
Baik Jin Ji maupun Chae Eun, wajah kedua insan itu merah padam. Membuat Jessica dan Hyunwoo yang juga ada di meja makan yang sama dengan mereka, memandang khawatir.
"Kalian baik-baik saja? Wajah kalian merah sekali. Apakah demam?" Jessica hendak menyentuh kening Chae Eun untuk memeriksa deman. Namun, dengan segera Chae Eun menepisnya.
"Aku tidak apa-apa."
"Yang benar? Wajahmu merang sekali loh. Apa jangan-jangan...," Jessica terdiam. Dia kemudian memandang Hyunwoo dengan resah, dan mungkin karena kontak batin, Hyunwoo pun ikut resah.
"Jangan-jangan kalian terpapar virus yang saat ini sedang booming!" Jessica dan Hyunwoo berseru bersama. Hal itu membuat Jin Ji, dan Chae Eun menghela napas panjang.
"Astaga, mereka memang cocok. Bodohnya sama," gumam Chae Eun pelan. Namun, masih dapat terdengar oleh Jin Ji.
"Pfttthh~" Jin Ji menahan tawanya setelah mendengar gumaman Chae Eun. Chae Eun yang mendengar tawa tertahan Jin Ji segera menoleh untuk melihat betapa tampannya Jin Ji saat tertawa. Namun, dia segera berpaling darinya.
Sial! Dia terlalu tampan. Aku sudah tidak tahan lagi! Chae Eun beranjak dari tempatnya, dan berkata dengan tegas. "Hari ini aku akan lembur!"
"Lagi? Bukankah hari ini...,"
"Hari ini apa? Aku ini seorang Direktur, maka dari itu aku harus rajin!" Chae Eun menyela Jessica. Kemudian dia pergi secepat kilat.
"Astaga, makin hari dia makin aneh dan menyebalkan saja. Ckckck." Decak Hyunwoo. Kemudian dia menoleh pada Jin Ji. Seraya berkata, "menjadi temannya saja sudah dibuat kesulitan olehnya, apalagi menjadi suaminya, iya kan?"
Jin Ji hanya memasang senyuman sebagai balasan dari pertanyaan Hyunwoo.
"Oh iya, kau tidak marah, 'kan karena aku memberitahu tentang pernikahanmu dan Chae Eun kepada Hyunwoo? Semalam itu aku harus menjelaskan situasinya padanya, jadi aku terpaksa jujur tentang hubunganmu dan Chae Eun." Jessica nampak merasa bersalah. Baik Jin Ji maupun Chae Eun memang tidak pernah melarang siapapun untuk tahu, hanya saja mereka saja yang tidak ingin memberitahukan orang-orang tentang pernikahan mereka.
"Bukan masalah."
"Hey, aku sungguh terkejut saat mendengarnya. Buluku bergedik saat tahu ternyata mulut pisau itu sudah menikah, ditambah lagi dia menikahi aktor populer sepertimu," kata Hyunwoo tak menyangka.
"Kau benar, aku juga tidak menyangka bahwa aku bisa menikah dengannya. Dia terlalu baik, dan keren untukku, dia juga sangat cantik. Jadi, sangat mengherankan kenapa dia..., memilihku sebagai suaminya." Jin Ji termenung barang sejenak. Sedangkan Jessica dan Hyunwoo nampak tercengang.
Benar! Chae Eun begitu sempurna untukku. Orang seperti dia..., benar-benar telah mengorbankan banyak hal saat memilih untuk bersamaku. Pikir Jin Ji.
"Kau serius saat mengatakan itu?" Tanya Hyunwoo meyakinkan. "Waahhh ini pertama kalinya ada orang yang memuji si mulut pisau itu. Kau tahu? Semua orang yang bergelut di dunia bisnis selalu menyebutnya wanita yang menyebalkan. Ya~ meskipun tidak menampik juga bahwa dia sangat dikagumi karena kredibilitasnya."
Jessica yang awalnya tercengang, kini tersenyum saat menatap wajah Jin Ji. "Tuan Ji, kau menyukai Chae Eun, 'kan?"
Jin Ji tersentak, "e-eoh..., itu...,"
"Mana mungkin! Hanya orang aneh yang menyukai tipe wanita seperti itu!" Hyunwoo menyela. Hyunwoo sudah mengenal Chae Eun sejak lama, dan dia tahu betul bahwa tidak ada satupun pria yang tertarik pada Chae Eun karena tabiat buruknya itu.
__ADS_1
Sejong merona, dia menundukkan kepalanya, dan senyuman kecil mengembang diwajahnya. "Kurasa aku memang aneh."
Jessica sumringah. Sedangkan Hyunwoo tercengang.
"K-kau sungguh menyukainya?!"
"Emmm..., bukan suka. Tapi amat sangat suka."
●●●
"Oppa, kita akan benar-benar bersama bila aku membantumu, 'kan?" Sang manager fansite Haejun, Cha Si Hye. Bertanya manja.
Haejun membelai wajah wanita itu, mengecup keningnya. Seraya berkata, "tentu saja. Tapi, aku kni buron. Jadi pasti akan sulit bagi kita untuk bersama. Oleh karena itu, kau bantu aku menyebarkan file ini di situs penggemar, supaya aku bisa terbebas dari semua tuduhan, dan orang jahat sebenarnya tertangkap."
"Oke, akan kulakukan. Tapi...," Si Hye menatap Haejun penuh hasrat. "Aku ingin oppa membayarku di muka."
"Berapa yang kau inginkan?"
"Ck, oppa yang benar saja. Aku itu menyukai sesuatu yang berharga. Tubuh oppa."
Haejun bergedik. Si Hye itu bukan wanita cantik, wajahnya penuh bintik, dan tubuhnya penuh lemak. Haejun sudah bertahan sejak tadi saat mengecup keningnya, dan tidak di sangka wanita itu meminta lebih.
Sial sekali! Aku harus melayani wanita seperti ini. Tapi, jika bukan dia, siapa lagi yang akan membantuku yang sudah hancur seperti ini?
●●●
Chae Eun membeku saat melihat Jin Ji berada di depan rumahnya.
"K-kau kenapa di-sini? B-bukankah kau seharusnya di rumah Chun Bong?" Chae Eun tergagap.
"Aku dihubungi tukang kunci. Hey, kenapa kau tidak bilang kalau pintu ini sudah selesai diperbaiki? Aku merasa sangat tidak enak hati tinggal di rumah nona Chun dan mengganggu kemesraannya dengan pacar tampannya itu," Jin Ji mengeluh.
"Itu..., aku hanya lupa saja. Ayo masuk." Chae Eun segera melangkah masuk ke rumahnya, diekori oleh Jin Ji.
"Sandinya 6419. Harap diingat agar kita tidak perlu mengganti pintu lagi!" Tukas Jin Ji sebelum dia masuk ke kamar, menjnggalkan Chae Eun yang kini merasa lega karena sudah tidak musti berhadapan dengannya lagi.
"Aishhh aku tidak memberitahu dia tentang pintu ini karena aku ingin menghindarinya. Sialan sekali tukang pintu itu! Kenapa mulutnya bocor sekali sampai harus memberitahunya!" Gumam Chae Eun.
Chae Eun hendak masuk ke kamarnya ketika suara bel rumahnya berbunyi. Dia membukakan pintu pada si penekan bel, dan mendapati seorang kurir restoran.
"Pesanan atas nama Tuan Ji Hyujin," kata kurir itu.
__ADS_1
"Oh sudah sampai rupanya. Toling letakkan di dalam saja," kata Jin Ji yang entah sejak kapan berada di belakang Chae Eun.
Kurir itu masuk dengan membawa box besi besar berisikan pesanan makanan Jin Ji, dan mengeluarkan makanan-makanan itu dari sana untuk diletakkan di atas meja.
"Ambil saja kembaliannya," kata Jin Ji sembari memberikan beberapa lembar won pada sang kurir. Kurir itu pergi dengan wajah sumringah.
"Kau belum makan malam?" Tanya Chae Eun.
"Belum, hari ini banyak sekali shooting, dan setelah selesai aku langsung meminta kak Seok Woo untuk mengantarku ke sini, karena seperti yang kubilang, aku merasa tak enak hati untuk kembali ke rumah nona Chun," jelas Jin Ji.
"Begitu rupanya. Pantas saja kau memesan banyak makanan. Mau merapel sarapanmu, makan siangmu, dan makan malammu, ya?" Gurau Chae Eun.
"Tidak. Aku mau memakannya bersamamu."
Deggg
Chae Eun berdebar-debar, dan wajahnya merona saat mendengar perkataan Jin Ji.
Dia hanya mengajakku makan bersama, dan bukan di restoran ataupun hotel mewah tapi, kenapa aku berdebar begini?
"Kenapa diam saja? Ayo." Jin Ji menggenggam tangan Chae Eun, dan membawanya duduk di sampingnya.
"Ayo, dimakan. Kau ini bekerja seharian, pasti kau melupakan mkan siang dan malammu, jadi makanlah yang banyak." Jin Ji memberikan semangkuk nasi dan lauk pauk yang dibelinya kepada Chae Eun.
Chae Eun yang masih berdebar-debar, tidak bisa fokus pada makanan, dia sibuk untuk menstabilkan detak jantungnya.
"Hey, kenapa diam saja. Apa kau mau..., aku suapi?" Bisik Jin Ji.
Membuat Chae Eun semakin tak karuan.
Sialan! Dia pandai sekali membuatku berdebar begini.
"Hey, kalau masih diam juga, aku benar-benar akan menyuapimu loh, bukan dengan sendok tapi, dengan mulutku." Jin Ji kembali berbisik. Dan itu membuat Chae Eun tak tahan lagi.
"MENYEBALKAN! KAU MENYEBALKAN SEKALI JI HYUJIN!" Chae Eun segera beranjak dari tempatnya dan mengunci dirinya di dalam kamar.
"Pfttthhh~" Jin Ji menahan tawanya. "Dia sedang malu ya? Lucu sekali. Aihhhh kalau tahu dia siimut ini, sudah kuperlakukan dia seperti tadi sejak lama."
Di sisi lain.
Jantung Chae Eun berdegub begitu keras sampai-sampai dia bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Sial sekali. Apa dia sengaja begini padaku, huh? Menyebalkan. Aishhh. Membuat aku malu saja."