
Zara menelan saliva, gugup sebelum membuka mulutnya, "Namanya Diego, tapi aku yakin salah." Suaranya penuh dengan amarah dan kesedihan. Berbaur dengan rasa kehilangan.
"Diego apa kamu yakin?" tanya Nathan, mencoba merangkul Zara yang terlihat pucat. Zara mengangguk.
"Ya, dulu kita berdua sering bermain bersama. Saat itu, ia adalah sahabat terbaikku, orang yang selalu mengayomi. Tapi setelah aku keluar dari rumah untuk kuliah di sini, sikapnya mulai berubah, ia mulai dingin dan tidak lagi menganggapku. Aku bahkan tidak diizin berbicara dengannya setelah menikah," kata Zara dengan kesal.
Nathan menghela nafas, "Nah, sekarang salah ini selesai kita bisa santai, Sayang.”
Zara memandang Nathan dalam-dalam, lalu mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku merasa bingung, marah, dan sedih. Tapi apa boleh buat. Sekarang tanggung jawab kita mengungkap misteri di balik kelompok yang melibatkan Erlan ini."
Setelah meninggalkan bangunan yang tempati Zara dan Nathan Erlan Mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari Raka, rekan sejawat mereka. Pria itu segera mengirim pesan itu pada Nathan.
"Zara, Raka merasa dia telah menemukan petunjuk penting terkait keberadaan seseorang. ia meminta kita untuk bertemu dengannya di gudang tua yang berada di pinggiran kota," kata Nathan memberitahu Zara.
Tanpa menunggu lebih lama, Zara dan Nathan mencari alamat gudang tersebut. Perlahan petang bergulir, mentari yang selama ini bersinar terik mulai menurun dan langit mulai berwarna merah jingga.
Sesampai di gudang tua, mereka menemukan Raka sudah menunggu sambil memelototi peta yang dibuka di atas meja.
"Halo, kawan. Apa kabar?" sapa Nathan begitu melihat Raka.
Raka tersenyum sejenak, kemudian berkata, "Ayo, kita mulai. Saya sudah menemukan banyak informasi penting yang perlu kita diskusikan."
Ketiganya mulai menyibak tabir misteri melalui bukti-bukti yang telah Raka kumpulkan. Diselimuti rasa cemas, mereka mencoba menyatukannya untuk menemukan lokasi yang tepat.
"Ternyata, pusat operasi dari kelompok ini berada di bawah tanah," kata Raka dengan tegas.
"Mereka membangun terowongan rahasia, dari beberapa titik yang tersebar di seluruh kota ini. Awalnya saya sulit untuk melacaknya, tapi setelah mendapatkan beberapa bukti dan rekaman video, akhirnya saya bisa tahu lembar teka-teki yang membentuk jaringan ini. Semuanya memuncak di satu tempat yang tampaknya adalah inti dari seluruh kegiatan mereka. Dan ya, itu berada tepat di bawah tanah." Raka melipat peta itu menjadi dua.
Nathan dan Zara mencerna informasi yang baru saja diberikan oleh Raka. Mereka menyadari betapa rumitnya misi yang mereka jalani, tetapi tekad mereka untuk menghancurkan organisasi akhir dari Pasada ini lebih besar.
Nathan menoleh pada Zara yang tampak termenung. "Ya. Pasti. Kita harus mulai menyusun rencana."
Zara menatap Raka dan Nathan dengan mata berkobar. Sambil memusatkan perhatian pada peta yang diberikan oleh Raka serta mengkaji bukti-bukti lain yang ia kumpulkan, mereka menyusun strategi pembongkaran.
Zara tahu keberhasilan misi ini akan menentukan nasib dan keamanan keluarganya. Meski suasana pelik, Raka berusaha melonggarkan kekakuan dengan bercanda ringan. "Bisa dibayangkan apa yang akan kita temukan di sana. Monster dengan kepala dua atau mungkin mutan?"
Namun, Nathan dan Zara sama sekali tidak tertawa. Berbekal hasrat yang sama, mereka terus menyusun strategi; mencari jalan terbaik dan menghindari risiko sebisa mungkin.
Beberapa hari kemudian, ketiganya – bersama pasukan khusus lainnya – mulai melaksanakan rencana yang telah mereka susun. Dalam sebuah operasi yang dirahasiakan, mereka menyelinap masuk ke terowongan bawah tanah yang telah diidentifikasi Raka.
Sesuai prosedur, pasukan dipisah menjadi beberapa tim; masing-masing membawa peralatan canggih dan senjata mereka.
Raka memimpin tim A, sementara Nathan bertanggung jawab atas tim B. Tim C, dipimpin oleh Erlan, memiliki fokus untuk menyusup memasuki pusat komando. Ada pula tim D dan E yang menjaga lokasi strategis dan melindungi pasukan lainnya respektif. Sedangkan Zara bagian memantau dengan laptopnya yang sudah terhubung langsung dengan CCTV di lorong bawah tanah.
Lingkungan terowongan bawah tanah tampak menyeramkan; begitu gelap dan basah. Hampir tak ada penghuni, kecuali tikus yang melintas di antara terowongan serta serangga yang unik dan mencolok. Tidak ada yang mau berada di situ. Namun, mereka terus berjuang untuk mencapai tujuan; meretas kegelapan dan menghancurkan kejahatan.
Misi ini berlangsung selama beberapa hari tanpa keberhasilan yang terukur. Namun, Zara dan rekan-rekannya tak gentar; semakin erat pengikat adrenalin mereka.
Pada suatu malam, ketika Nathan dan tim B menjelajahi salah satu terowongan yang tampaknya baru ditemukan, tiba-tiba terjadi ledakan kecil dari lorong di sebelah samping. Ketegangan semakin naik. Tanpa pikir panjang, mereka bergegas melihat sumber ledakan itu.
Zara yang mengawasi dari laptop segera memberi kabar bahwa ada longsor dan semua time harus segera naik.
Tiga puluh menit kemudian mereka semua sudah berada di titik temu. Zara menjelaskan tanda-tanda. Benar saja sepuluh menit kemudian semua terowongan itu rata tertutup tanah.
"Apa artinya ini?" tanya Nathan.
"Kita pulang dan lupakan misi ini," ujar Raka.
Mendengar itu Nathan menyugar rambutnya. Pria itu segera menuju mobil diikuti oleh Zara dan Erlan. Sedangkan Raka dengan tim lainnya memilih pergi lebih dulu.
Mobil yang dikemudikan oleh Nathan melaju dengan kecepatan tinggi, sekarang sudah pukul tiga dini hari.
Setelah satu jam lebih mobil sampai di depan mansion. Zara dan yang lainnya segera turun.
“Kita langsung istirahat saja, jangan sampai mereka bangun karena kedatangan kita,” ujar Zara.
Erlan hanya mengacungkan jarinya setelah itu pergi kamar. Begitu juga dengan Zara dan Nathan.
Keduanya segera membersihkan tubuhnya, setelah itu mengistirahatkan tubuh.
Keduanya baru kali ini merasa tenang setelah kejadian menegangkan.
Nathan setidaknya lega karena adiknya bukan lagi seorang pembunuh bayaran lagi.
Merasa begitu lelah, tidak menunggu lama keduanya terlelap.
****
Pagi harinya di Zara meregangkan otot di tubuhnya, wanita itu mengerutkan keningnya karena biasa ia bangun suaminya masih berbaring di sisinya.
Zara melihat ke arah nakas. Matanya seketika membulat melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa kesiangan." Zara segera turun dari ranjang dan masuk kamar mandi.
Setelah lima belas menit Zara sudah selesai. Wanita itu memakai kaos lengan pendek dan rok plisket warna putih. Dipadukan dengan cardigan dan jilbab warna senada dengan roknya.
Jika diperhatikan wanita itu seperti masih anak gadis. Walaupun belum lama melahirkan bentuk tubuh Zara tidak berubah masih ramping, hanya saja lebih berisi dari sebelumnya.
Zara menuruni tangga, saat melihat si ruang keluarga semua sedang duduk santai sambil mengobrol.
__ADS_1
Wajah Zara sudah memerah karena ia bangun kesiangan. Wanita itu malu pada kedua mertuanya.
Tama melihat putrinya yang wajahnya bersemu merah terkekeh."Anak gadis kok bangun siang."
"Ayah," rengek Zara membuat Nathan langsung memeluk sang istri yang duduk di sampingnya.
"Mas sengaja ngak bangunkan karena kamu pasti lelah," ujar Nathan dengan mengusap rambut istrinya.
"Tapi aku malu kesiangan," cicit Zara lirih.
Nathan yang sudah tidak tahan dengan manjanya istrinya, pria itu langsung mencium pipi Zara gemas.
"Woe ingat yang jomblo!" seru Elan yang baru saja ikut bergabung.
Nathan menatap jengah kembarannya itu.
Albert hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu. Pria itu menatap Erlan dan bertanya," Jadi, apa sudah kamu pikirkan ingin bergabung dengan perusahaan Nathan atau Papa,Nak?"
"Belum tahu, Pa. Jujur aku tidak ada basic di perusahaan," aku Erlan.
"Erlan, yang penting kamu mau belajar dan beradaptasi. Lagipula, kamu punya talenta di bidang analisa, hal itu akan membantu kamu," sahut Dania, Ibu Nathan dan Erlan yang dahulu bekerja sebagai akademisi.
"Betul, Erlan. mama juga dulu awalnya bingung di dunia bisnis, tapi sekarang Mama sudah terbiasa, bukan?" tanya Nathan ingin menunjukkan Mamanya sebagai contoh baik.
"Betul," jawab Dania.
"Erlan, kalian berdua harus bekerja keras dan jangan takut untuk mencoba hal baru," ujar Tama
Sejenak, Zara pun angkat bicara, "Erlan, kamu bisa mencoba bergabung dengan perusahaan Mas Nathan lebih dulu, jika ternyata kamu merasa lebih tertarik pada perusahaan Papa, kamu bisa pindah kok."
Erlan menoleh ke arah Zara, kemudian kembali melihat Papa dan Nathan, "Terima kasih, semuanya. Aku akan pikirkan saran kalian."
Sepekan berlalu, Erlan memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan tempat Nathan.
Ia mulai menjalani masa adaptasi dan pelatihan di berbagai divisi untuk mengenal lebih dalam tentang perusahaan tersebut.
Sementara itu, Zara juga mulai bekerja di bagian keuangan perusahaan milik mertuanya,semua itu atas permintaan Albert karena perusahaannya mengalami kecurangan.
Hari demi hari berlalu, mereka semua semakin sibuk dengan pekerjaan mereka. Suatu siang, Nathan mendapatkan sebuah pesan dari Papa Albert, mengajaknya untuk mampir ke kantornya.
Nathan merasa penasaran dan segera menuju ke kantornya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Di kantor Papa Albert, terdapat sebuah informasi penting mengenai ekspansi perusahaan yang berpotensi menggusur beberapa rumah di area yang akan dibangun apartemen dan tempat hiburan.
Nathan merasa tidak tega dan segera membicarakan hal ini dengan Papa Albert.
"Anakku, kamu memang benar. Tetapi seringkali bisnis memerlukan pengorbanan," sahut Papa Albert sedikit berat hati.
Di sisi lain, Erlan yang mengetahui temuannya ini menjadi gelisah.
Diam-diam, ia mulai menyelidiki proyek ekpansi perusahaan Nathan di balik layar.
Ia bertekad menemukan jawaban atas pertanyaannya. Erlan pun meminta bantuan Raka untuk membantu penyelidikan tersebut.
Hari demi hari, informasi demi informasi terkumpul dalam buku catatan Erlan. Perasaanku bercampur aduk, marah, sedih, dan rasa tidak tahu harus berbuat apa.
Erlan tidak ingin mengecewakan keluarganya, tapi ia juga tidak ingin menjadi bagian dari perusahaan yang membawa pengaruh buruk bagi kehidupan sekitarnya.
Suatu malam, saat mereka berkumpul di rumah Albert, Nathan melihat Erlan termenung dengan buku catatan di tangannya.
"Erlan, ada apa? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kita?" tanya Nathan penasaran.
Erlan menatap saudara kembarnya dalam dan penuh kebimbangan.
Nathan merasa ada sesuatu yang amat penting terkandung dalam tatapan itu.
Zara dan orang tua mereka pun merasa ada yang ganjil dan semuanya mulai menatap Erlan dengan perasaan yang sama.
Merasa tertekan, Erlan pun memutuskan untuk menceritakan apa yang telah ia temukan selama ini.
"Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui tentang perusahaan Nathan dan perusahaan Papa," kata Erlan dengan suara yang bergetar.
"Tentang ekspansi perusahaan yang berpotensi mengorbankan kehidupan area di daerah yang akan dibangun apartemen dan hiburan malam, ini..."
Erlan menelan ludah sebelum melanjutkan, "Selama beberapa minggu terakhir, aku melakukan penyelidikan tentang proyek ekspansi perusahaan dan bagaimana dampaknya terhadap daerah sekitarnya. Permintaan pasar yang tinggi mendorong kedua perusahaan untuk ekspansi lebih besar, tetapi sayangnya, metodenya yang cepat tanpa memikirkan dampak lingkungan dan sosialnya."
Nathan mengerutkan dahi, Zara dan Dania saling berpandangan. Mereka bisa melihat betapa sedihnya Erlan.
Dania pun berkata lembut, "Anakku, menceritakan ini tentu sangat berat bagimu, tetapi kita harus bersama-sama mencari solusi. Bagaimana kamu bisa melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi yang begitu rinci?"
Erlan menceritakan semua hal yang telah ia lakukan, mulai dari menyelinap ke kantor klarifikasi proyek ekspansi hingga menghubungi aktivis lokal yang juga menyoroti persoalan yang sama.
"Aku bahkan sempat menemui beberapa warga yang akan terkena imbas proyek ini. Mereka hidup dalam kekhawatiran dan ketidakpastian."
Mendengar hal ini membuat Nathan marah, "Kita tidak boleh membiarkan perusahaan yang kita bangun bersama menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain. Kita harus mencari cara untuk menyeimbangkan pertumbuhan perusahaan dan kesejahteraan sekitarnya, aku akan me meminta Jhon untuk menyelidiki hal ini."
Mereka berdiskusi panjang lebar mengenai berbagai aspek situasi ini dan mencari cara terbaik untuk menyikapi persoalan tersebut.
Demi kesejahteraan semua, Nathan akhirnya memutuskan untuk merubah strategi dan pendekatan ekspansi perusahaan. Mereka melakukan berbagai inovasi dan mengadopsi praktik-praktik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, perusahaan mulai berkolaborasi dengan komunitas dan warga lokal untuk menciptakan kemandirian mereka dan mengurangi dampak buruk.
__ADS_1
Erlan, yang semula ragu, kini merasa bangga bahwa keluarganya bisa mengambil keputusan yang etis dan memperjuangkan keselamatan bersama.
Ia pun semakin aktif dalam proses restrukturisasi perusahaan tersebut, menggabungkan pengetahuannya dalam analisis.
Seiring waktu, perusahaan keluarga ini semakin berkembang dan menjadi perusahaan yang dihormati karena komitmennya terhadap kehidupan yang lebih baik bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Erlan menjadi peran penting dalam mengubah kebijakan perusahaan dan memastikan bahwa keberlanjutan tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi bagian integral dalam prinsip bisnis mereka.
Berkat keberanian Erlan dalam mengekspresikan kepedulian dan penemuan pentingnya, keluarga ini berhasil membawa perusahaan mereka ke tingkat yang lebih tinggi dalam hal tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Meskipun jalan yang mereka tempuh cukup berliku, termasuk penolakan dari sejumlah pihak yang meragukan kebijakan baru mereka, keluarga ini tetap fokus dan gigih dalam upaya untuk mewujudkan visi perusahaan yang lebih baik.
Erlan sering kali menghabiskan waktu dengan warga lokal untuk memahami tantangan mereka yang unik, mempelajari cara-cara untuk meningkatkan produktivitas mereka sambil mempertahankan praktik yang lestari.
Ia bekerja sama dengan tim peneliti guna mengembangkan metode yang inovatif, seperti penggunaan teknologi irigasi hemat air dan pembenahan sistem pertanian organik.
Sementara itu, Nathan dan Zara fokus pada penerapan kebijakan ramah lingkungan dalam manajemen perusahaan mereka.
Keduanya mengadakan pelatihan berkala bagi pekerja mereka mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan bagaimana setiap individu memiliki peran penting dalam mencapai tujuan tersebut.
Papa Albert dan Mama Dania, yang sebelumnya merasa ragu terhadap perubahan yang diusulkan oleh Erlan, mulai mendukung sepenuhnya kebijakan baru ini seiring pertumbuhan perusahaan mereka.
Dania menyadari bahwa keberlanjutan bukanlah hambatan bagi pertumbuhan bisnis, melainkan justru menjadi kekuatan pendorong bagi perubahan positif.
Bahkan perusahaan mereka berhasil meningkatkan reputasi dan mendapatkan pengakuan serta sertifikasi internasional atas komitmennya pada keberlanjutan.
Keberhasilan ini, keluarga ini mendirikan sebuah yayasan untuk memberdayakan masyarakat sekitar, menyediakan bantuan teknis.
Kisah keluarga ini menjadi inspirasi bagi banyak perusahaan lain, yang mulai melihat potensi keberlanjutan dalam dunia bisnis.
Mereka berhasil membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, komunikasi yang baik, serta kerja sama yang erat antara keluarga dan para pemangku kepentingan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Nathan melihat hasil dari dua perusahaan kita?" tanya Albert.
"Ini luar biasa, anak-anak kita hebat." Dania mengusap air matanya melihat bagaimana keberhasilan Nathan dan Erlan.
"Erlan, Nathan, dan Zara terus berupaya untuk bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan yang muncul dan menciptakan ekosistem bisnis yang seimbang, dinamis, dan berkelanjutan. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang mereka pegang dan kepedulian mereka terhadap lingkungan serta masyarakat bukanlah hal yang sia-sia," ujar Albert.
"Kapan anak itu akan memikirkan jodohnya, apa tidak ingat umur," kelu Dania.
Albert tersenyum,.Erlan sedang fokus dengan perusahaan. Bahkan putranya itu sering lembur.
Pasangan yang tidak muda itu lagi, tersenyum melihat anak-anak sukses sesuai dengan keahlian masing-masing.
"Erlan pulang!"seru Pria itu langsung duduk di samping sang Mama.
"Capek," kata Dania melihat wajah lelah Erlan.
"Makanya ajak Carla menikah," sahut Nathan.
"Aku tidak ada hubungannya apa-apa dengan Carla," elaj Erlan.
"Tapi sering makan malam bersama, kulihat juga Carla sayang denganmu, Erlan." Zara menatap Iparnya dengan menaikkan alisnya.
Erlan hanya tersenyum mendengarkan gurauan saudaranya, namun hatinya gemetar menanggapi pertanyaan besar tentang masa depan.
Alkisah Carla adalah teman yang baik hati dan periang, kehadirannya selalu membawa ketenangan dalam hidup Erlan yang begitu padat.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas teman. Namun, tak lama kemudian denyut nadi Erlan berubah setiap kali ia menatap mata Carla.
Malam itu, setelah makan malam bersama keluarga, Erlan mengurung diri di kamarnya.
Ia mengambil beberapa foto lama di lemari dan melihat masa lalu yang indah bersama ibu Rose dan Carla.
Foto-foto itu mengingatkannya pada cinta tulus orangtuanya yang menerima dan mendoakan dirinya.
Erlan merasa berat bila harus jauh dengan Carla.
****
Keesokan harinya, Erlan berlari pagi bareng Nathan dan Dania.
Sembari menghembuskan napas, Dania bertanya, "Kenapa enggak ajak Carla saja, nanti sepulang jogging kita ke kantor Carla mengajaknya sarapan."
Erlan terdiam, ia memikirkan keberanian yang ia butuhkan untuk mengekspresikan perasaannya.
Setelah berpikir keras, Erlan mengangguk.
Mereka menyelesaikan kegiatan jogging mereka dan tiba di depan kantor tempat Carla bekerja.
Mereka menunggu di salah satu restoran di seberang kantor.
Erlan nerves melihat Carla keluar dari kantor, tapi ia segera menggandeng tangan gadis itu dan mengajaknya sarapan bersama.
Setelah pesanan mereka datang, Carla tersenyum pada kedua saudara Erlan. "Apa luka ini yang aneh?" canda Carla.
Dania dengan tegas menjawab, "Kami ingin mengajakmu makan bersama, agar Erlan bisa menyampaikan sesuatu."
Erlan meneguk ludahnya yang tiba-tiba menjadi kering, dan berkata, "Carla, aku ingin mengajakmu untuk dinner resmi apa kamu mau?"
__ADS_1