Secret Wedding

Secret Wedding
Menyelidiki Tuan Pasada


__ADS_3

Hari ini Zara rencana mau mengajak sang ayah untuk jalan-jalan, tapi ia kalah cepat dengan Papa Albert karena kedua pria itu sudah merencanakan hari ini untuk jalan-jalan terlebih dahulu.


Akhirnya Zara mengalah, wanita itu duduk di ruang keluarga sambil mengecek email dari Rehan tentang laporan ITZ.


Saat sedang sibuk dengan ipadnya wanita itu mendengar derap langkah mendekatinya.


"Zara."


Zara langsung menoleh, wanita itu terkejut melihat siapa yang ada di depannya.


"Pagi Erlan, apa kabar?" Zara menatapnya penuh kecurigaan.


Erlan tersenyum. "Aku baik, terima kasih, Kak Zara. Tapi sepertinya kau tidak begitu baik. Apa yang terjadi?"


Zara ragu-ragu, ia tidak tahu berapa jauh Erlan mengetahui rahasia Nathan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggali sedikit informasi, pertanda rasa ingin tahu itu terasa kian kuat, menggugah segala yang berserakan menjadi pikiran yang rapi. "Maksudmu, mengenai pekerjaan Nathan? Apa yang sebenarnya kau tahu, Erlan?"


Erlan mengunci tatapan Zara, menelan ludah sebelum berbicara lembut. “Kak Zara, aku tahu betapa tegangnya situasi ini. Tapi kuulangi, aku tidak berniat menyakiti Nathan dan keluarga ini. Aku hanya ingin menuntaskan dendamku pada orang-orang yang membuat saudaraku mati sia-sia.”


Kata-kata Erlan terdengar sungguh-sungguh, membuat Zara bingung mengambil sikap.


“Terima kasih atas ketulusanmu, Erlan. Tapi sesungguhnya, aku bingung dengan keadaan saat ini. Apa yang harus kukerjakan? Nathan masih bungkam membahas masa lalunya, sementara aku bisa merasakan ada sesuatu yang terus mengintai," sahut Zara, lirih.


“Kuberikan kamu saran, Zara. Yakinlah dengan suara hatimu," Erlan berbicara dengan tatapan penuh simpati.


"Tangani situasi ini dengan baik, buatlah keputusan dengan hati dan pikiran yang tenang, Zara," lanjutnya lagi.


Zara terdiam, ia menatap adik iparnya itu dengan penuh selidik. Saat wanita itu akan berbicara, Nathan dan Jhon datang ikut bergabung.


“Sayang, aku cari sedari tadi,” ucap Nathan dengan ikut duduk di samping istrinya.


“Aku dari tadi di sini.” Zara menggeser tubuhnya agar suaminya tidak sempit.


Nathan menatap saudara kembarnya dan berkata," Kata mama kamu mulai hari ini akan tinggal di sini."


Erlan mengangguk, pria itu kembali fokus pada ponselnya.


“Erlan, apakah ada masalah?” Nathan melempar tatapan aneh pada saudaranya, tapi Erlan memilih untuk mengabaikannya.


Erlan akhirnya menatap Nathan dan berkata, “Tidak ada apa-apa.”


“Jika kau berpikir begitu, tetapi jangan segan untuk berbicara jika ada yang mengganggumu.” Zara mencoba menghidupkan suasana dengan berbagai topik, mencoba membuat Erlan merasa nyaman di rumah barunya.


Tidak lama kemudian, Meli dan Jhon datang bergabung setelah selesai mengerjakan pekerjaannya. Dengan raut wajah yang menampilkan kelelahan setelah seharian bekerja, dia menduduki sisa kursi yang ada.


“Bagaimana hari ini?” Zara jadi yang pertama bertanya. Jhon yang kerap bepergian, selalu paling ditunggu kabarnya.


"Ya begitu saja," Jhon tersenyum lelah. Dia meraih tangan Meli dan memijatnya lembut, membuat wanita itu memejamkan mata sejenak.


Malam itu berlangsung dengan canggung. Ada rasa yang berbeda saat Erlan ada di sana. Zara merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh adik iparnya itu. Dia berusaha untuk memahami, tetapi semuanya terasa kabur dan sulit untuk dipahami. Perasaan waspada dan takut muncul, akan tetapi dia tidak bisa menjelaskan akan hal itu.


Hari-hari berikutnya tidak berubah. Ketegangan yang terasa di udara meningkat seiring berjalannya waktu. Meli masih murung dan tak banyak bicara, dan Jhon tampak sibuk dengan pekerjaannya.


Suasana sunyi di mansion mereka pecah ketika Erlan menerima telepon. Terdengar suara yang meninggi, membuat semua orang langsung berhenti dan memperhatikannya.


Nathan menoleh ke arah Erlan dengan cemas. Sebagai kakak kembar, Nathan bisa merasakan jika Erlan dalam kesulitan.


"Nathan," Erlan berbisik setelah menyelesaikan panggilannya. "Kita harus bicara."


Saat itulah kehidupan Zara berubah secara drastis. Zara menatap Erlan dengan raut yang mempertanyakan situasi. Namun, pria itu tetap diam dan tidak memberi petunjuk apa pun. Dengan perasaan gelisah dan penasaran, Zara menunggu untuk mendengar apa yang terjadi.


Setelah mendengar apa yang katakan kembarannya, Nathan pergi bersama Jhon, meninggalkan Zara dan Erlan di ruang tamu. Zara memandangi punggung suami dan asistennya yang perg.


"Erlan ada apa sebenarnya?" Zara penasaran yang semakin menggebu dalam hati.


Zara menjatuhkan diri di sofa dan mendesah pelan dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Erlan duduk di seberangnya, kesedihan dan kebingungan meliputi wajah pria itu.


“Erlan, adakah yang bisa kau beri tahu tentang kabar yang baru saja kamu dapatkan?” Zara akhirnya mengambil keberanian untuk bertanya.


Namun, Erlan tampak tidak mengerti. Dia menggeleng perlahan, menunjukkan bahwa ia juga tidak tahu. Sementara itu, Jhon dan Nathan berbicara di ruang kerja Nathan yang tertutup rapat dan isolasi suara membuat tidak ada yang terdengar.


Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, Nathan dan Jhon keluar dari ruang kerja dengan ekspresi yang tak dapat dibaca. Nathan menghampiri Zara yang duduk, wajahnya pucat penuh kecemasan.


"Zara, kita harus bicara," kata Nathan pelan kepada istrinya. Zara menatap suaminya dan memberinya tanda bahwa ia siap mendengar kabar berat apa pun yang akan disampaikan.


Nathan menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara, “Sebenarnya, ada sesuatu yang selama ini saya sembunyikan dari kalian semua. Ketika aku pertama kali menjalani bisnis ini, aku sebenarnya tidak sendirian.”

__ADS_1


Erlan tampak terkejut dengan pengakuan kembarannya.


"Lalu, apa yang terjadi?" tanyanya dengan ketegangan yang jelas terdengar di suaranya.


"Ada beberapa saat di mana anggota keluarga kita dipantau dan dicurigai. Salah satu dari mereka adalah Diego, pria yang selama ini bekerja dengan Ayah Tama dan merupakan anggota geng tersebut," lanjut Nathan dengan nada getir.


Mereka tercengang mendengar pengakuan dari Nathan. Hening sesaat menutupi ruangan. Nathan menyelipkan tangannya ke telapak tangan Zara yang bersimbah keringat dengan Ketat.


"Jadi apa sekarang?" tanya Zara dengan suara gemetar.


Nathan menatap Erlan tepat di mata. “Geng itu semakin berbahaya dan sekarang mereka mencari kita. Erlan, mereka menemukan jejakmu hingga ke sini. Mereka memberi tahu bahwa mereka akan datang.”


Zara merasa dunianya roboh dan panik mulai merasuki pikirannya. Nathan memegangi tangan istrinya lebih erat, mencoba memberikan dukungan yang bisa dia berikan.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apa yang akan terjadi pada kita semua?” tanya Zara dengan suara putus asa.


Nathan menunduk dan menggigit bibirnya. "Aku sudah mencoba segala macam cara untuk menghubungi Diego dan mencari tahu keberadaan mereka, tetapi tanpa hasil. Opsi terbaik kita sekarang mengungsi sebelum mereka datang."


Nathan memandangi wajah saudara kembar dan keluarganya dengan frustasi, mencoba menenangkan hatinya agar dapat berpikir jernih dan membuat keputusan terbaik.


"Tunggu maksudnya kak Diego itu mata-mata?" tanya Zara.


Nathan menganggukan kepalanya, Diego sengaja ia suruh menyamar di salah satu geng yang akan mencari Erlan.


Pria itu akui ini semakin rumit, ia hanya butuh kejujuran dari kembaranya siapa dibalik semua yang sudah terjadi selama ini.


Ditatapnya Zara dengan intens, ada rasa bersalah. Namun, ia akan menyelesaikan semua ini.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat di kamar," kata Nathan karena akan ada yang dibahas dengan Erlan dan Jhon.


Zara yang paham akhirnya segera pergi ke kamar, sedangkan Nathan mengajak Erlan dan Jhon untuk keluar dari mansion.


Ketiganya masuk dalam satu mobil, Jhon yang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Hanya ada keheningan, Baik Nathan dan Erlan keduanya sama-sama menatap ke arah jendela.


Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana, tapi di depannya terlihat beberapa pria berbadan tegap berada di depan rumah tersebut.


Erlan menatap tajam pada Jhon dan Nathan. Ia tidak menyangka jika Jhon dan kembarannya tahu selama ini ia bekerja dengan siapa?


"Aku bisa jelaskan semua ini," kata Erlan dengan suara tercekat.


"Pria tua itu yang merawatku," jawab Erlan dingin.


Nathan menatap tajam pada kembarannya itu dan tersenyum tipis."Bukankah kamu sudah diberitahu oleh Mama bagaimana kamu hilang, Erlan!"


Jhon hanya diam melihat dua pria wajahnya yang begitu mirip itu sedang berselisih tegang.


"Kamu tahu siapa pria itu?" tanya Nathan terlihat begitu frustasi.


Erlan mengelengkan kepalanya, hal itu membuat Nathan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tuan sebaiknya kita mencari tempat lain untuk bicara," sela Jhon.


"Kita cari kafe untuk ngopi, Jhon."


"Baik, Tuan."


Jhon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga mereka berhenti di salah satu kafe tidak jauh dari apartemennya.


Mereka bertiga duduk di sebuah café yang tidak jauh dari kantor Nathan. Jhon terlihat gelisah, melihat dua saudara kandung yang saling bersiteru karena suatu hal yang terkait dengan keluarga mereka.


Melalui kursi di seberangnya, Nathan dan Erlan menjelaskan kisah mengenai Tuan Pasada, sosok yang menjadi pemicu konflik mereka.


"Mertuaku dan papa pernah bekerjasama dengannya. Tapi suatu hari, Tuan Pasada mengkhianati mereka semua, dan kabarnya juga ia terlibat dalam suatu bisnis gelap. Sejak saat itu, hubungan mereka terputus," terang Nathan.


Jhon memperhatikan dua saudaranya yang masih asyik berbicara. Ia merasa perlu melakukan sesuatu, mencari solusi agar konflik tersebut tidak berlarut-larut. Jhon mengepalkan tangannya erat.


"Jadi apa yang seharusnya kita lakukan sekarang, Tuan?" tanya Jhon.


Erlan menghela napas. "Kita harus mencari tahu apa yang diinginkan Tuan Pasada dari Ayah. Tama dan Papa Albert. Jika kita menemui mereka dan berbicara lebih jauh, mungkin kita akan menemukan jawabannya."


Nathan mengangguk. "Saya setuju dengan Erlan. Tapi kita harus hati-hati, Jhon. Kita tidak boleh memberikan kesempatan kepada Tuan Pasada untuk menghancurkan kita semua."


"***


Keesokan harinya, Tama dan Albert berada di kantor, keduanya duduk di meja kerja mereka yang berhadapan.

__ADS_1


"Tama, kamu tahu, bukan? Tentang kehadiran pria itu?" tanya Albert dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


Tama menghela napas panjang. "Ya, aku tahu. Tuan Pasada telah kembali dan kemungkinan besar sedang berusaha membalas dendam padaku karena anaknya meninggal."


"Kita harus mengalahkan dia, Tama. Sebelum semua orang yang kita cintai tersakiti," ujar Albert, sambil mengepal tangannya.


Pada saat itu, pintu kantor mereka terbuka, dan Jhon bersama Nathan dan Erlan masuk ke dalam kantor.


"Ada apa? Apa kalian ada penemuan baru?" tanya Tama dengan antusias.


Erlan melangkah maju. "Sebenarnya, kami ingin berbicara tentang Tuan Pasada. Kami bicara di café kemarin, dan kami berpikir bahwa kita harus mencoba mencari tahu apa yang diinginkan oleh Tuan Pasada dari kalian berdua."


Mendengar hal itu, wajah Tama dan Albert langsung berubah. Mereka tahu betul bahwa jika Tuan Pasada berhasil menemukan apa yang ia cari, akan banyak korban yang akan jatuh. Mereka harus bekerja sama, tidak peduli betapa sulit dan berbahayanya perjalanan itu nanti.


"Kalian benar, kita harus mencari tahu apa yang diinginkan dari kita. Dan kita harus bersiap untuk menghadapinya," kata Tama dengan tegas.


Albert mengangguk. "Tapi kita harus hati-hati. Tuan Pasada itu begitu licik."


"Dalam hal ini kita harus libatkan Zara, Nathan. Istrimu itu bagaimana Mike dulu," ujar Tama.


Nathan diam, pria itu terlihat begitu keberatan atas apa yang diusulkan oleh mertuanya. Namun, ada benarnya karena Zara orang yang selama ini dengan Mike.


Erlan melihat saudara kembarnya diam, itu artinya sangat keberatan dan bertanya,"Sebaiknya kita tanyakan pada Zara, apa setuju atau tidak?"


Mendengar itu Albert setuju karena tidak bisa memutuskan semua sendiri.


"Nanti saya coba bicarakan dengan Zara," jawab Nathan.


"Sebaiknya kita tanyakan pada Zara, apa setuju atau tidak?" Erlan, seorang pemuda berwajah tampan dan matanya yang tajam menatap saudara kembarnya, Albert, yang tampak gelisah.


Nathan menatap balik Erlan, mencoba mencari ketenangan dalam tatapan tajam gelapnya.


"Nanti saya juga coba bicarakan dengan Zara," kata Tama yang lebih rendah menyuarakan.


Hari itu masalah berat tampak menggantung di atas kepala mereka. Meresapi setiap fiber cara mereka berbicara dan berinteraksi.


Apa yang tampak seperti perubahan sepele dalam dinamika antar saudara bisa menjadi tanda-tanda pertanda badai mendatang.


Erlan dan Nathan mirip satu sama lain dalam banyak hal, tetapi Albert selalu percaya akan kedua putranya dan yakin masalah ini akan selesai. Kini ia paham jika Erlan ceroboh, berani dan spontan.


""""


Di mansion Nathan, Jauh di taman belakang mansion. Zara sedang menatap anjing milik Erlan, Snowy. Cahaya matahari yang lembut melalui pepohonan dan memberikan efek seperti sinar suci di wajah cantik Zara, anak perempuan Tama itu sekarang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keluarga Albert. Wajahnya ceria dan penuh kepolosan, mencerminkan ketidakpeduliannya terhadap masalah gelap yang melekat pada rumah itu.


Nathan datang dari balik pintu tua yang berwarna coklat, melihat Erlan dan Albert diam dan fokus.


"Ada apa?" tanya Nathan, alisnya mengerut dalam kebingungan.


Mereka hanya menunjuk ke arah Zara dan Snowy. Nathan mengekor pandangan Erlan dan papanya tertangkap oleh pemandangan yang sama yang mereka amati.


Zara tertawa lepas, seraya berlari mengejar anjing berbulu putih itu.


Nathan baru memahami apa yang dikhawatirkan saudara dan Papanya.


Zara,Keceriaan dan kebahagiaannya mungkin bisa berubah menjadi keputusasaan dan kesedihan jika mereka.


"Apa itu tidak apa-apa?" tanya Nathan karena setahunya Zara itu taat akan agama.


"Zara bisa menyucikan diri dari najis bintang itu," ujar Tama.


Albert dan Nathan turut membenarkan jawaban dari Tama.


Malam itu, setelah makan malam, Nathan dengan Zara duduk di ruang keluarga. Ia bisa melihat bahwa ada kekhawatiran dan keraguan di wajahnya.


"Zara, bisa bicara sebentar?" tanya Nathan lembut.


Zara menatapnya heran. "Tentu, apa yang terjadi, Mas?"


Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Nathan mulai menjelaskan situasi mereka.


Memandangi wajah Zara selama Nathan berbicara, lebih sulit daripada apa yang dia bayangkan.


Nathan menjelaskan pada istrinya tentang orang tua Mike, ia tahu ini akan membuka luka lama istrinya.


Area yang biasa tampak cerah dan ceria Zara kini gelap, air mata mengancam di ujung matanya. Namun, tidak menetes. Wanita itu mencengkeram tangan Nathan." Aku tidak ingin dihubungkan dengan Tuan Pasada?"

__ADS_1


__ADS_2