
Erlan menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Terima kasih, Pa. Aku memang belum melihat sejauh mana nanti aku akan membuat keputusan, tapi aku tahu bahwa aku ingin keluar dan mencari petualangan sendiri."
"Sekarang kita kembali ke mansion, Mamamu sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Kita sampai pasti pukul tujuh nanti." Albert menepuk bahu putranya itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Jhon melaju dengan kecepatan sedang, pria itu begitu lelah setelah misi tadi.
Namun, yang membuat pria itu heran kenapa melepaskan Pasada begitu saja.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mobil berhenti di samping mobil Nathan.
Mereka langsung masuk dan Dania meminta untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru makan bersama.
Nathan, saudara Erlan yang lebih tua dan bijaksana, merasa bertanggung jawab atas keadaan kembarannya itu.
"Kau tahu, Erlan, aku hampir saja memutuskan untuk mengelilingi dunia, sebelum memutuskan untuk tinggal di sini bersama keluarga," katanya sambil melirik Erlan dengan senyum penuh simpati.
"Aku ingin mencoba belajar dari kesempatan yang kulewatkan dulu. Aku akan mendukungmu untuk mewujudkan mimpimu," ucap Erlan dengan suara lirih.
Namun, Albert menghela nafas dan berkata, "Erlan, tinggalah di mansion ini dengan keluarga kita, bergabunglah dengan perusahaan keluarga kita. Kami menyayangi tempat ini dan merasa nyaman. Kami akan sangat khawatir jika kau pergi."
Dania mengangguk dengan setuju sambil meneteskan air mata. Wajahnya begitu kelihatan mencemaskan.
Erlan menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. "Pa, Ma, aku tahu kalian mencemaskan diriku dan ingin yang terbaik untukku. Ini bukan soal mansion atau tidak, ini tentang keinginan untuk menjalani hidup yang lebih berarti, menemukan tujuan, dan menjadi pribadi yang lebih kuat."
Albert dan Dania merasa bingung, sementara Nathan berdiri, menepuk bahu Erlan. "Aku yakin, dengan dukungan kita, kebahagiaan Erlan akan lebih terjamin. Karena kemanapun ia pergi, kasih sayang kita akan selalu bersamanya."
Erlan menggenggam tangan Dania dan Albert, Nathan menambahkan, "Kita bisa memberinya kesempatan untuk menemukan jalan hidupnya sendiri."
Akhirnya, Albert dan Dania luluh dan mengizinkan Erlan mencari petualangannya. Tak lama kemudian, Erlan memulai perjalanannya memutari dunia, mencari pengalaman dan kebahagiaan.
PERJALANAN ERLAN <<<
Erlan berangkat meninggalkan keluarganya, menuju negara yang jauh, tak pernah terpikir sebelumnya kalau dirinya memiliki keluarga.
Pria itu mencapai kota kecil di sebuah negara yang jauh yang bernama 'Terra Magna'. Di sana, dia bertemu dengan seorang wanita tua yang dulu merawatnya saat di markas,
"Ibu apa kabar?" tanya Erlan pada wanita paruh baya itu.
"Kabar ibu baik, apa kamu tidak dihukum Tuan Pasada jika pergi terlalu jauh, Erlan."
Erlan tersenyum, pria itu berbaring dipangkuan wanita itu.
"Ibu, aku sudah menemukan keluarga kandungku, aku ternyata kembar," kata Erlan.
"Dasar anak bodoh, Lalu untuk apa kamu kesini, lebih baik kamu luangkan waktu untuk keluargamu itu, Erlan!" seru Ros sambil menarik telinga pria yang sudah dianggap anaknya sendiri itu.
"Aku ingin bersama mereka, tapi Ibu ikut denganku," kata Erlan tegas.
"Kamu mau Pasada membunuhku, Hah!" Rose mengusap wajahnya kasar.
"Ibu, Pasada sudah bangkrut,. tidak akan mengingatmu lagi," kata Erlan.
Erlan akhirnya menceritakan semua yang sudah terjadi,.Rose mendengar itu begitu terkejut,.tapi ada rasa bahagia karena itu artinya Erlan lepas dari pria jahat itu.
"Kamu mau Pasada membunuhku, Hah!" Rose mengusap wajahnya kasar.
"Ibu, Pasada sudah bangkrut, tidak akan mengingatmu lagi," kata Erlan.
Erlan akhirnya menceritakan semua yang sudah terjadi. Rose mendengar itu begitu terkejut, tapi ada rasa bahagia karena itu artinya Erlan lepas dari pria jahat itu.
Besarnya rasa syukur membuat Rose menangis. "Terima kasih Tuhan. Erlan, Terima kasih. Aku tahu sekarang aku bisa tidur tanpa khawatir tentang Pasada atau orang-orangnya mencoba menyakitimu."
"Yah, Ibu," Erlan tersenyum.
__ADS_1
"Kebenaran selalu menang. Saya hanya menyesal bahwa kita harus melalui semua ini."
Rose dan Erlan duduk di sofa lama mereka, minum teh dan mengenang kembali tahun-tahun yang lalu ketika Pasada, seorang pengusaha kaya dan berpengaruh, mulai meresapi kehidupan mereka. Waktu itu, Pasada memiliki perusahaan besar yang menguasai berbagai aspek kehidupan ekonomi kota, dan maksudnya adalah memaksakan kehendaknya untuk mengendalikan persaingan bisnis.
Di masa lalu, semuanya berjalan dengan baik bagi Rose dan Erlan yang sederhana. Mereka menjalani kehidupan biasa tanpa banyak kesulitan.
Suatu hari, Erlan, anak laki-laki yang masih muda, mulai bekerja untuk Pasada sebagai tukang kebun untuk menghasilkan uang tambahan bagi keluarganya. Namun, seiring waktu, Pasada mulai motherlakukannya menggunakan Erlan untuk tujuan jahatnya.
Pasada mengancam Rose bahwa ia akan menculik dan menyakiti Erlan jika ia tidak bekerja sama. Rose tidak punya pilihan selain menurut kepada Pasada demi menjaga keselamatan Erlan.
Erlan sadar akan pengaruh Pasada terhadapnya, dan ia tahu bahwa mereka tidak akan aman selama Pasada masih berkuasa.
Jadi, ia mulai mencari cara untuk menjatuhkan Pasada, tidak peduli berapa lama atau berbahayanya usaha itu. Erlan mendapatkan bantuan dari beberapa teman setia, dan mereka menyusup ke dalam lingkaran internal Pasada untuk mencari informasi tentang penyalahgunaan kekuasaannya.
Bersama-sama, mereka menggali bukti yang mengakar dan praktik bisnis yang tidak etis yang telah lama dilakukan Pasada.
Erlan berhasil mengumpulkan cukup bukti untuk membawa Pasada ke pengadilan dan menyebabkan keruntuhan bisnisnya. Namun, itu sia-sia karena banyak orang-orang Pasada yang membantu menyelesaikan masalahnya.
Rose mendengarkan perjuangan Erlan dan mengaguminya. "Kau tahu, Erlan, aku bangga padamu karena telah menghadapi kesulitan itu dan membuat hal yang benar. Tapi, sekarang apa rencanamu?"
"Dari sekarang ke depan, aku ingin memulai hidup yang baru - jauh dari kenangan buruk dan masa lalu kita. Aku ingin kita menjalani kehidupan yang damai dan bahagia, menjalani kehidupan yang layak dan memiliki kesempatan untuk hidup tanpa takut," ujar Erlan.
Rose mendengar itu tersenyum,air matanya menetes begitu saja.
Erlan mengusap air mata yang mengalir di wajah keriput Rose.
"Ayo kita bersiap," ajak Erlan.
Erlan akhirnya membantu wanita yang begitu baik padanya itu.
Setelah selesai ia meninggalkan tempat itu.
"Apa kamu yakin akan membawa wanita tua ini?"
"Ibu, di mana pun aku berada. Mulai sekarang ada Ibu juga." Erlan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Pria itu sengaja membawa wanita yang merawatnya dari kecil itu untuk mengenal keluarga kandungnya.
Pintu utama dibuka oleh pelayan, setelah itu Erlan segera menuju ke ruang keluarga.
Di mana semua sudah berkumpul di sana. Sebelum sampai ia sudah mengirimkan pesan pada Nathan jika akan membawa seseorang yang akan dikenalkan.
Jika ingat balasan dari saudara kembarnya itu, Nathan mengira ia akan memperkenalkan calon istrinya. Pada hal ini lebih dari apa yang dipikirkan keluarganya.
"Selamat sore, keluarga tercinta! Di tampan telah kembali. Dan, seperti yang saya katakan sebelumnya, kali ini saya membawa seseorang istimewa yang ingin saya perkenalkan kepada kalian semua," kata Erlan sambil tersenyum lebar.
Nathan yang sudah menunggu di ruang keluarga bersama orangtua dan istrinya bangkit dari posisinya untuk menyambut Erlan dan Rose.
"Jadi, siapakah dia, Erlan? Tunanganmu, bukan?" tanya Nathan dengan berbisik.
Erlan tertawa pelan, kemudian berkata, "Tidak, Nathan. Dia bukan tunanganku. Dia adalah Rose, wanita yang sudah merawatku sejak aku kecil. Aku ingin kalian mengenal orang yang telah berjasa besar dalam hidupku."
Keluarga Erlan terkejut, terutama Nathan. Namun, secara perlahan mereka semua menyambut Rose dengan tangan terbuka.
Setelah saling berkenalan, mereka semua duduk di ruang keluarga sambil menikmati minuman ringan dan kudapan yang disajikan oleh pelayan.
"Rose, terima kasih atas segala pengorbananmu untuk Erlan dan kami sangat menghargai semua yang telah kau lakukan," ujar sang ibu, Nyonya Dania , dengan mata berkaca-kaca. "Kami harap kau akan merasa nyaman di sini bersama kami."
Rose tersenyum, "Terima kasih banyak, Nyonya. Saya sudah merasa seperti bersyukur bisa bertemu Anda. Erlan adalah anak yang sangat baik hati dan saya bangga bisa merawatnya."
Suasana mendalam terasa di ruangan itu, hingga Nathan kemudian mengalihkan topik, "Kalau begitu, Erlan, apa rencanamu setelah ini? Apakah Ibu Rose akan tinggal bersama kita di sini di mansion?"
Erlan mengangguk, "Ya, Nathan. Itulah harapanku jika kalian tidak keberatan. Aku ingin ibu Rose tinggal di sini bersama kita dan menikmati hidup yang layak dia peroleh setelah bertahun-tahun merawatku."
__ADS_1
"Rose, bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka juga ada di kota ini?" tanya sang Albert yang ingin lebih mengenal Rose.
Rose menjawab dengan jujur, "Saya tidak memiliki keluarga, Tuan. Saya yatim piatu, dan Erlan satu-satunya keluarga yang saya miliki walaupun Tuan Pasada menyuruhnya untuk membunuh saya waktu itu."
Mendengar apa yang dikatakan Rose semua terkejut, begitu juga Zara tidak habis pikir.
"Jadi selama ini kamu disembunyikan oleh Erlan?" tanya Dania.
"Benar , Nyonya." Rose menundukkan kepalanya.
Obrolan mereka kian santai dan semakin akrab, Rose mulai menceritakan kisahnya. Tentang masa kecilnya di panti asuhan, tentang bagaimana ia tidak memiliki keluarga, hingga niat baik Pasada agar dirinya merawat Erlan saat itu. Hingga saat ini ingin membawanya tinggal bersama keluarganya.
"Erlan, apakah kamu mengetahui bagaimana Rose yang dipilih oleh Pasada ?" Tanya Nathan penasaran.
"Aku mengetahuinya dari kepala kepala pelayan. Kala itu, keluargaku atau Tuan Pasada ingin mencari seorang pengasuh, dan kepala pelayan merekomendasikan Rose. Itulah awal dari semuanya," Erlan menjelaskan.
"Eh, seandainya kalian semua tahu betapa bandelnya Erlan saat masih kecil!" seru Rose.
Mendengar itu semua tertawa , Rose mengenang masa kecil Erlan. "Erlan selalu mencoba kabur dari markas kala malam tiba, berpikir ia adalah seorang pahlawan petualang. Tetapi setiap kabur, saya akan menemukannya di taman bermain yang sepi, mendekap lututnya dan menangis."
Keluarga Erlan tertawa mendengar cerita tersebut, tetapi di balik itu mereka juga merasa sedih mendengar hal yang dialami Erlan di masa kecilnya.
"Erlan, kenapa kau mencoba kabur setiap malam?" tanya Nathan dengan wajah penuh penasaran.
Dengan malu, Erlan menjawab, "Aku dulu merasa takut di markas itu. Aku ingin menjelajahi dunia, menemukan orang tuaku yang telah menghilang. Tetapi setiap kali aku mencoba melarikan diri, kenyataan akan menyadarkanku bahwa aku tak punya tempat lain untuk pergi. Roselah yang selalu menemukanku dan membawaku kembali, bahkan jika aku mencoba kabur lagi."
Rose tersenyum hangat, "Erlan, kamu membuatku harus berlari kesana-kemari hanya untuk mengejarmu. Tetapi, sebenarnya aku tidak pernah marah pada kamu, karena bagiku kamu adalah anak yatim yang begitu kuat dan punya semangat hidup sangat tinggi walau nasibmu penuh ujian."
Mendengar cerita itu, Nyonya Dania merasa bangga memiliki Erlan sebagai anaknya. Ia menghela napas dan berkata, "Rose dan Erlan, saya bangga dengan kalian berdua. Jalan hidup kalian mungkin sulit, tetapi tidak menyerah dan saling menjaga satu sama lain dan keluarga kita semakin lengkap dengan kehadiran Rose."
Malam itu, mereka mendengar lebih banyak cerita tentang masa lalu Erlan dan Rose, dari kisah suka dan duka mereka di markas, hubungan yang erat, hingga bagaimana Erlan akhirnya bisa bertemu keluarganya.
Seiring waktu berlalu, hubungan antara Rose dan keluarga Erlan semakin akrab. Ia mulai merasa bahwa ia benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarga itu, dan mereka semua bersama-sama menjalani kehidupan yang baru bersama.
Akan tetapi, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Suatu hari, surat kabar hari itu memuat berita yang mengejutkan. Kejadian yang tak terduga datang menghampiri keluarga Erlan.
"Apakah kamu mendengar berita ini, Erlan?" tanya Nathan panik sambil memegang koran.
"Keluarga pengusaha kaya itu ditemukan meninggal dunia dalam kecelakaan yang aneh, dan diberitakan bahwa mereka mempunyai hubungan kuat dengan keluarga kita. Banyak spekulasi aneh tentang mereka yang beredar di masyarakat."
Rose yang sedang bersama Erlan melihat wajahnya pucat pasi saat mendengar berita tersebut. Rose tidak pernah tahu bahwa ada hubungan antara keluarga Erlan dengan keluarga Pasada.
Sebelum Rose sempat bertanya lebih lanjut, Nyonya Dania masuk ke ruangan dengan wajah murung.
"Erlan, Nathan, kita perlu bicara," kata Nyonya Dania sambil duduk di samping mereka. "Saya tahu ini mungkin sulit untuk dipercaya, tetapi menurut penyelidikan yang dilakukan, keluarga Pasada baru pulang liburan yang anehnya Tama ada di koran itu"
Wajah Erlan dan Nathan tampak terkejut,
"Ayah Tama telah merahasiakan hubungan ini dari kita. Ia takut kita berada dalam bahaya jika kita tahu keterlibatan mereka, dan lebih-lebih karena ada banyak pihak yang ingin menghancurkan keluarga itu," jelas Nyonya Dania.
Keluarga Erlan dibuat terpaku oleh pengakuan tersebut. Zara juga bingung kenapa Ayahnya ada di sana. Atau ini hanya sebuah kebetulan.
"Sayang." Nathan menggenggam tangan istrinya.
"Apa benar itu ayah?" suara Zara terdengar bergetar.
"Benar. Tapi sekarang, kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita perlu menjaga satu sama lain," kata Nathan dengan nada penuh tekad.
Mendengar hal itu, Erlan merasakan beban yang amat besar di pundaknya. Ia tahu bahwa ia harus melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran untuk meresapi kebahagiaan yang sempat mereka rasakan.
"Tidak peduli apa yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Aku harus menyelidiki lebih dalam dan menemukan dalang di balik semua ini," ujar Erlan dengan tenang.
Rose, yang selama ini hanya diam, akhirnya menambahkan, "Kalian bisa mengandalkan bantuanku. Aku akan lakukan segalanya untuk melindungi keluarga yang sudah menyayangi dan memberikan tempat bagiku di dalam hati kalian."
__ADS_1
Keluarga Erlan menyadari bahwa mereka tak hanya melawan musuh di luar yang mengancam kebahagiaan keluarga, tetapi juga berjuang untuk menjaga kasih sayang dan kebersamaan di dalamnya.
Sejak saat itu, kehidupan keluarga itu berubah drastis. Hari demi hari, Erlan, Nathan, dan Zara terlibat dalam penyelidikan yang kompleks, mencari tahu lebih banyak tentang keluarga pengusaha Pasada yang misterius dan mengungkap jaringan kejahatan di mana markas besar pria itu masih ada di setiap kota.