Secret Wedding

Secret Wedding
Nevan Aleksander


__ADS_3

Nathan menatap istrinya, pria itu akhirnya mengangguk.


Zara tersenyum tipis , wanita itu sudah menebaknya.


"Nanti kita pikirkan sama-sama," ucap Zara lembut.


Nathan mengangguk dan segera keluar untuk menyimpan nampan ke dapur.


****


Sore hari ini Zara keluar dari kamar dengan langkah pelan, jujur wanita itu bosan kalau hanya di kamar saja.


Zara duduk di teras rumahnya, wanita itu menatap bunga yang tidak terurus karena semua sibuk ke rumah sakit.


"Sayang, apa kamu  sudah memikirkannya?" tanya Nathan kepada Zara.


Keduanya duduk di teras rumah mereka yang terasa sunyi di sore hari yang cerah itu.


"Memikirkannya tentang apa, Mas?" tanya Zara.


"Nama untuk anak kita. Kita tidak bisa terus memanggilnya 'bayi', bukan?" jawab Nathan.


"Oh, itu." Zara tertawa lembut. "Aku pikir kita bisa menggunakan nama Nevan Aleksander. Bagaimana dengan nama Aleksander, seperti nama panjang Papa?"


"Ahh, kurasa itu terdengar bagus. Putra kita akan memiliki nama yang sama dengan Opanya," kata Nathan dengan senyum.


Keduanya pun setuju untuk memberikan nama Nevan Aleksander untuk putra mereka yang baru lahir.


Nathan mengajak istrinya untuk masuk rumah karena hari sudah mau magrib, pria itu mengajak istrinya untuk duduk di ruang keluarga.


Dania turun dari tangga sambil menggendong cucu pertamanya,  wanita itu tersenyum menatap Zara yang masih sedikit pucat.


"Siapa nama cucu tampan Oma ini?"


"Namanya Nevan Aleksander, Oma," jawab Zara.


"Benarkah? Alhamdulillah dari awal mama dan papa ingin mengusulkan nama itu pada kalian di mana nama Aleksander itu dipakai oleh cucu penerus." Dania sampai menetes air matanya.


Nathan dan Zara merasa lega, tidak lama terdengar mobil berhenti..


Zara sudah tidak asing lagi dengan suara mobil itu, tidak lama Tama dan Albert masuk rumah.


"Ayah dan Papa dari mana,Mas?"


"Jalan-jalan sepertinya," jawab Nathan.

__ADS_1


Hal yang disukai Zara pada suaminya adalah, Nathan saat berkumpul tidak pernah mau menyentuh handphonenya.


Suaminya begitu menghargai orang -orang sekitarnya.


"Kamu tahu apa yang aku sukai dari kamu, Mas?" Zara bertanya, masih sibuk menyesap teh hangatnya


"Kenapa, apa yang kamu sukai dari aku?" tanya Nathan, sambil melirik Zara dengan tatapan kekaguman.


"Kamu selalu menghargai setiap orang yang ada di sekitarmu." Zara menghela napas kembali menatap suaminya, "dan yang paling aku sukai adalah saat kita berkumpul, kamu tidak pernah mau menyentuh handphone-mu. Itu menunjukkan betapa kamu menghargai waktu yang kita habiskan bersama."


Nathan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Tentu saja, waktu bersama keluarga adalah hal paling berharga yang saya miliki, Nona."


Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang, Nathan mengusulkan untuk pergi ke luar kota pada akhir pekan ini. Zara senang dengan ide tersebut.


****


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, anak Zara sudah berumur Satu bulan, sesuatu rencana Nathan  mereka lalu bersiap-siap untuk pergi.


Dua mobil mulai meninggalkan  rumah Tama dan diikuti  mobil Milik Nathan.


Setelah menepuk perjalanan selama  hampir empat jam.  Mereka  tiba di sebuah kabin kayu di tengah hutan. Nathan sibuk mempersiapkan segalanya, sementara Zara menikmati indahnya pemandangan hutan yang hijau di sekitarnya.


Saat malam hari tiba, mereka memutuskan untuk duduk di depan perapian dan membuat secangkir kopi dan coklat panas. Nathan duduk di sebelah Zara, memeluk erat tubuhnya sambil menatap api unggun.


Nathan menyiapkan kebutuhan putranya yang masih bayi  agar tidak kedinginan, bukannya hanya itu saja dua orang perawat dan dokter keluarga kita ikut serta untuk berjaga-jaga.


"Tidak," jawab Diego  setelah itu pria itu beranjak dari duduknya gabung dengan yang lainnya.


Zara menggelengkan kepalanya, "Kenapa kamu bertanya begitu, Mas?"


"Aku hanya khawatir Diego mungkin merasa kesepian karena tinggal sendiri,"  kata Nathan.


"Aku senang kamu bersedia menemaniku ke sini." Zara memeluk lengan suaminya untuk menghalau rasa dingin.


"Kamu tahu aku selalu mendukungmu," kata Zara lagi, tersenyum ke arah suaminya.


Keduanya segera masuk kabin kayu , Zara menutup pintu dengan rapat .


Tiba-tiba mereka mendengar suara pintu depan diketuk.


"Siapa itu?" tanya Zara, agak waspada.


"Aku akan melihatnya," kata Nathan, berdiri dari tempat duduknya.


Nathan berjalan menghampiri pintu depan dan membukanya, dan terkejut melihat seorang pria tidak dikenal berdiri di depannya.

__ADS_1


"Maaf, bisakah aku minta tolong, mobilku mogok di tengah jalan," kata pria itu, "Bisakah aku meminjam teleponmu untuk mendapatkan bantuan?"


Nathan merasa sedikit curiga dengan permintaan tersebut, tetapi ia tidak ingin menolak orang tersebut untuk meminjam teleponnya.


Nathan  memberikan teleponnya kepada orang tersebut, dan kembali ke dalam untuk memberitahu Zara.


"Tadi ada orang yang meminta meminjam teleponku," kata Nathan, "aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan."


Zara juga merasa curiga, "Aku pikir kita sebaiknya tetap berjaga-jaga saja."


Saat itu, Nathan menerima panggilan telepon dari polisi. Mereka memberitahu bahwa ada seorang pelaku penipuan yang kabur dan sedang dikejar. Kepolisian meminta bantuannya untuk tetap waspada dan memeriksa identitas orang yang meminjam teleponnya.


Nathan merasa bersalah karena telah tertipu oleh penipu tersebut, dan berjanji untuk selalu lebih hati-hati.


Keduanya segera istirahat, Zara tersenyum melihat Nevan langsung tidur setelah menyusu.


""""


Pagi harinya Zara merasa lega, bahwa mereka akhirnya dapat kembali ke rumah dengan selamat setelah perjalanan yang menyenangkan, meskipun terdapat sedikit insiden yang tidak diinginkan.


"Mungkin ini adalah tempat yang tepat untuk kita  bersama," kata Nathan sambil memeluk Zara,"tempat di mana aku dapat melindungimu dan selalu menjaga kamu dan anak kita."


"Ya, selalu menjaga satu sama lain," sahut Zara, tersenyum bahagia.


Pada akhirnya, Nathan mengetahui bahwa sesuatu yang sepele seperti tidak pernah menyentuh handphone saat berkumpul bersama keluarga dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi Zara.


Hal  Itu menjadi sesuatu yang membahagiakan Zara dan membuat hubungan mereka semakin harmonis. Nathan bertekad untuk selalu memperhatikan keinginan dan kebahagiaan Zara dan anak-anak nya kelak seumur hidupnya.


Saat mobil sampai di rumah, Zara  segera turun begitu juga yang lainnya.


Walaupun hanya satu  malam mereka bisa merasakan kehangatan dua keluarga.


Zara melihat mertua dan ayah langsung masuk kamar masing-masing. Sedangkan wanita itu juga sudah begitu lelah.


"Mas kita istirahat yuk,"  ajal Zara.


"Bersih-bersih dulu, Zara!" perintah Nathan.


Zara dengan langkah gontai menarik handuk dan masuk kamar mandi, melihat Nathan hanya menggelengkan kepala.


Dua puluh menit kemudian, Zara keluar hanya melilitkan handuk di tubuhnya.


Wanita itu langsung duduk di pangkuan Nathan, pria itu langsung memeluk pinggang istrinya agar tidak jatuh.


"Sayang!"  seru Nathan lirih.

__ADS_1


Zara tersenyum dan langsung mengecup bibir suaminya dan segera beranjak dari pangkuan Nathan.


Melihat tingkah istrinya membuat Nathan frustasi, tapi berbeda dengan Zara merasa berhasil menggoda  suaminya


__ADS_2