Secret Wedding

Secret Wedding
Salah paham


__ADS_3

Zara yang sudah tidak kuat, wanita itu memilih pergi dari kafe. Meli melihat itu segera mengikutinya.


Nathan sedari tadi diam, ia tidak ingin kehilangan Zara .


"Maryam keputusanku sudah bulat kita berpisah, aku sudah menikah dan sekarang sangat mencintai istriku.


Sayangnya saat Nathan mengatakan itu Zara sudah lebih dulu pergi jadi sama sekali tidak mendengar keputusan final suaminya.


Nathan setelah mengatakan itu, pria itu segera keluar di kafe. Ia menghubungi sang istri, rencana akan mengajak Zara untuk makan siang bersama.


Namun, Zara sama sekali tidak memperdulikannya. 


Pria itu hanya menatap handphonenya saja, kenapa istrinya tidak mengangkat telepon.


Mereka rencana bertemu di cafe, tapi sudah menunggu hampir satu jam Zara juga tidak menampakkan diri.


Pria itu mengirimkan pesan pada istrinya, tapi hanya centang biru. Nathan berpikir, apa ia berbuat salah. 


Tapi saat pagi tadi semua baik-baik saja.


Nathan segera mengirim pesan kepada Meli, pria menanyakan di mana istrinya sekarang.


Tidak menunggu lama, Meli membalas pesannya. 


Mata Nathan  membulat, saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Meli.


Pria itu yakin istrinya sudah salah paham padanya. Tanpa segera masuk mobil.


Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu ingin segera sampai di rumah istrinya.


Ia harus menjelaskan pada wanita itu, setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit.


Mobil sampai di rumah, pria itu melihat mobil sang istri sudah berada di halaman depan.


Pria itu parkir Jangan sembarangan, ia segera masuk. Di ruang keluarga hanya ada Meli.


"Meli mana Zara?"


"Ada di kamar, Tuan."


Meli merasa iba melihat Nathan, harusnya ia membujuk jarak untuk tidak langsung pergi.


Jujur Meli penasaran atas keputusan tuannya, tetapi cara keburu pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya.


Akhirnya mereka salah paham, apalagi suami suami Nonanya itu. Sudah menjelaskannya saat ia kirim pesan tadi.


Berharap hubungan Zara dengan  tuannya akan baik-baik saja.


Wanita itu segera masuk kamar, tidak ingin merasa Zara  dan Nathan sungkan atas  dirinya. Sedangkan di kamar Zara.


Nathan perlahan membuka pintu kamar,. Pria itu melihat istrinya sedang berbaring.


Pria itu menghampiri dan kini memeluk sang istri dari belakang." Sayang aku tahu salah, tapi kamu harus mendengar penjelasanku dulu."


Nathan tahu istrinya itu tidak tidur, pria itu membalikkan tubuh Zara dan kini keduanya saling pandang.


Nathan tersenyum tipis, sedangkan Zara menatap suaminya itu dengan memanyunkan bibirnya kesal karena mendengar apa yang dikatakan Maryam tadi.


Zara takut suaminya kembali lagi duduk pada wanita itu. Namun, ia rasanya belum siap. Jika harus kembali menelan kekecewaan lagi dari pria yang kini sudah dicintainya itu.


"Sayang." Nathan mengecup bibir ranum istrinya yang sekarang sudah membuat candu pria itu.


"Mas!" Zara masih kesal dengan memukul lengan Nathan.


Benar apa kata Tama kalau Zara itu aslinya manja, tapi saat  bersama orang terdekatnya saja.


Nathan memulai menceritakan apa yang dibicarakan dengan Maryam. Lalu pria itu memutuskan untuk tetap kembali pada istrinya.


Nathan paling benci namanya pengkhianatan. Tidak ada kata maaf, tapi tanpa ia sadari dari awal menikah. Pria itu sudah membuat istrinya kecewa karena ia masih menjalin hubungan dengan Maryam.


Wanita yang ia gadang-gadangkan akan menemani seumur hidupnya, tapi kini pria itu sadar. 


Pilihannya untuk menikah dengan Zara sudah tepat.


"Jangan marah lagi," ucap Nathan.


Zara akui ia salah karena tidak mendengar semua apa yang dikatakan suaminya dengan Maryam.


Zara memeluk pinggang suaminya, wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan.


Nathan tersenyum, ia merasa lega karena istrinya mau memaafkan.


Ia berharap Zara tidak akan sampai salah paham lagi. Pria itu mengecup kening istrinya berulang-ulang.


"Sayang, tadi jadi cari hotelnya?" tanya Nathan.


"Belum, tadi lihat suamiku pacaran," jawab Zara dengan menatap kesal Nathan.


Nathan langsung melengos begitu saja. Benar apa kata papanya, wanita itu hobi mengungkit.


"Kamu tahu apa tujuanku bertemu dengan Maryam." Nathan menggenggam tangan istrinya.


Zara hanya menarik napas panjang, entah kenapa rasanya masih begitu sakit. Untuk memaafkan saja  gampang diucapkan, tapi luka di hatinya yang ditorehkan oleh Nathan begitu dalam.


Terkadang terbesit untuk meminta pisah, apa lagi ia belum memiliki anak. Namun, melihat suaminya dikhianati oleh Maryam.  Zara memberikan kesempatan kedua.


Apa luka itu sembuh, tentu tidak. Luka itu akan tetap basah


Beberapa kali Nathan membohongi dirinya, luka itu semakin menganga.


Ibarat cermin yang pecah, saat satukan lagi tidak akan sempurna awalnya. Begitu juga dengan luka di hati Zara.


Wanita itu menatap Nathan." Sebaiknya hotel mana, tapi Meli dan Jhon ingin pernikahan sederhana. Baik Meli dan Jhon merasa tidak butuh mengundang siapa-siapa lagi, paman Meli juga  dari pihak ibunya tidak bisa menjadi wali."

__ADS_1


"Jhon bilang begitu juga, rencana mereka akan ijab kabul di apartemen."


"Apa kita ikuti saja, " kata Zara.


Zara tersenyum, wanita itu berencana akan memberikan tiket bulan madu saja. Ia tahu berapa kali Meli menginginkan ke Bali.


"Bee, kenapa tidak kembali ke kantor?"


"Mau nemenin istriku." Nathan memeluk istrinya dengan erat.


Zara tersenyum, Ia beruntung suaminya tidak pernah dingin lagi padanya. 


“Mas bagaimana kalau kita belikan tiket bulan madu saja?” tanya Zara.


“Bulan madu, kita saja belum pergi bulan madu yang sebenarnya,” ujar Nathan.


“Jangan bilang mau sama-sama pergi bulan madu,” tebak Zara.


Nathan terkekeh mendengar apa yang dikatakan istrinya itu, Pria itu tidak mungkin pergi bersama. Lalu siapa yang akan mengurus perusahaannya nanti. Apalagi perusahan mertuanya ini berbeda dengan perusahaanya.


Nathan segera menuju ruang kerjanya, sedangkan Zara mencari Meli karena ada yang ingin dikatakan. Wanita itu tidak ingin memaksakan kehendak.


Pernikahan sederhana yang diinginkan pasangan itu, tidak mudah dipaksakan sesuai apa yang dikatakan suaminya.


Zara sampai di ruang keluarga, tapi Meli tidak ada di sana. wanita itu segera ke dapur. Tebakan Zara tidak salah karena sahabatnya itu sedang sibuk memasak.


“Meli,” panggilan Zara lembut.


“Nona, apa ada yang Anda butuhkan?” tanya Meli segera mematikan kompornya.


Mendengar itu Zara hanya menarik napas panjang, entah kenapa ia tidak suka dipanggil Nona oleh Meli. Jika sahabatnya itu masih memanggilnya begitu terasa ada batasan di antara mereka berdua.


“Masak apa?” tanya Zara.


“Ini,buat cemilan. Apa Nona mau?”


“Boleh,tapi tunggu kalau sudah dingin ya,” jawab Zara.


Meli mengangguk, wanita itu segera melanjutkan makanannya kembali. Sedangkan Zara memilih duduk di kursi yang berada di dapur. 


Wanita ingat dulu hanya bunda yang menguasai dapur, walaupun ada beberapa pelayan. Namun, wanita yang sudah melahirkannya itu, tidak ingin anak dan suaminya di manjakan oleh masakan pelayan.


“Jangan melamun,” suara bariton itu mengejutkan Zara.


Zara menatap suaminya, tapi wanita itu melihat sekelilingnya sudah tidak ada Meli.


“Meli mana?” tanya Zara.


“Di taman belakang bersama pelayan yang lain. Apa kamu lupa jam segini mereka beristirahat.” 


“Meli kenapa meninggalkanku,” kata Zara dengan menatap suaminya sendu.


“Meli sudah mau memanggil, tapi istriku ini asik melamun,” ujar Nathan.


Wanita itu mengambil dan membawanya ke ruang keluarga. Puding yang sudah di potong-potong itu masih dingin.


“Mas mau,” tawar Zara.


Nathan menggelengkan kepalanya. Zara paham suaminya itu kurang suka dengan makanan manis. Dengan santai wanita itu makan puding sambil menonton.  Sedangkan Nathan sibuk dengan ipadnya.


Nathan sesekali melihat ke arah istrinya, senyum tipis mengembang di bibirnya.


Istrinya terlihat cantik walau tanpa make up, tapi ada yang membuat pria itu kagum. Sang istri dalam rumahnya sendiri masih mengenakan hijab.


“Sayang kenapa tidak dibuka hijabnya?” tanya Nathan karena ia tahu tidak ada pria yang akan masuk.


“Rumah ayah banyak CCTV, bisa dipantau dari pos,” jawab Zara.


Mendengar itu entah kenapa Nathan tidak suka, mulai besok ia akan mengganti semua CCTV agar tidak ada yang melihat istrinya.


Zara menoleh, wanita itu menatap heran pada suaminya yang terlihat kesal.


“Kenapa?”


“Jadi yang dipos bisa melihat kita?” 


“Bisalah,” jawab Zara sambil menyuapkan puding terakhir pada mulutnya.


Nathan menarik napas panjang dan berkata,”Mulai besok saya akan ganti CCTV.


“Buat apa?” tanya Zara.


“Biar tidak ada yang melihat kegiatan kita di dalam rumah,” jawab Nathan dengan mengedipkan matanya.


“Mas jangan berpikir kita akan melakukan di sini!” tebak Zara.


Nathan bukan menjawab, pria itu tergelak. Bahkan Zara sempat terpesona melihat bagaimana  suaminya terlihat manis saat tertawa lepas.


“Manis sekali,” kata Zara lirih.


Nathan mendengar istrinya bicara lirih langsung menoleh.”Bilang apa tadi?”


Zara hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu kembali lagi fokus pada televisi.


Nathan menatap istrinya sedari tadi, pria itu begitu penasaran akan apa yang dikatakan Zara. Namun, istrinya terlihat santai.


“Kenapa lihat kayak gitu?” tanya Zara.


“Kenapa sekarang mesum, maunya kita melakukan di mana, dapur , ruang tamu atau garasi.” Nathan mengerlingkan matanya.


“Bee!” seru Zara mendengar apa yang dikatakan suaminya itu.


“Apa, Sayang,” jawab Nathan dengan tersenyum.

__ADS_1


“Jangan buat otak kecilku traveling ke mana-mana,” jawab Zara polos.


Nathan mendengar itu meletakan ipadnya dan menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.”Kamu buat Mas gemas, Sayang.”


Zara membalas pelukan suaminya, kalau sedang seperti ini rasa luka itu tiba-tiba hadir. Wanita itu takut apa yang dirasakan sekarang hanya mimpi, esok hari terbangun semua sudah hilang. 


Zara menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Nathan melepaskan pelukannya. Namun, Zara semakin memeluk erat pinggang suaminya.


“Sayang apa ada masalah?” tanya Nathan karena istrinya tiba-tiba terisak.


“Kangen bunda, Bee.”


Nathan mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab.”Kita doakan bunda ya. Apa besok kita ziarah?”


“Lusa saja, besok mau cari kebaya buat Meli,” ujar Zara.


Nathan hanya mengangguk, pria itu tidak masalah istrinya pergi, asal izin padanya.


Entah kenapa ada rasa khawatir kalau ada musuh yang mengintai keselamatan istrinya. Nathan yakin ada beberapa petinggi perusahan tidak suka padanya, tapi pria itu hanya ingin berjaga-jaga. 


Pantas Diego tidak ingin menggantikan ayah Tama, ternyata kantor mertuanya berisi tikus yang harus dimusnahkan.


Nathan rencana akan membuat peraturan baru, gebrakan yang diutarakan pada para manajer divisi.


Namun, pria itu akan membicarakan pada istrinya, mungkin selama ini mertuanya tidak sadar kalau banyak yang mengincar posisinya.


“Sayang, lihat ini.” Nathan memberikan pada istrinya gebrakan untuk kantor ayahnya.


“Apa mereka setuju?” tanya Zara.


“Kalau tidak silahkan cabut sahamnya, apa kamu tahu para petinggi itu banyak yang tidak jujur. Jhon beberapa kali menemukkan laporan  yang tidak beres.”


“Apa Kak Diego terlibat?” tanya Zara.


Nathan menggelengkan kepalanya, pria itu tidak ingin salah tuduh bagaimanapun Diego tangan kanan mertuanya.


“Aku rasa kak Diego tidak ingin menggantikan ayah, karena Manajer keuangan itu  orang yang berjasa akan hidupnya,” kata Zara.


“Pak Ridwan,” tebak Nathan.


“Hem, waktu aku pulang. Kak Diego meminta agar segera bergabung dengang perusahan ayah.”


“Aku akan menyelidikinya, tapi tanpa sepengetahuan Diego. Biar Jhon yang urus.”


Zara mengangguk, ia yakin suaminya akan mampu bersaing dengan pengusaha lainnya.


“Sayang apa yang kamu pikirkan?” tanya  Nathan.


“Bee, kamu harus hati-hati,” pesan Zara.


Zara tahu bagaimana ayahnya berjuang untuk membuat perusahaan Pratama Crop.


“Sayang aku yakin Ayah sudah memprediksi apa yang akan terjadi,” kata Nathan.


Zara mengangguk, ia juga merasa satu pemikiran dengan suaminya. 


Tepat pukul enam, Diego dan Jhon datang atas permintaan Nathan. Kini ketiganya masuk ke ruang kerja. Sedangkan Zara yang hendak ke dapur dihentikan oleh Meli.


“Nona mau buat apa?” tanya Meli.


Zara tersenyum, wanita itu mengambil gelas dan menunjuk kopi.


“Biar saya saja, Nona.”


“Apa karena calon suamimu datang?” goda Zara.


Wajah Meli langsung memerah, gadis itu malu langsung memalingkan wajahnya. Sedangkan Zara terkekeh melihat sahabatnya itu wajahnya semakin merona.


“Ehm.”Zara dan Meli langsung menoleh di mana Jhon sudah berdiri di belakang mereka.


“Jhon.”


“Tuan.”


“Hah Tuan! Meli Jhon bukan majikanmu, tapi calon suamimu.” Zara menatap pasangan itu bergantian.


“Saya sudah kasih tahu, Nona,” ujar Jhon.


Zara hanya mengangguk, Meli memang susah untuk mengubah panggilan. Bukan hanya dirinya pada Jhon juga seperti itu.


“Jhon mau apa?” tanya Zara.


“Tuan meminta ambilkan berkas di kamar Anda, Nona.”


“Tunggu ya,” kata Zara segera naik ke lantai dua.


Setelah Zara pergi, Jhon menarik tubuh Meli dalam dekapannya.”Sayang aku rindu.”


“Tuan, nanti ada yang melihat,” tolak Meli


Jhon hanya tersenyum melihat Meli melihat sekitarnya. Pria itu menarik tengkuk kekasihnya. Ia mencium  bibir ranum yang membuatnya selalu candu itu.


Zara yang baru sampai dapur, wanita itu menghentikan langkahnya. Tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.  Ia berinisiatif untuk membawa berkasnya ke ruang kerja suaminya.


Zara mengetuk pintu, saat suara berat suaminya mempersilahkan masuk. Wanita itu membuka pintu.


“Jhon mana, Sayang?” Nathan segera berdiri menyambut istrinya.


“Buat kopi,” bisik Zara.


Tanpa pasangan itu tahu, Ada hati yang panas. Diego merasa dadanya panas melihat bagaiamana pasangan itu begitu mesra.


Zara memilih duduk di samping suaminya, wanita itu memeluk lengan suaminya. Sedangkan Nathan membiarkan istrinya begitu saja bergelayut di lengannya.

__ADS_1


Zara menatap Diego, Wanita  itu mengernyitkan keningnya. Ia melepaskan lengan suaminya.  Setelah itu beranjak dari duduknya dan tangannya menyentuh kening Diego.”Enggak panas, tapi wajah Kakak meran. Apa Kakak alergi?”


__ADS_2