Secret Wedding

Secret Wedding
S.W. 35


__ADS_3

"oke papa," ucap Mama Yunita yang menirukan suara anak kecil.sontak saja, hal itu membuat Aiden dan Feby yang mendengarnya, hanya tergelak tanpa suara.


mereka segera menaiki kendaraan masing masing. dan di sepanjang jalan, mereka saling beiringan. sangat di untungkan, karena jalanan masih sangat sepi.


sehingga Aiden tak akan pernah mendapatkan kata kata mutiara dari pengendara lain seperti hari hari sebelumnya.


lima belas menit berkendara, Aiden dan Feby telah sampai di depan gerbang sekolahnya. dan seperti biasanya, Aiden selalu menghampiri sang istri.


entah untuk sekedar mengecup pipi, hidung, atau menoel dagunya. seakan. itu adalah hal wajib yang harus di lakukan oleh Aiden.


"Aiden, nanti kalau ada yang lihat bagaimana,?" tanya gadis itu dengan perasaan was wasnya.


"ya kita tinggal ngaku aja, lagipula, sekolah ini kan milik keluarga kita," jawab Aiden dengan santainya


plak


satu geplakan, mendarat mulus di pundak Aiden. membuat laki laki itu meringis karena rasa panas di pundak.


"kamu jadi istri kasar banget sih Yank,?" tanya Aiden dengan mendegus kesal.


"biarin biar kamu sadar, kitq nggak boleh semenaena sama orang. mentang mentang kita yang punya, terus, bisa seenaknya gitu,?" tanya.Feby dengan nada kesal.


kemudian, meninggalkan Aiden yang masih berada di parkiran seorang diri. dan tanpa mereka sadari, sedari tadi, ada yang memperhatikan mereka dengan ekspresi wajah sulit di artikan.


"ada hubungan apa sebenarnya antara Aiden dan Feby,?" gumamnya seraya berlalu pergi.


*****


sementara itu, Feby yang baru sampai kelas, menatap sinis saat melihat Renata kini telah duduk satu bangku dengan Syafira.


"hay gaes, lihat nih gue duduk sama Renata, mantan sahabatnya Feby, haha" ucapnya seraya tertawa renyah.


matanya menatap sinis pada Feby dan yang lainnya yabg kini tengah duduk di bangkunya.


"lah, emang kenapa Fir sampai si Renata pimdah temenan,?" tanya salah satu siswi.


Syafira yang mendengarnya, terssnyum menyeringai dan menatap kearah Feby. " ya mungkin udah gak tahan lagi sama sikap mereka," jawabnya tersenyum puas.


Feby yang mendengarnya, menjadi sangat geram. karena tuduhan Syafira itu seakan akan menceritakan jika kelompok Feby itu adalah kelompok jahat.

__ADS_1


brak


suara meja di gebrak sangat kuat. sehingga membuat semua yang berada di sana, teonjak kaget. termasuk juga Syafira dan tan temanya.


"heh, kalau kalian mggak tau apa apa, nggak usah banyak bacot!" bentak Frby dengan nada lumayan tinggi.


membuat Sivia dan Imelda, segera menghampiri Feby.


"sabar Feb, loe nggak boleh emosi," Sivia mengusap pundak sahabatnya agar bisa lebih tenang.


"dan untuk loe Re, gue nggak nyangka, loe bisa berubah secepat ini, hanya karena hasutan nenek lampir ini,?" tanya Feby dengan menunjuk wajah Syafira,


Syafira yang di tunjuk, merasa tidak terima. lantas, gadis itu maju satu langkah untuk menarik rambut Feby.


namun, dengan cepat, tangan Syafira di tepis oleh Imelda yang maju paling depan.


"sini kalau betani!! jangan beraninya hanya di belakang sahabat sahabat loe doang, cuih!!" Syafira meludah ke arah samping.


seakan yang ia temul adalah kotoran. hal itu membuat Feby sedikit tersinggung. Feby hendak maju untuk membalasnya.


sepertinya, tangannya sudah gatal ingin mengacak acak tubuh dsn rambut Syafira yang seperti tante tante itu.


"asal loe tau Feb, Reza itu memilih gue dari pada loe. karena dia tau, gue lebih baik dari loe," Renata yang sedari tadi hanya diam, kini mulai bersuara.


jika di katwkan Feby telah menerima penghianatan ini, tidak juga. karena kenyataanya, gadis itu masih merasakan sakit saat mengingat penghianatan mereka.


"kalau kita nggak di depan loe, itu bukan berarti kita pengecut. bisa saja, selama ini, loe nggak di anggap sama Reza," ucap Renata dengan wajah berangnya.


Feby yang mendengarnya, hampir saja terjatuh kalau tldak di sanggah oleh Sivia. mendadak gadis itu meneteskan air matanya.


entah mengapa, hatinya merasa sakit saat Renata mengatakan hal demikian. apa mungkin, jika yang di katakan Renata itu benar ? apa benar ia hanya sebuah pelarian,?


pertanyaan demi pertanyaan, muncul di otaknya. tanpa memikirkan, jikq akan ada hati yang terluka nantimya.


"asal loe tau ya Feb, Reza mutusin gue itu karena loe," lagi dan lagi, Renata mengguncang fikiran Feby


gadis itu segera berlari dan di depan pintu, ia berpapasan dengan Aiden.


namun, dengan cepat, laki laki itu menyingkir dan menepi di balik tembok. sehingga Feby tak mengetahui, jika Aiden mendengar semuanya.

__ADS_1


"apa kamu masih mencintainya Feb,?"tanya laki laki itu dengan nada lirih dan mata sendunya.


*****


sementara itu, di taman belakang sekolah, Feby menangis dengan sesenggukan. sungguh hatinya merasa sakit saat mengingat ucapan sahabatnya itu.


hingga gadis itu tak menyadari, ada seseorang yang telah duduk di sampingnya. orang itu memberikan sapu tanganya pada Feby.


"udah gede, kok masih nangis aja,?" tanyanya seraya terkekeh pelan.


Feby segera menoleh dan mendapati Rangga, tengah duduk di sampingnya dengan tersenyum tipis.


sontak saja. dengan terburu buru, gadis itu segera menghapus air matanya.


"loe kenapa nangis,?" tanya laki laki itu. Feby yag mendengarnya, mencoba menyangkalnya.


"siapa yang nangis,?" tanya Feby seraya membuang muka.


Rangga yang melihatnya, hanya terkekeh geli. kemudian, tangannya memengusap kepala Feby dengan sayang.


"iya deh, Feby yang gue kenal, itu nggak cengeng," ucapnya terkekeh pelan.


sementara Feby yang mendengarnya, hanya mendegus kesal. karena tau apa yang di katan Rangga, adalah sarkas semata.


"eh, iya loe sama Aiden ada hubungan apa, kok tadi gue lihat, kayak di elus pipinya,?" tanya Rangga.


uhuk uhuk


sontak saja, Feby yang mendengarnya tersedak salivanya sendiri.


"loe ngak papa,?" tanya Rangga menyodorkan air minum gelasan yang sengaja ia bawa.


"engak papa, gue cuma kaget aja," ucapnya seraya meneguk air minum itu hingga habis.


"mungkin itu loe salah lihat," ucap Feby yang merasa jantungnya telah kembali normal. bukan karena deg degan karena ada Rangga. namun, deg degan karena ucapan Rangga yang baru saja keluar.


"salah lihat bagaimana,?" tanya Rangga. karena laki laki itu melihat dengan jelas jika Aiden dan Feby begitu dekat. bahkan terkesan sangat intim diantara mereka berdua.


Feby yang mendengarnya, menghela nafas panjang sebelum bercerita. " loe kan tau kalau gue sama Aiden itu musuhan, jadi ya tadi pagi gue di isengin," ucapnya setenang mungkin.

__ADS_1


agar Reza tak merasa curiga dengan penjelasanya. gadis itu masih belum siap, jika rahasianya terbongkar sekarang


See You...


__ADS_2