
Rumah keluarga besar Chae Eun.
Pasti berat baginya, 'kan? Itulah yang dipikirkan Jessica ketika melihat Chae Eun yang hanya mematung di depan pintu rumah keluarga besarnya. Seperti biasa, setiap akhir pekan, Chae Eun, dan semua keluarganya berkumpul di rumah besar keluarga Chae di Incheon. Meskipun keluarga Chae sangat ramah, sopan, dan penyayang. Namun, Jessica sangat tahu bahwa Chae Eun selalu merasa tertekan tiap kali datang ke rumah ini.
"Hey, kau mau aku temani?" Tanya Jessica.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok," kata Chae Eun. "Kau cepat kembali ke Seoul, dan temui oppa gantengmu itu. Terimakasih sudah diantar ya." Gurau Chae Eun yang mengundang tawa Jessica.
"Astaga, kau ini benar-benar."
"Hati-hati dijalan Chun Bong."
"Namaku JESSICA!!" Jessica mengingatkan. Namun, alih-alih mengindahkan perkataan Jessica, Chae Eun justru meledeknya dengan menjulurkan lidah. Kemudian, dia melarikan diri ke dalam rumah.
"Dia itu benar-benar konyol," Jessica bergumam. Tawa Jessica perlahan memudar, "Eun-ah, pastikan kau tidak menangis hari ini."
Di dalam rumah
Chae Eun menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Oh, Eun-ah sudah datang!!" Sang kakak pertama, Chae Jung, berseru. "Yura, dan Yusu, pergi dan beri salam pada bibi Eun, ya?"
"Iya, ibu," jawab putri kembar Chae Jung dengan kompak.
"Jun Hyu, juga ya," sang kakak kedua, Chae Hyun, juga menyerukan itu pada putranya.
"Baik, ayah."
Ketiga anak itu menghampiri Chae Eun, dan memberi salam pada nya dengan sangat sopan.
"Sepertinya ayah, dan ibu kalian mendidik kalian dengan sangat baik. Bagus sekali, kalau kalian terus sopan begini, akan bibi berikan masing-masing dari kalian 2 persen saham FreshChae," tukas Chae Eun, membuat ketiga anak itu saling menatap tak mengerti.
"Daripada saham, kenapa kau tidak mengajak ketiga keponakkanmu itu pergi jalan-jalan ke wahana air? Mereka bertiga suka sekali main air." Sang kakak ketiga, Chae Sun, menimpali.
Chae Eun menghela napas panjang, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa, tepatnya di samping kakak ketiganya, Chae Sun.
"Kak Sun, kakak tidak lupa kalau aku ini orang sibuk, 'kan? Jangankan mengajak mereka main kewahana air, bahkan aku sendiripun tidak punya kesempatan untuk pergi buang air," Chae Eun mengeluh, membuat ketiga kakaknya itu tertawa renyah.
"Eun tidak berubah ya, masih saja suka membual begitu," kata Chae Jung, yang kemudian di sahuti setuju oleh Chae Hyun, dan Chae Sun.
Chae Eun ikut tertawa. Namun, dalam hatinya..., begitulah mereka, selalu saja menganggap ucapanku sebagai bualan. Sama seperti dulu. Chae Eun mengilas balik kenangan waktu itu.
(*Kilas balik ingatan Chae Eun)
"Kenapa harus aku? Kak Chae Jung adalah anak pertama, jadi seharusnya dia yang mewarisi semua usaha ayah!" Tukas Chae Eun.
"Tidak bisa, aku harus melanjutkan studi S3 ku di Selandia baru," sahut Chae Jung.
"Kalau begitu kak Chae Hyun saja!" Saran Chae Eun.
"huhh, Eun-ah, kau kan tahu bahwa kemarin aku baru saja mendapatkan panggilan dari UNS untuk mengajar. Aku sudah lama menantikan panggilan itu," jawab Chae Hyun.
"Lalu bagaimana dengan Kak Sun? Dia...,"
"Sudahlah Eun-ah, lagipula selama ini kau tidak pernah jelas mau menjadi apa di masa mendatang, karena itu anggaplah ini sebagai bantuan kami untuk mengarahkan tujuan hidupmu." sang ayah menyela, kemudian menyodorkan sebuah dokumen pada Chae Eun. "mulai besok kau akan pindah ke jurusan managment, semua berkasnya sudah ayah siapkan."
"Pindah jurusan?! Kenapa ayah seenaknya begitu? Aku tidak pernah menyetujui itu!" Protes Chae Eun. Namun, sepertinya ayahnya tidak peduli.
"Toh, jurusan yang kau ambil sekarang bukan pilihanmu sendiri, kau waktu itu kan hanya ikut-ikutan temanmu, jadi bukan masalah," kata ayahnya, membuat Chae Eun terenyuh.
Memang benar bahwa jurusan seni yang diambilnya adalah hasil dari mengikuti jejak temannya. Namun, Chae Eun menyukainya juga.
"Bukan begitu. Aku pasa dasarnya memang mau menjadi seniman!" Tukas Chae Eun. Membuat semua keluarganya terkekeh.
"Seniman? adik kecil kakak senang sekali membual ya. Kau bahkan tidak bisa menggambar."
"Aku tidak membual."
"Daripada seni bukankah Eun lebih pandai dalam hal menghitung dan mengelola, jadi jurusan managment sangat cocok untuk Eun."
(**Kelas balik berakhir***)
"Kak Sun, perutmu jadi lebih besar, padahal hanya tidak ketemu beberapa hari," Chae Eun mencoba mengubah topik pembicaraan.
Sun mengelus perut buncitnya, "iya nih, semakin besar saja ya," katanya dengan memasang senyum kecil.
"Memang begitu saat memasuki trimester pertama, akan lebih banyak perubahan lagi di trimester kedua dan ketiga," kata Chae Jung. "Sun, kalau ada apa-apa jangan lupa memberitahu kami, ya?"
"Iya, jangan memendamnya sendiri, ok?" Chae Hyun menimpali.
__ADS_1
"Iya, kak. Pasti akan kuberitahu."
Chae Eun terdiam, dia meremas ujung roknya. Begitulah mereka, selalu saja saling mengkhawatirkan tapi, tidak pernah mengkhawatirkanku sama sekali. Padahal, aku..., juga bagian keluarga ini.
"Kalian sudah kumpul rupanya."
"Kakek!!!" Ketiga anak kecil itu mengerumuni sang empunya suara renta itu. Sedangkan Chae Jung, Chae Hyun, Chae Sun, dan Chae Eun berdiri dan membungkuk hormat.
"Duduklah," kata sang ayah.
"Ayah, dan ibu, jika terlalu merepotkan, maka kita lakukan acara kumpul-kumpulnya di rumah ayah ibu saja mulai minggu depan," kata Chae Hyun, sembari mengajak ayah dan ibunya duduk di sofa.
"Putraku ini selalu saja perhatian," sang ibu membelai lembut wajah putranya.
"Kakek, nenek, kami sangat senang sekali, kami~...," Jun Hyu, Yura, dan Yusu menceritakan banyak hal pada kakek dan neneknya, sedangkan kakak-kakak Chae Eun menyimak dan sesekali tertawa mendengar cerita yang ketiga anak kecil itu lontarkan.
Selalu saja, mereka terlihat sangat bahagia tapi, kenapa hanya aku satu-satunya yang merasa sedih? Aku..., merasa terasingi. Chae Eun beranjak dari tempatnya.
"Aku lelah, jadi aku akan ke kamar," katanya. Kemudian dia pergi ke lantai dua, tepatnya ke kamar yang sering dia gunakan ketika berada di sini.
Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, sembari menghubungi Jessica yang yang kunjung menjawab teleponnya.
Chun Bong, angkatlah, aku..., membutuhkanmu.
●●●
"Hey, Jessi. Tumben sekali kau tidak bersama dengan Chae Eun."
"Astaga, Sia. Kau tidak tahu ya? Ini kan akhir pekan, Chae Eun tentu saja berkumpul dengan keluarganya."
"Tapi kan Jessi dan Chae Eun sudah berteman lama, jadi kenapa tidak mengajak Jessi ikut kumpul bersama keluarganya? Kasihan kan Jessi kalau harus melewati akhir pekan seorang diri, secara dia itu yatim piatu."
"Sia, jangan bodoh dong. Masa kau tidak tahu sih kalau Jessi itu cuma pelayannya Chae Eun, jadi kenapa harus membawa orang yang gak penting itu untuk ketemu sama keluarganya yang sukses tujuh turunan itu, eoh?" Seohyun berbicara sarkasme. "Iya, 'kan, Jessi?" Sambil menyeringai.
Alih-alih menanggapi sikap sarkasme Sia dan Seohyun, Jessica lebih memilih untuk menghabiskan vodka yang dipesannya.
"Hey, Jessi, kami sedang bicara denganmu, kau tidak dengar?!" Tegur Seohyun. "Sombong sekali ya kau, baru jadi budaknya Chae Eun saja sudah berani mengabaikan orang, kau...,"
"Sebegitu irinya kah kalian?" Suara berat itu mengalihkan pandangan Sia dan Seohyun.
"SHIN HYUNWOO?!" Seohyun, dan Sia terkesima ketika melihat pria paling tampan, dan paling kaya semenanjung Korea melangkah mendekati mereka.
"Bagus sekali kalau kalian langsung mengenaliku. Tapi, sepertinya kesan pertama kita tidak baik," kata Hyunwoo, berbicara dengan dingin.
"Heh? Kami tidak merasa menyinggungmu," tukas Sia dan Seohyun bersamaan.
"Kalian pasti tidak begitu mengenalku. Bagiku...," Hyunwoo melangkah lebih dekat pada Sia dan Seohyun, "menyinggung kekasihku sama saja menyinggungku loh."
"Kekasih? Siapa?"
"Dia." Hyunwoo menunjuk kearah Jessica yang tetap asik menikmati vodka meskipun tahu keadaan disekitarnya sedang memanas.
"JESSICA?! PACARMU JESSICA?!" Sia dan Seohyun tercengang, dengan mata yang membulat seperti akan keluar dari tempatnya.
Jessica memutar tubuhnya menatap Sia dan Seohyun, dengan wajah menyeringai,
dia berkata, "benar sekali. Shin Hyunwoo, pemilik VVIP Store ini adalah kekasihku. Bagaimana? Apa kalian semakin iri pada pelayan ini?"
"K-kau..., tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin? Sejak dulu aku selalu menyukai Jessi, bahkan rela dijadikan pelayannya," sahut Hyunwoo.
"APA?!! SHIN HYUNWOO MENJADI PELAYAN JESSI?! TIDAK MUNGKIN!!!"
"Sudahlah pelayanku sayang, ayo pergi. Aku tidak suka melihat wajah iri mereka," tukas Jessi.
"Oke, nyonyaku yang cantik."
Jessica, dan Hyunwoo pergi ke tempat lain. Alih-alih bar ternama, mereka lebih memilih untuk meminum bir kalengan di taman kota yang dipenuhi dengan lampu indah yang hanya daoat dilihat malam hari seperti sekarang.
"Hey, Jessi. Kenapa kau selalu diam saja tiap kali orang-orang menyinggungmu seperti itu, huh? Padahal kalo sama aku, kau itu galaknya pake banget," Hyunwoo memprotes.
"Itu karena omongan mereka sama sekali tidak penting, tidak pantas diladeni."
"Iya juga sih, tapi..., memangnya kau tidak sekalipun pernah merasa tersinggung dengan omongan mereka?"
__ADS_1
Tersinggung? Jessi menenggak habis bir kalengnya. Tentu saja pernah tapi..., bagiku..., rasa tersinggung itu tidak lebih penting daripada semua hal yang telah Chae Eun lakukan untukku.
"Aduh, pacarku ini banyak tanya sekali sih. Minta dicium ya?" Goda Jessica, sembari menangkup wajah Hyunwoo yang memerah.
"H-hey, Jessi, kau s-serius?" Wajah Hyunwoo merah padam.
"Kau maunya serius atau bercanda?"
~glekkkk
Hyunwoo kesulitan menelan salivanya. Sudah tiga tahun dia berpacaran dengan Jessi. Namun, tidak pernah sekalipun mereka berciuman.
"K-kalau begitu..., c-cium aku."
*cuppp
J-jessi, benar-benar menciumku. Ini..., ciuman pertamaku. ♡> _<♡
Jessica sangat terhibur melihat raut wajah Hyunwoo yang memerah. Kekasihnya itu memang selalu bisa menghiburnya.
"Aku benar-benar merasa beruntung memiliki Hyunwoo," kata Jessica. "Seandainya saja Chae Eun memiliki satu orang sepertimu, Hyunwoo."
Hyunwoo menghela napas panjang, "benar sekali. Wanita bermulut pisau itu hanya memilikimu. Oughh! Menyebalkan saat ingat aku dan dia berebut dirimu." Hyunwoo menenggak bir kalengnya.
●●●
Chae Eun memutuskan untuk tidak menginap di rumah keluarga besarnya. Meskipun dipaksakan untuk tidur di sana. Namun, pada akhirnya Chae Eun tak kuat, dan akhirnya pamit pada keluarganya dengan alasan masih ada yang harus dikerjakannya.
Sebenarnya, keluarga Chae Eun itu semuanya sangat baik. Ayahnya, ibunya, dan kakak-kakaknya, mereka semua sangat baik pada Chae Eun. Hanya saja, tanpa keluarganya sadari, mereka terlalu sering membuat Chae Eun mengalah, hingga Chae Eun pun merasa tidak nyaman berada di sekitar keluarganya.
Chae Eun menekan kata sandi di kunci digitalnya, dan tak lama setelahnya pintu rumahnya itu terbuka. Chae Eun melangkah gontai, dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang amat empuk.
"Hahh, menyebalkan sekali. Kenapa Chun Bong tidak menanggapi teleponku? Dia bilang akan selalu stay untukku, mana?! Ini pasti karena oppa tampannya itu, Shin Hyunwoo. Chun Bong jadi mengabaikanku tiap bersamanya! Kurasa aku harus membuat mereka putus!" Chae Eun bergumam tak jelas. "tapi, sebelumnya kan aku sendiri yang menyuruh dia bersenang-senang dengan oppa tampannya itu. Hahhh. salahku juga."
"Kurasa dia hanya cemburu..., emphhhh."
Chae Eun terperanjat dari tempatnya ketika mendengar suara bisikkan itu.
Suara apa itu? Hantukah? Pikir Chae Eun.
●●●
"emphhhhh...," Jin Ji membungkam mulut Seok Woo dengan sekuat tenaga.
"Kak, jangan berisik," bisik Jin Ji. Keringat jagung sudah membasahi keningnya.
"Ammku ttmmmidak bmmmbisa bernammmmpas (aku tidak bisa bernapas)"
~Ti ri ri ring
Jegrek
Jin Ji melepaskan tangannya dari Seok Woo ketika mendengar pintu rumah terbuka lalu tertutup. Dia sudah pergi kan? huhh akhirnya. Jin Ji dapat bernapad lega. "Maaf, kak, aku tadi reflek. Habisnya kau berisik sekali."
"Aku hanya keceplosan saja, habisnya dia berbicara seperti itu, jadinya reflek saja aku sahuti begitu."
Jin Ji menghela napas berat, kemudian bersama dengan Seok Woo dia keluar dari tempat persembunyian.
~ceklek
Seketika lampu ruangan menyala, dan menampakkan sosok wanita angkuh yang sedang bersedekap dihadapan mereka.
"K-kau...," Jin Ji tercengang, begitupun dengan Seok Woo.
"Astaga, ternyata hantunya Jin Ji ya." Wanita itu melangkah mendekati Jin Ji dengan angkuhnya. "Hantunya Jin Ji asal menembus masuk ke rumah orang, memangnya tidak diajarkan sopan santun sama raja neraka?" Tanya wanita itu, sembari melirik Seok Woo.
Raja neraka, maksudnya aku ya? Seok Woo terjebak dalam kebingungannya sendiri.
"B-begini, aku..., aku hanya...,"
"Huh, sudahlah, aku malas berdebat," kata wanita itu. Sembari mengambil Bir Jin Ji, dia berkata, "aku ambil bir ini sebagai permintaan maafmu." Wanita itu hendak masuk ke kamarnya ketika Jin Ji memanggilnya...,
"Hey, nona Chae Eun."
"Apa?" Tanya Chae Eun malas.
"Daripada minum sendiri, bagaimana kalau kita minum bersama?"
__ADS_1