
Zara yang baru bangun, wanita itu melihat tidak ada lagi suaminya di sampingnya. Wanita itu duduk dan tidak lama pintu kamar terbuka.
"Pagi, Sayang. Apa masih pusing?" Nathan duduk di tepi ranjang menatap istrinya yang masih pucat.
"Aku kenapa jadi lemas ya?" tanya Zara menatap wajah tampan suaminya itu yang semakin tua kenapa kadar ketampanannya tidak luntur.
"Apa karena sedang ingin?" Nathan mengerlingkan matanya menggoda sang istri.
Mata Zara membulat, wanita itu segera mengelengkan kepalanya karena suaminya itu kini makin mesum saja.
Nathan membantu istrinya menuju kamar mandi, rencana keduanya akan pergi ke rumah sakit karena Zara sudah tiga hari demam tidak turun-turun membuat pria itu khawatir.
Setelah dari kamar mandi Nathan menyiapkan pakaian sang istri, pria itu mencari kaos dan rok serta jilbab pashmina yang warnanya senada dengan kaosnya.
Setelah Zara sudah siap, wanita itu memeluk lengan suaminya sambil berjalan beriringan menuruni tangga.
"Rumah sepi karena sudah tidak ada Meli," kata Zara.
Nathan hanya tersenyum, pria itu keluar dari pintu utama dan diluar Jhon sudah siap untuk mengantarkan tuan dan nonanya.
"Jhon apa istrimu tidak ikut?" tanya Zara setelah mobil melaju meninggalkan rumah Tama.
__ADS_1
"Tidak, Nona. Meli sedang tidak enak badan," jawab Jhon sambil fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nathan mendengar itu tersenyum,.pria itu sudah bisa menebak kalau asistennya itu tidak berhenti menggarap istrinya.
Zara yang melihat suaminya senyum-senyum sendiri merasa heran , ini jarang sekali dilakukan oleh pria dingin itu.
Namun, Zara tidak ingin mengganggu suaminya. Wanita itu menatap ke arah jalan di mana mobil berlalu lalang ingin saling mendahului agar secepatnya sampai ke tujuan.
Zara tidak menyadari jika mobil sudah berhenti di salah satu rumah sakit swasta.
"Ayo, Sayang." Nathan mengulurkan tangannya pada istrinya.
Jhon berjalan di belakang Nathan, pria itu tahu begini tadi membangunkan istrinya, tapi ia tersenyum membayangkan istrinya jalan seperti penguin.
Nathan melirik orang kepercayaannya itu, tidak biasanya Jhon tersenyum saat sedang bersamanya.
Sejak menikah Jhon seperti orang lain, tanpa Nathan sadari kalau dirinya tidak jauh beda Jhon.
Zara dan Nathan duduk menunggu antrian, awalnya pria itu sudah menyuruh Jhon untuk langsung bertemu dokter.
Namun, Zara melarangnya karena beginilah budaya di negerinya.
__ADS_1
Nama Zara pun dipanggil, Nathan dengan lembut membantu istrinya untuk berdiri.
"Silahkan duduk Ibu dan Bapak," ucap dokter wanita itu dengan ramah.
Zara menceritakan keluhannya, setelah itu dokter itu mulai mengecek dan menanyakan kapan Zara terakhir datang bulan, tapi sayangnya wanita itu lupa tepatnya kapan.
Dokter itu menatap Nathan membuat pria dingin itu menaikan bahunya.
"Sebaiknya Ibu dan bapak langsung kedokteran kandungan saja, sepertinya ibu sedang hamil jika mendengar keluh tadi. Sus tolong antar ke dokter Dika saja agar tidak antri lagi."
"Baik, Dom. Mari ibu, Bapak."
Zara dan Nathan pamit pada dokter dan mengikuti suster itu untuk ke Dokter kandungan.
Jantung Zara berdebar kencang, apa ia bisa hamil atau hanya hormon karena begitu banyak pekerjaan hingga wanita itu sedikit stress.
"Silahkan Dokter Dika sudah menunggu."
Zara dan Nathan dipersilahkan masuk, setelah mengatakan keluhannya Dokter Dika masih tertegun setelah sekian tahun akhirnya bisa melihat Zara lagi.
Zara tidak jauh beda dengan Dokter itu, keduanya sama-sama terkejut. Hal itu tidak lepas dari perhatian Nathan.
__ADS_1