
"Hyujin-ah, ibu tidak apa-apa, sebaiknya kita abaikan saja."
Mungkin di sanalah letak kesalahanku. Seharusnya aku mengabaikan orang itu seperti yang diperintahkan ibuku. Namun, amarah? Itu sesuatu yang sulit untuk kutahan. Pengkhianatan itu, rasa sakit itu, keduanya memprovokasi amarahku. Aku..., tidak dapat mengabaikannya, dan karena tidak dapat mengabaikannya, aku justru mulai terbelenggu dalam kenangan itu. Apakah aku gila? Mungkin belum.
"Jin-ah, kau sudah baik-baik saja?"
Bahkan di saat aku berada di titik terendahku, entah kenapa bibirku ini selalu melengkungkan senyuman tiap kali melihat, dan mendengar suara kak Seok Woo. Apakah karena dia adalah orang yang selalu mengulurkan tangannya padaku saat aku tenggelam dalam kehancuran?
"Kau menjagaku semalaman?"
Kak Seok Woo meletakkan nampan makanan yang dibawanya ke atas meja lampu di samping ranjangku, kemudian dia memeriksa infusku. Seraya berkata, "bukan aku, nona Chae yang menjagamu semalaman. Dia menyuruhku untuk beristirahat agar bisa menjagamu hari ini, karena hari ini ada hal yang harus dikerjakan."
Chae Eun?
"Hey, Jin Ji, sepertinya nona Chae tak menganggap pernikahan kalian sebagai hubungan kontrak," adu kak Seok Woo. "Dia memerhatikanmu seperti memerhatikan suaminya sungguhan."
Aku tidak tahu haruskan merasa senang dengan perkataannya? Chae Eun adalah orang yang selalu menuruti perkataan keluarganya, dan pernikahan kami..., itu juga terjadi karena keluarganya. Jadi, jika dia bersikap baik padaku, tentunya itu adalah usahanya untuk melakukan yang terbaik dalam menjalankan apa yang telah keluarganya perintahkan padanya.
"Kak, sebenarnya kemarin itu apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba di serang?"
Kak Seok Woo menghela napas panjang, "mereka itu fans Haejun yang mengamuk. Aku kan sudah bilang padamu bahwa fans Haejun berdemo di depan perusahaan kita."
"Iya, tapi kenapa?"
Kak Seok Woo meraih tab yang ada di atas meja lampu, dia kemudian menyodorkannya kehadapanku, "kemarin itu kau menjadi nomor satu di waktu pencarian nyata, kau..., ohhh ini...,"
[Pagi ini aktor terkenal Haejun diselidiki oleh polisi atas kasus penyalahgunaan narkoba, dan kasus perekaman video ilegal di toilet wanita di sebuah pusat perbelanjaan...,]
Aku terkejut bukan main membaca berita tentang Haejun. Sedangkan kak Seok Woo terus menggeser jarinya, mencoba mencari sesuatu dalam situs pencarian tersebut.
"Berita tentangmu hilang!" Dia nampak shock. "Semua ini berita tentang Haejun."
"Memangnya ada berita apa tentangku?"
"Kemarin itu semua media memberitakan bahwa kau merundung Haejun, bahkan direktur juga ikut diserang karena fans Haejun menganggap Direktur habis manis sepah di buang pada Haejun."
"Apa?!!" Aku terkejut. Aku baru saja mengetahui hal ini. Wajar saja kemarin itu fansnya Haejun mengamuk. Tapi, kenapa semua berita ini malah tentang Haejun?
"Wahhhhh Jin-ah, lihat ini."
[Pemberitaan tentang perundungan aktor Jin Ji terhadap aktor seniornya, Haejun. rupanya untuk menutupi pemberitaan tentang kasus yang melibatkan Aktor Haejun. Apakah mungkin aktor Haejun mencoba menjadikan Aktor Jin Ji sebagai kambing hitam?]
"Waahhhh sepertinya fans mu mencari bukti tentang kasus perundungan itu. Lihatlah, banyak sekali video yang memerlihatkan bahwa tangkapan layar yang tersebar itu tidak seperti yang terlihat."
Aku hanya bisa terdiam. Merasa bersyukur? Tentu saja. Namun, bagaimana bisa sekebetulan ini kasus Haejun terungkap?
●●●
Aku sebenarnya tidak begitu suka melihat komentar di setiap artikel pemberitaanku. Namun, hari ini...., KOMENTARNYA WARBIAZA ZEKALIIIIIIII.
__ADS_1
Biasanya kalau ada komentar baik, pasti ada komentar buruk. Namun, semua komentar ini..., Seluruh dunia menyemangatiku, memujiku, dan mendukungku. Bahkan ada banyak sekali yang meminta maaf padaku karena sempat memakiku tentang berita palsu yang beredar beberapa hari lalu. Meskipun aku merasa sedikit tak enak lantaran banyak sekali komentar buruk tentang Haejun. Apakah dia pantas mendapatkannya?
Tririring
Jegrekk
Aku menoleh ke arah pintu, dan mendapati Chae Eun yang melangkah masuk. Dia nampak kacau sekali.
"Hey, nona Chae, sejak kapan kau punya mata panda?"
"Sstttt jangan berisik, jangan bersuara sekecil apapun, atau kalau bisa kau tahan napasmu. Hari ini aku mau istirahat total," katanya. Sembari berjalan gontai menuju kamarnya.
Sejak aku tersadar dari koma satu hariku, aku tidak pernah melihat Chae Eun, ini adalah pertama kalinya. Kak Seok Woo bilang dia merawatku semalaman hari itu, dan sangat mengkhawatirkanku. And see?!! Seperti yang kuduga, dia memang hanya mengkhawatirkanku saat ada orang lain yang melihatnya. Namun, saat hanya berdua bersamaku? Hubungan kami tak lebih dari sekedar hubungan status saja. Dia sungguh menerima pernikahan ini karena desakkan keluarganya.
Aku menghela napas berat. Setiap kali mengingat hal tersebut, aku jadi merasa bersalah pada Chae Eun. Seharusnya aku menolak perjodohan kami dengan tegas saat itu, tapi..., saat itu..., aku..., aku rasa aku saat itu memiliki sebuah harapan padanya. Harapan untuk diterima olehnya. Aku tahu itu terkesan tak tahu malu, mengingat aku bukanlah siapa-siapa saat itu, dan aku adalah orang dengan banyak cacat di masa laluku. Orang sempurna seperti Chae Eun? Dia terlalu baik untukku, dan kini aku mengikatnya dengan hubungan suami-isteri yang tidak pernah dia harapkan dalam hidupnya.
Drrrttttt drrrrtttt drrrtttt
Getar ponselku mengalihkan pandanganku.
Direktur?
Aku sebenarnya agak malas untuk mengangkat panggilannya. Namun, jika tidak kuangkat, dia pasti akan memarahi kak Seok Woo.
Aku menghela napas berat sebelum akhirnya menerima panggilan masuk dari Direktur.
"Hey, Jin Ji, hari ini pergilah ke hotel Scotes World. Putri bungsu pemilik SungSung elektronic mengadakan ulang tahun di sana, dan dia berharap kau bisa datang."
"Kenapa harus? Lagipula bukankah direktur mengatakan bahwa aku akan beristirahat untuk pemulihan?"
"Hey, kupikir kau sudah mulai menjadi penurut, rupanya tambah membangkang ya. Kau tahu? Karena berita perundunganmu tempo hari, kita kehilangan banyak sekali iklan, kau bisa hitung kerugiannya, hah? Lagipula sejak kapan kau memercayai ucapanku di media, eoh? Beristirahat? Bagaimana bisa kau memiliki pikiran seperti itu dalam keadaan ini, hah?!"
"Tapi Direktur, aku...,"
"Eoii bocah ingusan! Jangan membantah! Atau aku akan menghancurkanmu hingga tiada sisa!"
Ancaman itu lagi! Aku sebenarnya sudah muak. Aku ingin berhenti. Namun, aku sadar bahwa aku tidak bisa. Bukan hanya karena aku ingin mengumpulkan uang demi mendapatkan kembali semua hal yang pernah kumiliki tapi, juga demi Chae Eun. Aku tidak bisa membiarkan diriku rusak akan merusak reputasi Chae Eun yang luar biasa. Chae Eun adalah wanita hebat, dia memiliki keluarga yang hebat, karir yang hebat, dia sempurna. Aku yang rusak tentu saja dapat berdampak padanya. Karena itu sebisa mungkin aku menghindari masalah, agar tidak ada rumor buruk tentangku yang mungkin akan berdampak pada Chae Eun.
"Baiklah, aku akan ke sana."
"Bagus! Malam ini, pukul 7. Hotel Scotes World. Pastikan kau sampai tepat waktu!"
●●●
"Kau mau ke mana?"
"Pergi, ada yang harus kukerjakan." Aku hendak pergi ketika Chae Eun menahan tanganku.
"Ke mana? Mengerjakan apa? Bukankah dokter bilang kau harus istirahat?"
__ADS_1
Apa dia sedang mengkhawatirkanku? Mungkinkah?
"Aku...,"
"Bagaimana jika ada wartawan yang melihatmu keluar rumah alih-alih berdiam diri di rumah? Mereka bisa saja membuat berita palsu yang mengatakan kau bergembira dengan kehancuran Haejun, dan menyebutmu berkonspirasi dalam pemberitaan tentang Haejun. Atau mereka akan membuat berita bahwa kau tidak mengikuti peraturan pemerintah untuk berdiam diri di rumah selama pandemi ini. Kau tahu member boy grup yang ketahuan hangout bersama teman-temannya? Dia dirutuk habis-habisan, dan...,"
Aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan panjang lebarnya. Bodoh sekali! Aku sempat berpikir dia mengkhawatirkanku, rupanya dia khawatir jika ada berita buruk tentangku. Kenapa? Karena berita buruk tentangku juga dapat merusak reputasinya.
"Jangan khawatir. Aku akan berhati-hati." Aku melepaskan tangannya yang menahanku. "Aku pergi dulu."
Aku hendak pergi, ketika lagi-lagi Chae Eun menahanku.
"Apa?"
Dia menghela napasnya, "Hey, Jin-ah. Kenapa kau berpikir kau tidak punya tempat kembali? Maksudku..., Kalau kau lelah, dan ingin beristirahat, kau bisa beristirahat di sini, lagipula kau sudah membayar sewanya. Jadi, ini adalah rumahmu."
Aku menautkan kedua alisku, "apa maksudmu?"
"Itu..., lupakan sajalah. Pastikan kau kalau keluar mengikuti protokol kesehatan, ok?"
Epilogue
"Eomma, aku takut. Aku tidak punya siapapun lagi, dan tidak punya tempat untuk kembali. Eomma, biarkan aku ikut denganmu, aku sudah lelah. Eomma." Jin Ji terus meracau di dalam pelukkan Chae Eun. Chae Eun mempererat pelukkannya.
"Hey, Jin-ah, jika kau lelah, kau bisa datang padaku kapanpun. Karena rumahku adalah rumahmu juga. Aku..., akan menerimamu di sana."
●●●
"Hey, Chae Eun, kau terlihat kurang sehat. Sebaiknya kau pulang saja, aku akan mengirimkan semua berkasnya padamu." Hyunwoo yang biasanya bertengkar dengan Chae Eun pun, mengkhawatirkannya. Karena Chae Eun memang terlihat sangat pucat.
"Aku akan beristirahat setelah ini selesai."
Hyunwoo menghela napas panjang, "tapi, bagaimana kau tahu tentang kasus pemasangan kamera tersembunyi di pusat perbelanjaanku ini? Aku sudah menyembunyikannya selama setahun ini karena takut image pusat perbelanjaanku tercemar," kata Hyunwoo, sembari memberikan file berisikan data pelaku pemasangan kamera di dalam toilet pusat perbelanjaannya. Setahun yang lalu, dengan bantuan polisi Hyunwoo berhasil menuntaskan kasus itu, dan pelakunya adalah seorang mantan manager selebritis.
"Itu karena aku pintar, tidak sepertimu. Kau menganggap kasusnya selesai hanya dengan menangkap pion saja. Kau seharusnya menangkap pemainnya! Bodoh!"
Hyunwoo terlihat bingung sekaligus kesal, "apa?! Maksudmu ada dalangnya?"
"Ckckck, lihatlah betapa bodohnya dirimu ini. Bersyukurlah karena wajah tampanmu menyelamatkanmu dari image bodoh!"
"Yaa!"
"Hanya bercanda sesuai kenyataan. Jangan diambil hati," kata Chae Eun, sembari menerima berkas yang Hyunwoo berikan. "Kalau begitu te...,"
#brakkkk
"Yaa! Chae Eun-ssi. Chae Eun-ssi." Hyunwoo segera mengangkat tubuh Chae Eun yang tiba-tiba terjatuh dan terkapar di lantainya.
Kuatlah, Chae Eun. Kau harus menjadi kuat untuk bisa memberikan perlindungan dan menjadi tempat beristirahat bagi Hyujin.
__ADS_1