
Siang harinya Zara sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Wanita itu masih sedikit pucat, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
Nathan dan Tama tidak hentinya menmani Zara. Hari ini Nathan dan Jhon akan bertemu dengan CEO dari Grup Nugraha, sedangkan Zara meminta Meli untuk menemaninya.
Pada hal rencana Nathan ingin mengajak istrinya, tapi dapat kabar dari Jhon jika Tuan Satya hanya datang sendiri, karena anaknya sedang sakit.
"Sayang aku berangkat," pamit Nathan.
Zara mengangguk, setelah Nathan dan Jhon pergi kedua wanita itu masuk dan segera mengunci pintu.
"Ayah har ini tidak jadi ke kantor?" tanya Zara melihat sang Ayah masih asik menonton televisi.
"Agak siang nanti ayah akan bertemu dengan sahabat lama," jawab Tama.
Zara mengangguk, tapi melihat ayahnya terlihat hanya melamun saja walaupun tatapan ke arah televisi.
Zara tahu ini mungkin akan membuat ayahnya sedih karena selama Bundanya menaningal baru kali ini berada di rumah sangat lama.
"Ayah kalau kurang nyaman di rumah bisa ke apartemen Zara," kata Zara dengan lembut.
Tama tersenyum menatap wajah cantik putrinya." Ayah akan tinggal di sini , banyak kenangan dari Bunda di sini,Nak. Kamu jangan khawatirkan ayahmu ini."
Tama akui walaupun istrinya sudah tidak ada lagi, tapi pria itu merasa kalau Zeni sampai sekarang masih di sisinya.
Istrinya boleh meninggal , tapi cinta Tama pada wanita itu akan selalu di hatinya.
Zara melihat ayahnya dengan penuh kepedulian. ia tahu bahwa ayahnya masih memendam rasa sedih dan kerinduan akan bundanya, Zeni. Meskipun sudah lama sejak kematian istrinya, Tama masih merasakan kehadiran Zeni dalam hidupnya.
Zara merasa terharu melihat betapa besar cinta yang ayahnya miliki untuk bundanya, bahkan setelah kepergian sang wanita itu, masih membawa cinta dalam hatinya.
"Terima kasih, Ayah, karena tetap di sini untuk Zara," ucap Zara dengan suara lembut, mencoba mencurahkan kehangatan dan cinta kepada ayahnya.
Tama tersenyum dan meraih tangan Zara dengan lembut. Kedua netra itu bertemu penuh dengan rasa sayang dan kebanggaan.
"Kamu adalah anugerah terindah yang diberikan pada bunda, putriku. Ayah bersyukur setiap hari memilikimu di sini bersamaku," Tama berkata, suaranya penuh dengan rasa haru.
Zara tersenyum dan membalas pelukan ayahnya. Dalam pelukan itu, mereka saling memberi dukungan dan cinta satu sama lain.
Zara tahu bahwa keduanya akan menghadapi masa depan dengan kebahagian apa lagi sebentar lagi akan lahir cucu pertama Tama.
Zara dan Nathan akan tetap bersama-sama, saling menyokong dan menghadapi setiap hal dengan keberanian dan keyakinan, seperti yang dilakukan bundanya. Meskipun Zeni telah pergi, warisan cintanya terus hidup di dalam keluarga mereka, membawa ayah dan anak itu melewati kesedihan dan membawa kebahagiaan dalam hidup mereka sehari-hari.
Kebersamaan itu, Zara merasa juga hadirnya perasaan bunda, Zeni, yang telah pergi meninggalkan mereka dalam musibah itu.
Ia berharap bahwa kehadiran anaknya kelak juga dapat memberikan kebahagiaan yang mendalam seperti yang Zara dan Tama miliki di dalam keluarga ini walaupun sang bunda telah tiada.
Tama menepuk bahu putrinya, setelah itu beranjak dari duduknya. Zara menatap punggung ayahnya dan kini hilang karena sudah berbelok untuk masuk ruang kerjanya.
***
Di salah satu restoran bintang lima di jakarta pusat. Nathan sedang menunggu Satya Nugraha. Pria itu menatap mesin waktu di tangan kirinya.
“Apa mereka terlambat, Jhon?”
“Tadi sudah berada di lobby, Tuan.”
Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.
“Maaf saya terlambat,” ucap pria yang terlihat tampan langsung mengulurkan tangan pada Jhon dan Nathan.
“Tidak apa-apa,Tuan.” Jhon mempersilahkan Satya dan asistennya untuk duduk.
“Ini Tuan Nathan,” kata Jhon memperkenalkan pada Satya dan Rangga.
__ADS_1
Setelah saling berkenalan Nathan dan Satya mulai membicarakan kerjasama. Setelah dari kedua belah pihak setuju. Besok Satya diundang untuk makan malam di rumah mertua Nathan.
“Apa Anda Akan lama di Jakarta, Tuan Satya?”
“Saya besok harus kembali ke surabaya, tapi malam ini akan menemui mertua saya juga tinggal di sini,” ujar Satya.
“Wah kebetulan sekali bagaimana kalau sekalian makan malam ajak mertua Anda,” ujar Nathan bersikap ramah pada Satya karena rekan kerjanya itu juga terlihat cocok dengannya.
“Masalah itu nanti dikabari asisten saya, Tuan Nathan,” jawab Satya.
Nathan mengangguk, kini mereka sama-sama keluar dari restoran. Setelah Satya dan asistennya sudah meninggalkan area parkir, Jhon mengajak bosnya untuk masuk mobil.
“Pantas mertuaku begitu ingin kerjasama dengan grup Nugraha,” kata Nathan dengan tersenyum saat sudah bertemu dengan Satya.
“Kabar yang saya dengar Tuan Satya juga dulu menikah karena dijodohkan,” ujar Jhon.
Nathan hanya diam, ia tidak menanggapi akan apa yang dikatakan asistennya itu.
“Tuan apa kita ke kantor atau Anda mau langsung pulang?” tanya Jhon.
“Pulang saja, kamu setelah mengantarku kembali ke kantor siapakan kontrak kerja dengan grup Nugraha!” perintah Nathan.
“Baik, Tuan.”
Setelah hampir empat puluh menit mobil sampai di kediaman Tama.
“Kamu sekalian ajak istrimu, Jhon.Akua hanya ingin berdua dengan Zara.”
Jaon tersenyum tipis, jujur pria itu juga ingin hanya berdua dengan istrinya. Namun, kali ini ia harus membawa Meli ke kantor karena masih ada pekerjaan untuk besok.
Meli keluar dari rumah Zara setelah berpmitan pada nonanya itu.
“Apa sudah selesai, Bee?” tanya Meli.
“Apa tidak apa-apa, Bee?”
Jhon hanya tersenyum, pria itu segera mengemudikan mobilnya karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
***
Di kamar Zara, wanita itu tidak melihat suaminya saat masuk kamar. Namun, ia mendengar suara gemericik air.
“Sayang kenapa tidak istirahat?” tanya Nathan.
“Aku lelah juga, Mas. Kalau harus berbaring terus,” kata Zara dengan menatap suaminya manja.
Nathan mengusap kepala istrinya, Zara memeluk pinggang suaminya. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu.
“Bagaimana pertemuannya tadi, Mas?” tanya Zara.
“Lancar, besok baru akan tanda tangan kontrak,” jawab Nathan.
“Syukurlah,ayah pasti akan senang bila mendengar ini,” ujar Zara.
“Kamu kasih tahu pelayan untuk menyiapkan makan malam, kita akan beri kejutan pada ayah karena Tuan Satya dan mertuanya malam ini akan makan malam di rumah,” jelas Nathan.
Zara tersenyum, Tuan Nugraha adalah sosok yang membuat ayahnya bisa berdiri hingga saat ini.
Zara setelah menelpon bagian dapur, wanita itu minta dimasakan menu spesial untuk menyambut Tuan Satya dan mertuanya.
"Apa orangnya sudah tua atau seumuran Ayah?" tanya Zara karena penasaran dengan sosok Satya karena proposal ayahnya ditolak oleh perusahaan besar di Surabaya itu.
"Nanti kamu akan bertemu dan lihat sendiri, tapi pastinya lebih tampan aku, Sayang."
__ADS_1
Zara langsung mencibir suami tuanya itu, benar apa yang dikatakan oleh Nathan. Walaupun umurnya sudah matang, tapi ketampanan suaminya itu kadang membuatnya kurang percaya diri dibandingkan dengan beberapa wanita di sekitar kantor, bahkan Zara sendiri mendengar jika ada wanita yang rela dijadikan istri kedua jika suaminya mau.
"Melamun apa?" tanya Nathan dengan duduk di samping istrinya.
"Mas apa masih ada wanita ingin mendekatimu diluar sana, apalagi perusahaan ayah itu modelnya cantik dan seksi."
"Hust, bagaimanapun bentuk mereka. Hanya kamu yang ada di hatiku,Sayang."
Wajah Zara langsung memerah karena ungkapan istrinya.
Nathan melihat istrinya seperti itu, pria itu langsung menyambar bibir ranum istrinya itu.
Zara melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Sejak hamil wanita itu mudah sekali terpancing.
Nathan melihat istrinya begitu agresif tersenyum bahagia, bisa Zara bak batu hanya diam dan sesekali mendesah.
Namun, saat ini Zara yang memimpin olahraga sore. Nathan hanya pasrah akan apa yang dilakukan istrinya.
Pria itu merasa tidak kuat kalau hanya diam saja.Akhirnya Nathan Mengganti posisi, sekarang ia yang memimpin permainan yang kian Malam makin panas.
******* dan lenguhan terdengar begitu merdu dari kamar kedap suara itu.
Zara menggeliatkan tubuhnya setelah merasakan sesuatu akan meledak dari intinya. Tidak lama Nathan mengadahkan kepalanya ke atas, matanya terbuka dan hanya memperlihatkan putihnya saja.
Pria itu merasakan nikmat yang begitu laut biasa, tapi melihat istrinya sempat meringis saat dirinya mencabut benda pusakanya menjadi khawatir." Sayang apa sakit lagi perutnya?"
Zara menatap suaminya dengan tersenyum lalu bertanya,"Kenapa dicabut?"
Nathan terkejut akan pertanyaan istrinya, pria itu langsung menyentil kening istrinya." Dasar istri nakal."
Zara terkekeh, wanita itu langsung memeluk tubuh suaminya yang masih berkeringat karena olahraga sorenya.
Keduanya masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuh, tapi bukan Nathan kalau tidak minta satu ronde lagi di kamar bathtub.
Zara mengerucutkan bibirnya karena suaminya janji satu ronde saja, tapi Nathan meminta lebih.
Setelah menyelesaikan ritualnya, pasangan itu segera shalat Maghrib.
Setelah selesai wanita itu mengenakan kaos lengan panjang dan rok panjang model kargo yang lagi booming di anak-anak remaja.
Pasmina warna lilac di padukan dengan rok yang warna senada.
Zara mengenakan kaos warna putih, melihat itu Nathan mendengus karena istrinya terlihat masih seperti anak kuliahan.
Zara melihat suaminya menatap dengan datar merasa heran." Kenapa, Mas?"
"Kamu kayak mau diajak pergi kekasihmu saja."
Zara tersenyum, wanita itu membuka pintu lemari suaminya, ia mencari pakaian yang cocok untuk Pria yang kini sedang marah karena melihat fashionnya.
Zara mengambil kaos warna putih, dan celana jean warna biru gelap. Setelah dipakai oleh Nathan.
Zara menatap seperti ada yang kurang. Wanita itu berjinjit dan langsung mengacak rambut suaminya yang sudah disisir rapi.
"Zara!" Seru Nathan.
"Ssstt, ikuti aja, lihat sekarang." Zara memutar tubuh suaminya menghadap ke cermin.
Nathan terdiam, pria itu biasa berpenampilan dengan rambut tersisir dengan rapi. Namun, kali ini istrinya membuat gayanya seperti anak muda yang bisa nongkrong di kafe.
"Bagaimana?" tanya Zara dengan tersenyum lebar melihat suaminya lebih muda dari umur yang sebenarnya.
Nathan hanya diam, ditatapnya sekali lagi penampilannya."Tapi apa sopan dengan penampilan seperti ini?"
__ADS_1