Secret Wedding

Secret Wedding
Part 2


__ADS_3

Jessica terkejut ketika melihat mata panda Chae Eun.


"Direktur, matamu kenapa?"


"Jangan tanya! Kan kau sendiri yang bilang bahwa aku hanya sebatas status saja sebagai direktur, maka dari itu aku memutuskan untuk membuktikan padamu apa yang seharusnya dilakukan seorang Direktur!" Tukas Chae Eun, sembari fokus melihat ke layar komputernya.


Seketika Jessica terharu. Ini adalah pertama kalinya dalam lima tahun jabatannya sebagai Direktur, Chae Eun menunjukkan keseriusan.


"Chae Eun..., kau..., membuatku terharu," gumam Jessica yang tanpa sadar berbicara dengan tidak formal pada Chae Eun, padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memanggil Chae Eun dengan dengan hormat saat di kantor, meskipun sikapya tidak ada hormat-hormatnya sama sekali. "Sini, biar aku bantu." Jessica berjalan menghampiri Chae Eun, berniat untuk membantu Direkturnya itu ketika..., dia melihat kebenaran di layar komputer Chae Eun.


"K-kau..., s-sedang belanja online?" Jessica terbata. Dia tertegun setelah ditampar oleh kenyataan.


Chae Eun menampilkan senyum sumringah, "benar sekali! Hari ini Voise Vocation akan meluncurkan hoodie edisi terbatas, karena itu aku sampai begadang, takut tidak kebagian."


"K-kau bilang kau sedang mencoba untuk membuktikan diri sebagai direktur, 'kan?" Jessica mengepalkan tangannya kuat-kuat, sampai-sampai buku-buku jemarinya menonjol tegas. Dia pada dasarnya sedang menahan amarah atas kelakuan sahabat yang juga merupakan Direkturnya itu.


"Memang iya. Kau kan yang paling tahu kalau selama ini aku hampir tidak pernah membeli barang branded, sedangkan kalau Direktur perusahaan lain pasti sudah memiliki lemari super besar yang berisikan barang-barang brandeed, maka dari itu aku...,"


#plakkkkkkk


"YAAAAA!!! CHAEEE EUNNNNN!!!!!! BUKANKAH KAU LULUSAN UNIVERSITAS TERNAMA?! TAPI KENAPA KAU BODOH SEKALI!!!! "


Chae Eun merasakan dengung di telinganya setelah Jessica berteriak tepat dilubang telinganya. Sedangkan para karyawan yang ada diluar ruang kerjanya mengalami shock berat mendengar Jessica untuk kesekian kalinya membentak sang Direktur.


"Gila, gila, gila, Jessica selalu saja membuatku merinding. Bagaimana bisa dia membentak Direktur Chae seperti itu dan selalu saja selamat dari hukuman. Kalau itu aku...," Namjoon mencoba untuk membayangkan. Namun, karena takut, akhirnya dia berhenti mencoba untuk membayangkannya.


"Astaga, Chun Bong, kau...,"


"JESSICA! PANGGIL AKU JESSICA!!!"


Chae Eun tertegun. "I-iya, J-Jessica. Jangan marah lagi ya, Je-Jessica." Gugupnya. Astaga, telingaku sakit sekali. Kurasa aku akan menjadi tuli. Chae Eun mengelus-elus telinganya.


Jessica mencoba untuk menormalkan kembali kadar keemosiannya dengan menarik-mengeluarkan napasnya secara perlahan-lahan sebanyak sepuluh kali. Barulah ketika dia tenang, dia berkata, "Direktur Chae, daripada membeli barang branded, bukankah seharusnya kau memikirkan kerugian perusahaan kita, dan juga pikirkanlah cara menggaji karyawan kita."


"Astaga Chun Bo..., ehm. Jessica. Jadi, kau marah padaku hanya karena masalah itu, huh?" Tegur Chae Eun. "Hey, masa iya aku belanja dengan menggunakan uang perusahaan. Tidak mungkinlah! Aku ini adalah orang paling bersih dari KKN, tahu! Lagipula lancang sekali kau berpikir aku ini menggunakan uang perusahaan, kau kan tahu dengan sangat baik kalau aku ini adalah anak dari presdir Chae, crazy rich nya Asia!" Chae Eun menegaskan.


Jessica menghela napas berat, "biarpun begitu, kau masih saja kepikiran berbelanja online ditengah krisis perusahaan, kau ini benar-benar hanya status saja ya sebagai Direktur."


"Astaga, perkataanmu itu selalu saja menohokku. Jahat!"


"Kalau aku jahat, lalu kau apa?"

__ADS_1


"Aku? Tentu saja wanita karir yang sukses, cantik, dan keturunan konglomerat.



Pose Chae Eun yang super pede itu membuat Jessica tak kuasa menahan tangannya untuk melayangkan pukulan pada kepala Chae Eun.


"Aduhhhh, sakittttt!!! Hey, Chun Bo..., ehm. Jessica. Kenapa kau sering sekali memukulku. Ini kan di kantor, bagaimana jika karyawan lain melihatnya? Aku akan kehilangan wibawaku jika sampai itu terjadi!" Protes Chae Eun. Padahal kenyataannya, hampir semua karyawan tahu bahwa Chae Eun selalu diperlakukan kasar oleh sang sekretaris.


"Memangnya sejak kapan kau berwibawa, huh? Kau itu selalu kekanak-kanakkan, menyebalkan, dan banyak lagi hal buruk yang tidak bisa kusebutkan satu-satu!"


Chae Eun tercengang, "ya ampun, mulutmu itu pedas sekali ya, seperti Dalgbal yang kita makan di kedai sebelah, ckckck. Tidak baik."


Jessica mendengus kesal, "kau...,"


"Iya, iya, aku tahu aku memang tidak ada baik-baiknya tapi, kau juga jangan terus berpikiran buruk padaku dong. Lagipula memangnya kau tidak ingat siapa yang membuat perusahaan ini menembus pasar barat, huh? Itu adalah kerja kerasku! Kalau sekarang perusahaan sedang oleng, itu bukan salahku, tapi salah pandemi yang tak kunjung berakhir ini," Chae Eun menggerutu panjang lebar, membuat Jessica terdiam barang sejenak, benar juga sih yang dia bilang. Pikir Jessica.


FreshChae adalah sebuah anak perusahaan Chae-Gu Group yang sudah lama tidak berjalan setelah ibu Chae Eun meninggalkan jabatannya sebagai direktur karena sakit. Saat itu, seharusnya FreshChae diberikan kepada kakak pertama Chae Eun, Chae Jung. Namun, karena saat itu Chae Jung sedang berada di Selandia Baru untuk melanjutkan S3 nya, maka FreshChae diberikan kepada Chae Hyun, kakak kedua Chae Eun. Akan tetapi, karena Chae Hyun mendapatkan panggilan mengajar sebagai dosen di Universitas Negeri Seoul, maka FreshChae pun diberikan kepada Chae Sun, kakak ketiga Chae Eun. Namun..., lagi-lagi namun, Chae Sun tiba-tiba dilamar oleh pengusaha tambang yang kaya raya, hingga akhirnya FreshChae berakhir ditangan Chae Eun. Awalnya Chae Eun tidak mau menerimanya lantaran dia memiliki impiannya sendiri. Akan tetapi, adik ayahnya yang serakah itu mencoba merebut kewenangan di Chae-gu Group, maka dari itu, ayah Chae Eun benar-benar meminta dengan tulus agar Chae Eun bisa melanjutkan bisnis keluarga. Bukan tanpa alasan, jika bisnis itu jatuh ke tangan adik ayahnya, maka mungkin Chae-gu Group yang dia bangun dengan susah payah akan menghilang dari daratan, mengingat yang dipedulikan adik ayahnya itu hanyalah foya-foya. Chae Eun pun memulai mempelajari bisnis, dan mengawali jejak kerjanya di FreshChae. Ayahnya cukup ketat pada Chae Eun, dia memerintahkan Chae Eun untuk sempurna mengelola FreshChae agar para pemegang saham dapat melihat kredibilitas Chae Eun untuk menjadi penerus Chae-gu Group. Menjabat sebagai Direktur FreshChae, Chae Eun berhasil meningkatkan produksi, dan penjualan, serta laba yang duapuluh kali lipat besarnya dari biaya produksi. Namun, sejak januari tahun ini, karena masa pandemi, FreshChae kembali mengalami pemunduran laba. Bahkan nyaris failed.


"Lupakan saja. Jadi, bagaimana solusimu atas kerugian kita?" Tanya Jessica.


"Kalau itu, aku sudah punya jawabannya," seru Chae Eun dengan bangga.


"Mulai minggu depan, FreshChae tidak akan memproduksi parfume lagi, melainkan Kostum APD, dan berbagai perlengkapan kesehatan seperti hand sanitizer, masker, dan lain sebagainya," dengan penuh keyakinan Chae Eun mendeklarasikan keputusannya. Sedangkan Jessica hanya bisa ternganga, dia sudah pernah memprediksikan bahwa suatu hari nanti Direkturnya pasti akan gila karena tekanan kerja tapi, dia tak tahu kalau direkturnya akan gila secepat ini.


"Hey, kenapa ekspresimu begitu? Kau kan minta solusi, dan aku sudah memberikannya, kenapa wajahmu tetap menyebalkan seperti itu?" Tegur Chae Eun.


Jessica menghela napas berat, "hanya heran saja, kenapa kau bisa mengusulkan hal seperti itu sedangkan di perusahaan ini hanya ada orang-orang yang mengerti parfume? Kau gila ya?"


"Lalu, kau yang waras bisa memberi solusi apa?" Tantang Chae Eun. "Tidak bisa kasih solusi, 'kan? Makanya ikuti solusiku saja. Ok?"


"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Jessica, masih menyimpan keraguan.


"Mudah saja. Kebetulan aku memiliki teman dari perusahaan farmasi, dia...,"


"Tunggu! Sejak kapan kau punya teman selain aku?" Sela Jessica.


"Ehmm.., ehmm...," Chae Eun berdehem, dan wajahnya nampak malu karena Jessica baru saja menamparnya dengan kenyataan. Memang benar bahwa hanya Jessica lah teman Chae Eun satu-satunya, dan kenalan dari perusahaan farmasi yang Chae Eun sebutkan tadi bukanlah teman, melainkan juniornya waktu di kampus dulu yang tidak sengaja dia temui, dan kemudian menjadi korban paksaan Chae Eun.


Dua hari lalu.


"*Kudengar harga hand senitizer sangat mahal sejak dimulainya pandemi ini. Aku mau kau memberikan resep untuk membuatnya!" Tukas Chae Eun.

__ADS_1


"U-untuk a-apa d-direktur Chae m-meminta itu sedangkan perusahaan d-direktur Chae adalah perusahaan parfume."


#brakkkk (menggebrak meja)


"Kau melawak ya? Mana ada yang mau beli parfume ditengah pandemi ini, huh? Selama pandemi ini aku memutuskan untuk menjual hand senitizer dan berbagai perlengkapan kesehatan lainnya. Jadi, berikan resepnya atau aku akan pastikan namamu tidak akan pernah bisa masuk daftar antrian di biro jodoh!"


(**Kenangan dua hari lalu berakhir di sini***)


"Memangnya kau pikir aku ini orang aneh yang hanya memiliki satu teman saja, huh? Biar begini, temanku itu sangat banyak loh," Chae Eun berdusta. "Pokoknya, aku punya teman dari perusahaan farmasi, dan dia memberikan resep untuk membuat hand senitizer yang bagus. Jadi, kita akan menyuruh para ahli parfume untuk mengerjakan hand sanitizer. Sedangkan para design grafis yang biasanya membuat logo, akan kita suruh untuk membuat pola kostum apd, dan masker. Begitu!"


"Apakah bisa?" Jessica masih tak yakin.


"Bisa, harus bisa! Jadi, kau harus sampaikan ini pada mereka, ok?" Titah Chae Eun. "Oh satu lagi, kalau mereka mengeluh, ataupun menolak, maka katakan pada mereka perusahaan akan melakukan phk besar-besaran."


Jessica menggeleng-gelengkan kepala, "ckckck, ancamannya itu benar-benar menakutkan ya. Direktur kita memang sangat hebat."


"Tentu saja," Chae Eun berbangga diri.


"Sangat hebat, benar-benar hebat, seperti setan yang selalu berhasil menggoda manusia," tukas Jessica sesaat sebelum dia keluar dari ruang kerja Chae Eun.


"Aishhhhhh, dasar Chun Bong sialan!"


~cekleek


"Hua!!!" Chae Eun terkejut bukan main saat Jessica kembali membuka pintu ruangannya. "Gila! Jantungku mau copot rasanya," gumam Chae Eun sembari mengelus dadanya yang masih berdetak tak karuan karena terkejut.


"Hey, Direktur, memangnya kita punya dana tersisa untuk memproduksi semua itu?" Tanya Jessica yang hanya menjulurkan kepalanya dari sela pintu.


"Tenang saja, itu urusanku. Kau kerjakan saja apa yang aku suruh kerjakan."


Jessica menautkan kedua alisnya, "pertama, sangat tidak mungkin orang pelit sepertimu mau berkorban uang. Jadi, biaya produksinya pasti bukan darimu. Kedua, tidak mungkin kolega kita yang berinvestasi, karena pandemi ini, perusahaan para kolega kitapun ikut terkena dampak. Jadi, pasti pilihan ketiga, atau keempat," terka Jessica.


Chae Eun mendengus kesal, "ya ampun kau ini, benar-benar tidak pernah memikirkan hal baik tentangku ya?"


"Benar sekali!" Tukas Jessica.


Chae Eun menghela napas berat, "memangnya pilihan ketiga dan keempat itu apa?"


"Ketiga adalah meminta dana dari ayah ataupun kakak-kakakmu, tapi, mengingat bagaimana kau di dalam keluargamu, pasti bukan itu juga. Jadi, pasti yang ke empat. Kau..., memanfaatkan dia, 'kan?" Jessica memandang curiga.


"Keluar!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2