
Carla, yang terkejut dengan undangan tersebut, menatap Erlan dengan lebar.
"Dinner resmi?" tanyanya bingung.
Erlan mengangguk, "Ya, aku ingin mengajakmu dinner resmi nanti malam. Di sebuah restoran yang baik di pinggiran kota."
Wajah Erlan bersemu merah saat ia mengutarakan niatnya.
Carla melirik Nathan dan Dania, kemudian kembali menatap Erlan. Ia tersenyum lebar dan berkata, "Baiklah, saya menerima undangan kamu."
Erlan lega mendengar jawaban tersebut. Mereka melanjutkan sarapan dengan riang, meski Erlan tidak bisa menenggak makanannya karena perasaan campur aduk antara takut dan senang.
Setelah mereka selesai sarapan, Carla kembali ke kantornya, dan Erlan bersama Nathan dan Dania kembali ke mansionnya.
Di sana, mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk malam nanti. Mereka melakukan fitting pakaian, merencanakan kata-kata yang tepat, dan sesekali berbagi tawa mengenai keadaan Erlan yang gugup.
Malamnya, Erlan mengendarai mobilnya menuju apartemen Carla untuk menjemputnya. Dalam perjalanan, ia berbicara dengan dirinya sendiri, mencoba mengingat apa yang akan ia sampaikan nanti.
Sementara itu, Carla mengenakan gaunnya yang cantik dan memandangi dirinya di cermin. Nafasnya terengah-engah karena kegirangan, tapi juga karena agak cemas tentang apa yang akan terjadi nanti.
Setelah tiba di apartemen Carla, Erlan menggenggam erat setang bunga mawar merah yang ia bawa.
Ketika Carla keluar, ia terpana melihat betapa cantiknya penampilannya. Ia tersenyum dan menyerahkan bunga tersebut.
Carla mengambil bunga itu dari tangan Erlan dengan gembira, dan mereka berdua berangkat ke restoran.
Restoran yang mereka tuju adalah sebuah tempat mewah dengan pemandangan kota yang mempesona.
Ruangan tersebut redup dan tertata rapi, musik piano yang lembut mengalun di udara. Mereka duduk di meja yang terpisah dari yang lain, memberikan mereka privasi yang memadai.
Seiring makanan mereka datang dan mereka menikmati hidangan tersebut, Erlan merasa bahwa saat yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Pria itu menarik napas dalam-dalam dan berkata pada Carla, "Aku ingin mengajakmu ke restoran ini karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
Carla menatap Erlan dalam-dalam, mata mereka berbicara lebih dari kata-kata yang diucapkan.
Erlan meneguk ludah dan melanjutkan, "Carla, aku ingin mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, aku merasa perasaanku padamu telah berubah. Aku mulai menyadari betapa berharganya kehadiranmu dalam hidupku, betapa bahagianya aku saat bersamamu."
Bibir Carla bergetar, ia merasa suatu perasaan yang lama terpendam mulai muncul.
Erlan mengulurkan tangannya, "Apa kau merasakan hal yang sama, Carla?"
Carla terkejut mendengar pengakuan Erlan. Ia menunduk sejenak, memikirkan perasaannya sendiri yang juga telah membara beberapa waktu ini. Namun, ia belum pernah menghadapinya secara jujur sebelum ini.
Pandangannya perlahan kembali ke wajah Erlan yang penuh harap, dan ia mengangguk pelan.
"Ya, Erlan, aku juga merasa begitu," jawab Carla dengan tulus.
Ekspresi mereka berdua saling bercermin, memancarkan cahaya kebahagiaan yang telah lama terpendam.
Mereka saling menatap sejenak, meresapi pengakuan yang baru saja mereka nyatakan.
Carla melanjutkan, "Aku tak menyangka kita akan berbicara tentang ini, Erlan. Mungkin aku terlalu takut akan apa yang orang lain pikirkan, atau bagaimana ini akan mengubah hubungan kita."
Erlan menggenggam tangan Carla dengan erat, dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Aku juga merasa begitu, Carla. Tapi setelah melihat betapa hebatnya keluargaku dalam menyambut perasaanku, aku merasa siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku sangat mencintaimu, Carla."
Kata-kata itu dengan kehangatan yang menyelimuti hati Carla. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia tersenyum seiring dengan tangis bahagia.
"Aku juga mencintaimu, Erlan," balas Carla lirih.
Dalam keheningan malam, mereka saling menatap dan merasa hati mereka bergabung dalam ikatan yang erat.
Erlan mengajak Carla berdansa, dan penari berdansa beriringan dengan melodi malam yang indah sambil menikmati saling memandang dengan penuh kebahagiaan.
Malam beralih, dan mereka kembali ke mobil Erlan. Di dalam perjalanan pulang, mereka saling berbagi impian, harapan, dan ketakutan mereka tentang masa depan.
Erlan mengungkapkan keinginan mereka untuk menjajaki hubungan ini lebih dalam dan melihat apa yang ditakdirkan untuk keduanya.
Mobil yang dikemudikan Erlan tiba di depan apartemen Carla.
Si pria turun dari mobil untuk mengantarkan Carla sampai pintu unit apartemen. Ia berdiri di ambang pintu.
Carla menoleh ke Erlan, hatinya berdebar saat ia berbicara, "Erlan, apakah kita akan menjalani kehidupan ini bersama sebagai pasangan?"
Erlan tersenyum manis pada wanitanya, "Aku berharap begitu, Sayang. Kita akan menjalaninya satu langkah demi satu langkah, mengeksplorasi perasaan kita dan membangun hubungan yang kuat."
Carla menganggukkan kepalanya, sejuta harapan dan impian berkelebat dalam pikirannya.
Seiring dengan ucapan selamat tinggal yang hangat, mereka berciuman untuk pertama kalinya, merasakan cinta yang mereka bagikan dan segala potensi kebahagiaan yang ingin diraih bersama.
Keduanya tahu pasti bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan kebersamaan mereka merupakan awal yang indah dalam penulisan kisah cinta mereka yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Carla masuk ke unit apartemennya, setelah Erlan tersenyum dan membalikkan badannya menuju lift.
"Erlan."
Erlan membalikkan badannya, pria itu menaikkan kedua alisnya melihat Carla di depan pintu apartemen.
"Iya, ada apa?" tanya Erlan.
"I love you," ucap Carla lirih, tapi masih di dengar jelas oleh Erlan.
Setelah mengatakan itu Carla langsung masuk apartemennya, sedangkan Erlan mengulum senyum." I love you too, Carla."
Erlan tahu walaupun sang kekasih tidak mendengar apa yang dikatakan, tapi ia yakin wanita itu tahu akan jawabannya.
Erlan segera masuk mobil, senyum bahagia terlihat jelas di wajah pria itu. Ia tidak menyangka jika Carla juga mencintainya. Ia masih merasa seperti terbang di awan.
Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, pria itu sambil bersenandung kecil mengikuti musik diputar di mobil.
Saat sampai di depan mansion, Nathan menatap saudara kembarnya sedang terlihat bahagia melalui balkon kamarnya.
Erlan tersenyum melihat ke atas, di mana Nathan sedang menatapnya.
Nathan menggelengkan kepalanya, sedangkan Zara yang baru siapa dari kamar mandi melihat suaminya tersenyum sendiri merasa heran.
"Ada apa, Mas?" tanya Zara ikut naik ke atas ranjang.
"Sepertinya Erlan berhasil mengungkapkan cintanya," kata Nathan.
__ADS_1
"Mengungkap cinta, pada siapa?" taya Zara.
"Carla," jawab Nathan sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.
Zara merasa lega karena selama ini Melly takut jika Jhon memiliki hubungan dengan Carla.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nathan karena istrinya sedang melamun.
Zara hanya tersenyum dan memeluk tubuh suaminya erat. Rasa paling nyaman setelah pelukan ayah Tama.
Nathan mengusap rambut panjang sang istri. Pria itu mengecup kening Zara. Setelah itu keduanya terlelap dengan posisi masih saling berpelukan.
**"
Sore harinya Nathan keluar dari ruang kerjanya, pria itu sudah bersiap untuk pulang karena sang istri menghubungi jika Nevan sedang sakit. Putranya itu kini berumur dua tahun, tapi tingkah dan gayanya benar-benar mirip dengannya.
Saat Nathan hendak masuk lift, bersama dengan Erlan juga. Dua pria tampan itu selalu menjadi vitamin bagai karyawan wanita.
Dua pria begitu mirip, sama-sama tampan dan dingin. Entah kenapa sikap keduanya begitu menjadi penasaran pada wanita-wanita itu.
Keduanya keluar dari lift, Nathan menghentikan langkahnya." Mau ikut pulang?"
"Aku mau jalan sama Carla," jawab Erlan dengan mengerlingkan matanya ke arah kembarannya itu .
Nathan hanya menggelengkan kepalanya, ia akhirnya masuk mobil dan meninggalkan area kantor lebih dulu.
Setelah mobil saudara kembarnya sudah tidak terlihat lagi, Ia segera masuk mobil dan langsung menuju ke kantor Carla.
Erlan tersenyum melihat sang kekasih sudah menunggunya.
" Maaf lama." Erlan membukakan pintu untuk sang kekasih.
"Baru keluar juga, Sayang."
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Erlan kepada Carla, yang duduk di sebelahnya.
"Aku ingin kita pergi makan malam, kita bisa merayakan ini," jawab Carla sembari tersenyum.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, menuju restoran favorit Erlan.
Di tengah perjalanan, Erlan melihat ada seseorang yang sedang duduk di tepi jalan.
"Eh, ada apa dengan lelaki itu?" tanya Erlan seraya memperlambat laju kendaraan.
"Tidak tahu, mungkin kita harus mengeceknya," kata Carla, khawatir.
Erlan menghentikan mobilnya dan turun untuk mengecek kondisi pria tersebut. Ternyata, pria itu adalah Raka, sahabat baik Erlan yang sudah lama hilang kontak setelah beberapa bulan.
"Raka, apa yang terjadi padamu?" tanya Erlan dengan rasa cemas.
"Aku... Aku dikejar-kejar oleh seorang wanita menakutkan," jawab Raka dengan sesak napas.
"Aku tidak tahu kenapa dia mengincar aku, aku takut sekali." Raka.menceritakan pada sahabatnya itu.
Erlan dan Carla saling bertukar pandang, merasa prihatin dengan kondisi Raka yang nampak ketakutan.
Raka pun naik ke mobil Erlan dan mereka melanjutkan perjalanan. Carla mengajukan banyak pertanyaan, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Raka. Namun, jawaban pria itu i hanya bersifat umum dan tidak jelas.
"Aku hanya tahu bahwa wanita itu menghendaki sesuatu dariku, tapi aku tidak tahu apa," kata Raka merasa bingung.
Mereka akhirnya tiba di restoran dan menemukan meja kosong. Erlan mengajak Raka untuk menceritakan lebih detail tentang pengalamannya sejauh ini. Di tengah percakapan, Carla mendapatkan telepon dari seseorang dan pergi sejenak untuk menjawabnya.
"Raka. kau harus tahu bahwa Carla dan aku baru saja mengaku perasaan kami satu sama lain," ujar Erlan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Raka tersenyum, "Selamat ya, Erlan. Aku senang untuk kalian berdua. Tapi, aku benar-benar khawatir dengan keadaanku sekarang."
"Kau tidak perlu khawatir, Raka. Bantuan pasti akan datang," ucap Erlan, mencoba memberikan semangat.
Tiba-tiba, pintu restoran terbuka dan tampak seorang wanita berjalan cepat mendekati meja mereka. Raka langsung ketakutan dan bersembunyi di balik Erlan.
"Kau tidak bisa lari terus, Raka" teriak wanita itu, mengejar Rakake dalam restoran.
Erlan segera melindungi Raka dan berdiri di antara mereka berdua. "Apa maumu dari Raka?"
Wanita tersebut tampak marah dan frustasi, tapi setelah melihat Erlan melindungi Raka, wajahnya berubah menjadi sedikit lebih tenang.
"Mungkin aku harus menjelaskan," ucap wanita itu seraya duduk di kursi kosong.
"Namaku Flora. Kenapa aku mengejar Raka adalah karena … karena aku mencintainya. Tapi bukan cinta yang biasa, ini sesuatu yang luar biasa hingga tak bisa kutahan dan kupendam lagi," Diana menghela napas, mencoba menjelaskan diri.
"Aku tahu aku mungkin terlihat menakutkan, tapi aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku pada Raka."
Raka yang bersembunyi di balik Erlan, mencoba mengintip wajah Flora. Ia mengenal wanita itu, mereka berdua pernah menjadi teman baik beberapa tahun lalu.
Namun, hubungan mereka memburuk ketika Raka mulai mendekati wanita lain.
"Apa kau benar-benar mencintaiku, Flora?" tanya Rudi, terkejut dengan pengakuan gadis itu.
Flora mengangguk, menjawab dengan lantang, "Ya, Raka. Aku mencintaimu sejak kita dulu bersama."
Situasi yang semula menegangkan kini berubah menjadi sebuah kejutan bagi ketiga sahabat itu.
Carla, yang baru saja selesai menerima telepon, kembali ke meja dan bertanya apa yang terjadi, merasakan suasana yang berbeda.
Erlan menjelaskan bahwa Flora mengejar Raka karena mencintainya.
"Aku tidak bisa menyalahkan perasaannya, tapi cara.kamu mengejar Raka itu sudah melewati batas," tambah Erlan.
Carla takjub dengan cerita itu, sembari tertawa situasi pun menjadi lebih santai. "Beginilah cinta, kadang kita tidak bisa mengatur siapa yang akan mencintai kita atau sebaliknya."
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan suasana yang lebih ringan. Carla mencoba membujuk Erlan dan Raka untuk mencari solusi tentang perasaan Flora.
"Yah, mengapa tidak kau bicarakan saja? Raka,. katakan padanya apa yang kau rasakan," saran Erlan.
Raka, yang kemudian merasa kasihan dengan Flora, akhirnya memutuskan untuk berbicara dengannya.
"Flora, kuakui perasaanmu cukup kuat. Tapi, kita harus tahu batasannya. Aku memang pernah mencintaimu waktu dulu, dan kemudian aku merasa tidak bisa membalas cintamu. Aku mohon, berhentilah mengejarku," kata Raka dengan nada lembut.
Flora menatap Raka dengan matanya yang berkaca-kaca, "Baiklah, Maafkan aku atas semua kesalahanku. Aku akan mencoba melupakan perasaanku."
__ADS_1
Mereka akhirnya menyelesaikan makan malam dengan hati yang lapang. Raka dan Flora berpisah dengan kesepakatan bahwa mereka akan berusaha menjadi teman baik seperti dulu.
Beberapa minggu berlalu, dan hubungan Erlan dan Carla semakin erat. Mereka selalu bersama melewati suka dan duka. Raka pun mulai bahagia karena telah bertemu lagi dengan sahabat lamanya dan berhasil mengakhiri konflik dengan Flora.
Raka dan Flora , dengan perlahan, membangun kembali persahabatan mereka yang sempat terpuruk.
Erlan dan Carla, di sisi lain, semakin larut dalam kisah cinta mereka yang begitu indah.
Hari demi hari, mereka saling mengenal dan melengkapi kekurangan satu sama lain.
Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, merencanakan masa depan, dan bermimpi tentang rumah tangga yang bahagia.
Suatu hari, Erlan memutuskan untuk mengajak Carla berjalan-jalan di taman kota, tempat di mana ia pertama kali jatuh cinta kepada Carla.
Saat matahari terbenam, Erlan menunjukkan sebuah kotak yang berisi cincin yang cantik.
Ia menatap mata Carla yang berbinar dan berkata, "Carla, setelah semua yang telah kita lalui, aku yakin kita diciptakan untuk satu sama lain. Apakah kau bersedia menjadi istriku, menjadi teman sepertiga hidupku, dan melanjutkan perjalanan kita bersama?"
Carla mendapati dirinya tak bisa menahan air mata kebahagiaan. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar, "Ya, Erlan. Aku akan menjadi istri yang baik dan mendukungmu sepanjang hidupku. Aku pun mencintaimu."
Lingkungan sekitar mereka, seolah merayakan cinta keduanya, bunga-bunga bermekaran dan angin berhembus lembut, menyampaikan pesan kasih sayang.
Keduanya saling merangkul dan mencetak momen bahagia itu sebagai kebersamaan yang tak akan terlupakan.
Raka dan Flora , yang kini telah menjalin persahabatan yang lebih erat dari sebelumnya, turut menjadi saksi saat Erlan dan Carla mengucapkan sumpah cinta mereka.
Hari bahagia begitu terkesan untuk keluarga Albert dan juga Nathan. Melihat bagaimana Erlan semalam ini membuat Nathan dan kedua Orang tua membebaskannya Erlan ingin menikah di hotel mana, tapi siapa sangka Carla dan Erlan meminta pernikahan sederhana saja.
Suatu sore di rumah keluarga Albert, sedang terjadi percakapan mengenai pesta pernikahan Erlan, putra bungsu dari keluarga Albert, dan Carla
"Wah, hari bahagia semakin dekat nih. Apa kalian sudah mempersiapkan segalanya?"nanya Albert.
"Sama-sama, Papa. Kami memang sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan," ucap Nathan
"Papa, Mama, kami sudah memutuskan tempat yang cocok untuk mengadakan pernikahan kami."
Albert dan Nathan menoleh dan menunggu dengan antusias penjelasan dari Erlan.
"Kami pikir, daripada mengadakan pernikahan di hotel atau tempat yang wah, lebih baik kami mengadakan pernikahan sederhana saja di rumah. Apa yang kami pikirkan adalah, bertemakan pernikahan di taman," ujar Erlan.
"Lho, kok di taman? Bukannya lebih baik di hotel saja, biar semua tamu bisa lebih nyaman?" tanya Dania
"Saya setuju dengan Mama. Lagian, kita punya dana untuk mengadakan pernikahan yang wah, mengapa tidak memanfaatkannya?" tanya Nathan
Erlan tersenyum lalu menjelaskan, "Ma, Pa, kami memikirkan ini dengan matang. Selain lebih menghemat biaya, pernikahan di taman dengan suasana yang alami dan penuh kehangatan akan menjadi momen yang tidak mudah dilupakan. Toh, yang terpenting adalah kami bisa bersama di hari bahagia tersebut."
Carla mengangguk yakin sambil menyampaikan dukungan, "Benar, Erlan. Bagi kami, yang terpenting adalah memiliki pernikahan yang mengesankan serta penuh makna."
Mendengar penjelasan dari anak-anak mereka, keluarga Albert merasa terharu. Mereka tidak menyangka bahwa Erlan dan Carla bisa berpikir dewasa dan memutuskan pernikahan yang tidak terlalu mewah, namun tetap memiliki makna yang dalam.
"Baiklah, jika itu pilihan kalian, kami akan memberikan dukungan sepenuhnya. Selamat untuk kalian."
"Yang terpenting adalah kamu harus saling menjaga dan menghormati satu sama lain, ya," pesan Nathan.
Masa persiapan pernikahan Erlan dan Carla pun dimulai. Mereka mencari ide-ide kreatif untuk menciptakan suasana pernikahan yang indah meski sederhana. Mereka bekerja sama dengan tim dekorasi guna menghias taman keluarga Albert sehingga tampak seperti mimpi yang indah.
Teman-teman dan kerabat pun membantu dengan sukarela, membuat suasana persiapan menjadi lebih menyenangkan.
Seminggu menjelang hari pernikahan, Cuaca di kota semakin tidak menentu. Hujan yang turun tak kunjung reda membuat kekhawatiran terselip di hati mereka.
Namun, Erlan dan Carla tidak mau menyerah begitu saja. "Seberat apapun rintangan yang datang, kita bersyukur diberikan kesempatan untuk menjalaninya bersama."
Keluarga Albert pun berusaha untuk tetap menjaga suasana hati
Kehadiran mereka merupakan simbol persahabatan yang dijalin kembali dan kerelaan untuk merelakan cinta demi persahabatan.
Beberapa hari kemudian, Erlan dan Carla melangsungkan pernikahan yang sederhana, dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat mereka.
Setelah pernikahan sahabatnya, Raka meneruskan hidupnya dengan gigih mencari jati diri dan menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang-orang di sekelilingnya, termasuk Flora.
Mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia yang penuh liku-liku dan belajar untuk memberikan kasih sayang yang tulus tanpa mengharapkan balasannya.
Erlan dan Carla, sebagai pasangan suami-istri, menjalani kehidupan yang penuh cinta.
Mereka bersama-sama menghadapi segala tantangan yang datang silih berganti, tapi tak pernah menyerah.
Kekuatan berada pada cinta yang saling mereka miliki dan kegigihan mereka untuk menggapai kebahagiaan bersama.
Nathan dan Zara merasa bahagia atas bersatu Erlan dan Carla. Begitu juga dengan Albert dan Dania.
Dari cinta mereka, menjadi simbol dari pentingnya persahabatan dalam menjalin cinta sejati. Kehidupan mereka menjadi inspirasi bagi semua orang, termasuk Raka dan Flora yang saat ini terus berjuang menemukan kebahagiaan.
Cinta, seperti dalam cerita Erlan, Carla, Raka dan Flora ini, memang tidak selalu berjalan mulus.
Namun, yang membuat mereka tetap berdiri dan kuat adalah rasa cinta yang mendalam yang mereka miliki satu sama lain, baik itu cinta romantis maupun cinta persahabatan.
Kesetiaan mereka, kesabaran dalam menghadapi rintangan, dan kemauan untuk mendukung satu sama lain, menjadi pondasi kuat dalam hidup.
Sepanjang hidup Erlan , banyak hikmah yang mereka peroleh dari pengalaman yang mereka lalui bersama. Pria itu aku dulu kejam dan kini beruntung masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Nathan dan Zara belajar untuk menghargai kehadiran orang lain, untuk saling memaafkan dan merelakan, serta untuk besama-sama melangkah maju mencapai tujuan hidup yang mereka dambakan.
Tahun demi tahun berganti, dan kini mereka bukan lagi empat sahabat muda yang tengah mencari jati diri.
Mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, lebih bijaksana dalam menghadapi hidup dan mengatur cinta dan rumah tangga.
Erlan dan Carla, yang kini telah dikaruniai anak, menjadi orang tua yang penyayang dan dikagumi oleh banyak orang. Sedangkan Raka dan Flora, meskipun belum menemukan pasangan hidup mereka, telah menemukan kebahagiaan dalam diri mereka sendiri dan dalam persahabatan yang mereka jaga erat.
Dalam kehidupan ini, cinta dan persahabatan selalu berjalan beriringan, saling menguatkan, dan saling melengkapi.
Erlan, Carla, Raka dan Flora telah membuktikan betapa berharganya kasih sayang dan persahabatan, serta bagaimana cinta dan persahabatan membimbing mereka dalam menjalani hidup yang penuh tantangan.
Di akhir perjalanan mereka bersama, mereka menyadari bahwa kebahagiaan dan kenyamanan yang mereka rasakan saat ini adalah buah dari kegigihan mereka untuk saling mencintai, saling menyayangi, dan saling memberikan dukungan, serta pelajaran berharga yang mereka peroleh dari liku-liku perjalanan cinta dan persahabatan.
Sementara banyak di dunia ini yang beranggapan bahwa kebahagiaan terletak pada harta, tahta, dan jabatan, Erlan, Carla, Nathan , dan Zara telah membuktikan bahwa kebahagiaan sesungguhnya terletak pada cinta yang tulus dan persahabatan yang hangat.
Mereka akan selalu mengingat momen-momen mereka bersama, perjuangan dan cinta mereka bersama, serta pengalaman yang telah mereka lalui, dan ini akan menjadi kenangan abadi yang tidak akan pernah hilang seiring berjalannya waktu.
Cerita mereka adalah teladan tentang kedalaman cinta, pengorbanan untuk orang yang kita cintai, dan pelajaran berharga tentang bagaimana menjalani perjalanan hidup ini dengan penuh cinta dan persahabatan karena pada akhirnya, cinta dan persahabatanlah yang menjadi kekuatan utama untuk menghadapi dunia yang penuh liku-liku dan rintangan.
__ADS_1