
Haejun terlihat puas ketika Chae Eun memasuki kamar hotel yang dipesannya.
"Waahh aku pikir kau tidak akan datang, Direktur Chae."
Chae Eun tak menanggapi perkataan Haejun. Dia hanya terus berjalan menghampiri pria itu, dan duduk di sofa yang ada di samping pria itu.
"Jadi, apa yang kau tahu tentang masa lalu Jin Ji?" Tanya Chae Eun to the point.
"Jangan begitu, sebaiknya kita minum dulu."
Chae Eun menyeringai. "Tidak perlu mencoba menggodaku. Kau tidak akan pernah pantas walau hanya sekedar menjadi mainanku. Jadi, katakan saja apa yang kau tahu, dan aku akan mempertimbangkan apa yang harus kulakukan untukmu!" Tukas Chae Eun dengan santainya.
"Berhentilah bersikap sarkasme padaku. Kau mungkin akan menyesal karena lebih memilih mainan rusak seperti Jin Ji daripada aku."
"Kau begitu yakin. Kurasa kau tahu sesuatu yang sangat penting."
Haejun tersenyum sumringah. "Tentu saja. Kau pasti tidak akan menyangka bahwa Jin Ji yang selalu memasang wajah polos ternyata hanyalah seorang pria murahan!"
Chae Eun bergeming, dia mendengarkan Haejun dengan seksama.
Haejun menuangkan wine ke gelas, dan memberikannya pada Chae Eun. Seraya berkata, "dia adalah mainannya para sponsor, kau tahu? Yanghyang Production, JM Studio, Kyungra Group, dan Meora Electronik. Semua pimpinan perusahaan itu pernah cicipi si ***** Jin Ji. Para homoseksual itu sangat menyukai Jin Ji. Benar-benar menjijikan."
Chae Eun tetap bergeming. Ji Hyujin. Kau...,
●●●
Jin Ji membenarkan jasnya ketika hendak masuk ke rumah megah yang ada dihadapannya. Ya. Hari ini dia sudah ada janji dengan ayah mertuanya untuk datang ke rumah.
"Tuan Ji, anda sudah datang." Seorang pria tua berpakaian rapih menyambut kedatangan Jin Ji.
"Pak Jong?"
Pria tua bernama Jong Man itu tersenyum. "Sudah lama sekali tidak bertemu tapi, Tuan Ji tidak melupakanku, aku senang sekali."
"Bagaimana aku bisa lupa, pak Jong adalah saksiku saat menikah dengan Chae Eun."
"Kalau begitu, silahkan masuk, tuan besar sudah menunggu." Jong Man memersilahkan.
Jin Ji mengekori langkah Jong Man, hingga akhinya langkah Jong Man berhenti di ruang tamu yang begitu luas. Disana, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian necis. Pria itu menoleh pada Jin Ji, dan tersenyum kecil.
"Kau sudah datang. Duduklah," kata pria paruh baya itu, ayah Chae Eun. Dia beralih pada Jong Man, "pak Jong, terimakasih sudah mengantar Jin Ji. Anda bisa melanjutkan pekerjaan anda."
"Baik." Jong Man pergi meninggalkan kedua tuannya itu. Sedangkan Jin Ji mulai melangkah menghampiri ayah mertuanya, dan duduk di depannya.
"Sudah lama sekali ya, Hyujin-ah. Ataukah harus kupanggil Jin Ji?" Gurau ayah mertuanya.
"Ayah bisa memanggilku dengan panggilan yang senyaman mungkin."
Sang ayah mertua tersenyum, "minumlah. Ini adalah teh plum yang dibuat oleh koki kami."
"Iya, ayah."
Mereka menghabiskan beberapa menit dalam diam, dan hanya terdengar seruputan teh yang mereka tengah minum.
__ADS_1
"Ayah, ayah bilang ada yang ingin ayah katakan, sebenarnya ada apa?" Tanya Jin Ji, tak tahan dengan suasana sunyi yang tercipta.
"Ah itu." Ayah mertuanya menghela napas agak panjang. Ia sebenarnya ragu untuk menyampaikan apa yang ada dipikirannya kepada Jin Ji, mengingat Jin Ji adalah anak dari teman terbaiknya. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Chae Eun.
"Iya, ayah?"
Ayah Chae Eun meletakkan cangkir tehnya, dan menatap Jin Ji dengan serius. "Kau tahu bahwa aku menganggap ayahmu sebagai adikku?"
Jin Ji tersenyum, "tentu saja. Aku bahkan ingat betul bagaimana ayah membantu ayahku saat kesulitan."
"Itu benar. Hubungan kami begitu dekat sampai-sampai kami melibatkan anak-anak kami. Kau dan Chae Eun," kata ayah Chae Eun. "Kami seharusnya tidak memaksakan kedekatan hubungan kami pada kalian."
"Apa maksud ayah?"
"Jin-ah, tolong ceraikan Chae Eun."
Degggg
Jin Ji merasa seperti ada batu besar yang menimpanya. "A-ayah, apa maksdunya?"
"Aku menikahkan kalian karena aku memiliki banyak hutang budi pada ayahmu. Kasus yang menimpa ayahmu dan kehidupan rumitmu, membuatku sungguh berat hati untuk memberikan Chae Eun padamu waktu itu. Karena itulah, aku menemui ayahmu, dan memintanya untuk melupakan perjodohanmu dan Chae Eun. Biar bagaimanapun, Chae Eun memiliki masa depan yang cerah, dan ayahmupun menyadari itu, dia akhirnya merelakanku untuk membatalkan pernikahan itu tapi, sepertinya terlambat. Chae Eun, dia sudah lebih dulu jatuh hati padamu."
Jin Ji bergeming. Apa maksudnya? Apakah pernikahan ini tetap berlanjut karena Chae Eun?
"Aku mengatakan padanya bahwa perjodohan kalian dibatalkan. Namun, dia tidak peduli, dan tetap menginginkan agar pernikahan kalian tetap dilangsungkan. Ini pertama kalinya dia menentang pendapat kami. Kau tahu, Jin-ah? Kau adalah pria yang baik, tapi, kehidupan rumitmu, statusmu, dan pekerjaanmu. Semua yang berkaitan dengan dirimu mungkin akan membawa masalah bagi masa depan Chae Eun. Aku meminta seseorang mengawasimu, dan mengetahui bahwa kau terlibat banyak sekali skandal yang..., hahhh. Aku mungkin bisa mengabaikan semuanya tapi, kencan berbayar? Menjadi pria simpanan para petinggi perusahaan industri hiburan yang mengidap biseksual? Aku tidak bisa mengabaikannya. Kehidupan Chae Eun dikelilingi oleh orang-orang yang siap menjatuhkannya kapan saja, dan kau..., kau adalah satu-satunya celah yang Chae Eun miliki untuk hancur. Jadi, kumohon, ceraikanlah Chae Eun. Aku, dan kakak-kakaknya sudah memintanya berkali-kali. Namun, dia selalu mengabaikan kami, maka dari itu, Jin-ah. Kumohon. Jika kau yang meminta bercerai, dia pasti akan melakukannya, karena dia..., mencintaimu." Ayah Chae Eun menjelaskan panjang lebar, dan itu membuat Jin Ji tercengang.
Jadi, bukan karena keluarganya? Chae Eun..., dia..., melakukan pernikahan ini karena bukan karena keluarganya? Kenapa? Kupikir dia...,
"Jin-ah, Chae Eun bukanlah wanita bodoh. Bahkan meskipun aku tidak memberitahunya, Chae Eun sudah lebih dulu mencaritahu tentangmu. Dia, sudah tahu semua tentangmu. Bahkan proyek drama yang membuat namamu besar, itu semua adalah karena campur tangan Chae Eun. Serta berita buruk tentangmu yang langsung hilang dari daftar pencarian, itu semua adalah..., campur tangan Chae Eun."
Degggg
Jin Ji merasa benar-benar seperti dibenturkan. Dia..., selama ini tahu?
●●●
"Jin Ji itu benar-benar sampah. Makhluk tidak berguna, dan pengecut. Kau tahu? Bahkan direktur dengan mudah menjadikannya anjing peliharaan karena masa lalunya yang menjijikan itu. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal tapi, dia memperkosa seorang anak gadis yang dia adobsi dari panti asuhan, dan saat gadis itu hamil, dia meminta gadis itu untuk melakukan aborsi. Setelah itu dia kembali memerkosa gadis itu, dan takut jika gadis itu hamil lagi, dia pun dengan paksa mengambil rahim gadis itu supaya bisa menikmatinya tanpa khawatir jika dia akan meninggalkan benih." Haejun tertawa sembari menenggak winenya. "Oughhh aku merinding setiap kali menceritakan cerita itu. Tapi si sialan itu, entah kenapa berita tentang masa lalunya ini tidak pernah terekspose oleh media. Sialan! Padahal ini akan menjadi cerita seru."
"Kau mencoba mengekspose ini pada media?" Tanya Chae Eun dengan nada mengintimidasi.
Haejun memandang Chae Eun terheran, "kenapa kau malah menanyakan itu? Tidakkah kau mau menanyakan apa lagi hal menjijikan tentang masa lalu Jin Ji?"
Chae Eun menyeringai. "Bodoh sekali. Kau pikir siapa yang membuat cerita itu tidak bisa terekspose?"
Haejun tertegun. "K-kau...,"
"Awalnya aku berpikir untuk sedikit memberimu kesempatan untuk bertahan di industri hiburan tapi, sepertinya kau tidak layak untuk itu," tukas Chae Eun. Dia beranjak dari tempatnya, hendak pergi saat sebelumnya dia berkata, "ah iya, karena kau sangat menyukao media, maka dari itu aku menghubungi semua perusahaan media dan memberitahukan bahwa buronan video ilegal ada di sini."
"Apa?! Buronan?!"
"Kau tidak baca berita? Kau baru saja dijadikan sebagai tersangka atas kasus itu." Chae Eun mencibir, kemudian dia pergi meninggalkan Haejun yang kini seperti orang yang diburu penagih hutang.
●●●
__ADS_1
"Kau dari mana, tuan Ji?" Tanya Jessica saat melihat Jin Ji masuk ke rumahnya.
"Oh itu, aku..., habis dari lokasi shooting." Jin Ji menampilkan seulas senyuman palsu.
"Shooting? Apa tidak apa-apa? Wajahmu itu, meskipun lebamnya sudah membaik tapi, jika di sorot kamera pasti akan terlihat jelas," kata Jessica.
"Tidak perlu khawatir, para kru akan mengeditnya dengan baik," kata Jin Ji. "Oh iya, nona Chun. Aku membawakan ini untukmu saat dalam perjalanan pulang. Aku tidak tahu apa kau suka, tapi aku juga tidak ingin pulang dengan tangan kosong."
Jessica terharu, "ya ampun, kau tidak perlu repot-repot, tuan Ji. Lagipula kau ini tamuku, dan juga suaminya Chae Eun, jadi kau tidak perlu merasa sungkan padaku."
Suami? Dulu aku begitu merasa hampa mendengar status itu tapi, setelah tahu bahwa status itu kudapat karena perasaan tulus Chae Eun, aku merasa begitu senang tapi, tetap saja aku..., harus mengakhirinya. Jin Ji nampak sedih, dan itu menarik perhatian Jessica.
"Tuan Ji, kau baik-baik saja? Kau terlihat murung."
"Ah bukan apa-apa, hanya masih terbawa suasana karakter yang kuperankan." Lagi-lagi Jin Ji menampilkan senyuman palsu. "Oh iya, apakah nona Chae sudah pulang?"
"Belum. Dia bilang masih ada yang harus dia kerjakan." Jessica menghela napas panjang. "Masa pandemi ini membuat Chae Eun dua kali lipat lebih sibuk karena perusahaan harus banting stir memproduksi perlengkapan kesehatan. Kami adalah orang-orang awam tentang itu, makanya Chae Eun harus mengawasi para karyawan agar tidak ada kesalahan."
"Begitu ya? Dia benar-benar sibuk," gumam Jin Ji.
"Jessi, lihat apa yang ku—" Hyunwoo yang baru saja memasuki rumah Jessica, segera bergeming ketika melihat sosok Jin Ji.
"Kau masih di sini?" Tanya Hyunwoo penasaran. Kedua matanya kemudian memicing. "Tuan Ji, apa mungkin kau di sini untuk merayu Jessicaku?"
Jin Ji tercengang. "Heh?!"
"Kau!!!" Hyunwoo menoleh pada Jessica. "Kenapa sulit sekali memilikimu untuk diriku seorang. Pertama aku harus berebut dirimu dengan Chae Eun, lalu sekarang muncul saingan baru, dan merupakan seorang aktor!! Menyebalkan!" Hyunwoo marah, dia pergi meninggalkan rumah jessica dengan kesalahpahaman. Sedangkan Jessica dan Jin Ji kini saling menatap tak mengerti.
"N-nona Chun, dia..., sepertinya salah paham."
"I-iya. K-kalau begitu aku kejar dia dulu. Tuan Ji, kalau kau mau makan, kau tinggal panaskan lauk yang ada di kulkas." Jessica segera beranjak dari tempatnya, dia mengejar Hyunwoo.
Jin Ji menghela napas panjang. Dia benar-benar merasa canggung dan tidak enak untuk terus berada di rumah Jessica.
"Sebaiknya besok aku kembali ke rumah." Gumamnya, dan tak lama kemudian pintu rumah jessica kembali terbuka.
"Eoh, nona Chun, apakah kau sudah...," Jin Ji bergeming ketika mendapati bahwa Chae Eun lah yang muncul dari balik pintu.
"Apa?" Tanya Chae Eun. "Aku bukan Chun Bong."
"E-eh kau, sudah pulang."
Chae Eun menghela napas panjang. Tubuhnya agak lunglai dan pipinya merah padam. Dia mabuk. "Aku lelah sekali." Chae Eun mengeluh. Dia hendak masuk ke kamar saat sebelumnya dia bertanya pada Jin Ji, "hey, kau sudah makan malam belum?"
"Aku tidak lapar." Jawab Jin Ji sekenanya.
"Ok. Kalau begitu aku akan tidur ya." Chae Eun menghilang di balik pintu kamar. Sedangkan Jin Ji masih mematung di tempatnya.
Aku..., haruskah kukatakan padanya? Tapi..., sudahlah! Sejak awal aku memang tidak pantas bahagia. Jin Ji memantapkan hatinya. Dia menyusul Chae Eun, dan...,
"Chae Eun, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, kita...," Jin Ji terdiam, dan mematung diambang pintu ketika melihat Chae Eun...,
Dia...,
__ADS_1