
Zara segera memasukkan kue kering dalam wadah, setelah itu ia mengambil kunci mobil dan segera pamit pada suaminya karena akan ke rumah Erlan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Zara akan memberi kue ini pada iparnya itu.
Beberapa tahun lalu, Zara dan Meli adalah sahabat yang selalu bersama. Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, terlebih lagi setelah Meli menikah dengan Jhon. Namun, karena suatu perselisihan yang terjadi antara Meli dan Zara, kedua wanita ini akhirnya menjaga jarak satu sama lain, tapi tak lama mereka baikkan.
Setelah dua puluh menit, mobil yang dikemudikan Zara sampai di depan mansion Elran, tempat keluarga suaminya tinggal. Zara segera keluar dengan percaya diri membawa tempat berisi kue, siap meredakan ketegangan di antara keluarga yang sudah berlarut-larut.
Pintu rumah terbuka, dan Alea, anak perempuan Caral dan lErlan, berlari keluar untuk menyambut kedatangan Mama Zara. "Mama Akhirnya datang juga!" Erlan menghampiri iparnya dengan antusias, baru saja sepekan berpisah. Wanita kecil itu membantu Zara membawa kue masuk.
Setelah sampai di tamu, Carla dan beberapa anggota keluarga Elran sudah berkumpul di ruang tamu, termasuk Erlan , suami Carla dan Zara sendiri. Ada ketegangan yang terasa di udara saat mereka saling pandang dan saling sapa untuk memulai acara keluarga tersebut.
Zara, dengan penuh keberanian, memulai percakapan itu, "Carla , saya tahu kita sudah lama tidak saling bicara. Tetapi saya ingin acara keluarga ini menjadi kesempatan bagi kita untuk berdamai dan memulai hubungan yang lebih baik." ia menggenggam erat tangan Carla .
"Saya tahu mungkin sulit untuk melupakan masalah masa lalu, tetapi saya harap kue ini bisa menjadi gambaran niat baikku."
Carla menunduk dan melepaskan genggaman tangan Zara. "Terima kasih Zara, itu sangat menyentuh. Namun, saya tidak yakin apakah kita masih bisa kembali seperti dulu."
Erlan , yang merasa bersalah sebagai pemicunya, menintervensi. "Gadis-gadis, kita masih mempunyai banyak waktu untuk berbicara dan menyelesaikan masalah kita. Tentu kita tidak ingin hidup dalam ketegangan dan permusuhan. Saya yakin kita dapat menemukan solusi agar semua pihak merasa bahagia dan nyaman."
Dalam ruangan tersebut terdapat lukisan indah yang menghiasi dinding dan sebuah meja mewah yang sudah disiapkan untuk acara makan malam bersama keluarga.
Di dinding panggung terpancarkan cahaya lembut dari lampu gantung elegan yang menciptakan suasana hangat. Bunga-bunga segar yang berprofesi memberikan aroma yang menenangkan.
Terasa kecanggungan yang berusaha dihindari, anggota keluarga yang lain pun bergabung dalam percakapan untuk mengalihkan perhatian dari isu yang mengerucut.
Mereka berbicara tentang topik yang ringan dan menggembirakan, seperti rencana liburan mereka berikutnya dan kesibukan anak-anak dalam kegiatan sekolah.
Ketegangan mulai mengecil saat mereka menikmati hidangan yang lezat yang disajikan oleh keluarga Elran. Aroma udang goreng menyebar di udara, diiringi dengan asap panas dari daging sapi masak merah yang merekah.
Zara menyajikan puding coklat yang menggoda selera sebagai penutup makanan.
Sementara itu, Zara berusaha keras menjalin kembali percakapan dengan Carla , beralih dari satu topik ke topik lain, berbicara tentang koleksi buku baru yang mereka baca, film yang mereka tonton, dan perjalanan terakhir mereka. Terselip di sela-sela percakapan, Zara dengan hati-hati menyinggung alasan perpecahan mereka, berharap Carla mau membuka hati.
Singkat cerita, beberapa tahun lalu Zara membantu seorang anak muda yang putus asa bernama Bayu mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Dia mempresentasikannya kepada keluarga Elran, berharap tawaran pekerjaan sebagai sopir bisa membantu perekonomian Bayu. Namun, seiring waktu berjalan, Carla mulai curiga bahwa Zara dan Bayu menjalin hubungan yang lebih dari sekadar hubungan profesional.
Namun, Zara sama sekali tidak menyadari perasaan tersebut yang sedang bergejolak dalam hati Carla . Tapi saat dia tahu, Zara merasa terluka dan kecewa, merasa Carla tidak cukup percaya dengannya.
Perselisihan tersebut terus membesar hingga melibatkan kedua keluarga dan menyebabkan mereka menjaga jarak dan sampai pindah mansion.
Sembari mereka menikmati hidangan penutup, Zara akhirnya menjelaskan kepada Carla.
"Carla , saya ingin kamu tahu bahwa apa yang kamu duga tentang diriku dan Bayu hanya kesalahpahaman belaka. Hanya itu yang kulakukan, membantu seorang anak muda mencari pekerjaan agar ia dapat menjawab kebutuhan keluarganya."
Carla menghela nafas panjang, matanya berkaca-kaca. "Zara, saya minta maaf. Saya tahu saya salah menilai kamu. Tetapi, kamu harus mengerti bahwa saya tidak ingin kehilangan keluarga sebaik kamu."
"Saya benar-benar takut akan kehilangan Erlan , terutama setelah melihat betapa dekatnya kamu dan Bayu. Tetapi, aku seharusnya tidak berpikir yang buruk tentangmu, Zara. Kita sudah bersama sejak lama, dan aku tahu kamu tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti yang saya bayangkan."
Zara memegang tangan Carla , menatap matanya yang berkaca-kaca. "Saya mengerti, Carla . Tetapi kita harus saling percaya dan komunikasi harus tetap terjaga agar kita tidak salah paham. Kamu seperti saudara perempuan untukku, dan aku sangat merindukanmu."
Di sudut ruang, anggota keluarga yang lain menyaksikan mereka berbicara dan merasakan perubahan suasana menjadi lebih hangat.
Perlahan-lahan, mereka bergabung dalam percakapan, saling berbagi cerita menarik dan tawa. Erlan dan Nathan , yang merasa lega melihat istri mereka akhirnya berbicara, menyampaikan rasa terima kasih mereka satu sama lain karena sudah berusaha meredakan konflik yang sudah berlarut-larut.
Diantara tawa,Nathan , yang sangat senang melihat kedua wanita itu i akhirnya saling berbicara lagi, berlari ke atas kursi dan berkata dengan penuh keceriaan, "Keluarga yang bahagia akhirnya bersatu kembali! Semoga kita selalu sering berkumpul seperti ini!"
Suasana tersebut menjadi semakin meriah, saat alunan musik mulai memenuhi ruangan. Erlan menarik Caral dan Zara untuk menari bersama, menyampaikan rasa syukurnya bahwa kedua wanita yang sangat ia cintai akhirnya kembali akrab. Anggota keluarga lain bergabung dalam pesta dansa spontan, menikmati kebahagiaan bukan hanya dari ucapan dan pikiran, tetapi juga gerakan tubuh dan ekspresi.
__ADS_1
Malam berlalu dengan cepat, dan ketegangan yang tadinya menyelimuti telah luntur digantikan kebahagiaan yang tulus. Zara dan Carla , kini kembali seperti dulu menari bersama, bercanda dan saling tertawa. Mereka bahkan bernyanyi setengah jeritan, tanpa malu meragu, sementara keluarga mereka menyanyi bersama dan tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, acara keluarga tersebut berakhir dan para tamu bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Ketika saatnya tiba untuk berpisah, Zara dan Carla berpelukan erat, tanpa ingin melepaskan satu sama lain.
Mata mereka basah saat berjanji untuk tidak membiarkan ketidakpercayaan dan kesalahpahaman merusak hubungan mereka lagi.
"Aku akan selalu mencoba menjadi saudara perempuan yang baik untukmu, Zara," ujar Carla dengan suara yang lemah dan bergetar.
"Dan aku akan selalu mempercayaimu dan menjaga komunikasi terbuka, Carla ," balas Zara, mengecup pelipis iparnya.
Ketika para tamu pergi, Erlan mengelus lembut bahu Catal dan berbisik ,"Terima kasih telah membuka hatimu lagi untuk Zara, Sayang. Saya tahu itu bukanlah keputusan yang mudah untukmu, tetapi saya bangga karena kamu sudah melakukannya."
Carla tersenyum tipis, mencoba meredakan perasaan haru yang menguasai hatinya. "Saya menyadari bahwa kita semua punya ketakutan dan keraguan dalam hidup, Erlan, dan terkadang itu bisa mengaburkan penilaian kita. Tetapi, saya juga sudah memahami betapa pentingnya komunikasi dalam menjaga hubungan baik dengan orang yang kita cintai."
Sementara itu, Zara dan Nathan sudah di dalam mobil, bersiap pulang. Pria itu menggenggam tangan Zara erat, mengekspresikan rasa cintanya padanya. "Aku tahu betapa berartinya Carla bagimu, dan aku senang melihat kalian berbaikan. Saya harap ini menjadi awal yang baik untuk hubungan keluarga kita."
Zara mengangguk, menahan air mata kebahagiaan yang hendak jatuh. "Terima kasih karena mendukungku, Mas . Kita harus selalu berusaha menjaga keharmonisan keluarga, karena mereka adalah pondasi kebahagiaan kita."
Malam itu, setelah melewati jalan-jalan kota yang mulai sepi dan lampu-lampu yang berkelap-kelip di langit, Zara dan Nathan tiba di mansion mereka. Hatinya dipenuhi kebahagiaan dan harapan akan hubungan baru dengan Carla dan keluarga Elran.
Pada hari-hari berikutnya, Zara dan Carla mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama, berusaha mengenal satu sama lain kembali. Mereka mengunjungi kafe favorit mereka, mengobrol tentang kehidupan pribadi, berbagi rencana masa depan, dan saling mendukung satu sama lain.
Kenyataannya, kehidupan tak selalu berjalan mulus, ada suka dan duka. Namun, Zara dan Carla telah belajar pelajaran berharga dari pengalaman mereka, bahwa komunikasi dan kepercayaan adalah kunci utama dalam mempertahankan hubungan yang baik, baik dalam keluarga maupun persahabatan.
Hari demi hari berlalu, dan seiring waktu, hubungan antara Zara dan Carla semakin erat, dan luka-luka masa lalu semakin pudar. Mereka kembali menikmati kebahagiaan kebersamaan seperti dulu, berbagi tawa, tangis, dan impian mereka dalam perjalanan kehidupan ini.
Zara dan Carla telah menemukan makna sebenarnya dari kekuatan cinta dan persahabatan, bahwa terkadang pengampunan dan kesabaran adalah obat terbaik untuk menyembuhkan hati yang dulu terluka. Dan melalui usaha mereka yang gigih,.
keluarga Elran bersatu kembali, mengekalkan kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini mereka cari.
Setelah semua berjalan lancar dan semestinya, Nathan mengajak istrinya untuk ikut kantor dengan alasan ingin ditemani bekerja.
Tema: Drama keluarga di kantor Nathan.
"Nathan, kamu yakin mau bawa istri kerja ke kantor? Bukannya ini akan membuatmu tidak konsentrasi?" tanya Erlan, kembaran Nathan, dengan sikap ejekan di wajahnya.
"Erlan, sudah kubilang berkali-kali. Aku ingin istriku menemaniku hari ini, biar dia tahu seperti apa pekerjaanku. Lagipula, semua orang tahu dia sudah pensiun, jadi dia punya waktu untuk menemaniku. Masalah konsentrasi, itu urusanku," jawab Nathan tegas dan mantap.
Di kantornya yang luas dan begitu modern, Nathan duduk di dalam bilik kerjanya yang cukup nyaman, dengan foto keluarganya menghiasi meja. Istrinya, Zara duduk santai di sofa yang ada di sudut ruangan, memandangi pemandangan kota melalui jendela kaca.
Sambil mengerjakan laporan yang ditumpuk di meja, Nathan merasa ada tatapan menghujam dari sudut ruangan. Ia menoleh dan bertanya, "Ada apa, Sayang? Terlihat seperti ada yang mengganggu. Boleh ku tau?"
Zara dengan raut wajah yang tidak menyenangkan menjawab, "Kenapa Erlan selalu mengganggumu, Mas? Padahal kamu sudah berusaha untuk tetap tenang, tahu kan. Mengapa dia berani bersikap seperti itu?"
"Terserah dia saja, Sayang. Yang penting kita sadar, kita berada di posisi yang sama di kantor ini. Jadi, tak perlu memperdulikan ejekannya," ujar Nathan mencoba menenangkan istrinya.
Namun, Zara yang merasa tidak diperhatikan mencoba mengingatkan Nathan, "Kamu harus ingat, kita sudah jadi ka-,mil lah Nathan. Bisa jadi Erlan mengincar pekerjaan atau bahkan jabatanmu, siapa yang tahu?"
"Ini bukan saat yang tepat untuk membahas ini, Sayang. Kita di kantor dan aku sedang bekerja. Jangan buat hal-hal seperti ini mengganggu pekerjaan kita."
Pada suatu sore, saat jam pulang kerja hampir tiba, Zara mendatangi meja kerja Erlan dengan rencana yang sudah dipikirkan matang. Hatinya berdebar, namun ingatan tentang ejekan Erlan kepada Nathan seolah memberinya keberanian.
"Selamat siang, Erlan," sapa Zara dengan suara yang lembut sekali.
Erlan yang terkejut dengan kehadiran Zara tersenyum sinis.
"Apa yang kamu inginkan, Nyonya Nathan?" tanya Erlan sambil menjauhkan kursinya setapak.
__ADS_1
Zara berusaha untuk berkonsentrasi dan melanjutkan misinya, "Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang sudah lama menggangguku."
Dan, mereka berbicara tentang Nathan dan hubungan mereka dengan dia. Setengah jam kemudian, mereka sepakat untuk tidak saling mengganggu satu sama lain, demi kenyamanan kerja mereka dan juga Nathan.
Semenjak itu Erlan tidak pernah mengejek kembarannya di depan Zara, tapi Erlan tidak janji jika hanya berdua dengan Nathan.
"Sialan, Nathan! Kau selalu membuat semuanya jadi ribet," ujar Erlan, menatap sang.kakak dengan tatapan kesal.
"Diam, Erlan. Kau tahu ini semua salahmu, kamu yang menyerahkan tugas itu kepadaku," balas Nathan dengan nada kesal.
Kedua lelaki itu memang kembar, tapi perbedaan kepribadian mereka lebih jelas dari pada wajah mereka yang mirip dan tampak identik. Erlan, si adik , selalu percaya diri dan lebih agresif, sementara Nathan lebih tenang dan pemikir.
Mereka duduk di taman di belakang , mencoba menyelesaikan tugas mereka yang tertukar. Matahari cerah itu menerpa pohon, dan gemerisik dedaunan padanya membuat situasi terasa nyaman. Tiba-tiba, muncul seorang wanita yang sangat cantik.
"Hai, Erlan dan Nathan!" sapanya sambil tersenyum.
" Apa di kantor kalian tidak bisa kerja," tanya Zara
Erlan dan Nathan berbalik dan melihat wajah Zara yang cerah. Wajahnya begitu cantik, membuat Nathan langsung terpesona. Sungguh kejadian yang tak terduga di hari itu, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Zara melihat keduanya sedang mengerjakan laporan.
"Sayang, aku bisa jelaskan," ujar Nathan.
Zara tidak suka jika suaminya pulang masih mengerjakan pekerjaan kantor.
Setelah menggenggam erat pintu rumah, Nathan langsung disambut dingin oleh kekesalan Zara. Ia sempat merasa tidak percaya melihat suaminya masih belum selesai dengan pekerjaannya.
"Aku pikir kita sudah pernah membahas seperti apa hidup yang kita inginkan setelah menikah. Saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama, bukan hanya mencari nafkah," Zara berbicara dengan nada kecewa.
Nathan menghela nafas, menyadari bahwa Zara telah lelah dengan pola kehidupan mereka yang selalu terjaga karena tanggung jawab pekerjaan. "Zara aku tahu betapa menyedihkannya hal ini bagi kamu. Tapi nyatanya pekerjaan memang menuntut lebih banyak dari waktu kita," jawab Nathan, mencoba memberi penjelasan.
Zara mengerutkan keningnya, kesal dengan perkataan Nathan.
"Mas, kita ini adalah prioritas utama sesama kita kan? Saya tidak ingin terus mengejar hal-hal yang serba instan dan tidak pasti. Aku ingin berhenti sejenak dan menikmati kehidupan ini bersamamu," katanya dengan suara serius namun lembut.
Mendengar perkataan Zara, Nathan merasa bersalah dan bergegas menghiburnya. Ia menarik kursi di ruang tamu dan membuat Zara duduk di sana. "Aku tidak ingin kamu merasa bersalah tentang pekerjaan kita, tapi aku juga menyadari bahwa kita memang harus fokus pada kebahagiaan kita sendiri terlebih dahulu. Aku akan berusaha mencari waktu yang lebih baik untuk kita, tapi harap bersabar dengan kondisi ini," ucap Nathan sambil mengecup kening Zara.
Zara hanya mendesah dan mengangguk pelan, merasa cukup dihargai setelah mendengar kata-kata jujur dari Nathan. Namun, di balik tapak kesedihan yang terbangun, ia pun menaruh keragu-raguan yang semakin mendalam.
Malam itu, mereka terlelap dalam dekapan masing-masing, berjanji akan saling berjuang menjaga kebahagiaan dalam rumah tangga tersebut. Namun, rasa ragu di hati Zara masih mencekik dan mengellak keheningan yang mengepulkan asa.
Minggu demi minggu, keduanya tampak cukup bahagia dengan rutinitas yang mereka jalani. Namun, suatu hari, Zara mendapati sebuah email yang tidak ia harapkan, berisikan informasi foto yang berisi tentang Nathan dan seorang wanita. Putaran arus pernapasan itu menemukan rumput yang kian hendak menyatukan pelepah pahit.
"Sayang, apa ini?" tanya Zara, seraya memperlihatkan berkas gambar tersebut. Senyum di pintu gerbang cahaya, sirna.
Sembari melihat berkas yang ditunjukkan Zara, Nathan merasa panik. Wajahnya berubah pucat seketika. "Ini, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Zara."
Zara menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
Melihat Nathan langsung memeluk istrinya, tapi Zara langsung berontak."Lepas!"
"Sayang,." Nathan Engan melepaskan pelukannya.
"Lepas, Mas!" seru Zara penuh emosi.
Zara tidak menyangka suaminya berselingkuh, tapi melihat foto itu mereka hanya duduk bersebelahan.
Zara akhirnya diam dan tidak berontak lagi. Barulah Nathan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, aku akan jelaskan, tapi kamu tenang ya," pinta Nathan dengan lembut.