Secret Wedding

Secret Wedding
Part 10


__ADS_3

Chae Eun mencoba untuk tidur ketika Jessica mengajaknya bicara.


"Hey, tepatnya sejak kapan kau menyukai Jin Ji?"


"Tidurlah, Chun Bong." Chae Eun memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Namun, Jessica terus mengajaknya bicara.


"Apa mungkin kau suka padanya pada pandangan pertama? Itukah sebabnya kau merajuk padaku selama seminggu karena waktu itu, aku yang tidak tahu bahwa dia tunanganmu, berbicara buruk tentangnya?" Terka Jessica.


"Aku tidak merajuk saat itu. Jangan berlebihan!"


"Jangan bohong, waktu itu karena aku sering bilang Jin Ji itu aktor kacangan, kau tidak mau berbicara bahkan menatapku!" Jessica mengingatkan Chae Eun pada sikapnya kala itu.


"Astaga, apa kau hanya akan mengingat hal-hal buruk tentangku, huh? Sekali-kali kau cobalah mengingat kebaikkanku!" Tukas Chae Eun.


Jessica menghela napas panjang, "kalau aku tidak ingat kebaikkanmu, maka pastinya aku sudah sejak dulu kabur dari sisimu! Memangnya siapa yang bisa tahan dengan orang skeptis sepertimu!"


Chae Eun perlahan membuka matanya, dia memutar tubuhnya menghadap Jessica yang berbaring di sampingnya. "Kau..., mengingatnya?"


"Eoh. Aku ingat sangat jelas!" Tukas Jessica.


Chae Eun terdiam barang sejenak. Kemudian dia melingkarkan tangannya dipinggang Jessica. "Itu kenangan buruk, seharusnya kau tidak perlu mengingatnya."


"Jadi aku harus melupakannya? Tapi kalau kulupakan, maka aku juga akan melupakan kenangan tentangmu, dan itu artinya tidak ada alasan bagiku untuk berada di samping orang gila sepertimu," gurau Jessica.


"Dasar licik! Kalau begitu kau harus ingat seumur hidupmu!" Chae Eun memeluk Jessica lebih erat, membuat Jessica kesulitan bernapas.


"Ughhhh aku tidak bisa bernapas bodoh!"


"Biarkan, biar kau mati sekalian!"


Canda yang mengundang tawa keduanya itu, membuktikan betapa dekatnya kedua wanita yang telah berteman sejak mereka masih duduk dibangku SMA tersebut.


Lelah bercanda, akhirnya mereka melepaskan diri satu-sama lain, mengambil napas dalam-dalam sembari memandangi langit-langit kamar Jessica.

__ADS_1


"Hey, Chun Bong, kau serius mau melakukan "itu" dengan Hyunwoo?" Tanya Chae Eun.


Jessica mendengus kesal, "berapa kali harus kuingatkan, namaku sudah diubah secara permanen menjadi Jessica, ok?!" Tukasnya. "Dan itu Hyunwoo..., hahhhh, aku hanya tidak ingin tersaingi oleh para wanita genit yang mencoba menggodanya itu," Jessica mengeluh.


Chae Eun menghela napas panjang, "aduh, kau ini bodoh sekali sih. Kau itu bagaikan narkoba bagi Shin Hyunwoo, jadi bagaimana bisa dia meninggalkanmu untuk wanita lain. Jadi, berhentilah bersikap bodoh dengan menurunkan harga dirimu di depannya, gadis bodoh!" Chae Eun memukul pelan kepala Jessica.


"Iya juga sih," Jessica bergumam. Dia memutar tubuhnya menghadap Chae Eun, memandang temannya itu dengan usil.



"Kau juga begitukan terhadap Jin Ji? Jin Ji itu bagaikan candu bagimu, iya'kan?"


"Hey, Chun Bong, mari tidur saja. Aku lelah." Chae Eun mengalihkan pembicaraan, dan hendak memunggungi Jessica ketika dengan cepat Jessica menahannya.


"Eihhh, jangan coba kabur dari pertanyaanku dong!" Tukas Jessica.


"Apa?!"


"Kau benar-benar menyukai Jin Ji pada pandangan pertama?"


"Eihhh, jangan begitu. Kita kan sudah mengenal cukup lama, jadi katakan sejujurnya padaku," kata Jessica. "Jujur saja, aku sangat mengkhawatirkanmu saat tahu orang yang dijodohkan denganmu adalah Jin Ji. Bukan tanpa alasan, saat itu Jin Ji belum terkenal seperti sekarang, dan terlebih lagi dia terlibat skandal. Aku sungguh khawatir karena berpikir ayahmulah yang ngotot untuk tetap menikahkanmu dengannya, tapi, jika ternyata pernikahan ini memang adalah pilihanmu sendiri, setidaknya aku akan merasa lega."


Itulah kenyataan yang dirasakan Jessica ketika mengetahui bahwa calon suami Chae Eun adalah Jin Ji, aktor yang sering terlibat skandal. Meskipun sekarang skandalnya sudah diluruskan semua, dan reputasi Jin Ji bersih. Tapi tetap saja saat itu tidak seperti ini, saat itu semuanya begitu buruk tentang Jin Ji.


Chae Eun menghela napas berat. "Terimakasih sudah khawatir padaku. Dan sekarang, karena kau sudah tahu jawabannya, kursa kau tidak perlu khawatir lagi, ok? Sekarang sebaiknya kita tidur."


Chae Eun memunggungi Jessica, dan kemudian menutup dirinya dengan selimut. Sedangkan Jessica kini memeluk tubuh Chae Eun dari belakang. "Ya, sekarang aku tahu jawabannya, kau..., ternyata memang menyukainya."


Pernikahan ini terjadi karena keinginan Chae Eun, tapi kenapa aku semakin khawatir daripada saat aku berpikir bahwa pernikahan ini terjadi karena paksaan ayahnya? Aku merasa bahwa cintamu pada Jin Ji akan melukaimu. Bisik hati Jessica.


●●●


"Wahhhhhhhh akhirnya~ akhirnya~" Jin Ji berseru kegirangan ketika memasuki rumah lamanya. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa, dan menatap langit-langit ruang tamu dengan wajah sumringah.

__ADS_1


Seok Woo yang sedang menyeret koper Jin Ji, tersenyum lembut melihat kebahagiaan Jin Ji.


"Kau sesenang itu?" Tanyanya, yang langsung dijawab dengan antusias oleh Jin Ji.


"Tentu saja! Aku sangat mencintai rumah ini."


"Tapi apakah kau yakin tidak akan ada masalah dengan tinggal di sini?" tanya Seok Woo, sembari meletakkan koper Jin Ji didekat sofa, dan kemudian dia duduk di samping Jin Ji. Seok Woo memandang Jin Ji dengan resah, "apa kau sungguh menikah dengannya karena rumah ini? Aku benar-benar shock loh saat mengetahuinya."


Seok Woo pada dasarnya tidak mengetahui tentang perjodohan Jin Ji dan Chae Eun. Yang dia tahu adalah Chae Eun adalah orang yang memenangkan rumah keluarga Jin Ji dalam acara lelang. Saat itu, Jin Ji meminta Seok Woo untuk pergi ke bank untuk mengurus rumahnya. Namun, ternyata rumah itu telah terjual dalam pelelangan. Seok Woo kemudian mencari orang yang berhasil mendapatkan rumah itu, yang ternyata adalah Chae Eun. Saat itu, tanpa sengaja Seok Woo mendengar pembicaraan Jin Ji dan Chae Eun. Meskipun tak mendengar jelas apa yang dibicarakan Jin Ji dan Chae Eun. Namun, Seok Woo menangkap kata pernikahan. Oleh karena itu, Seok Woo menebak bahwa hubungan Jin Ji dan Chae Eun sama persis seperti film-film romantis seperti full house dan yang lainnya, di mana pemeran utama menikah demi mendapatkan rumahnya kembali —efek bekerja di industri hiburan terlalu lama— Jin Ji bisa saja meluruskan segala pemikiran menyimpan managernya tersebut. Namun, berkali-kali dipikirkan, ada baiknya jika membiarkan Seok Woo berasumsi daripada mengetahui yang sebenarnya.


"Kak, seharusnya kau menjadi penulis novel saja alih-alih jadi manager. Imajinasimu itu..., ckckck~"


"Kalau bukan begitu, maka bagaimana kau menjelaskan situasi ini, huh? Kau membicarakan pernikahan denganya, dan sekarang dia memperbolehkanmu tinggal di sini. Tentu saja kalian memiliki semacam hubungan kontrak atau apalah."


Benar! Aku tidak menceritakan tentang perjodohanku dan Chae Eun pada kak Seok Woo, jadi wajar saja dia berpikir seperti itu. Pikir Jin Ji.


"Terserah kakak saja mau berpikir bagaimana."


"Tapi, Jin Ji, bagaimana jika sampai direktur tahu soal pernikahanmu ini?" Seok Woo terlihat cemas. Sejak tahu bahwa Jin Ji dan Chae Eun menikah, tidak ada hari tanpa keresahan dihidup Seok Woo.


"Itulah sebabnya kami merahasiakan pernikahan ini. Hanya kakak satu-satunya orang yang kuberitahu. Begitupun dengan dia, dia hanya memberitahukan satu-satunya temannya itu," jelas Jin Ji.


Seok Woo menghela napas panjang, meskipun dijelaskan berkali-kali, dia tetap saja resah. "Tapi aku benar-benar tak habis pikir, kenapa kau sampai berbuat hal nekat ini hanya untuk mendapatkan rumah ini? Maksudku, orang kaya itu sangat sulit untuk dihadapi, bila kau melawan atau melanggar kontraknya, maka tamatlah riwayatmu."


Jin Ji ingin sekali tertawa mendengar penuturan Seok Woo. Kakak sangat imajinatif sekali. Pikirnya. Padahal kenyataan yang terjadi tentang pernikahan Jin Ji dan Chae Eun bukanlah seperti itu. Mungkin Seok Woo akan merasa dirinya bodoh jika sampai Jin Ji memberitahukan yang sebenarnya.


"Sudahlah, sebaiknya kakak istirahat saja. Sore nanti kan kakak harus menyetir lagi ke Heundae."


"Heundae?"


"Iya, kakak memangnya tidak ingat bahwa aku ada jadwal syuting reality show Man Are you di Heundae?" Tegur Jin Ji.


"Astaga, aku lupa. Ini semua gara-gara memikirkan pernikahan kontrakmu itu." Seok Woo memijat keningnya.

__ADS_1


Pernikahan kontrak apanya. Ini jelas-jelas pernikahan sungguhan, hanya saja..., huhhh sudahlah. Jin Ji memejamkan matanya. Dia sudah lelah setelah seharian bekerja, jadi dia tidak ingin dibuat tambah lelah dengan pemikiran yang tak ada habisnya.


Kalau saja aku sungguh pewaris keluarga kaya, apakah hubungan kita akan lebih baik dari ini, Chae Eun?


__ADS_2