Secret Wedding

Secret Wedding
Dikelilingi pria dingin


__ADS_3

Zara langsung berhambur memeluk wanita yang tidak lain Meli.


"Kapan sampai?" 


"Lima belas menit yang lalu," jawab Meli dengan tersenyum.


Zara kini menatap suaminya, wanita itu tersenyum. Namun, Nathan masih dengan wajah datarnya. Hal itu membuat Zara mencibirkan bibirnya.


"Ayo aku antar ke kamarmu." Zara segera berjalan beriringan naik ke lantai dua hal itu membuat Meli menghentikan langkahnya.


Zara menoleh, ia menatap Meli yang masih di dekat tangga


"Ayo."


"Saya di kamar bawah saja," jawab Meli.


Mendengar itu Zara mengelengkan kepalanya, Meli bukan pelayan. Gadis itu adalah sahabatnya.


Wanita itu menarik tangan Meli, hingga gadis itu tidak bisa menolaknya lagi.


"Ini kamarmu," kata Zara.


"Kamarku di ujung itu." Tunjuk Zara pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamar Tuan di mana?" tanya Meli karena ia pikir pasangan itu masih tidur terpisah.


Zara tersenyum, kamar Tuanmu di ujung itu." Zara wajahnya sudah merona karena malu menjawab pertanyaan Meli.


Meli tersenyum, gadis itu mengedipkan matanya mengoda Nonanya itu.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah, oh iya mana Jhon. Aku tidak melihatnya?"


"Langsung ke hotel diantarkan Tuan Diego."


Zara mengelengkan kepalanya, kenapa asisten itu memilih ke hotel?


Zara segera keluar karena tidak ingin mengganggu sahabatnya untuk istirahat. Wanita itu segera keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.


Dilihatnya suaminya sedang mengobrol dengan Diego dan Jhon.


Jhon menunduk hormat, hal itu hanya disambut dengan senyuman dari Zara.


"Jhon untuk sementara kita urus perusahaan Ayah, di bantu Diego juga." Nathan yakin dengan lengsernya mertuanya para pemegang saham tidak akan setuju jika Diego Michiels mengambil alih.


Sesuai kesepakatan dengan sang istri dan orang kepercayaan dari Tama. Nathan akan langsung turun menggantikan mertuanya.


Perusahaan di Turki di handle papanya, dipastikan Maryam akan di depak oleh CEO baru. 

__ADS_1


Setelah selesai mengobrol, waktunya makan malam. Meli  yang sudah bangun membantu pelayan dan Zara menyiapkan makan malam.


Jhon menatap Meli yang sedang sibuk menyusun lauk di atas meja.


Wanita itu menatap menu kata Zara makanan khas Indonesia. Wanita itu yang penasaran akan rasanya ingin ikut makan bersama pelayan di belakang, tapi Zara melarangnya.


"Meli kita makan di sini kamu itu sahabatku, mulai besok akan membantuku mengurus butik Bunda."


"Saya mana bisa, Nona."


"Bisa, kamu harus yakin, aku tahu kamu suka mendesain gaun."


Mendengar itu Meli hanya diam, apa lagi Jhon sesekali meliriknya membuat gadis itu kesal.


Pasalnya waktu di bandara, pria itu sama sekali tidak mau membantu membawakan kopernya karena hanya ditugaskan oleh Tuannya mengantarkan saja.


Meli saat keluar dari bandara menunggu jemputan, ia harus menarik koper besarnya sendiri.


Apa lagi wanita itu jijik saat melihat para kaum hawa menatap Jhon dengan tatapan mendamba. 


Andai para kaum hawa itu tahu,  bagaimana menyebalkan pria itu pasti enggan untuk menatapnya.


Belum sampai di situ rasa kesal Meli, saat orang kepercayaannya Zara menjemput. 

__ADS_1


Jhon tidak ingin membantunya memasukkan koper ke bagasi yang sudah dibuka oleh pria yang tidak diketahui namanya itu.


Meli akhirnya dengan sekuat tenaga mengangkat kopernya. Apa lagi saat melihat Jhon sudah duduk di samping pria yang sama -sama dingin itu. Ingin sekali Meli berteriak,"Kenapa dikelilingi pria dingin dalam hidupnya, padahal ia suka dengan pria yang hangat dan romantis?


__ADS_2