Secret Wedding

Secret Wedding
Kerja sama dengan Satya Nugraha


__ADS_3

Nathan menatap istrinya, pria itu tersenyum dan menjawab," Ayah sedang di mushola."


Zara mengangguk, wanita itu sudah dikasih tahu selama ini ayahnya berada di salah satu pesantren di yogyakarta.


"Sayang, apa perutnya masih sakit?" tanya Nathan.


"Tidak, Mas. Hanya masih lemas aja." 


Nathan tidak ingin marah, sedari tadi ia menahan. Marah pun semua sudah terjadi.


Malam ini zara harus dirawat inap, sedangkan Nathan menemani istrinya dengan membawa pekerjaan karena besok ia harus meeting dengan pengusaha dari Surabaya.


Pintu kamar terbuka, Tama tersenyum menatap putrinya. Pria itu duduk di samping brankar Zara.


"Apa masih sakit,Nak?"


"Tidak, Ayah. Kenapa tidak pulang saja di sini ada suami Zara."


"Ayah enggak akan bisa tidur kalau pulang, Sayang." Tama mengusap kepala putri semata wayangnya itu.


Zara tersenyum dari dulu jika ia sakit dan sampai dirawat ayahnya yang selalu ada disampingnya. Sebenarnya karena itu juga Zara tidak bisa menolak saya harus menikah dengan Nathan.


Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, wanita ingat akan bundanya. 


Tama memalingkan wajahnya, pria itu juga mengingat akan Zeni. Wanita yang menemaninya dari mulai dari ia tidak ada apa-apa. 


Nathan yang sedang sibuk dengan berkas di atas meja di ruang rawat istrinya, pria itu menoleh saat mendengar Isak tangis Zara.


Nathan beranjak dari duduknya, pria itu menghampiri di mana ayah mertuanya sedang mengusap air mata.


Tama tersenyum tipis, sedangkan Zara enggan melihat ke arah Nathan.

__ADS_1


"Nanti setelah sehat ajak istrimu ke makan bundanya, Nak!" pinta Tama pada menantunya itu.


"Baik, Ayah," jawab Nathan dengan mata menatap istrinya.


Tama segera duduk di sofa, tempat Nathan duduk tadi.


"Mas aku mau tidur, sepertinya obatnya mulai bereaksi," kata Zara sudah beberapa kali menguap.


Nathan mengangguk, pria itu menyelimuti tubuh istrinya dan kembali lagi bergabung dengan mertuanya.


Tama sedang menatap berkas, pria itu menatap Nathan."Ini serius, Nak?"


Nathan mengangguk karena melihat mertuanya seperti begitu terkejut akan apa yang dilihatnya.


Senyum mengembang di bibir pria. 


"Ayah dulu mengajak Satya Nugraha untuk bekerja sama, tapi sayang kalah dengan perusahaan lainnya," ujar Tama.


"Ayah mengenalnya?"


Nathan mengangguk, lalu kenapa tiba-tiba ada email proposal dari perusahaan besar itu untuk menjalin kerjasama pada perusahaan mertuanya.


Ditatapnya mertuanya itu dengan tatapan yang berbeda dan bertanya," Apa Ayah tahu apa tujuan Tuan Satya untuk bekerja sama dengan kita."


Mendengar pertanyaan menantunya, Tama tersenyum dan menjawab," Karena kamu yang sekarang memimpinnya."


"Tapi aku hanya sementara, Ayah tahu itu, Bukan?"


"Ya , saya sudah kembali dan pastinya Satya tidak bisa menarik kerjasamanya pada kita nanti."


"Saya belum pernah bertemu, tapi kalau Diego bilang Zara kenal dengan istrinya."

__ADS_1


Tama lagi-lagi tersenyum, jelas putrinya kenal karena dulu Senja sering ikut dengan Tuan Robby jika ke Jakarta.


"Saya harap kerjasama ini benar-benar terjadi," kata Tama.


Natah tersenyum tipis, hingga mertuanya tidak tahu. Bagai pria itu kerjasamanya dengan perusahaan Nugraha hanya bernilai kecil jika dibandingkan dengan bisnisnya selama ini di Turki.


Setelah membereskan berkasnya, Nathan kembali menyimpan. Beruntung kamar yang dipesan oleh Nathan VIP di mana semua lengkap ada tempat tidur untuk yang menjaga pasien.


Tama kini membaringkan tubuhnya, sedangkan Nathan memilih untuk duduk di samping brankar istrinya karena pria itu juga belum mengantuk.


Tepat pukul dua dini hari Nathan masih terjaga karena sedang memantau grafik pendapatan dari perusahaan yang kini dipimpin oleh Papanya.


Nathan menoleh ke Istri karena mendengar suara wanita itu melenguh. Ia takut tiba-tiba istrinya merasa kesakitan lagi.


Nathan mengusap bahu Zara agar kembali lagi tertidur. Benar adanya sang istri kembali terdengar dengkuran halusnya.


Nathan sudah menguap, pria itu mengecup pipi dan ke kening Zara dan setelah itu membaringkan tubuhnya di sofa yang lumayan besar. Tidak menunggu lama Akhirnya suami Zara itu terlelap.


****


Pagi harinya, Zara membuka matanya. Wanita itu tersenyum saat melihat bagaimana dua pria yang sangat dicintainya itu sedang tertidur pulas.


Zara melihat jam sudah menunjukkan pukul enam, suaminya harus ini harus segera menemui Tuan Satya.


Jarang perusahaan yang memiliki cabang di beberapa perusahaan mau turun tangan


Zara memanggil ayah dan suaminya, tapi kedua pria itu asik dengan tidurnya. 


Namun,. Zara hanya bisa pasra. Wanita itu tidak tahu bagaimana caranya untuk membangunkan suaminya.


Wanita itu melempar buah jeruk di dekat sopa di mana suaminya sedang tidur.

__ADS_1


Nathan terkejut, pria itu  segera duduk.


Kini giliran ayahnya sedangkan, di sisi lain tidak tega kalau harus membangunkan ayah Tama.


__ADS_2