Secret Wedding

Secret Wedding
Lima tahun kemudian


__ADS_3

Lima tahun setelah itu, Di mansion Nathan, pria itu akhirnya menatap san istri yang kini sedang asik main bersama Nevan yang umurnya sudah lima tahun, Sedangkan anak Erlan wanita berumur tiga tahun bernama Alea


Nevan tumbuh menjadi sosok anak yang begitu cerdas, Zara menatap suaminya yang sedang memperlihatkannya.


"Ada apa?" Zara duduk di samping suaminya.


"Apa tidak ingin menambah adik Untuk Nessa, aku melihat Nessa entah kenapa ingin juga memiliki anak perempuan satu lagi," ujar Nathan.


Zara menaikkan bahunya, bukan ia tidak ingin menambah, tapi selama ini kita tidak memakai pencegah kehamilan.


Zara melihat Naven sedang bermain dengan Nessa. 


"Ah, betapa bahagianya hari ini," gumam Zara sambil tersenyum. 


"Kalau bisa mengulang kembali waktu, aku pasti akan memilih untuk selalu berada di sini."


Nathan mengangguk dan menggenggam tangan Zara dengan erat. "Aku merasa bersyukur setiap hari melihat Nevan dan Nessa tumbuh besar menjadi anak-anak yang penuh cinta dan kebahagiaan," ucap Nathan.


Suara tertawa Nevan dan Nessa yang riang mengakhiri percakapan singkat di antara Nathan dan Zara. 


Mereka kembali melihat kedua anak mereka yang bermain dengan gembira di taman belakang mansion.


"Tuan..." pembantu setia yang telah melayani keluarga Nathan, "...ada satu hal yang ingin saya sampaikan."


Nathan berdiri dan menatap wanita paruh baya itu dengan ekspresi wajah penuh perhatian. "Ada apa, Bibi? Ada masalah apa?"


"Ada kabar dari kota  sebelah, Tuan. Katanya, para penduduk mulai menderita penyakit yang belum pernah dikenal sebelumnya." Bibi  berbicara dengan wajah yang serius.


Kening Nathan berkerut. "Penyakit apa itu, Bibi?"


"Saya belum yakin, Tuan. Tapi kabarnya, penyakit itu menyerang begitu cepat, dan mereka yang terkena tidak bisa disembuhkan. Sudah beberapa orang yang meninggal dunia karena penyakit tersebut."


Zara, yang mendengar pembicaraan mereka mencoba menahan ketakutannya. "Apa...apa kita harus mengkhawatirkan hal ini, Mas?"


Nathan menatap istrinya dengan perasaan yang sama. "Entahlah Sayang, tapi kita tidak boleh membiarkan ini begitu saja. Aku akan menghubungi beberapa teman ahli untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai penyakit ini."


Setelah mendapatkan beberapa informasi dari beberapa ahli yang dihubungi Nathan, mereka menemukan bahwa penyakit itu muncul karena adanya virus yang belum dikenal sebelumnya. Sangat sedikit yang diketahui tentang virus ini, dan terus menyebar dengan cepat.


Warga  menjadi cemas, dan Nathan melakukan yang terbaik untuk menjaga keamanan mansion mereka sekaligus mencari solusi untuk menghentikan penyebaran virus ini.


"Menurut Dr. Willis, seorang ahli patologi yang baru saja saya hubungi, virus ini mungkin berasal dari sumber yang belum pernah dihadapi sebelumnya," jelas Nathan pada Zara. 


"Mereka belum tahu cara menghentikannya, tapi mereka bekerja keras untuk menemukan vaksinnya."


Zara mencoba menyembunyikan rasa cemas yang melanda hatinya. "Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka?"


Nathan menghela napas. "Mereka meminta kita untuk berhati-hati, menjaga kebersihan, dan menghindari kontak dengan orang yang sudah terinfeksi. Mereka juga meminta kita untuk membantu menyampaikan informasi ini kepada para tetangga dan warga kota  sekitar, serta melapor apabila ada warga desa yang terinfeksi agar segera diisolasi."


Zara mengangguk, mengangguk. Kini ia mengajak kedua anaknya untuk masuk karena langit sudah mulai gelap.


Saat di ruang keluarga Zara melihat Erlan dan istrinya baru saja sampai.


"Erlan apa kamu mendengar tentang penyakit dari kota sebelah?" tanya Zara.


"Itu bukan masalah besar Zara, pihak pemerintah sudah mengeluarkan pengumuman jika itu tidak benar. Orang itu karena flu yang dibesar-besarkan," ujar Erlan.


Zara menarik napas panjang dan menghembuskan secara kasar.


Pada saat inilah Zara, seorang ibu muda yang enerjik, berbicara pada sahabat, Carla, yang juga saudara iparnya. Mereka telah bersahabat sejak lama dan menikah dengan kakak beradik.


"Hampir saja aku ingin menghubungi guru Nessa dan Nevan," kata Zara.


"Jangan terlalu panik," kata Carla baru keluar dari kamar mandi sambil menggendong Alea.


Zara mengambil alih Alea, tapi bocah itu langsung meronta dan berlari untuk bermain dengan sepupunya yang lain.


Gadis itu tersenyum. "Terima kasih, Carla. Aku hanya merasa agak khawatir. Kau tahu betapa sulitnya menghadapi kedua anak  itu." Zara menghembuskan napas panjang. "Apalagi sekarang ini, mereka semakin susah untuk dikendalikan."


Carla, yang mengetahui baik-baik saja tentang apa yang dialami Zara, mencoba menenangkan hatinya. "Kau tidak perlu mencemaskannya, Zara. Semua orang tua melewati fase ini, termasuk kita. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk menemukan jati diri mereka. Selain itu, kita punya keluarga besar yang solid dan akan selalu membantu satu sama lain."


Zara memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh Ayahnya. Meskipun ia ingin memberikan kesempatan kepada Nevan untuk bersama Kakeknya, kekhawatirannya akan netralitas dalam tidur membuat Zara ragu untuk mengizinkannya. 


Namun, Zara juga merasa perlu untuk membangun kepercayaan dan memberikan kebebasan kepada Ayahnya  dalam menghabiskan waktu bersama Nevan.


"Sayang, aku ingin memberikan kesempatan kepada Nevan untuk menghabiskan waktu bersama Ayah Tama. Namun, aku merasa khawatir dengan kebiasaan tidurku yang kini menjadi agak terganggu. Apakah mungkin kamu bisa membantu atau memberikan saran mengenai cara agar aku bisa tidur nyenyak saat Nevan berada di Jakarta?" tanya Zara kepada suaminya  dengan nada mengharapkan pengertian.


Nathan  mengangguk, namun ekspresinya tampak penuh pemahaman. "Tentu, Sayang. Aku sepenuhnya mengerti kekhawatiranmu. Kita bisa mencari solusi bersama-sama. Misalnya, jika Nevan ingin bersama ayah  di Jakarta, kita bisa mencoba mengatur beberapa kebiasaan tidur yang lebih aman bagi kita berdua. Atau, jika kamu merasa perlu, aku bisa mengajak Nevan pergi hanya saat hari-hari non-kerja atau saat kamu merasa lebih rileks dan siap tidur."


Zara tersenyum lega mendengar saran suaminya. Ia merasa lebih tenang dengan kemungkinan solusi yang ditawarkan olehnya. "Terima kasih, Sayang. Aku yakin kita akan menemukan cara yang cocok untuk keluarga kita."


Liburan ini Nevan akan di jemput oleh Tama untuk liburan di Jakarta, awal Zara dan Nessa ingin ikut, tapi melihat kondisi mama Dania yang sakit-sakitan membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


"Jadi bagaimana?" tanya Nathan. 


"Bagaimana kalau Mas antar saja ke Jakarta, karena kasihan kalau Ayah pulang pergi," ujar Zara.


"Biar sama opa saja, karena kebetulan ada kerjasama dengan perusahaan di Surabaya," sahut Albert.


"Papa yakin, aku takut kalau Nevan mengganggu kerja Papa nanti," ucap Zara.


Albert tersenyum, ia paham akan kekhawatiran menantunya karena pria itu yakin apa yang dirasakan Zara karena baru kali ini akan jauh dari putranya.

__ADS_1


***


Pagi ini Albert berangkat dengan. Nevan, anak itu begitu semangat akan pergi bertemu dengan kakeknya.


Sedangkan Zara yang mengantarkan ke Bandara rasanya sesak di dadanya.


Nathan mengusap bahu istrinya, ada hal hanya tiga Minggu putranya di Jakarta. Baru beberapa menit saja wanita itu sudah rasa khawatir.


 suasana Bandara begitu ramai. Nevan , anak usia lima  tahun yang bersemangat, menarik koper merahnya dengan satu tangan dan menggenggam tangan opanya, Nevan, dengan tangan lainnya. Bagaimana tidak antusias? Ini adalah kali pertama ia akan pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan kakeknya


Zara, ibu Nevan  yang cantik, berdiri beberapa langkah di belakang suaminya, Nathan. Wajahnya terlihat bingung saat ia meremas sudut gaun merelakannya. Sebagai ibu, ia berusaha keras untuk tersenyum bahagia bagi putranya yang akan menjalani petualangan baru, tapi lidah tak kuasa menelan seluruh kerisauan hati.


"Sudahlah, Sayang." Suara yang lembut milik Nathan terdengar di telinga Zara, senyuman hangat dibingkai hulu janggutnya. "Ini hanya tiga minggu. Albert akan baik-baik saja."


Sejak awal Nathan yang menenangkan Zara, berulangkali Nathan menganggap kekhawatiran yang Zara ungkapkan berlebihan. Hasilnya, Nathan yang menghabiskan banyak waktu membereskan perlengkapan putranya sebelum memutuskan hanya-liburan-tiga-minggu itu.


Di dalam hati, Zara ingin percaya pada janji suaminya. Tetapi asal usul kakek Nevan yang cenderung tertutup tidak bisa menghilangkan rasa gugup yang tetap bergejolak di leher Zara. 


Ah, menjadi seorang ibu tidak pernah mudah, tentu saja. Mereka lupa memberikan panduan tentang bagaimana harus lega setiap kali sang anak akan pergi jauh.


"Selamat pagi, Tuan  Nathan" suara riang dengan nada tinggi dari seorang pria menabrak sudut pandang mereka. Erlan  adik Nathan, dengan cepat berjalan merangsek dari antara hiruk pikuk calon penumpang.


"Zara, Nathan," Erlan berbicara sambil membenamkan tangan dalam saku jas kerja berwarna abu-abu. "Gimana nih? Siap mengantar si kecil bertamasya?"


Keluarga tersebut tersenyum pada comment Erlan  yang mencoba meredakan tegangan. Nevan tersenyum dengan antusias, lalu mengangkat kipas ke bagian belakang, berbicara, "Om, kamu tahu aku harus pergi?"


Begitu Nevan  menyelesaikan pertanyaan itu, Nathan dan Zara merasa wajah mereka merah baru saat mereka merasa muda amat mengejek Zara. Erlan, dengan cara yang baik hati mencoba memberi semangat  semua, mengedipkan mata dan mengangkat bahu dengan pasrah.


"Ha! Tidak apa-apa, Sayang . Anak-anak penuh kontradiksi. Kamu pasti akan merindukan rumah sekaligus bersenang-senang. Aku pastikan mereka baik saja disana. Percayalah pada.Om  yang hebat ini!"


Keterangan Erlan  berhasil melukis senyum khilaf pada wajah dengan senyuman singkat.


Erlan  menyaksikan Nathan dan Zara yang mencoba untuk merasa lebih baik dengan keputusan mereka. Ia berbicara, "Dengarlah, gegap gempita merayakan Ulang Tahun kakek  yang ke-55 nantinya benar-benar akan mengejutkan. Semua kerabat akan hadir. Anak-anak senang sehingga bisa berkumpul dan bermain bersama."


Zara menarik napas panjang, mencoba untuk mengurangi kecemasannya. "Baiklah," katanya pelan, memberikan senyum cemas pada Erlan, "Terima kasih sudah menguatkan kami."


Waktu berharga telah tiba, penerbangan itu segera diberangkatkan.Nevan  telah mencium pipi ibunya sambil berjanji akan mengirim foto dan pesan setiap hari sebelum pergi dengan kakeknya. 


Zara mendekap putranya erat-erat dalam pelukan, mencoba menahan air mata yang mengancam akan jatuh.


"Saran terbaik yang pernah saya terima tentang menjadi orang tua adalah ini," kata Erlan sebelum mereka berpisah.


"Jangan terlalu khawatir tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya terjadi. Tidak ada aturan yang pasti, kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan situasi."


Zara menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Erlan," katanya lirih. 


"Kamu merupakan saudara yang baik." Nathan menepuk bahu adiknya itu.


Dalam perjalanannya ke Jakarta, Nevan  tidak henti-hentinya bercerita tentang rencana besar yang ia buat dengan kakeknya. Nevan, yang selalu sabar, mencoba menjelaskan urutan perancangan perencanaan liburan ini yang penuh misteri. 


Adanya seorang kenalan baru membantu mengkoordinasikan acara tersebut dan tidak lama lagi, keluarga mereka akan tiba di rumah  kakek yang luas dengan pohon-pohon yang rimbun di sekitarnya.


Tidak diragukan lagi, selama tiga minggu, rumah ini akan dipenuhi dengan tawa dan kenangan indah. Sebuah perayaan kelahiran yang tak terlupakan untuk sang kakek yang kini berusia 55 tahun.


Sementara itu, di kota Nevan meninggalkan Zara, pipi wanita itu dibanjiri air mata ketika mereka kembali ke rumah dalam hantaman hujan deras. Nathan mengambil tas istrinya yang kosong dan berbicara dengan suara yang patah, "Semoga Nevan mencapai Jakarta dengan selamat."


Zara mencoba menjawab dengan penuh keyakinan, "Iya, Sayang. Jangan khawatir. Tiga minggu akan berlalu dengan cepat."


Begitulah awal dari tiga minggu yang menegangkan dan mengasyikkan dalam hidup Nevan. Selama masa itu, dia menjelajahi Jakarta, berkenalan dengan keluarga besar yang belum pernah ia temui sebelumnya, dan merayakan ultah sang kakek.


Meskipun tidak mengerti mengapa, sebagai tuan rumah pesta ulang tahun kakek, Nevan merasa tanggung jawab besar ada di bahu kakeknya. Pria tua  mau tidak mau menjalankan peran itu dengan semangat dan berusaha keras agar setiap rencana berjalan dengan lancar.


Kebetulan," kata Nevan, seorang saudara jauh yang baru dikenal. "Karena Ayah (kakek) berulang tahun yang ke-55, kita berencana mengadakan perayaan dengan seluruh keluarga besar. Ia sangat menantikan kedatangan cucunya yang satu ini." Erlan menepuk lengan Nevan dan tersenyum.


Malam harinya, semua kerabat berkumpul di aula besar rumah sang kakek. Dekorasi yang indah dan penuh warna menghiasi dinding dan langit-langit tempat yang biasanya digunakan untuk acara-adat istiadat keluarga. 


Di tengah-tengah ruangan, terdapat meja panjang yang berkarir dengan berbagai macam masakan khas Jakarta, mulai dari sate, gado-gado, hingga nasi uduk.


Perayaan ulang tahun diawali dengan sambutan dari sang kakek yang bijaksana, ucapan selamat dan doa dari kepala keluarga, serta pemberian kado dan penghargaan. Tak lupa, hiburan musik, tarian dan permainan tradisional yang melibatkan seluruh anggota keluarga.


Di antara keramaian pesta tersebut, Nevan mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal sosok kakeknya yang ia kagumi. Kakeknya rupanya adalah seorang pengusaha yang telah banyak mengabdi pada perusahaan, memiliki kebijaksanaan yang terbentuk dari pengalaman yang keras dan penuh tantangan.


Bahkan di tengah-tengah perayaan, kakek membagi cerita perjuangannya pada masa mudanya. Kakek Tama mengisahkan tentang bagaimana ia berhasil mengatasi berbagai rintangan di masa itu, menjelaskan betapa pentingnya persatuan dan solidaritas dalam menghadapi musuh.


Nevan begitu antusiasnya mendengar cerita kakaknya. Anak itu memilih tidur di tempat kamar mamanya.


Nevan sedang bermain, hingga melihat Kakak Tama dan Albert sedang mengobrol.


Anak lima tahun itu kembali lagi main, sedangkan Tama dan Albert sedang mengobrol ringan.


"Aku yakin Zara di sana sedang tidak enak tidur karena anaknya kamu bawa , Albert," kata Tama.


Albert hanya tersenyum, Zara itu mirip seperti istrinya, Dania. Selalu was-was walaupun Nathan sudah besar.


Setelah tiga Minggu, Akhirnya Tama ikut mengantarkan cucunya untuk kembali.


Tak lama kemudian, diiringi gerimis yang semakin deras, Tama melihat Zara beranjak dari kursi teras sambil menggembok pintu. ia terengah-engah berlari menuju arah ayahnya.  Zara terlihat cemas.


"Ayah, yang tadi itu Nathan masih di sini? Aku sudah beberapa jam nggak bisa tidur, takut kalau kalian datang dan tidak keliatan ada taman sama Nevan," tanya Zara dengan gelisah.


"Iya, dia masih di sini, bersama Nevan," jawab Tama sambil tersenyum.

__ADS_1


Zara menghela napas dan tersenyum lega. Beban di hatinya terangkat. Sambil mengendalikan nafas yang terengah, ia benahi jilbab yang dan duduk di sebelah Alber yang sedari tadi masih terpekur dengan wajah kebimbangannya. Zara menepuk-nepuk pundak Albert dengan lembut.


"Thanks ya Pa, kukira papa  lagi ngobrol sama ayah Tama dan nggak ngeliatin Nathan sama Nevan lagi. Aku enggak bisa tidur soalnya, khawatir mereka keluyuran ke taman," kata Zara sambil tersenyum kikuk.


"Tenang aja, Zara. Aku  dan Ayahmu sudah banyak ngalamin panik seperti kamu, dulu pas Nathan baru usia seperti Nevan sekarang," sahut Albert dengan nada datar.


Sementara itu, Nathan dan Nevan semakin lelap tidur di atas karpet Hujan perlahan-lahan semakin deras. Tak ada angin yang menusuk sampai ke dalam, baik daripada batang-batang pohon yang melindunginya.


"Maka dari itu Zara  aku ke sini mau ngerumpi sama ayahmu," lanjut Albert, mulai menghentak-hentakkan lututnya, seolah kehilangan kejernihan pikiran. Beberapa detik kemudian, Albert beranjak menuju pintu dengan tergesa-gesa.


Kedua adik-beradik Nathan  dan  Erlan , yang tak pernah lepas dari bayangan Dania, selalu mengingatkan Zara untuk tidak terlalu khawatir akan Nevannya. 


Albert pun ingin Nathan mandiri, tumbuh menjadi anak yang kuat dan tak bergantung pada orang lain ketika sudah besar nanti.


Sore pun gelap dan hujan semakin deras. Nevan terbangun mendengar gemuruh guntur di langit yang menggelegar. ia terbelalak menatap langit yang mendung tebal. Lidah api yang diikuti lombok gemuruh memecahkan langit yang tinggi. Nevan terkesiap dan berlari menemui Kakak Tama dan Mama Zara yang terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah Nevan  yang kosong menjerit-jerit di dalam hujan.


"Guntur itu apa, Mam?" tanya Nevan.


Zara tersenyum gemas. "Itu cahaya yang menyala terang di langit saat hujan, Dear. Biasanya diiringi suara dentuman keras," je.


Sementara itu, di kursi seberang, Tama mengamati Albert.


Sementara itu, di kursi seberang, Tama mengamati Albert yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Albert terlihat cemas, terbayang di wajahnya. 


Ia merenung ke luar jendela, melihat hujan yang semakin lebat. Tiraikan air menjatuhnya membuat air mata Dania dan bayangan-bayangan yang menyertainya muncul lebih jelas di kepala Albert. Seolah-olah Dania ada di hadapannya, menawari pertanyaan yang entah bagaimana harus ia jawab.


Tama pun mulai berbicara, dengan nada yang penuh kasih sayang dan penuh pengertian. "Albert, kita semua mengerti mengapa kamu merasa begitu kesusahan dan khawatir terhadap Nathan. Dania selalu menjadi seorang ibu yang luar biasa, yang selalu mengurus setiap detail kehidupan mereka. Tapi sekarang ia sudah tidak lagi di sini, kita semua harus belajar. Belajar untuk menjadi lebih kuat dan mandiri, tak terkecuali Nevan."


"Mungkin benar kita perlu lebih sering memberikan kelonggaran kepada anak-anak untuk belajar sendiri, dan menemui dunia di luar sana. Tapi, tentu saja, kita akan selalu berada di sini untuk mendukung, meninggalkan mereka bebas,  tapi  selalu hadir ketika mereka memerlukan," tambah Tama, meraih tangan Albert yang sedikit gemetar.


Albert mengangguk, tersenyum pada Tama. "Terima kasih, Besan. Aku tahu kita bisa melewati ini bersama. Aku akan berusaha mengajar Nathan dan diriku sendiri agar lebih berani menjalani kehidupan tanpa Dania. Aku yakin, itu juga yang diinginkan oleh Dania, bukan?"


Tama mengangguk, mengusap pipi Albert yang basah oleh hujan dan air mata. "Dania pasti bangga melihat kita semua berjuang dan mendukung satu sama lain seperti ini, ia akan selalu ada dalam hati kita."


Nevan yang masih penasaran dengan guntur pun bergabung dalam pembicaraan. "Guntur itu kok bisa ada ya, Opa? Emang kenapa, sih?" tanyanya dengan polos.


Zara sempat merapikan roknya yang basah oleh hujan sebelum menjelaskan, "Sebenarnya guntur itu bunyi yang dihasilkan saat ada perbedaan panas dan dingin di atmosfer. Ketika kilat menyambar, udara sekitarnya dipanaskan dengan cepat hingga menyebabkan perbedaan suhu yang ekstrim. Nah, suara keras yang kamu dengar, itu sebenarnya suara udara yang mengembang dan kemudian beradu satu sama lain."


Nevan menganga, decak kagum mendengar penjelasan Zara. "Wah, Mama  pintar banget! Aku pengen jadi kayak Mama."


Mereka semua tertawa, wajah-wajah yang basah hujan menjadi lebih ceria. Hujan semakin reda, memberi kesempatan bagi mereka untuk berlindung di dalam rumah bersama Nathan yang masih tidur. 


Sore hari yang berdekatan dengan senja itu menjadi saksi bagaimana pertemuan mereka mengingatkan satu sama lain tentang kekuatan persaudaraan dan kebersamaan


Dalam menghadapi kesedihan dan kehilangan, serta pentingnya mendukung dan melindungi anak-anak di tengah situasi baru. Masing-masing dari mereka sadar akan tanggung jawab yang mereka miliki, sebagai orang tua dan paman atau bibi dari anak-anak yang mereka sayangi.


Senja pun tiba, langit yang awalnya mendung mulai memudar kemerah-merahan, menandakan bahwa hujan telah berhenti dan memulai babak baru bagi keluarga mereka. Tama mengajak Albert, Zara, Nevan, dan Nathan yang sudah terbangun untuk makan malam bersama di ruang makan. Selama makan, mereka saling berbagi cerita tentang hari ini dan harapan untuk hari esok.


Nathan, yang duduk di sebelah Nevan, menceritakan pengalamannya bermain di taman meskipun kelaparan dan sedikit takut dengan guntur. Nevan dengan semangat menceritakan kembali penjelasan Zara tentang guntur, seolah ia telah menemukan ilmu baru yang menarik untuk dibagikan. Semua orang di meja tertawa, terpukau oleh kepolosan dan keceriaan anak-anak itu.


Sementara itu, para orang tua merasa lega melihat dua anak kecil itu begitu bahagia di tengah situasi yang sulit. 


Zara kemudian mencoba membuka percakapan tentang masa depan mereka bersama sebagai keluarga. "Jadi, bagaimana kalau kita mulai rutin melakukan pertemuan keluarga seperti ini, untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan kita bisa berbagi dukungan adalah satu sama lain?" usul Zara dengan harap.


Albert dan Tama mengangguk setuju. "Itu ide yang bagus, Zara. Anak-anak juga pasti akan lebih mudah beradaptasi jika mereka melihat kita bekerja sama seperti ini," sahut Tama dengan senyum.


Setelah selesai makan malam, mereka membersihkan meja bersama, mengecek kedua anak yang sudah mulai mengantuk. Mereka kemudian memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dengan menonton film keluarga bersama di ruang tengah. 


Dikelilingi oleh cahaya lampu yang lembut dan aroma kopi yang hangat, mereka dapat merasakan satu sama lain begitu dekat, terlepas dari luka di dalam hati mereka.


Seperti biasa, waktu terus berjalan, malam pun semakin larut. Nevan dan Nessa sudah jatuh tertidur di pangkuan Zara, sementara Tama dengan tenang menyelimuti mereka dengan selimut yang hangat.


 Mereka takut, cemas, namun pada saat yang sama merasa bersyukur telah melewati hari ini dengan upaya keras, komunikasi yang terbuka, dan saling percaya.


Mereka sadar bahwa hari esok mungkin akan menghadirkan tantangan yang lebih berat, tetapi percaya bahwa akan menjadi lebih kuat sebagai keluarga jika tetap bersama-sama. 


Setiap langkah yang Nathan  ambil dalam proses pemulihan, bagaimanapun besarnya rasa sakit dan ketakutan yang mereka rasakan, akan menjadi landasan yang kokoh untuk menghadapi masa depan yang masih samar.


Menatap malam yang cenderung hening dan kedamaian yang menyelimuti mansion setelah selesai menonton film, perasaan sejuk dan hangat bercampur menjadi satu. Nathan memandang keluar jendela, menghela napas seolah ingin menciptakan rasa syukur dan harapan yang lebih dalam lagi.


"Aku tahu semuanya tidak akan sama seperti sebelumnya. Tapi, dengan kita bersama, aku yakin kita semua akan bisa menjalaninya," ucap Nathan dengan lirih.


Albert mengangguk, menatap putranya yang duduk di sampingnya, "Kita akan menjadi pilar kuat untuk anak-anak ini. Mereka akan tumbuh dalam cinta kasih kita yang tak mengenal batas."


Zara mengelus rambut Nevan yang lembut, "Mari kita janjikan pada diri kita sendiri, untuk selalu ada satu sama lain ketika kita melewati badai, dan untuk merayakan saat kita menemukan pelangi setelah hujan."


Erlan  yang duduk berdampingan, menjelma menjadi satu tim dengan perasaan yang sama dan saling menguatkan.


 Malam itu, mereka merasa ada harapan yang muncul kembali ke permukaan, menghibur hati yang gundah. Seperti bintang yang bersinar di langit malam, harapan tersebut memberikan mereka kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup.


"Ayah ,.papa Albert, mari kita selalu mengingat kata-kata kita ini dan terus berusaha menjadi lebih baik untuk anak-anak ini, demi masa depan yang cerah untuk mereka," ujar Zara sembari menatap mereka lembut.


Mereka mengangguk seolah meneguhkan janji tersebut, dan Tama menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah melupakan kata-kata ini. Bersama-sama, mereka akan menghadapi segala rintangan yang muncul dan mengatasi kesedihan yang terpendam, demi anak-anak yang tak tahu apa-apa, Nathan dan Nevan, serta Dania yang selalu merasuki setiap jengkal ruang hati mereka.


Malam itu berlalu dan esok berganti. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan yang dicapai mungkin masih akan menghadapi berbagai cobaan,.Tapi  kebersamaan dan saling percaya akan menjadi jembatan yang menghubungkan harapan ke masa depan yang lebih baik.


perlahan waktu, harapan menjadi lebih lurus dan kuat, menyala terang di jalan yang mungkin berliku-liku. Tetap terhubung oleh ikatan kekeluargaan, saling menguatkan satu sama lain, mereka percaya bahwa suatu saat, awan mendung yang sempat menutupi sinar harapan akan menghilang dan jalan yang sulit menjadi lebih terbuka dan cerah.


Bagi Nathan yang penting keluarnya baik-baik saja, pria itu tersenyum menatap Zara dan salah satu matanya mengedipkan mata.


Zara hanya menggelengkan kepalanya dan segera memalingkan wajahnya karena si seperti kepiting rebus atas apa yang dilakukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2