
Zara yang sudah merasa kenyang wanita itu masih asik duduk di balkon kamarnya. Tidak lama seseorang menepuk bahunya.
"Sayang anginnya kencang, jangan sampai kamu sakit" kata Nathan.
Zara mengangguk, rasa kesalnya pada suami menguap begitu saja, bahkan wanita itu kini tersenyum manis pada Nathan.
"Mas sudah makan?" tanya Zara melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Belum makannya aku mengajak kamu," jawab Zara.
Mendengar apa kata suaminya, Zara tersenyum. Keduanya kini berjalan menuruni tangga, saat sampai di meja makan wanita itu mengerutkan keningnya.
"Meli mana?" tanya Zara pada para pelayan.
"Meli dan Jhon sudah pulang, Sayang."
Mendengar itu Zara menganggukan kepalanya, ada rasa bersalah karena sudah meninggalkan sahabatnya itu.
Nathan mengusap kepala istrinya, pria itu tahu Zara merasa bersalah karena sudah meninggalkan Meli begitu saja.
Ia besok akan meminta maaf pada Meli.
Nathan dan Zara makan dengan lahap, wanita itu lemas kalau pas pagi saja.
Setelah selesai makan, keduanya duduk di ruang keluarga, sedangkan Nathan masih memantau perusahaannya yang di. Turki.
__ADS_1
Saat sedang asik berbincang dengan suaminya. Terdengar suara bel.
Zara dan Nathan saling pandang. Sama-sama menggelengkan kepalanya karena merasa tidak ada janji untuk bertemu.
Seorang pelayan membukakan pintu, ia begitu terkejut melihat siapa yang datang." Tuan."
Zara dan Nathan merasa penasaran dan kini kedua segera beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang.
"Ayah!" seru Zara langsung memeluk tubuh sosok yang sangat dirindukan itu.
"Apa kabar, Nak?"
Zara tidak sanggup untuk menjawab, wanita tangisnya pecah di pelukan ayahnya
Pria itu begitu senang dan ini waktunya ia untuk kembali bangkit setelah bisa menenangkan diri.
Zara mengajak sang ayah untuk masuk, Tama senyum melihat putri begitu manja.
Namun, Zara merasa ada yang sakit di perutnya. Wanita itu sempat meringis karena menahan sakit di perutnya.
Nathan yang asik sedang mengobrol dengan mertuanya, pria itu tidak sengaja menoleh ke arah istrinya.
Melihat Zara meringis seperti sedang menahan rasa sakit. Pria itu beranjak dari duduknya.
"Sayang kamu kenapa"?
__ADS_1
"Mas perutku sakit," kata Zara dengan mencengkram tangan suaminya.
Tama segera mengajak Nathan untuk membawa Zara ke rumah sakit.
Tama memilih mengemudikan mobil, sedangkan Nathan memangku kepala istrinya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya
Mobil yang dikemudikan oleh Tama memasuki area rumah sakit. Tepat depan UGD.
Nathan menggendong Zara dan langsung membawa masuk Ke UGD, seorang perawat segera meminta pria itu untuk membaringkan Zara di atas brankar.
Setelah itu Nathan diminta untuk menunggu di luar. Pria itu keluar dan melihat Tama sedang duduk dengan raut wajah begitu cemas.
"Apa kata Dokter, Nathan?"
"Sedang ditangani, Yah." Nathan ikut duduk di samping mertuanya itu.
Kedua pria beda usia itu sama-sama diam , hingga pintu UGD terbuka seorang Dokter keluar dan tersenyum menatap dua pria itu terlihat begitu khawatir.
"Bagaimana dengan istri saya, Dok?"
"Ibu Zara sepertinya habis makan yang asam dan pedas, hingga asam lambungnya naik. Untuk sementara lebih baik dirawat dulu," jelas Dokter itu dengan tersenyum menatap Tama dan Nathan bergantian.
"Baik , Dok." Nathan segera mengurus administrasi untuk rawat inap istrinya.
Bahkan pria itu berhidung mancung itu tidak peduli jika beberapa wanita memperhatikan dirinya.
__ADS_1