu, percayalah padaku, Sayang. Aku melakukan itu karena sangat mencintaimu."


Nathan mendengar itu menatap intens wanita yang dulu dicintainya.


Tidak ada kebohongan yang dilakukan Maryam. Apa benar Mike melakukan itu, dan Maryam hanya ingin melindungi dirinya.


Di meja tidak jauh dari keduanya, Zara mengepalkan kedua tangannya. Rupa suaminya sudah baikan, bahkan lebih percaya pada Maryam dari pada fakta yang dilihatnya langsung.


Zara menunduk kepalanya, seperti ia salah mengambil keputusan menyerahkan kehormatannya pada pria brengsek seperti Nathan.

__ADS_1


__ADS_2