Secret Wedding

Secret Wedding
Part 15


__ADS_3

Aku merasa seperti boneka yang sedang di mainkan oleh anak-anak. Bagaimana bisa Taehyung sialan itu menyuruhku datang ke acara seperti ini? Arghhh, memikirkannya membuatku amat frustrasi.


Tidak ada yang bisa kulakukan selain meminum minumanku di sini. Anak-anak orang kaya itu terlihat sangat brutal saat bercanda satu sama lain.


"Jin Ji oppa, apa oppa tidak akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku?" So Hwa, putri bungsu presdir Sungsung elektronik, dan merupakan tokoh utama di acara ini, mendatangiku.


Aku memasang senyum termanisku, "saengil chukkae uri So Hwa," kataku.


"Ouhhhhhh oppa, kau adalah hadiah terbaikku." Dia menghamburkan dirinya padaku, memelukku erat, dan mulai meraba tubuhku. Sedangkan teman-temannya terlihat iri sekaligus puas melihat kelakuan So Hwa.


Sialan! Bocah ini mesum sekali!


Aku ingin sekali mendorongnya. Namun, aku terbentur oleh kenyataan bahwa aku tidak bisa berbuat seenaknya di sini. Taehyung sialan itu pasti akan marah, dan mengancamku dengan hal yang sama berulang kali.


"Nona muda, kau bisa dituntut sebagai pelaku pelecehan jika orang yang kau sentuh itu tidak mengizinkanmu menyentuhnya."


Suara itu!


So Hwa melepaskanku, dan menatap orang yang menegurnya itu.


Mataku terbelalak, dan tubuhku menegang saat melihat orang itu. Dia..., Shim Eun Joo?


"Aishhh! Yaa! Kau pikir kau siapa berani menasehatiku, hah?!" So Hwa meraih gelas minumanku, dan melemparkan air yang ada di sana ke wajah Eun Joo.


"Rasakan itu! Dasar pelayan sampah yang tak tahu diri!"


Bukannya bersimpati, atau menasehati, teman-teman So Hwa justru tertawa keras melihat kelakuan So Hwa.


"Kalian! Beginikah orangtua kalian mendidik kalian, hah?!" Bentakku. Dia boleh melecehkanku, tapi, Eun Joo? Bahkan aku tidak akan membiarkan tuhan melecehkannya!


So Hwa memandangku terheran-heran, begitupun dengan orangtuanya yang berhenti berbicara dengan rekan bisnisnya hanya untuk melihat apa yang terjadi.


"Oppa, apa kau marah padaku? Demi pelayan ini? Yaa! Oppa! Yang membayarmu adalah orangtuaku! Bukan pelayan ini! Jadi seharusnya kau membelaku!"


Seumur hidupku, ini pertama kalinya aku bertemu siswi yang sekurang ajar So Hwa. "Kalau begitu katakan saja pada orangtuamu, bahwa aku tidak butuh mereka membayarku!" Tukasku. Setelahnya, aku menarik tangan Eun Joo, membawanya keluar dari tempat laknat itu. Entah apa yang akan terjadi padaku bila orangtua So Hwa sampai membatalkan kontrak iklan karena kejadian ini.


"Kau tidak seharusnya melakukan itu!" Eun Joo menarik tangannya dari genggamanku. Langkahku terhenti, aku menatap wajahnya yang menampakkan ketidaksukaan. "Sudah kukatakan agar kita saling mengabaikan saja!"


"Lantas kenapa tadi kau membantuku, huh? Itukah yang dinamakan mengabaikan?"


"Jangan salah paham. Aku tidak membantumu, aku hanya tidak suka dengan sikap anak orang kaya itu!" Tukas Eun Joo, dia hendak melangkah pergi. Namun, dengan cepat aku menahannya.


"Kau..., bagaimana kabarmu?" Ini adalah pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu aku bertemu dengannya.


"Aku...,"


"Jika dia mengatakan bahwa dia tidak baik-baik saja, maka apa yang akan kau lakukan, Hyujin-ah?!"


Suara itu! Hyang Seo?


Aku menoleh pada sang empunya suara yang tidak asing itu, ternyata benar, itu adalah Hyang Seo.


"Kutanya apa yang bisa kau lakukan jika dia memberitahumu?!" Hyang Seo mencengkram kerah kemejaku. Aku dapat melihat kemarahan di dalam bola matanya. Ya, apa yang terjadi tujuh tahun lalu bukanlah sesuatu yang bisa dihapus oleh waktu.


"Oppa! Hentikan! Kita pergi saja!" Eun Joo menarik tangan Hyang Seo dariku.


"Kau masih ada hati untuk membelanya? Membela orang seperti dia, hah?!!" Hyang Seo hendak melayangkan pukulan pada Eun Joo dan aku segera menahannya.


"Jadi begini kau memerlakukan Eun Joo, hah?!"


"Cih! Yaa! Hyujin-ah..., ahh bukan. Sekarang orang mengenalmu sebagai Jin Ji. Jin Ji-ssi, jangan ikut campur masalah kami jika kau tidak bisa memberikan solusi!" Hyang Seo sungguh tidak berubah, kebenciannya padaku tetap sama seperti tujuh tahun lalu.


Aku melepaskan tangan Hyang Seo yang sebelumnya kutahan. "Terserah saja, tapi pastikan kau tidak kasar padanya," kataku.


"Brengsek! Beraninya kau mengajariku!"


#bukkk

__ADS_1


"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu selain mengawasi dari kejauhan?!" Tubuhku terasa lelah untuk menangkis pukulan Hyang Seo, ataupun menyahuti perkataannya. Karena..., perkataannya benar. Aku..., selama ini hanyalah seseorang yang selalu melihat dari kejauhan.


"Kau bukan tipe orang yang dapat melindungi, kau harus ingat itu!" Tukasnya


Daripada melindungi, aku lebih sering dilindungi oleh orang lain. Itu kenyataan.


"Jadi, jangan berani-beraninya kau berharap untuk berada di sampingnya, ataupun bahagia, paham!"


Bahkan meskipun tak diingatkan, aku sudah cukup sadar diri, bahwa aku..., tidak pantas bahagia.


#bukkk


#bukkk


#bukkk


Pukulan ini..., aku memang pantas mendapatkannya


Hujan yang mendadak turun dari langit, apakah langit ikut sedih melihatku? Kurasa saat yang tepat jika aku menangis sekarang, hujan akan menyamarkannya untukku.


Aku, pada dasarnya aku sudah tidak memiliki siapapun lagi, ataupun tempat untuk mengadukan hal ini. Aku...,


"Hey, Jin-ah. Kalau kau lelah, dan ingin beristirahat, kau boleh datang kapanpun ke sini, paham? Karena ini adalah rumahmu."


Perkataan Chae Eun muncul di kepalaku. Meskipun aku tahu dia memerhatikanku karena tugasnya tapi..., kenyataannya hanya dialah yang akan menerimaku. Aku..., Chae Eun, kali ini, maafkan aku karena meminta kau menerimaku lagi.


●●●


"Hey, Chae Eun, kau sejak kapan tahu bahwa dalang dibalik rekaman video ilegal itu adalah Haejun?" Hyunwoo terdengar begitu antusias. Berkat kontribusinya menangkap dalang rekaman video ilegal di pusat perbelanjaannya, Hyunwoo diberikan plakat penghargaan oleh pihak kepolisian.


"Sudah kukatakan, bukan? Aku ini orang pintar, level kita berbeda." Sebenarnya, Chae Eun mengetahui hal tersebut setelah dia mulai meminta tuan Uhm untuk mengawasi Jin Ji. Karena Haejun pernah berkonflik dengan Jin Ji, maka dari itu Chae Eun meminta tuan Uhm untuk mencaritahu tentang Haejun, dan tak disangka dia mendapatkan informasi sebesar itu. Awalnya Chae Eun ingin segera melaporkannya. Namun, karena Jin Ji butuh bantuan untuk bisa sukses di dunia hiburan, maka dari itu Chae Eun menyimpan hal tersebut sebagai ancaman bagi Haejun agar Haejun mau menjadi avatarnya dalam membantu Jin Ji di industri hiburan.


"Aigoo!! Kenapa semua perkataan yang keluar dari mulutmu selalu membuatku kesal?!! Lagipula bukankah kau itu jahat! Kalau sudah tahu kalau Haejun dalangnya, kenapa kau menyembunyikannya, hah?! Jika saja aku tidak pandai berdalih, kau pasti sudah dianggap sebagai kaki tangan Haejun!" Tukas Hyunwoo.


"Kaki tangan? Maksudmu tangan kanan? Hahh, you see?! Kau bahkan tidak lebih pintar dari mongmonku." —mongmon adalah burung kakak tua peliharaan Chae Eun yang berhasil kabur dari kandangnya 2 tahun lalu—


"Kau menghubungiku hanya untuk menanyakan hal tidak penting itu?" Chae Eun bertanya dengan dingin.


"Itu..., aku hanya ingin..., tanya..., apa kau baik-baik saja? Kau langsung meninggalkan rumah sakit begitu saja, jadi..., aku merasa sedikit cemas." Dengan perlahan, dan malu-malu Hyunwoo bertanya.


Chae Eun memang sempat di rawat di rumah sakit setelah insiden pingsannya dia di kantor Hyunwoo. Dia selama dua hari di rawat, dokter bilang dia kelelahan sehingga harus istirahat total. Namun, sebelum infusnya habis, Chae Eun sudah meninggalkan rumah sakit begitu saja, sampai-sampai membuat Hyunwoo khawatir.


"Kau bertanya begini apakah karena Chun Bong memarahimu karena tidak bisa menjagaku?"


"Tidak! Lagipula namanya itu Jessica, bukan Chun Bong! Berhentilah memanggil dia dengan nama itu! Dan lagi aku memang tidak memberitahu Jessica bahwa kau di rawat. Jika dia tahu, maka mau kau kabur ataupun tidak dia tetap akan memarahiku!"


"Jadi kau bertanya begini karena..., jangan bilang kau suka aku ya?" Goda Chae Eun.


"Sialan! Mana mungkin!"


Hyunwoo langsung mengakhiri panggilan itu, dan itu membuat Chae Eun terbahak-bahak.


"Hahaha~ menyenangkan sekali mengganggu oppa tampannya Chun Bong."


Chae Eun hendak melemparkan ponselnya ke meja ketika ponselnya kembali berdering.


"Kak Sun?"


Chae Eun berpikir keras antara harus menerima panggilan itu atau menolaknya. Ini sudah satu minggu sejak kejadian antara dirinya, dan suami kakaknya itu, Chae Eun selalu menghindari Sun.


Haruskah kuabaikan lagi?


●●●


Terkadang hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Itulah yang Chae Eun pelajari hari ini.


Chae Eun hendak masuk ke rumah ketika melihat Jin Ji sedang duduk meringkuk di teras rumah.

__ADS_1


"Jin Ji?"


Jin Ji mengangkat kepalanya, dia tersenyum kecil melihat kedatangan Chae Eun.


"Kau sudah pulang. Kenapa..., lama sekali?" Suara Jin Ji terdengar parau, matanya basah, dan ada darah segar yang mengalir dari pelipisnya.



"Ada apa dengan wajahmu?" Chae Eun segera menghampirinya, dan mulai memeriksa dari wajah hingga tubuh Jin Ji, takut kalau-kalau Jin Ji terluka dibagian lain. "Siapa yang melakukannya? Apakah Haejun? Apa dia menyuruh orang untuk memukulimu?"


Jin Ji menggenggam tangan Chae Eun, "bukan apa-apa. Aku hanya lelah dan ingin tidur, tapi, aku tidak bisa membuka pintunya."


Mendengar itu, Chae Eun teringat bahwa sebelum pergi menemui Sun, dia mengubah kata sandi kunci pintu rumahnya lantaran kunci otomatis rumahnya tidak berfungsi, sehingga dia harus memanggil tukang kunci untuk membetulkannya. Dan kemudian karena tukang kunci itu sudah tahu sandi pintunya, Chae Eun jadi terpaksa menggantinya.


"Benar! Aku lupa memberitahumu kalau kunci otomatisnya tadi rusak, jadi aku menggantinya. Sebentar." Chae Eun merogoh seluruh saku yang ada di pakaiannya.


"Kau sedang cari apa?"


"Tentu saja sandi pintunya. Tadi aku menulisnya di selembar kertas kecil," kata Chae Eun, masih dengan sibuk mencari.


"Kau memangnya tidak mengingat sandi barunya?"


"Aku tadi sedang buru-buru, makanya aku berniat menghapalnya nanti. Aduh, bagaimana ini?"


Jin Ji ikut mencari, dia meraba-raba tubuh Chae Eun.


"Yaa! Apa yang kau raba, huh?"


"Aku sedang membantumu mencari. Lagipula memangnya apa yang bisa kuraba darimu, eoh?"


"Yaa! Kau!"


"Apa? Tidak ada sesuatu yang menonjol di tubuhmu."


"Yaa!!"


Jin Ji mengabaikannya dan terus meraba tubuh Chae Eun. Niatnya memang hanya demi mencari kertas sandi itu. Namun, mendengar bahwa tidak ada yang menonjol dari tubuhnya, membuat Chae Eun kesal, dan akhirnya melayangkan sebuah pukulan di kepala Jin Ji.


"Akhhhhh!!"


Epilogue


Jessica mengulum bibir Hyunwoo dengan lembut, tangan cantiknya itu mulai meraba-raba perut roti sobek Hyunwoo.


"Oppa, ayo lanjutkan di kamar," bisik Jessica dengan mesra.


Hyunwoo meyeringai, dia hendak mengangkat tubuh Jessica ketika tiba-tiba dua sosok yang tak diundang masuk ke rumah Jessica dengan seenaknya.


Jessica, dan Hyunwoo mematung di tempat mereka.


"Hey, Chun Bong, kau taruh di mana kotak obatmu?" Tanya Chae Eun.


"Di laci meja kerjaku," kata Jessica lemah.


"Ok." Chae Eun masuk ke ruang kerja Jessica. Sedangkan Jin Ji masih mematung di tempatnya bersama Hyunwoo, dan Jessica.


"Hey, Jin Ji, cepat ke sini. Lukamu harus segera diobati, atau wajahmu itu tidak bisa lagi menghasilkan uang!" Teriak Chae Eun dari dalam ruang kerja Jessica.


"A-aku..., a-akan anggap tidak l-lihat apapun. Maaf!!!" Jin Ji berlari cepat meninggalkan Jessica dan Hyunwoo.


"Hey, Jessi."


"Apa?"


"Aku pulang dulu ya." Hyunwoo dengan lemah beranjak dari tempatnya, dan pergi meninggalkan rumah Jessica.


"CHAE EUN!!!!!!!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2