Secret Wedding

Secret Wedding
Part 6


__ADS_3

Dengan penuh perhatian, Jessica menyelimuti tubuh Chae Eun. "Istirahatlah, dan semoga mimpi indah."


"Hey, Chun Bong."


Jessica menggenggam erat tangannya, mencoba untuk menahan emosinya karena Chae Eun tak kunjung menurut untuk berhenti memanggilnya dengan nama lama. Sabarlah Jessica, sabarlah, dia sedang sedih jadi biarkan saja dia melakukan sesukanya. Jessica meyakinkan dirinya.


Dia menghela napas panjang, "kenapa?"


"Kau bilang kau tidak pernah bersentuhan dengan oppa tampanmu itu, tapi kenapa kau malah membawanya ke rumahmu?" Tanya Chae Eun dengan wajah penuh kekepoan.


Wajah Jessica mulai memerah, dan itu membuat Chae Eun semakin ingin menggodanya. "Kenapa wajahmu merah? Apa jangan-jangan kau berniat melakukan sesuatu dengannya ya? Oh gosh, akhirnya tiba saatnya kau berhenti jadi cewek polos."


#pllakkk


"Akhhhhhisshh~" Chae Eun memekik, sembari mengelus kapalanya yang habis dipukul. "Sakit sekali tahu!!"


"Biarkan saja! Sedari tadi aku mencoba bersabar denganmu karena aku pikir kau sedang bersedih tapi, mendengar mulutmu menuturkan hal seperti itu, sepertinya kekhawatiranku sia-sia!" Tukas Jessica.


"Aduhh, memangnya kau mau aku terus-terusan galau? Jadi dibawa hepi aja."


"Cih! Dibawa hepi apanya? Jelas-jelas mukamu itu tadi sangat suram sekali, seolah-olah kau adalah orang paling menyedihkan di dunia," gumam Jessica, yang sama sekali tidak terdengar oleh Chae Eun.


"Tapi aku serius, kenapa kau membawa oppa tampanmu itu kesini? Kerumahmu." Desak Chae Eun ingin tahu.


"Kau selalu memanggilnya oppa tampan, tapi kau juga selalu bertengkar dengannya saat bertemu, aneh!"


"Aduh, itu kan karena dia emang tampan. Masa aku bilang orang tampan sebagai orang jelek? Itu namanya penipuan. Tapi, aku memang tidak suka saat dia mulai bicara, pasti menyebalkan dan menyulut emosiku," Chae Eun menggerutu.


"Sebenarnya yang menyulut pertengkaran itu kan kamu, Eun-ah," gumam Jessica, yang tidak terdengar oleh Chae Eun.


"Hey, kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa kau bawa dia ke sini? Apa kau sungguh-sungguh ingin mengajak dia naik ke ranjangmu?" Chae Eun terus mendesak.


'Niatnya memang begitu tapi, kau tiba-tiba datang dan mengacaukannya. Menyebalkan. Bagus kau itu temanku, kalau bukan pasti sudah kugunduli karena mengganggu', bisik hati Jessica.


"Kau tidak perlu tahu!" Tukas Jessica. "Yang perlu kau tahu adalah kau harus segera tidur, kalau tidak aku akan menendangmu keluar dari sini!"


"O-oke." Chae Eun tergagap saat melihat wajah sangar Jessica. Dia segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Astaga, Chun Bong menyeramkan sekali. Pikirnya.


Jessica menghela berat napasnya. Sudah lama dia berpacaran dengan Hyunwoo, dan dia juga berkomitmen bahwa dia tidak akan mau disentuh Hyunwoo sebelum mereka menjadi suami-isteri. Namun, belakangan ini Jessica menyadari bahwa Hyunwoo adalah pria yang dikelilingi banyak sekali wanita cantik, seksi, ataupun manis. Karena itulah, takut jika Hyunwoo berpaling, Jessica akhirnya memberanikan diri untuk mulai melakukan sentuhan intim dengan Hyunwoo. Padahal dilain sisi, meskipun Hyunwoo diapit oleh banyak wanita seksi yang tak berpakaian sekalipun, Hyunwoo tetap tidak akan goyah, dia hanya mencintai Jessica seorang.


●●●


Jin Ji terbangun ketika mendengar dering ponselnya.


"Oh, aku ketiduran di sini," gumamnya, sembari mengedarkan pandangannya, sebelum pada akhirnya dia menerima panggilan masuk di ponselnya tersebut.


"Kak, kenapa kau belum kembali juga? Kau kemana—"

__ADS_1


"Kau yang ke mana! Aku menghubungimu dan Seok Woo sedari tadi. Beraninya kalian mengabaikan teleponku!"


Suara ini! Jin Ji menjauhkan ponselnya dari telinga, melihat nama yang tertera diponselnya sebagai panggilan masuk. Ternyata direktur, kupikir kak Seok Woo. Bisik kepala Jin Ji saat sadar bahwa bukan Seok Woo yang menghubunginya.


"Direktur kenapa mencari kami? Hari ini kan tidak ada jadwal lain selain pemotrettan untuk promosi hotel," sahut Jin Ji, terdengar malas.


"Biar begitu, seharusnya kalian langsung kembali ke officetel! Bukankah sudah sering kuingatkan pada kalian untuk selalu kembali ke officetel seusai jadwal, HAH?!"


Bentakkan sang direktur membuat Jin Ji mendengus kesal. "Sialan! Kau pikir kami ini binatang yang selesai digunakan langsung dimasukkan kembali ke kandang!" Jin Ji terbawa emosi. Dulu saat dia belum terkenal seperti sekarang, sang Direktur selalu meremehkannya, bahkan sempat menyuruhnya untuk keluar dari agensi. Namun, ketika dia sukses, dia malah dijadikan seperti sapi perah yang selalu dimasukkan kembali ke kandang ketika sang direktur selesai memerahnya —Sang Direktur selalu menyuruh Jin Ji kembali, dan berdiam diri di officetel setiap selesai bekerja—


"Keparat! Kau bilang apa?!"


Tak mau diambil pusing, Jin Ji memutuskan untuk mengakhiri telepon tersebut, "sudahlah, aku lelah, aku tutup dulu—"


"Hey, anjing, sekarang kau sudah berani menyalak pada majikkanmu, ya?! Haruskah majikkanmu ini memberi pelajaran? Dengan apa kiranya ya? Apakah dengan membongkar kebusukkanmu? Atau..., kebusukkan keluargamu?" Sang direktur menyela.


Deggggg


Jantung Jin Ji seketika memacu lebih keras. Dia mengepal tangannya begitu kuat sampai-sampai buku-buku jemarinya menonjol.


"Kau diam saja, jadi kuanggap mulai sekarang kau akan lebih patuh padaku, anjing manisku. Jangan lupa untuk segera kembali ke officetel."


Telepon itu berakhir. Jin Ji melemparkan ponselnya ke dinding, membuat benda persegi panjang itu hancur berkeping-keping.


"Sialan!" Umpatnya. Namun, sesaat kemudian, airmata mengalir di wajah tampannya



●●●


Jin Ji memasuki officetel dengan langkah gontai. Di dalam ruangan besar itu, dia hanya sendirian bersama dengan kesunyian. Sudah hampir satu tahun dia dikurung dalam di sana, dan hanya keluar ketika dia harus bekerja. Demi apa dia dikurung? Demi image, dan reputasi tentunya. Sang Direktur menciptakan image Jin Ji sebagai orang rumahan, polos, dan ramah. Benar-benar bukan tipikal Jin Ji.


Tapi aku harus menahan ini demi orangtuaku. Hatinya menjadi lirih.


Dering telepon mengalihkan pandangan Jin Ji, dia seketika menangis saat melihat nama Seok Woo yang tertera sebagai panggilan masuk.


"Kak," isaknya.


"Jin-ah, ada apa? Kenapa menangis? Tadi aku sempat tak sadarkan diri di jalan, makanya aku datang terlambat tapi, saat sampai dirumah itu kau sudah tidak ada, kau ke mana?"


"Officetel."


"Officetel?" Untuk sejenak Seok Woo terdiam. "Tunggulah di sana, aku akan segera datang."


"Iya, tapi..., kakak jangan matikan teleponnya, aku..., tidak mau sendirian."


Lirih Jin Ji membuat Seok Woo terenyuh. "Baiklah, aku tidak akan mematikan teleponnya."


Seok Woo yang dalam perjalanan menuju officetel, tak melepaskan ponselnya barang sedikitpun, dia terus mengajak Jin Ji berbicara. Seok Woo tidak mau sesuatu yang buruk terjadi..., seperti saat itu.

__ADS_1


Saat itu, Jin Ji yang sudah tidak tahan lagi dengan tekanan sang Direktur, mencoba untuk mengakhiri hidupnya, beruntung saat itu Seok Woo datang tepat waktu, jadi duapuluh obat penenang yang Jin Ji minum berhasil dikeluarkan.


Satu jam berlalu. Seok Woo segera berlari keluar dari taksi ketika telah sampai di depan officetel.


"Jin Ji!!" Seok Woo menghampiri Jin Ji yang meringkuk diatas sofa.


"Tidak apa-apa, aku sudah di sini," kata Seok Woo, sembari memberi pelukkan pada Jin Ji.


"Kak, terimakasih karena selalu bersamaku."


●●●


Baru saja Chae Eun sampai dikantor, dan dia langsung dibuat pusing oleh laporan Namjoon.


"Direktur! Gawat! Dana produksi kita..., hilang."


"APA?!" Chae Eun mencengkram kerah baju Namjoon, "hey, jangan bercanda denganku ya!!!"


"Ti-tidak, d-direktur, aku tidak akan bercanda apalagi kepadamu. P-pagi ini a-aku me-melihat berita, dan penanggung jawab yang kau pilih untuk produksi perlengkapan kesehatan itu dituntut atas kasus penipuan. Di-Dia sekarang ada dipenjara," Namjoon tergagap saat menjelaskannya. "B-bagaimana ini, d-direktur?"


Chae Eun tercengang. Rumahku..., aku menjual rumahku untuk dana produksi. "ANDWEEEEEEEEEE!!!!! RUMAHKUUUUUUU!!!"


Chae Eun terperosok. Sial! Rasanya seperti tertusuk pisau sampai berdarah-darah. Hiks hiks hiks. Rumahku!!!!



Epilogue


Jessica menghampiri Chae Eun yang terlihat nampak gembira di meja kerjanya.


"Kau habis tertipu miliaran won tapi, wajahmu nampak senang, kenapa?"


"Well, uang yang sudah diambil penipu itu toh juga tidak bisa kembali lagi, jadi untuk apa aku pusing," kata Chae Eun. "Lagipula aku sudah menemukan investor baru untuk produksi kita." Chae Eun terlihat licik dimata Jessica ketika dia senyum sumringah.


"Apa yang kau rencanakan?"


●●●


Jin Ji membuka pesan yang masuk ke ponselnya.


[Ny. Galak: hey, aku berpikir untuk membiarkanmu tinggal di rumah itu, mengingat kau memiliki banyak kenangan di sana tapi, pasti akan ada rumor jika kau tiba-tiba tinggal di rumah itu, maka agar semuanya tidak menjadi masalah di masa mendatang, kita buat saja kau sebagai penyewa. Sewa bulanannya duapuluh juta, itu sudah aku kasih diskon loh]


Jin Ji menghela napas panjang, kemudian tersenyum, "astaga, orang kaya itu aneh sekali. Apakah terlalu memalukan bila dia jujur padaku kalau dia butuh uang? Ckckck."


[Ny. Galak: aku begini bukan karena ada maksud apapun, sungguh. Aku hanya merasa kasihan padamu karena kau sepertinya sangat peduli pada rumah itu]


"Pffftt. Hahahaha, dasar Chae Eun. Masih saja seperti ini." Jin Ji terkekeh, dia meletakkan ponselnya diatas meja, dan kemudian mengambil kembali koran yang sebelumnya sedang dia baca


[Berita terkini: perusahaan parfume terbesar di Korea, FrashChae, telah merugi miliyaran won karena penipuan]

__ADS_1


"Padahal kita sudah menikah, tapi kita masih saja sungkan satu sama lain. Sepertinya pernikahanini..., memang hanya status saja, ya?"


__ADS_2