
"Jadi begitu? Ibuku ingin agar kami segera menikah tapi, syaratnya dia harus pergi untuk mendapat gelar MBA dulu?" Hyunwoo begitu terkejut ketika mendengar alasan Jessica menjadi amat sensitive belakangan ini dari Chae Eun.
"Maka dari itu, sebaiknya kau selesaikan masalahmu itu."
"Kau, kau bantu aku ya." Pinta Hyunwoo. "Jessica itu cukup banyak mendengarkan perkataanmu, jadi, tolong bantu aku bicara dengannya."
Chae Eun memicingkan matanya, "hey, Hyunwoo, apa kau tahu bagaimana masalahku dengan si Hyujin itu, huh? Kenapa aku harus mengurusi romansa orang lain di saat aku sedang berada dalam dilemaku sendiri, hah?"
Hyunwoo bergedik, "astaga kau menakutkan sekali."
"Wah wah wah, rupanya sepupuku ada di sini ya."
Suara itu mengalihkan pandangan Hyunwoo dan Chae Eun.
"Dia itu siapa?" Tanya Hyunwoo.
Chae Eun menenggak winenya, kemudian menjawab, "entahlah, mungkin seles."
"Yaa! Keterlaluan sekali kau Chae Eun! Aku ini sepupumu!" Tukas orang itu, Chae Su.
"Oh, rupanya sepupuku yang tidak berguna itu ya. Orang tidak penting," sahut Chae Eun sekenanya, dan itu membuat Chae Su tersulut amarah.
"Sepertinya aku salah berniat baik padamu. Kalau begitu lupakan saja, aku pergi."
"Bye." Sahut Chae Eun, membuat Chae Su tercengang.
"Y-yaa. Kau memangnya tidak mau tahu apa niat baikku?" Chae Su terdengar kecewa.
"Tidak mau," sahut Chae Eun.
"Hey, Chae Eun, aku ini ingin memberitahumu lokasi suamimu itu loh, kau memangnya tidak mau?" Tukas Chae Su.
Hyunwoo menghela napas panjang. "Sekarang aku mengerti kenapa kau bilang dia tidak berguna," katanya pada Chae Eun.
"Hey, tuan! Apa maksudmu!"
"Jangan basa-basi. Jadi, kau mau apa sampai kau berbaik hati begini mau membantuku menemukan suamiku?" Tanya Chae Eun santai.
Chae Su nampak sangat puas saat berpikir Chae Eun masuk perangkapnya sebagaimana yang dia rencanakan dengan ayahnya.
"Hanya setengah dari sahammu, itu saja. Jika kau memberikannya padaku, maka aku akan memberitahumu di mana suamimu sekarang," Chae Su sangat yakin dengan perkataannya, dan itu menngundang tawa Hyunwoo.
__ADS_1
"Hahaha, sepupumu ini sungguh bodoh ya."
"Yaa! Sebenarnya kau siapa sampai berani meremehkanku, hah?!"
Hyunwoo menoleh padanya. "Hey, kau pikir siapa yang membantu polisi mengungkap dalang dibalik kasus video ilegal, huh? Dan siapa juga yang membantu media mengetahui fakta dari kasus keluarga Ji tujuh tahun lalu? Itu semua adalah kami yang melakukannya, kau pikir kami yang seperti itu membutuhkan orang sepertimu untuk menemukan seseorang, hah? Dasar bodoh! Jika kita ingin, kita bisa menemukannya!" Tukas Hyunwoo.
Chae Su tercengang. "I-itu tidak mungkin. K-kalau kau bisa menemukannya, lantas kenapa kau tidak mencarinya? B-bukankah kau sangat menyukainya?"
Chae Eun menghela napas panjang. "Hey, sepupuku tersayang, sepertinya aku belum memberitahumu ya? Aku ... akan bercerai."
"Tidak mungkin! Kau jangan bohong! Belum lama ini kau mengakui pernikahanmu, dan sekarang kau bilang mau bercerai, kau pikir aku bodoh!" Tukas Chae Su.
"Memang!" Sahut Hyunwoo dan Chae Eun berbarengang, dan itu membuat Chae Su diam seribu kata.
Jadi, rencanaku dan ayah ... gagal begitu saja? Pikirnya.
●●●
Chae Eun memandangi surat cerai yang Jin Ji kirimkan padanya. Berkali-kali dia menghela napas berat. Pada dasarnya dia ingin sekali menemui Jin Ji dan membicarakan prihal ini secara langsung. Namun, entah kenapa dia masih beranggapan bahwa pertemuannya dan Jin Ji mungkin akan mengganggu Jin Ji.
Bahkan saat tersudut seperti ini pun, aku tetap memikirkan kenyamanannya. Hey, Jin Ji, kalau saja kau melihat perjuanganku untukmu ini, apakah kau akan tetap ingin berpisah?
Menemukan Jin Ji memang bukan hal sulit bagi Chae Eun tapi, apakah pria itu senang, nyaman, atau tidak dengan pertemuan mereka nanti, itulah yang Chae Eun pertimbangkan.
Bel yang berbunyi membuat Chae Eun tersadar dari lamunannya. Dia beranjak dari tempatnya, dan pergi untuk membukakan pintu.
"Iya, tunggu se...,"
#brakkk
Tubuh Chae Eun terjatuh di lantai. Ia melirik perutnya, dan mendapati darah yang merembas di bajunya.
"****** kau! Kau memang pantas mendapatkannya! Kau menghancurkan karirku, menjadikanku buronan, dan membuatku harus merelakan tubuhku untuk wanita jelek itu. Ini semua, kau yang memintanya!"
"K-kau... Haejun...,"
Perlahan pandangan Chae Eun mulai gelap. Pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah punggung Haejun.
Salahku. Memang salahku. Seharusnya aku melakukan yang biasanya kulakukan, melihat ke layar intercom untuk mengetahui siapa yang datang. Bodoh sekali. Aku ... sudah mulai melupakan apa yang menjadi kebiasaanku. Semua ini ... karena dia.
●●●
__ADS_1
"Hey, Hyunwoo, jika sampai aku kembali dan perasaanmu sudah berubah, maka aku akan membunuhmu!" Tukas Jessica.
Jessica akhirnya memutuskan untuk menuruti perkataan ibu Hyunwoo, pergi ke Swiss untuk mendapatkan gelar MBA. Semua itu dia lakukan khusus untuk Hyunwoo, demi menjadi seseorang yang layak untuknya.
"Iya, kau boleh melakukan apapun padaku jika perasaanku sampai berubah," kata Hyunwoo. Dia sebenarnya tidak ingin Jessica pergi tapi, Jessica bertekad bahwa dia akan menjadi seseorang yang dianggap layak bukan hanya untuk Hyunwoo tapi juga untuk keluarga orang terkasihnya itu.
"Tapi, omong-omong di mana Chae Eun, dia bilang dia akan datang untuk melihatku!" Jessica agak kesal. Waktu terbangnya sebentar lagi. Namun, sahabatnya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Benar juga. Aku tadi mencoba menghubunginya tapi, dia tidak mengangkat. Apa mungkin dia terlalu galau sampai-sampai dia tidak jadi datang ke sini?" Pikir Hyunwoo.
"Tidak mungkin. Bahkan meskipun dia sekarang, kalau dia sudah berjanji, maka dia akan tetap menepatinya!"
"Kalau begitu dia kenapa sekarang belum datang?"
Jessica menghela napas panjang. "Hahh apa dia akan datang? Aku ingin sekali bertemu dengannya sebelum pergi."
"Sudahlah, sebaiknya kau cepat pergi sebelum kebijakkan tentang berpergian keluar negeri di persulit lagi."
"Baiklah."
●●●
"Jika kau merindukannya, maka sebaiknya kau pulang."
Perkataan itu membuatku diriku tertohok. Aku bukannya tidak ingin kembali dan menemuinya. Hanya saja ... untuk apa aku disana jika aku hanya akan menjadi beban baginya. Aku tidak ingin menyusahkannya lagi, tidak ingin juga menyusahkan kak Seok Woo. Sekarang, aku akan menata ulang hidupku. Mengambil semua yang menjadi milikku di masa lalu? Aku sudah melupakannya, lagipula sekarang ayahku sudah menyusul ibu, jadi tidak ada lagi alasan bagiku untuk mengembalikan semua yang pernah menjadi kenangan bagi aku dan ayahku.
"Aku hanya akan memyusahkannya jika kembali."
Nenek Choi membelai kepalaku, dan tersenyum. Sejak dulu, nenek Choi tidak pernah berubah. Dulu, saat aku datang bersama ayah untuk menjemput Eun Joo, nenek Choi juga selembut ini. Mungkin karena dia adalah kepala pantiasuhan yang dikelilingi banyak anak kecil, sehingga lakunya menjadi sangat lembut dan ramah begini.
"Itu kan pendapatmu saja, memangnya kau tahu dia akan berpikiran sama denganmu atau malah sebaliknya."
Yang dikatakan nenek Choi ada benarnya tapi, tetap saja aku merasa tidak pantas untuk kembali. Aku, merasa tidak layak baginya.
"Meskipun kau larang tapi, sebenarnya aku tetap menonton berita tentangmu. Kau tahu? Isterimu itu pasti berjuang keras untuk menyelesaikan masalahmu. Sekarang bukan hanya isterimu yang mendukungmu dan ingin kau kembali, tapi semua orang di negara ini juga menginginkannya."
Aku tertegun. Sejujurnya aku tidak pernah menonton berita tentangku. Atau lebih tepatnya aku tidak melihat tv. Aku juga meminta nenek Choi untuk tidak melihatnya. Jadi, ini sungguh mengejutkan. Jadi selama ini aku membiarkannya berjuang sendirian? Bodoh!
"Aku ...,"
"Kembalilah, Hyujin-ah. Kau ingin menata hidupmu? Bagaimana kau bisa melakukannya jika kau bahkan tidak bisa melupakan masa lalumu."
__ADS_1
"Aku ..., akan kembali. Nenek Choi, terimakasih banyak."