Secret Wedding

Secret Wedding
Hari bahagia


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh


Jhon dan Meli pun tiba. Sejak kejadian di mana Mike kabur dan menyelinap ke


rumah Zara.


Wanita itu merasa sudah tenang,


apalagi laporan dari Jhon dan Diego mengirimkan bagaimana tubuh Mike dijadikan


rebutan buaya.


Zara melihat Meli yang sedang


dirias, ia tersenyum melihat sahabatnya itu akhirnya akan mengakhiri masa


lajangnya.


Setelah hampir lebih dari satu


jam, Meli sudah terlihat begitu cantik, gadis itu merasa dadanya berdegup


kencang.


Zara segera membawa Meli untuk


keluar dari kamar, semua menoleh la arah wanita yang berparas cantik itu.


Meli begitu anggun mengenakan


kebaya berwarna putih, serasi dengan pakaian yang dipakai oleh Jhon.


Jhon matanya menatap wajah calon


istri, pria itu begitu terpesona.


Setelah Meli didudukkan di


samping Jhon, akad nikah pun dimulai.


Seruan kata sah terdengar dari


kedua saksi, Nathan menjadi saksi dari Meli. Sedangkan kedatangan Tama menjadi


saksi Jhon.


Zara meneteskan air matanya, ia


tidak tahu kalau ayahnya akan datang.


Kini Zara mewakili dari kedua


mempelai, mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang


disediakan.


Tepat pukul dua siang, para tamu


undangan pamit pulang. Kini tinggal keluarga Zara dan Diego yang masih asik


mengobrol dengan Tama.


Meli masuk kamar, ia dibantu


Zara melepaskan hiasan di kepalanya. Bahkan gadis itu terkejut saat masuk kamar


suaminya sudah dihias begitu indah, banyak kelopak bunga mawar merah bertaburan


di atas ranjang, bahkan bunga itu ada yang bertebaran di lantai dekat meja


rias, hingga arah kamar mandi.


Meli sebenarnya penasaran dengan


kamar mandi, tapi ia akan menunggu Zara melepaskan hiasan di kepalanya.


Setelah selesai,  Meli


segera menuju ke kamar mandi. Wanita itu menutup mulutnya, di kamar mandi juga


dihias sedemikian rupa. Di bathtup ada taburan bunga, gadis itu duduk di tepi


bathtup.


Meli memercikkan airnya, tapi


tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang."Apa kamu suka?"


"Bee," ucap Meli.


"Hem." Jhon mengecup


kening Meli lembut.


"Tolong keluar dulu aku


ingin mandi," usir Meli pada pria yang baru beberapa jam menikahinya itu.


Jhon tersenyum, ia bisa paham


kalau istrinya masih malu.


Pria itu segera keluar, tapi


bukan istirahat. Jhon membersihkan tubuhnya di kamar mandi tamu.


Saat Meli keluar dari kamar


mandi, bersamaan dengan Jhon masuk kamar.


Keduanya sama-sama terkejut,


Meli hanya melilitkan handuk pada tubuhnya. Sedangkan Jhon sudah memakai piyamanya,


tiba-tiba terdengar perut Jhon berbunyi.


“Kamu belum makan, Bee?”


Jhon menggelengkan kepalanya,


sebenarnya pria itu malu. Namun, untuk mengalihkannya ia masih berwajah datar.


Meli segera mengerti bajunya,

__ADS_1


setelah itu ia mengambilkan pakaian suaminya.” Bee, aku siapkan makan dulu ya.”


Jhon mengangguk, padahal di


bawah sana sesuatu sudah on. Lagi-lagi pria itu harus menahannya.


Jhon setelah memakai bajunya


pria itu segera keluar dari kamar, pria itu berjalan menuju ke meja makan.


“Makan apa adanya ya, Bee.


Makanan tadi sudah habis,” kata Meli merasa tidak enak pada suaminya.


“Ini sudah cukup, kamu tidak


makan?”


"Masih kenyang, duluan saja tidak apa-apa, Bee.”


Jhon mengangguk, tapi tiba-tiba pria itu menarik tubuh Meli dalam dekapannya."


Aku sampai sekarang masih tidak percaya kalau kita sudah menikah. Aku


mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, Sayang."


"Terima kasih, Bee. Aku juga sangat mencintaimu, tapi tolong lepas makan


dulu ya."


"Aku tidak lapar, Sayang. aku hanya menginginkanmu.”


Pesona Jhon walaupun sudah kepala tiga, pria itu masih terlihat seperti umur


dua puluh lima tahun.


Meli tersenyum tipis, wanita itu menatap netra Pria yang kini berstatus


suaminya itu.


Keduanya saling tatap, hingga entah siapa dulu yang memulainya. Kini


keduanya saling berciuman.


Meli awalnya tidak membalas, tapi Jhon mengigit bibir bawahnya. Hingga gadis


itu membuka mulutnya.


"Bee," erang Meli.


Mendengar itu Jhon semakin memperdalam ciumannya. Hingga napas kedua


tersengal karena kehabisan oksigen.


"Bee, hentikan."


"Tidak, Sayang. Kamu membuat hidupku kembali lagi berwarna." Jhon


kembali mencium bibir Meli.


Bahkan pria itu mendudukkan gadis itu di meja makan, digesernya makanannya.


Ciuman Jhon kini turun ke leher Meli." Ahhhh…., Bee."


Meli membuka matanya, Begitu juga dengan Jhon. Keduanya saling tatap.


"Jhon… ah….," desah Meli saat Jhon menggigit kecil leher istrinya.


Pria itu memberikan tanda kepemilikan di leher Meli.


Jhon ******* bibir ranum Meli dengan lembut. Tangan Jhon perlahan turun


menaikkan kaos  warna biru, mata liar pria berumur tiga puluh tujuh tahun


itu melebar.


Tangannya mengusap dua gundukan indah itu.


"Bee," kata Meli dengan tubuh mengeliat


Mata Jhon melirik ke wajah Meli, pria itu memainkan lidahnya di napel warna


pink itu.


Meli yang baru pertama merasakan akan sentuhan tangan pria, sialnya pria itu


yang dulu begitu dingin padanya.


"Sayang," lenguh Meli saat intinya dimainkan dengan lidah Jhon.


"Kamu suka, Baby."


Meli hanya mengangguk, gadis itu napasnya tersengal-sengal. Dibukanya


kakinya lebih lebar." Bee, lakukan lagi."


Jhon tersenyum tipis, tanpa menunggu lama ia membuka semua pakaian Meli dan


pakaiannya.


Kini keduanya sama polos di meja makan, Meli menutup wajahnya malu saat


melihat sesuatu yang berurat itu.


"Pegang, Baby. Biar si black mengenalmu."


Meli menatap sesuatu warna hitam itu, gadis itu heran kenapa bisa warnanya


seperti itu.


Mata Meli kini tertuju pada bulat kecil di batang yang mengacungkan itu.


Jhon meraih tangan Meli dan mulai menempelkan di adik kecilnya.


Walaupun awalnya ragu, tapi gadis itu perlahan mulai memgangangnya.


"Ah, terus sayang. Kamu pintar." Jhon mendongak dengan memejamkan


matanya.


Pria itu menikmati akan apa yang dilakukan oleh Meli.


Tiba-tiba Jhon menggendong tubuh Meli, pria itu membaringkan di atas meja

__ADS_1


makan.


Pria itu kembali mencumbu, tubuh polos Meli, hal itu membuat gadis itu


menggeliat ke kanan dan kiri.


"Kamu masih Virgin, Baby."


"Iya, itu untuk suami saya."


"Aku  suamimu, Baby."


Jhon menatap penuh cinta ke netara indah itu, kenapa mata itu begitu mirip


dengan sesorang yang dulu dikenalnya.


"Baby, aku ingin melakukannya."


"Ja-jangan aku takut, Bee. Bagaimana kalau sakit nanti?"


"Sayang, setelah ini kamu keluar dari pekerjaan ini. Kamu akan kerja di


kantor, sebagai asistenku biar kita bertemu setiap waktu."


"Bagaimana bisa, Bee."


"Nona bilang kamu lulusan terbaik di Jerman, tapi lebih menjadi pelayan


karena gajimu besar."


"Itu hanya rezeki dari Tuan Nathan,"


Jhon menyeringai, pria itu dengan perlahan mulai penyatuan lagi.


"Bee," teriak Meli saat sesuatu besar dan berurat itu menembus apa


yang di jaganya selama ini.


Air mata Meli membasahi kedua pipinya, melihat itu Jhon mencium dan memberi


ketenangan.


Pria itu sama sekali tidak mengerakkan tubuhnya. Ia ingin sang istri lebih


tenang dulu.


"Maaf." Jhon kembali mencium bibir ranum Meli.


"Boleh aku bergerak."


Meli dengan lemah mengangguk, Jhon perlahan menarik adik kecilnya, tapi pria


itu kembali lagi memasukkan dengan perlahan. Hingga terdengar lenguhan dan


******* dari Meli.


“Sayang. Lebih kuat lagi temponya. Ah…. begitu… oh…. Ini enak."


"Sempit Baby, Ah…."


Baik Meli dan Jhon saling mengerang. Rasa nikmat dari jepitan itu membuat Jhon,


menaikkan kaki Meli satu ke bahunya, setelah itu pria itu kembali


menghentak-hentakkan pinggulnya. Begitu juga dengan Meli, wanita itu mulai


mengimbangi adik kecil suaminya majikannya itu.


"Tuan saya. Sampai." Tubuh Meli bergetar hebat saat wanita itu


sampai pada puncaknya, tidak lama Jhon makin kuat menghentakkan adik kecilnya,


pria itu mengerang saat merasakan denyutan di adik kecilnya " Oh…."


Jhon tersenyum, baru kali ini ia merasakan sempitnya anak perawan,


pernikahan dengan Meli membuat bisa merasakan surganya dunia.


Jhon merasa dihargai, saat seorang wanita mampu memberikan hartanya, Seperti


yang Meli lakukan.


Napas keduanya terengah-engah, tidak lama Meli terlelap dengan tubuh masih


polos.


Jhon tersenyum melihat gadis itu kini kelelahan akan ulahnya.


Jhon berbaring di samping Meli , melihat dada ranum gadis itu. ia Langsung


menyusu seperti bayi.


Meli melenguh.. Namun, Jhon merasa adik kecilnya kembali lagi menegang. Pria


itu kembali penyatuan.


"Oh, ini membuatku gila."


Jhon mulai memompa istrinya dengan lambat, tapi sesekali pria itu


menghentakkan dengan kasar.


" Tuan."


Jhon mengikuti apa yang diinginkan gadis binal itu.


"Ah… sayang ini. Aku keluar." Jhon tersenyum dan pria itu mengecup


kening Meli.


Jhon segera menuju kamar mandi, sedangkan Meli kini tubuhnya terlentang di


karpet ruang keluarga.


Wanita itu memejamkan matanya." Tuan hentikan."


Meli mendesah saat merasakan lidah Jhon nakal di lehernya.


Mata Meli terbuka saat melihat suaminya berada tidak jauh darinya. Tidak


lama Jhon keluar dari di dapur.


Meli segera bangun dan menuju kamar mandi." Astaga kenapa begitu sakit?"

__ADS_1


__ADS_2