
Zara dan Dika saling pandang, Dokter muda itu segera meminta wanita itu untuk duduk.
Wajah Nathan terlihat begitu dingin, ia menatap Dokter itu dengan tatapan datar.
Setelah menimbang badan dan tes tekanan darah, Zara disuruh naik ke brankar.
Setelah itu seorang perawat wanita mengoleskan jel dan mulai menjalankan alat putih yang Zara tidak tahu namanya.
Saat Dika akan minta alat itu, Nathan langsung melarangnya membiarkan perawat wanita itu yang melakukan.
Zara memutar bola matanya jengah, suaminya mulai positif pada hal tidak tahu apa-apa.
"Lihat Zara itu anakmu, " Dika menunjukkan titik kecil di monitor.
Nathan dan Zara saling tatap, tapi pria itu tetap dengan ekspresi sama.
Zara meneteskan air matanya, ia tidak percaya secepat ini diberikan amanah pada Allah.
Nathan membantu istrinya untuk turun karena tidak sabar pria itu mengendong Zara dan kembali mendudukkan di kursi depan Dokter itu.
Baik Dokter dan perawatan itu saling pandang, melihat bagaimana posesifnya pria itu.
Siapa yang tidak ingin memiliki suami yang begitu memanjakan istrinya, tapi sayang tidak terlihat romantis karena raut wajah suami Zara yang lempeng.
Setelah selesai Zara dan Nathan pamit, baru saja wanita itu akan berdiri. Tiba-tiba tubuhnya sudah kembali lagi melayang karena ulah suaminya.
"Mas, ih." Zara memukul dada suaminya agar diturunkan.
"Diamlah kalau tidak ingin jatuh," kata Nathan dingin.
Zara cemberut, tapi wanita itu segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya karena menjadi perhatian para pengunjung rumah sakit
Saat sampai di mobil, Jhon yang baru saja selesai menghubungi istrinya. Pria itu tidak kalah terkejut.
"Nona kenapa,Tuan?" Jhon membukakan pintu mobil untuk majikannya itu.
"Zara hamil," jawab Nathan.
Jhon terdiam, pria itu akhirnya duduk di belakang kemudi.
Namun, tiba-tiba Nathan meminta pada Jhon untuk keluar dari mobil dan memindahkan Zara di depan.
"Kamu pulang naik taksi saja, biar saya yang kemudikan mobil karena Zara sedang hamil." Nathan langsung menutup pintu mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jhon ingin sekali mengumpat pada Tuannya itu, tapi tidak ada jalan lain pria itu menghubungi Diego minta dijemput karena pekerjaan di kantor masih banyak.
Setelah satu jam menunggu sopir kantor baru sampai karena harus mengantarkan Digeo ke kantor dulu baru menjemput Jhon.
Entah mimpi apa Jhon hari ini begitu sial, akhirnya pria itu tidak jadi diantar ke kantor melainkan ke apartemen.
Jhon membutuhkan Meli saya sedang kesal, hanya wanita itu yang kini diinginkannya.
Mobil berhenti di depan lobby apartemen, setelah Jhon turun dan menyuruh supir kantor itu untuk kembali lagi.
Pria itu segera menuju ke lift, entah kenapa rasanya lama kotak besi itu sampai di unit apartemennya.
Suara pintu terbuka, Jhon segera keluar dan kini sudah berada di depan unit apartemennya.
__ADS_1
Pria itu mengusap jantungnya berdetak kencang, perlahan ia menekan password dan suara pintu terbuka.
Jhon menautkan kedua alisnya karena kondisi apartemen gelap, pria itu segera menuju ke kamar. Ia perlahan membuka pintu dan lagi-lagi kondisi gelap. Hanya ada cahaya dari balkon kamarnya.
Jhon menuju ke balkon, pintu pembatas terbuka. Entah kenapa pikirannya yang tidak-tidak tentang istrinya.
Mata Jhon membulat saat melihat Meli sedang duduk di kursi yang ada di balkon sambil melipat baju.
"Sayan apa yang kamu lakukan?"
"Bee, kamu sudah pulang? Kok cepat? Aku belum masak?"
Jhon tersenyum melihat istrinya terlihat panik karena bukan tidak suka dirinya pulang cepat, tapi karena belum menyiapkan makan siang.
"Apa masih sakit? Ini kenapa lipat baju di luar? Apartemen juga gelap?" tanya Jhon tidak berhenti.
"Biar irit bayar listrik dan air," sahut Meli dengan polosnya.
Mendengar apa kata istrinya pria itu merasa tersinggung, apa Meli mengira gajinya tidak cukup untuk membayar air dan listrik.
Namun, pria itu tidak ingin sampai istrinya takut jika ia meluapkan emosinya.
"Sayang mulai sekarang jangan berpikir seperti itu, gajiku cukup dan sangat-sangat cukup untuk membayar semua tagihan dan kebutuhanmu," ujar Jhon lembut.
"Maaf," kata Meli.
Jhon mengangguk, pria itu mengajak istrinya dan tidak lupa menyalakan pendingin ruangan.
"Apa masih sakit, Sayang?"
"Bee, tunggu sembuh ya. Ini mais perih," kata Meli.
"Sayang kamu kok jadi mesum, aku tanya karena mau mengajak makan siang di luar," ucap Jhon.
Meli langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
Melihat istrinya seperti itu Jhon begitu gemas.
"Bersiaplah," pinta Jhon.
"I-iya," jawab Meli gugup.
Jhon hanya menggelengkan kepalanya, pria itu segera keluar dari kamar karena Nathan menghubunginya.
Setelah bicara dengan Tuannya, Jhon duduk di ruang keluarga dan tidak lama Meli keluar datang.
"Ayo, Bee."
Jhon tersenyum dan pria itu segera mengulurkan tangannya, lalu disambut oleh Meli.
Keduanya jalan beringin keluar dari apartemen. Jhon membukakan pintu mobil untuk sang istri. Setelah itu pria itu segera masuk dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
"Mau makan di mana?"
"Apa di kantor sedang tidak sibuk, Bee?"
Jhon menceritakan jika ia mengantar Zara dan suaminya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Jadi Nona hamil, Bee?" tanya Meli begitu antusiasnya.
"Iya, apa kamu juga menginginkan juga, kalau iya malam ini kita lembur," goda Jhon dengan mengerlingkan matanya.
"Bee, buat anak itu tidak mudah," kata Meli.
"Mudah, Sayang. Hanya butuh kerja sama saja."
Meli hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu tidak habis pikir dengan suaminya. Makin kesini, pria di sampingnya itu banyak bicara dan terlihat lebih manusiawi.
Meli dulu untuk melihat Jhon tidak berani, Jangan menatap, mendengar suaranya saja jantungnya seakan ingin meledak. Beruntung bukan buatan manusia.
Mobil yang dikemudikan oleh Jhon sampai di depan salah satu restoran. Sejak tinggal di Indonesia pria berwajah tampan itu begitu suka namanya masakan Padang.
Itu yang diingat oleh Jhon saat makan bersama sopir kantor saya sedang di luar.
Kini keduanya kembali lagi, tapi Jhon pesan daging yang di kasih cabe.
"Sayang mau makan dengan apa?" Jhon melihat lauk yang disusun membuat menggugah selera.
"Ayam goreng saja," kata Meli.
"Saya pakai dendang," kata Jhon.
Pelayan itu tersenyum, lalu menunjuk makanan yang dipesan oleh Jhon dan pria itu mengangguk.
"Tuan ini namanya dendeng, bukan dendang. Kalau dendang itu suara kendang," ujar pelayan itu.
Meli dan Jhon saling pandang, tapi keduanya sama sekali tidak tertawa atau pun senyum karena menurutnya tidak ada yang lucu.
Berbeda dengan dua pelayan itu masih tertawa, bahkan ada yang sakit perut karena ulah Jhon yang salah sebut menu.
Jhon dan Meli duduk di dekat jendela, pengunjung restoran begitu ramai.
"Sayang apa tadi ada yang salah kenapa mereka semua tertawa?"
Jhon hanya menaikkan bahunya, pria itu merasa tidak salah dan lucu, tapi dua orang itu tertawa.
Jhon sama sekali tidak tersinggung karena itu hal mereka, begitu juga dengan Meli.
Pesanan keduanya datang, Meli dan Jhon makan begitu lahap. Bahkan pria dingin itu meminta tambah nasi.
Setelah selesai makan siang Meli dan Jhon akan singgah di rumah Zara untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya.
Jhon yang tahu kalau Tuannya juga suka dengan menu yang dimakannya. Pria itu memesan untuk dibungkus tanpa pakai nasi.
Meli masuk mobil, tapi wanita itu tidak mungkin datang dengan tangan terbuka saja. Ia ingin membawa buah untuk Zara.
Wanita itu meminta untuk berhenti di toko penjual buah.
"Saya mau buah mangga dan apel," kata Meli.
"Untuk buah tangan," kata penjaga toko itu.
"Bukan hanya buah apel dan mangga saja, buah tangan saya tidak pesan," ucap Meli langsung pergi begitu saja.
"Kenapa, Sayang?"
__ADS_1
Meli menatap wanita yang jaga di toko itu dengan tatapan kesal.