
Hari yang ditunggu-tunggu oleh
Jhon dan Meli pun tiba. Sejak kejadian di mana Mike kabur dan menyelinap ke
rumah Zara.
Wanita itu merasa sudah tenang,
apalagi laporan dari Jhon dan Diego mengirimkan bagaimana tubuh Mike dijadikan
rebutan buaya.
Zara melihat Meli yang sedang
dirias, ia tersenyum melihat sahabatnya itu akhirnya akan mengakhiri masa
lajangnya.
Setelah hampir lebih dari satu
jam, Meli sudah terlihat begitu cantik, gadis itu merasa dadanya berdegup
kencang.
Zara segera membawa Meli untuk
keluar dari kamar, semua menoleh la arah wanita yang berparas cantik itu.
Meli begitu anggun mengenakan
kebaya berwarna putih, serasi dengan pakaian yang dipakai oleh Jhon.
Jhon matanya menatap wajah calon
istri, pria itu begitu terpesona.
Setelah Meli didudukkan di
samping Jhon, akad nikah pun dimulai.
Seruan kata sah terdengar dari
kedua saksi, Nathan menjadi saksi dari Meli. Sedangkan kedatangan Tama menjadi
saksi Jhon.
Zara meneteskan air matanya, ia
tidak tahu kalau ayahnya akan datang.
Kini Zara mewakili dari kedua
mempelai, mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang
disediakan.
Tepat pukul dua siang, para tamu
undangan pamit pulang. Kini tinggal keluarga Zara dan Diego yang masih asik
mengobrol dengan Tama.
Meli masuk kamar, ia dibantu
Zara melepaskan hiasan di kepalanya. Bahkan gadis itu terkejut saat masuk kamar
suaminya sudah dihias begitu indah, banyak kelopak bunga mawar merah bertaburan
di atas ranjang, bahkan bunga itu ada yang bertebaran di lantai dekat meja
rias, hingga arah kamar mandi.
Meli sebenarnya penasaran dengan
kamar mandi, tapi ia akan menunggu Zara melepaskan hiasan di kepalanya.
Setelah selesai, Meli
segera menuju ke kamar mandi. Wanita itu menutup mulutnya, di kamar mandi juga
dihias sedemikian rupa. Di bathtup ada taburan bunga, gadis itu duduk di tepi
bathtup.
Meli memercikkan airnya, tapi
tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang."Apa kamu suka?"
"Bee," ucap Meli.
"Hem." Jhon mengecup
kening Meli lembut.
"Tolong keluar dulu aku
ingin mandi," usir Meli pada pria yang baru beberapa jam menikahinya itu.
Jhon tersenyum, ia bisa paham
kalau istrinya masih malu.
Pria itu segera keluar, tapi
bukan istirahat. Jhon membersihkan tubuhnya di kamar mandi tamu.
Saat Meli keluar dari kamar
mandi, bersamaan dengan Jhon masuk kamar.
Keduanya sama-sama terkejut,
Meli hanya melilitkan handuk pada tubuhnya. Sedangkan Jhon sudah memakai piyamanya,
tiba-tiba terdengar perut Jhon berbunyi.
“Kamu belum makan, Bee?”
Jhon menggelengkan kepalanya,
sebenarnya pria itu malu. Namun, untuk mengalihkannya ia masih berwajah datar.
Meli segera mengerti bajunya,
__ADS_1
setelah itu ia mengambilkan pakaian suaminya.” Bee, aku siapkan makan dulu ya.”
Jhon mengangguk, padahal di
bawah sana sesuatu sudah on. Lagi-lagi pria itu harus menahannya.
Jhon setelah memakai bajunya
pria itu segera keluar dari kamar, pria itu berjalan menuju ke meja makan.
“Makan apa adanya ya, Bee.
Makanan tadi sudah habis,” kata Meli merasa tidak enak pada suaminya.
“Ini sudah cukup, kamu tidak
makan?”
"Masih kenyang, duluan saja tidak apa-apa, Bee.”
Jhon mengangguk, tapi tiba-tiba pria itu menarik tubuh Meli dalam dekapannya."
Aku sampai sekarang masih tidak percaya kalau kita sudah menikah. Aku
mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, Sayang."
"Terima kasih, Bee. Aku juga sangat mencintaimu, tapi tolong lepas makan
dulu ya."
"Aku tidak lapar, Sayang. aku hanya menginginkanmu.”
Pesona Jhon walaupun sudah kepala tiga, pria itu masih terlihat seperti umur
dua puluh lima tahun.
Meli tersenyum tipis, wanita itu menatap netra Pria yang kini berstatus
suaminya itu.
Keduanya saling tatap, hingga entah siapa dulu yang memulainya. Kini
keduanya saling berciuman.
Meli awalnya tidak membalas, tapi Jhon mengigit bibir bawahnya. Hingga gadis
itu membuka mulutnya.
"Bee," erang Meli.
Mendengar itu Jhon semakin memperdalam ciumannya. Hingga napas kedua
tersengal karena kehabisan oksigen.
"Bee, hentikan."
"Tidak, Sayang. Kamu membuat hidupku kembali lagi berwarna." Jhon
kembali mencium bibir Meli.
Bahkan pria itu mendudukkan gadis itu di meja makan, digesernya makanannya.
Ciuman Jhon kini turun ke leher Meli." Ahhhh…., Bee."
Meli membuka matanya, Begitu juga dengan Jhon. Keduanya saling tatap.
"Jhon… ah….," desah Meli saat Jhon menggigit kecil leher istrinya.
Pria itu memberikan tanda kepemilikan di leher Meli.
Jhon ******* bibir ranum Meli dengan lembut. Tangan Jhon perlahan turun
menaikkan kaos warna biru, mata liar pria berumur tiga puluh tujuh tahun
itu melebar.
Tangannya mengusap dua gundukan indah itu.
"Bee," kata Meli dengan tubuh mengeliat
Mata Jhon melirik ke wajah Meli, pria itu memainkan lidahnya di napel warna
pink itu.
Meli yang baru pertama merasakan akan sentuhan tangan pria, sialnya pria itu
yang dulu begitu dingin padanya.
"Sayang," lenguh Meli saat intinya dimainkan dengan lidah Jhon.
"Kamu suka, Baby."
Meli hanya mengangguk, gadis itu napasnya tersengal-sengal. Dibukanya
kakinya lebih lebar." Bee, lakukan lagi."
Jhon tersenyum tipis, tanpa menunggu lama ia membuka semua pakaian Meli dan
pakaiannya.
Kini keduanya sama polos di meja makan, Meli menutup wajahnya malu saat
melihat sesuatu yang berurat itu.
"Pegang, Baby. Biar si black mengenalmu."
Meli menatap sesuatu warna hitam itu, gadis itu heran kenapa bisa warnanya
seperti itu.
Mata Meli kini tertuju pada bulat kecil di batang yang mengacungkan itu.
Jhon meraih tangan Meli dan mulai menempelkan di adik kecilnya.
Walaupun awalnya ragu, tapi gadis itu perlahan mulai memgangangnya.
"Ah, terus sayang. Kamu pintar." Jhon mendongak dengan memejamkan
matanya.
Pria itu menikmati akan apa yang dilakukan oleh Meli.
Tiba-tiba Jhon menggendong tubuh Meli, pria itu membaringkan di atas meja
__ADS_1
makan.
Pria itu kembali mencumbu, tubuh polos Meli, hal itu membuat gadis itu
menggeliat ke kanan dan kiri.
"Kamu masih Virgin, Baby."
"Iya, itu untuk suami saya."
"Aku suamimu, Baby."
Jhon menatap penuh cinta ke netara indah itu, kenapa mata itu begitu mirip
dengan sesorang yang dulu dikenalnya.
"Baby, aku ingin melakukannya."
"Ja-jangan aku takut, Bee. Bagaimana kalau sakit nanti?"
"Sayang, setelah ini kamu keluar dari pekerjaan ini. Kamu akan kerja di
kantor, sebagai asistenku biar kita bertemu setiap waktu."
"Bagaimana bisa, Bee."
"Nona bilang kamu lulusan terbaik di Jerman, tapi lebih menjadi pelayan
karena gajimu besar."
"Itu hanya rezeki dari Tuan Nathan,"
Jhon menyeringai, pria itu dengan perlahan mulai penyatuan lagi.
"Bee," teriak Meli saat sesuatu besar dan berurat itu menembus apa
yang di jaganya selama ini.
Air mata Meli membasahi kedua pipinya, melihat itu Jhon mencium dan memberi
ketenangan.
Pria itu sama sekali tidak mengerakkan tubuhnya. Ia ingin sang istri lebih
tenang dulu.
"Maaf." Jhon kembali mencium bibir ranum Meli.
"Boleh aku bergerak."
Meli dengan lemah mengangguk, Jhon perlahan menarik adik kecilnya, tapi pria
itu kembali lagi memasukkan dengan perlahan. Hingga terdengar lenguhan dan
******* dari Meli.
“Sayang. Lebih kuat lagi temponya. Ah…. begitu… oh…. Ini enak."
"Sempit Baby, Ah…."
Baik Meli dan Jhon saling mengerang. Rasa nikmat dari jepitan itu membuat Jhon,
menaikkan kaki Meli satu ke bahunya, setelah itu pria itu kembali
menghentak-hentakkan pinggulnya. Begitu juga dengan Meli, wanita itu mulai
mengimbangi adik kecil suaminya majikannya itu.
"Tuan saya. Sampai." Tubuh Meli bergetar hebat saat wanita itu
sampai pada puncaknya, tidak lama Jhon makin kuat menghentakkan adik kecilnya,
pria itu mengerang saat merasakan denyutan di adik kecilnya " Oh…."
Jhon tersenyum, baru kali ini ia merasakan sempitnya anak perawan,
pernikahan dengan Meli membuat bisa merasakan surganya dunia.
Jhon merasa dihargai, saat seorang wanita mampu memberikan hartanya, Seperti
yang Meli lakukan.
Napas keduanya terengah-engah, tidak lama Meli terlelap dengan tubuh masih
polos.
Jhon tersenyum melihat gadis itu kini kelelahan akan ulahnya.
Jhon berbaring di samping Meli , melihat dada ranum gadis itu. ia Langsung
menyusu seperti bayi.
Meli melenguh.. Namun, Jhon merasa adik kecilnya kembali lagi menegang. Pria
itu kembali penyatuan.
"Oh, ini membuatku gila."
Jhon mulai memompa istrinya dengan lambat, tapi sesekali pria itu
menghentakkan dengan kasar.
" Tuan."
Jhon mengikuti apa yang diinginkan gadis binal itu.
"Ah… sayang ini. Aku keluar." Jhon tersenyum dan pria itu mengecup
kening Meli.
Jhon segera menuju kamar mandi, sedangkan Meli kini tubuhnya terlentang di
karpet ruang keluarga.
Wanita itu memejamkan matanya." Tuan hentikan."
Meli mendesah saat merasakan lidah Jhon nakal di lehernya.
Mata Meli terbuka saat melihat suaminya berada tidak jauh darinya. Tidak
lama Jhon keluar dari di dapur.
Meli segera bangun dan menuju kamar mandi." Astaga kenapa begitu sakit?"
__ADS_1