Secret Wedding

Secret Wedding
Part 12


__ADS_3

"******! Kalian sekeluarga memang pantas mati!! Pantas mati!!!"


"HAHHH—" Jin Ji terperanjat dari tidurnya. Keringat jagung membasahi keningnya, dan jantungnya berdegub amat kencang. Lagi-lagi mimpi buruk itu. Deru hati Jin Ji. Dia beranjak dari ranjangnya, pergi ke dapur untuk mengambil minum guna menenangkan dirinya dari keterkejutan mimpi yang baru saja dialaminya.


"Wahhhh kupikir kau pencuri."


Jin Ji menyemburkan air yang diminumnya ketika sebuah suara muncul dari balik tubuhnya.


Jin Ji memutar tubuhnya, dan menatap sang empunya suara itu dengan kesal, "yaa! Kau mengagetkanku, tahu?!"


"Jinjja! Aku benar-benar tidak terbiasa tinggal satu rumah dengan pria sepertimu," gumam Chae Eun, terheran-heran. Chae Eun memiliki sensitivitas yang tinggi, karena itu saat Jin Ji keluar kamar, telinganya yang super tajam itu langsung menangkap suara derit pintu dan langkah kaki Jin Ji.


Jin Ji mengerutkan keningnya, "pria sepertiku? Maksudnya kau pernah tinggal dengan pria yang bukan sepertiku?!" Tanya Jin Ji, kesal.


"Eoh," jawab Chae Eun sekenanya.


"Wahhhhh, kau gila?! Kau itu sudah menikah, kenapa tinggal dengan pria lain, hah?!"


"Pria lain itu adalah ayah dan kakak keduaku, tahu?" Jawab Chae Eun, membuat Jin Ji sekejab terdiam. "Kalau sudah minumnya, temui aku di ruang tamu, ada yang ingin kubicarakan."


"Apa—" Chae Eun sudah lebih dulu pergi sebelum Jin Ji sempat menyelesaikan perkataannya.


"Dasar dia!" Jin Ji bergumam. Dia segera menenggak minumannya, dan kemudian menyusul Chae Eun ke ruang tamu.


"Mau bicara apa?" Tanya Jin Ji, sembari menempelkan bokongnya di sofa.


"Lusa adalah perayaan hari jadi pernikahan ayah dan ibuku. Mereka ingin kau datang," kata Chae Eun dengan entengnya.


"Lusa? Aku...,"


"Kau tidak bisa, 'kan? Kalau begitu aku akan beritahu ayah dan ibuku," sela Chae Eun, kemudian dia beranjak dari tempatnya dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan Jin Ji yang kini diam tercengang.


"Aku mau bilang kalau aku bisa, kenapa dia..., huhh~ selalu seenaknya sendiri, dasar!" Oceh Jin Ji. Memang sudah menjadi kebiasaan Chae Eun menganggap Jin Ji tidak pernah bisa ikut dalam acara keluarganya. Bukan tanpa alasan Chae Eun begitu. Alasan pertama, karena dia tahu betapa sibuknya Jin Ji —dia tahu semua kegiatan Jin Ji karena dia menyuruh orang untuk mengawasi suaminya itu— alasan kedua adalah karena dia tidak mau jika keluarganya terlalu banyak omong di depan Jin Ji, mengingat saat hari pernikahan keluarganya melontarkan banyak sekali pertanyaan pada Jin Ji sampai-sampai mereka baru bisa tidur dini hari. Dan alasan terakhir, dan yang ketiga adalah..., Chae Eun tidak ingin menyebabkan rumor bagi Jin Ji, dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jin Ji dipukuli direkturnya hanya karena sebuah skandal remeh.


Maaf Jin Ji, tapi lebih baik kau memang tidak perlu berurusan dengan keluargaku.


●●●


Lokasi Shooting Man Are You


Jin Ji sedang duduk diruang tunggunya ketika Haejun datang.


"Aku boleh masuk?" Tanya Haejun dari ambang pintu.


Seok Woo nampak tak senang. Namun, Jin Ji tetap memertahankan senyum yang biasa dia tampilkan dihadapan Haejun, "masuk saja, senior. Kau selalu aku terima di manapun."


"Ok." Haejun memasuki ruang tunggu Jin Ji, dan dia langsung meraih tangan Jin Ji dan bersimpuh dihadapan juniornya tersebut.


"Jin-ah, maafkan aku karena kemarin aku terlihat memojokkanmu tapi, kau paling tahu bahwa aku tidak bermaksud begitu. Aku..., aku hanya ingin melakukan tugasku dengan baik untuk acara ini. Jadi, kumohon maafkan aku," kata Haejun, terdengar tulus daripada yang dia rasakan sebenarnya.


Sialan! Aku sampai harus bersimpuh dihadapan bocah tengik ini. Brengsek sekali! Aku benar-benar penasaran, ada hubungan apa aktor kacangan ini dengan pewaris Chae-gu Group?! Desis hati Haejun.


Jin Ji dan Seok Woo terkejut. Jin Ji segera meminta Haejun berdiri, "senior, kau kenapa? Jangan begini, bangunlah. Aku juga tidak memersalahkan kejadian kemarin, dan juga tidak pernah berpikir begitu tentangmu. Bangunlah kumohon."


Haejun menuruti perintah Jin Ji, "terimakasih Jin Ji-ah, aku sangat cemas karena direktur mempermasalahkan kejadian kemarin."


"Direktur?" Jin Ji berempati. Dia dapat merasakan kesedihan Haejun lantaran dia juga sering mendapatkan perlakuan sama buruknya. "Sudahlah, senior. Aku akan berbicara dengan Direktur, dan menjelaskannya."


"Benarkah? Jin Ji memang yang terbaik." Puji Haejun. "Kalau begitu aku serahkan semuanya pada Jin Ji, ok? Aku akan kembali ke ruang tungguku." Haejun pergi meninggalkan ruang tunggu Jin Ji dengan perasaan kesal.


"Berbicara dengan Direktur? Dia pikir dia siapa?! Sebelum dia terkenal akulah yang memberi Direktur brengsek itu makan!" Gumam Haejun. Dia berjalan menuju ruang tunggunya, dan di sana dia sudah disambut oleh asistennya.


"Kak, semuanya sudah beres," kata sang asisten.


"Bagus! Lanjutkanlah." Lihat saja, aku akan membunuh kalian berdua dalam sekali tembakkan, Jin Ji, dan direktur tercintaku.


Disisi lain


"Aku benar-benar terkejut," kata Seok Woo.


"Aku juga."


"Tapi apakah kau yakin mau berbicara dengan Direktur soal ini?"


Jin Ji mengangguk yakin, "biar bagaimanapun, Haejun Senior adalah orang yang membuat kita dan para peserta latihan di Starscript dapat makan dan berlatih. Semua berkat uang yang Haejun senior hasilkan untuk perusahaan."


"Benar juga sih. Hahhhhh~ direktur sialan itu benar-benar memerlakukan artisnya seperti barang. Dahulu dia sangat memuja Haejun tapi, sekarang karena kau lebih terkenal dan menghasilkan lebih banyak uang dari Haejun, dia langsung membuangnya, dan menjadikanmu seperti sapi perah. Sialan!"


"Benar, Direktur kita memang sialan!" Tapi tetap saja aku tidak memiliki daya dihadapannya. Dia..., terlalu banyak mengetahui celah dalam diriku.


●●●

__ADS_1


"Eun-ah, apa suamimu tidak akan datang lagi?" Tanya Chae Jung.


"Dia sibuk, kalian semua juga tahu itu," sahut Chae Eun, sembari mencicipi sup rumput laut yang baru saja disajikan oleh ibunya.


"Tapi semua orang yang ada di sini juga sibuk, bukan hanya suamimu saja," suami Chae Sun menimpali. Chae Sun segera memeringatkan suaminya dengan menyentuh tangan suaminya. Memberikan isyarat untuk tidak menyulut keributan ditengah acara keluarganya.


Chae Eun tersenyum dingin, dia mengaduk-aduk sup rumput lautnya. Seraya berkata, "kakak ipar, kau baru hari ini datang ke acara keluarga kami, dan sudah berani menyinggung suamiku? Lucu sekali."


"Sudahlah, Eun-ah. Honghwa tidak bermaksud menyinggung Jin Ji, jadi lupakan saja, oke?" Ucap Chae Sun dengan lembut.


Chae Eun tersenyum lembut, sembari mengangguk sebagai sahutan dari perkataan kakaknya tersebut. "Iya, kakakku sayang, aku hanya bergurau saja, seperti..., biasanya."


"Benar sekali, Honghwa. Kuharap kau tidak tersinggung karena Eun memang senang sekali bergurau," seru Chae Hyun.


"Iya, bahkan dia pernah bergurau ingin masuk jurusan seni sedangkan dia tidak bisa menggambar dan tidak tahu apapun tentang seni," Chae Jung menimpali, dan semua orang yang ada di sana tertawa riang.


Benar, begitulah bisanya kalian menganggap perkataanku, dengan mengatakan kalau itu hanyalah gurauan.


"Ngomong-ngomong, ayah, ibu. Selamat untuk kalian, aku tidak bisa memersiapkan apapun, jadi hanya bisa memberikan ini," Chae Eun yang tidak suka dengan topik pembicaraan yang sedang tercipta segera mengubah topik pembicaraan tersebut dengan memberikan hadiah pada ayah dan ibunya. Sebuah tab.


"Wahh, Eun-ah, terimakasih banyak, tapi sebenarnya kau tidak perlu repot-repot. Kau datang saja ibu sudah senang," kata ibunya.


"Benar sekali," ayahnya menimpali.


"Itu tidak merepotkanku sama sekali. Hanya laporan tentang saham kita yang melonjak," sahut Chae Eun.


Ayahnya membuka layar tab tersebut, dan benar saja, tab itu berisikan laporan saham Chae-gu Group yang meningkat.


Sang ayah menghela napas panjang, "dasar bocah, bagaimana bisa kau memberikan hadiah seperti ini untuk kami, huh?" Ucap sang ayah sembari mengacak-acak rambut Chae Eun.


"Lihat, 'kan? Eun itu memang suka begitu. Senang sekali bergurau," kata Chae Hyun, dan lagi-lagi semuanya tertawa.


Bergurau apanya?! Bukankah hadiahku lebih baik daripada hadiah yang kalian siapkan?


"Ayah, jangan begini." Chae Eun menepis lembut tangan ayahnya.


"Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita mulai acaranya," Chae Jung berseru, sembari membawa kue ulang tahun untuk ayah dan ibunya, bersama dengan suaminya.


Nyanyian selamat ulang tahun bergema diruang makan keluarga Chae. Tawa, dan keceriaan menjadi penghias ruang makan tersebut. Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan para anak kecil sudah tidur di kamarnya masing-masing. Sedangkan para orang dewasa melanjutkan acara dengan meminum wine yang baru saja dikeluarkan dari gudang penyimpanan wine milik ayahnya.


"Mari bersulang untuk kerja keras Eun-ah, sangat luar biasa dia bisa meningkatkan saham perusahaan kita di tengah pandemi seperti ini," seru sang ayah. Dan merekapun bersulang bersama.


"Sudah kukatakan bukan? Eun-ah, memang hebat dalam hal mengelola. Tidak sia-sia saat itu ayah memindahkan jurusanmu," kata Char Jung.


"Ya, kalian tidak perlu memujiku, karena aku sudah tahu hal itu," kata Chae Eun. Mengundang tawa keluarganya. Namun, tidak dengan Chae Sun dan suaminya.


Chae Eun yang menyadari itu hanya bisa melirik mereka sekali-kali. Kepekaannya membuat Chae Eun sadar bahwa ada sesuatu yang aneh dari kakak ketiganya dan suami kakak ketiganya tersebut.


●●●


Jin Ji melangkah gontai ketika memasuki rumahnya. Hari ini jadwalnya sangat padat, setelah shooting Man Are You, dia pergi ke Incheon untuk shooting iklan, kemudian ke Dongmak untuk shooting dramanya, dan setelah itu, harus ke Bundang untuk pemotrettan untuk foto teaser untuk drama barunya.


"Gila, aku lelah sekali." Jin Ji menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Kakinya tidak sanggup lagi untuk dia seret menuju kamarnya.


"Waahh, aku benar-benar tidak terbiasa tinggal bersamamu," kata Chae Eun yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mendengar suara pintu yang Jin Ji ciptakan saat masuk ke rumah.


"Hahhhh~ aku juga tidak terbiasa. Kau tahu, kau sering mengejutkanku!" Tukas Jin Ji lemah.


Chae Eun duduk di sofa kecil di samping sofa panjang yang Jin Ji gunakan. "Apa lelah sekali? Kalau lelah bagaimana jika kau berhenti saja jadi selebritis, dan kerja ditempatku. Aku akan membayar gajimu dengan sangat layak."


Gurauan receh itu mampu mengembangkan senyum di wajah Jin Ji. "Berapa kiranya kau akan membayarku? Aku tidak mau jika dibawah duapuluh juta, karena aku harus membayar uang sewa," gurau Jin Ji.


"Eihhh, kau terlalu meninggikan dirimu. Kerjamu bahkan belum tentu layak di gaji lima juta."


Jin Ji beranjak dari berbaringnya —kini dia terduduk— "kau tidak tahu? Dulu aku sempat berkuliah di UNS jurusan managment."


"Hanya sempat, itu berarti kau tidak lulus."


"Iya," jawab Jin Ji, membuat Chae Eun tertawa.


"Bodoh!"


"Biarkan saja, yang penting sekarang aku sukses!" Keduanya tertawa. Jin Ji memerhatikan tawa diwajah Chae Eun.


Rasanya sudah lama sekali tidak melihat tawa itu. Pikir Jin Ji, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari wajah isterinya tersebut.


"Eoh, wajahmu kenapa?" Tanya Jin Ji sembari menyentuh wajah Chae Eun.


"Bukan apa-apa," jawab Chae Eun sembari menepis pelan tangan Jin Ji.


Jin Ji kembali menyentuh wajah Chae Eun, dan memerhatikan memar di pipi kiri Chae Eun. "Apakah ada yang memukulmu?" Jin Ji terlihat kesal.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang berani memukulku, huh? Ini hanya..., aku hanya tak sengaja terbentur dinding," Chae Eun berdalih.


"Ya ampun, benarkah? Harusnya kau hati-hati. Tunggu di sini, aku akan mengambil kotak obat." Jin Ji beranjak dari tempatnya, dan kemudian kembali dengan membawa kotak obat.


"Tidak perlu, aku sudah mengompresnya dengan kantung es sebelumnya," kata Chae Eun.


"Sudah, diamlah. Dulu aku pernah mengalami memar seperti ini, dan kak Seok Woo memberiku saleb yang sangat manjur," kata Jin Ji, sembari mengeluarkan saleb yang dia maksud. Dia mengoleskan saleb tersebut dengan perlahan ke memar di pipi kiri Chae Eun, "kau itu wanita, wajahmu itu adalah aset, jadi jangan sampai ceroboh seperti ini lagi, paham?"


"Apakah kita akan bercerai jika aku menjadi jelek?"


"Ck, kau ini masih sempat-sempatnya bergurau, dasar!" Omel Jin Ji. "Bagaimana, apa sudah enakkan?" Tanyanya, setelah selesai mengoleskan saleb di memar Chae Eun.


"Rasanya hangat."


"Hangat? Bukankah seharusnya dingin? Aku sering memakainya, dan itu memberikan efek dingin, bukan hangat. Apa ada yang salah?" Jin Ji membaca tulisan di kotak saleb tersebut, mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah memberi saleb. "Ini benar salebnya."


"Maksudku tanganmu. Tanganmu..., hangat."


Jin Ji terdiam, dia perlahan menatap Chae Eun yang kini menatapnya dengan tulus.


"Hey, Ji Hyujin. Bolehkan aku..., memelukmu?"


"Kenapa...,"


Belum selesai Jin Ji berbicara, Chae Eun sudah lebih dulu memeluknya, membuat Jantung Jin Ji berdegub keras dan bahkan wajahnya memerah.


"Nona Ch-Chae Eun, k-kau kenapa begini?"


"Hanya satu menit saja. Tidak! Tigapuluh detik saja, biarkan aku memelukmu. Aku..., suka hangat tubuhmu."


Epilogue


"Tapi...,"


"Tapi apa?! Kau harus membicarakan ini dengan ayah dan ibumu!"


"Tapi, itu semua adalah kerja keras Chae Eun. Lagipula sejak dulu aku tidak pernah tertarik dengan bisnis ayah."


"Sun-ah, jadi maksudmu kau hanya akan terus menjadi parasit dalam hidupmu, huh? Tidak melakukan apapun, dan berleha-leha di rumahku, serta memakan makanan yang kuhasilkan dengan kerja keras, hah?!!!" Bentak Honghwa. Selama masa pandemi, perusahaan milik suami Chae Sun, Honghwa. Memang mengalami krisis, dan sudah hampir bangkrut. Oleh karena itu, Honghwa yang tidak biasa mengikuti acara keluarga Chae, untuk pertama kalinya ikut serta. Namun, niatnya begitu pamrih, dia mendesak Chae Sun agar menuntut haknya atas perusahaan ayahnya.


"Tapi...,"


"******!!! Kenapa kau terus mengatakan tapi padaku, HAH?! Jika kau tidak menurutiku, maka sebaiknya kau gugurkan kandunganmu itu, toh kita tidak akan bisa memberinya makan!" Bentak Honghwa.


"Sudah kuduga." Chae Eun yang ternyata sejak tadi berdiri di balik dinding akhirnya keluar dari persembunyiannya. "Memang aneh sekali kakak ipar tiba-tiba datang ke acara keluarga kami. Ternyata itu alasannya. Menjijikan!"


"Eun-ah!!" Tegur Chae Sun. Namun, Chae Eun tak peduli. Dia melangkah menghampiri kakak iparnya tersebut. Berdiri tegak dan angkuh dihadapan sang kakak ipar.


"******? Menggugurkan kandungan? Hey, ********! Kalau tidak sanggup lagi membiayai kakakku, maka ceraikan saja. Kami keluarganya amat sangat mampu untuk menghidupinya!" Tukas Chae Eun dengan nada mengintimidasi.


"********? Dasar sialan!"


#prakkkkk


Honghwa memukul wajah Chae Eun dengan amat keras, sampai-sampai Chae Eun tersungkur.


"Oppa!!!" Chae Sun menjerit, dan segera menghampiri Chae Eun. "Eun-ah, kau tidak apa-apa?"


"Kau tidak perlu peduli padanya!" Honghwa menarik tangan Chae Sun dengan kasar.


"Lepaskan, oppa!" Chae Sun memberontak. Namun, tenaganya tak lebih kuat dari sang suami.


"Dengar ya! Kau itu hanya anak selingkuhan ayahmu! Kau tidak pantas untuk mewarisi semua harta ini! Jadi, jangan mencoba untuk serakah!" Tukas Honghwa, membuat Chae Eun tercengang, dan segera menatap Chae Sun.


"Anak..., selingkuhan? A-aku?" Chae Eun nampak shock. Sedangkan Chae Sun segera memukul wajah suaminya.


"Sialan kau, oppa! Siapa kau berani mengatakan hal itu pada adikku?! HAH!!! Sebaiknya kau pergi dari sini! PERGI!!!" Bentak Chae Sun.


"Terserah saja. Tapi, kau harus memastikan kalau anak selingkuhan ini tidak mengambil semua harta ayahmu!" Tukas Honghwa sesaat sebelum dia pergi meninggalkan Chae Sun dan Chae Eun.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Chae Sun.


"Aku..., anak selingkuhan? Apa maksudnya?"


"Jangan dengarkan dia, Eun-ah. Honghwa sering begitu jika marah."


"Dia mungkin begitu padamu, tapi ini baru kedua kalinya aku bertemu dengannya, apakah dia pantas marah dengan cara begitu padaku jika yang dia bicarakan itu tak benar?"


"Chae Eun. Kau...,"


"Aku akan pulang. Aku..., lelah." Chae Eun beranjak dari tempatnya, dan pergi meninggalkan Chae Sun yang kini menatapnya dengan risau.

__ADS_1


Jadi inikah alasan mengapa aku selalu tak mereka dengar? Pendapatku? Impianku? Keinginanku? Itukah alasan mengapa mereka mengabaikannya? Aku..., karena aku..., sejak awal memang bukan bagian dari mereka.


__ADS_2