Secret Wedding

Secret Wedding
Mike kabur


__ADS_3

Diego menatap Zara, pria itu bingung harus jawab apa?


Nathan tersenyum getir, Andai istrinya tahu kalau pria yang dianggap seperti kakak itu diam-diam mencintainya. Entah apa yang akan dilakukan istrinya.


Zara merasa tidak ada jawaban dari Diego, wanita itu tidak heran karena memang seperti itu orangnya.


Zara melihat suami dan Diego sedang membahas bisnis, wanita itu lebih memilih memainkan ponselnya. Sedangkan di dapur, Jhon asik memeluk Meli. Pria itu enggan melepasnya.


Saat Meli sedang menuangkan air panas, barulah Jhon melepaskan pelukannya.


Meli tersenyum, wanita itu sudah selesai membuat kopi, setelah itu membawa ke ruang kerja Nathan.


Jhon membukakan pintu, setelah itu Meli masuk.


Setelah meletakkan kopi di atas meja, wanita itu segera keluar. Tanpa ia tahu Jhon menatap datar Meli. Ia ingin  wanita itu juga menemaninya. 


Namun, rasanya Meli tidak akan mau.


Setelah pembahasan selesai, semua keluar dari ruang kerja.


"Tuan, saya langsung pulang," pamit Diego.


Nathan hanya mengangguk, setelah Diego pergi. Kini tinggal Jhon dan Nathan duduk di ruang keluarga. Sedangkan Meli dan Zara membantu pelayan menyiapkan makan malam.


Nathan menatap Jhon, pria itu sebenarnya kecewa. Namun, ia juga tidak bisa memaksa kehendaknya.


"Jhon jadi kalian tidak ingin menikah di hotel, setiap wanita itu pasti memiliki impian, ingin menikah seperti apa? Coba kamu tanya Meli?"


Jhon bukannya menjawab apa yang ditanya oleh tuannya, tapi pria itu menatap Zara yang baru saja datang.


Zara merasa diperhatikan oleh Jhon bertanya,"Ada apa?"


"Nona  Anda dulu memiliki impian pernikahan seperti apa?"


"Aku," tunjuk Zara pada dirinya sendiri.


"Iya, Nona." 


Wanita itu tersenyum getir, walaupun pernikahan yang ia impikan terjadi. Namun, dirinya hanya harus menikah dengan pria tua.


Zara melihat ke samping, ia tersenyum melihat pria tua di sampingnya.


Nathan yang merasa diperhatikan mengerlingkan matanya, hal itu membuat wajah Zara merona.

__ADS_1


Jhon beranjak dari duduknya, pria itu tahu jika Meli sedang santai. Dicarinya di taman belakang, tapi tidak ada.


Pria itu melihat ke kanan dan kiri tidak ada siapa-siapa. Pria itu yakin, jika kekasihnya sedang berada di kamar.


Perlahan ia membuka pintu, kebetulan tidak dikunci. Senyum mengembang saat melihat Meli sedang tidur.


Pria itu membuka jaketnya, setelah itu ikut berbaring di samping wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu


Dipandanginya wajah Meli, perlahan diusapnya wajah cantik tanpa make up itu.


Senyum mengembang di bibirnya. Jhon mengecup bibir ranum Meli, padahal awalnya hanya ingin mengecup sekilas . Namun, kini sudah seperti candu.


Kecupan itu kini beralih menjadi *******. Pria itu semakin memperdalam ciumannya. 


Tangan pria itu kini mulai mengusap dua gundukan di dada Meli,  remasan itu saling bergantian dari kanan, kemudian beralih ke kiri.


Satu erangan terdengar begitu merdu, Jhon tersenyum. Pria itu kini memasukkan tangannya di balik kaos wanita itu.


Meli yang merasa tidurnya terusik, wanita itu perlahan membuka matanya. Ia refleks duduk karena begitu terkejut ada Jhon di kamarnya.


"Sayang, kenapa masuk?" 


Wajah Meli langsung pucat, wanita itu tidak habis pikir pria itu terlihat begitu santai.


Meli akhirnya menjelaskan akan apa yang dikatakan para pelayan lain. 


"Tenang saja, tadi tidak ada yang lihat saat aku masuk," bisik Jhon dengan tatapan datar.


Melihat itu Meli begitu ingin mencakar wajah tampan di depannya, tapi sayangnya ia cinta. Mana tega untuk mencakarnya, yang ada akan dielus-elus."Tuan, tolong keluar, apa Anda tidak takut kalau tiba-tiba kita dinikahkan karena apa ya namanya?"


Jhon hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu tetap menggoda karena begitu polos dan jujur akan apa yang dipikirkannya.


"Akan apa?" Jhon mengerlingkan matanya semakin membuat Meli salah tingkah.


Jhon membaringkan tubuhnya, pria itu menarik tubuh Meli dan kini keduanya asik dengan mengobrol, tapi tangan pria itu tidak diam asik bermain di dua gundukan kenyal itu.


“Tuan tangannya tolong dikondisikan,” kata  Meli dengan menarik tangan pria itu dari balik bajunya.


“Hanya pegang saja,” alasan Jhon.


Padahal pria itu menarik-narik nepel berwarna pink itu, Meli tubuhnya sudah merinding. Namun, lagi-lagi Nathan tangannya kembali lagi masuk.


Meli hanya memejamkan matanya, rasa geli dan begitu nikmat  yang kini dirasakan gadis itu.

__ADS_1


Melihat Meli tidak menolaknya lagi, pria itu mendekatkan kepalanya. Namun, gadis itu langsung menahannya.”Jangan.”


Jhon mengangguk,  pria itu tidak ingin semakin khilaf jika masih di kamar Meli. Ia segera keluar dan tanpa pamit pada Nathan dan istrinya. Sedangkan Meli menarik napas panjang. Hampir saja keduanya khilaf.


Wanita itu tersenyum mengingat wajah Jhon yang masam saat pergi. ia segera menuju kamar mandi. Setelah itu melihat jam sudah menunjukan pukul delapan malam. 


Meli keluar dari kamar, ia tersenyum saat berjumpa dengan para Pelayan yang sedang membersihkan dapur.


“Meli,” panggil Zara yang baru saja menuruni tangga.


“Nona belum tidur?”


“Mike kabur,” kata Zara.


Mata Meli melotot mendengar itu.”Bukannya pria itu sedang di kandang buaya?” 


“Mereka ramai, tapi sepertinya mereka bekerjasama untuk berusaha keluar dari sana.” 


Meli dan Zara saling tatap.  Keduanya duduk di ruang keluarga, tapi setelah itu terdengar suara aneh dari belakang.


Zara lari naik ke atas, wanita itu mengambil senjata apinya.  Ia perlahan menuju ruang rahasia. Dibukanya pintu ruang kerja ayahnya.


Zara melihat Meli bersembunyi balik guci,  wanita itu menggulingkan tubuhnya dan kini sudah berada di samping Meli.


“Kita kedatangan tamu, Kamu hubungi Diego bilang G, pria itu akan paham.”


Meli segera mencari kontak atas nama Diego, setelah tersambung dan terdengar suara Diego bilang halo, Meli langsung mengatakan,”G.”


Sambungan langsung terputus, Zara menatap Meli dan gadis itu hanya mengangguk. Setelah itu ia mengajak Meli untuk masuk ruang rahasia milik ayahnya.  Dari Monitor itu Zara bisa melihat ada lima lebih orang berpakaian hitam.


Namun, Sosok yang paling depan itu. Begitu Zara kenal, Wanita itu tersenyum, begitu cepat gerakan Mike di waktu dua puluh empat jam.


“Nona, itu bukannya?” Meli menatap Zara.


“Itu Mike, kemarin kabur. Sekarang sudah datang,” kata Zara.


Zara masih mengawasi pergerakan Mike dan anak buahnya. Zara memakai Earphone untuk mendengar suara Mike pada anak buahnya.


“Zara di kamar atas, ingat jangan sampai wanita itu lecet karena aku akan menikmatinya lebih dahulu” kata Mike.


Mendengar itu Zara mengepalkan tangannya. Wanita itu hendak keluar, tapi Meli mencegahnya.”Nona, kita tunggu Tuan Nathan.”


Zara menarik napas panjang, menyesal waktu itu tidak langsung menendang pria itu dalam kandang. Saat keduanya sedang asik memperhatikan monitor terdengar gedoran.” Nona apa itu?”

__ADS_1


__ADS_2