
Aku akhirnya memutuskan untuk kembali. Semua yang dikatakan nenek Choi semuanya benar. Aku tidak seharusnya seperti pengecut dan melarikan diri, terlebih lagi aku melarikan diri di saat seharusnya aku berjuang bersamanya. Bodoh! Aku bahkan mengirimkan surat cerai padanya. Arghhhhhh! Apa yang harus kukatakan saat bertemu dengannya nanti?
Langkah kakiku terhenti ketika melihat rumah Chae Eun dikerumuni banyak orang, dan ada juga beberapa mobil polisi yang terparkir di sana.
Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?
Jantungku berdegub begitu keras. Aku berlari menghampiri kerumunan itu.
"Ini ... ada apa?" Tanyaku.
"Katanya ada kasus pembunuhan di rumah ini."
Seluruh tubuhku melemas saat mendengar itu. Pembunuhan? Tidak! Jangan! Jangan begini! Tuhan, kumohon jangan begini!
"B-bagaimana keadaannya? Pemilik rumah ini baik-baik saja, 'kan?" Sungguh aku merasa tubuhku akan ambruk karena terlalu lemas.
"Entahlah. Aku hanya mendengar kalau dia berlumuran darah."
"Apakah bisa beritahu aku ke mana mereka membawanya?"
●●●
Aku harus mengunjungi beberapa rumah sakit yang dekat dengan rumah karena para warga kebanyakan tidak tahu ke mana Chae Eun di bawa.
Ini adalah rumah sakit yang ke lima.
"A-apakah..., k-korban kasus pembunuhan dibawa ke-s-sini?" Napasku memburu, dan keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Ingin sekali aku membuka masker, topi serta jaketku, tapi aku tidak bisa, mengingat diriku seorang bintang, meskipun kini sudah bukan lagi.
"Oh itu benar."
"D-di mana dia?"
"Anda lurus saja dari sini, kemudian belok kanan, dia ada di sana."
Tanpa basa-basi dan mengambil napas terlebih dahulu, aku segera mengikuti arahan perawat tadi. Berjalan lurus, kemudian belok kanan.
__ADS_1
Kakiku lenguh, hingga akhirnya aku terperosok dilantai ketika melihat kamar jenazahlah yang ada di hadapanku.
Jadi, Chae Eun, dia ...
Airmataku menetes.
"Salahku! Salahku! Seharusnya aku tidak kabur. Seharusnya aku tetap bersamanya. Seharusnya aku tidak begitu. Aku bahkan mengirimkan surat cerai padanya di saat dia melakukan segalanya untukku. Aku jahat sekali. Bagaimana bisa aku sejahat ini?"
Ini sungguh menyakitiku. Chae Eun adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa bagiku di dunia ini, dan bodohnya aku justru menghindarinya. Aku hanya tidak ingin menyusahkannya, aku tidak ingin dia ikut menanggung bebanku, aku tidak ingin dia ikut di tatap rendah oleh orang lain karena diriku. Itulah yang kupikirkan saat aku mengirimkan surat cerai padanya tapi, ... kenapa? Kenapa begini? Bahkan di saat aku belum sempat jujur padanya mengenai perasaanku. Kenapa? Kenapa hidupku selalu saja berkelut dengan kesedihan? Pertama aku kehilangan ibu, lalu harta, lalu ayah, dan sekarang ... Chae Eun, aku menyesal karena tidak segera memberitahumu bahwa aku ... mencintaimu.
"Wahhh ternyata kau tahu juga ya kalau kau jahat!"
Suara itu! Tidak mungkin!
Aku menoleh, dan...,
"K-kau..., bukankah kau sudah mati?"
●●●
"Yaa! Sudah kubilang berhenti menangis! Kalian membuatku malu!" Tukas Chae Eun, sembari melirik kesekelilingnya.
"Huuu huu huuu~ kupikir kau akan mati, Eun-ah. Aku takut sekali." Isak Jessica.
Hyunwoo ikut terisak. "Iya, kita baru saja mulai berteman, rasanya terlalu cepat kalau kau mati sekarang."
Chae Eun menghela napas panjang. Sebenarnya, saat dia menghubungi 118 dia juga merasa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi tapi, semua itu hanyalah sikap berlebihannya. Dokter bilang luka tusukkan Chae Eun tidak dalam, sehingga hanya meninggalkan luka sobek kecil saja, dan hanya mendapatkan 7 jahitan. Tidak besar bagi Chae Eun daripada saat dulu dia terjatuh ke parit dan mendapatkan 10 jahitan di kakinya. Beruntung fasilitas kedokteran semakin canggih sehingga luka itu sudah tidak berbekas.
"Sudahlah. Aku ini tidak apa-apa. Si bodoh Haejun itu tidak menusukku dalam, sehingga lukaku tidak serius," kata Chae Eun, yang kemudian dia menjadi terlihat kesal. "Auhhhhh sialan sekali jika mengingat perkataannya. Dia bilang '****** kau' sialan! Aku akan pastikan dia mendapatkan hukuman meskipun hanya melukaiku sedikit saja!"
Jessica menganggu. "Benar! Dia sampah sekali. Dia harus diberi pelajaran! Yaa, Hyunwoo, kau harus menangkapnya!"
"Tentu saja! Kalian berdua tenang saja! Polisi akan menangkapnya!"
Chae Eun mengeryit, "ya,memang polisi yang akan menangkapnya.
__ADS_1
"Hey, bagaimana dengan keberangkatanmu ke Swiss?" Tanya Chae Eun.
Jessica menghapus airmatanya. "Aku batalkan. Bagaimana bisa aku pergi saat kau begini?"
Jessica, dan Hyunwoo memang segera ke rumah sakit ketika pihak rumah sakit menghubungi mereka prihal Chae Eun.
"Hah, sudah kukatakan pada perawat, dan staff disini supaya tidak menghubungi keluargaku, rupanya mereka malah menghubungi kalian ya. Maaf sekali. Ya sudah, sekarang kan aku sudah tidak apa-apa, maka dari itu kalian pergi saja."
"Tidak bisa! Aku tidak mau meninggalkanmu. Lagipula ..." Jessica terdiam beberapa saat, dan menatap Hyunwoo dengan serius. "Lagipula, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Hyunwoo. Aku ... tidak ingin pergi."
Hyunwoo tertegun. "Jessi, kau ...,"
"Aku ingin menjadi layak untukmu tapi, apakah harus dengan aku pergi?"
Hyunwoo membelai wajah Jessica. "Tidak! Kau tidak harus pergi, dan aku juga tidak mau kau pergi. Jessi, bagiku kau sudah sangat layak untuk menjadi pendamping hidupku. Lagipula bukan soal layak tapi, ini adalah soal aku yang mencintaimu karena dirimu."
Sialan! Mereka beradegan romantis begini di depan seorang calon janda! Memang sebaiknya mereka pergi saja! Umpat Chae Eun. "Hey, sebaiknya kalian pergi saja, oke!"
"Salahku! Salahku! Seharusnya aku tidak kabur. Seharusnya aku tetap bersamanya. Seharusnya aku tidak begitu. Aku bahkan mengirimkan surat cerai padanya di saat dia melakukan segalanya untukku. Aku jahat sekali. Bagaimana bisa aku sejahat ini?"
Suara dari luar kamar rawat Chae Eun, membuat Chae Eun, Jessica, dan Hyunwoo terdiam.
"Suara itu sepertinya tak asing," kata Jessica.
Benar. Suara itu memang tidak asing. Chae Eun beranjak dari ranjangnya, dan pergi keluar untuk melihat sang empunya suara. Ternyata ... itu memang dia.
"Wahhh ternyata kau tahu juga ya kalau kau jahat!" Tukas Chae Eun.
Sang pemilik suara, Jin Ji. Menoleh. Dia terlihat terkejut, senang, sedih, dan ... wajahnya terlalu campur aduk untuk dideskripsikan.
"K-kau..., bukankah kau sudah mati?"
"Sial! Jadi kau kembali karena mendengar berita aku mati? Kau benar-benar mau aku mati?!" Omel Chae Eun.
"Tentu saja...," Jin Ji berdiri, dan segera berlari untuk menghamburkan diri memeluk Chae Eun. "Tentu saja tidak. Aku senang sekali kau tidak mati. Aku sungguh merasa akan gila saat mendengar kabar bahwa di rumahmu terjadi kasus pembunuhan. Chae Eun, maafkan aku, aku salah karena sudah kabur darimu. Saat itu aku berpikir bahkan akan lebih baik bagimu jika tidak berhubungan denganku, sungguh! Tidak ada maksud lain saat aku pergi darimu. Aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi, kumohon jangan tinggalkan aku, ya? Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Wajah Chae Eun seketika memerah. Apa dia sedang mengakui perasaannya? Ini ...