Secret Wedding

Secret Wedding
Part 8


__ADS_3

Shin Hyunwoo tercengang, begitupun dengan Chae Eun.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya mereka berbarengan.


"Ehm~ aku di sini bukan urusanmu juga," kata Hyunwoo. "Kau sendiri, kenapa ada di sini? Bahkan membawa koper, apa kau berniat tinggal di sini?" Gurau Hyunwoo.


Dengan masa bodoh Chae Eun menjawab, "betul sekali!"


"Yaa! Siapa yang mengizinkanmu tinggal di sini, hah?" Hyunwoo protes. Memikirkan bagaimana dia akan kesulitan untuk berduaan dengan Jessica, membuat Hyunwoo tak senang hati.


"Bukan urusanmu aku di sini dengan atau tanpa izin!" Tukas Chae Eun, sembari menjatuhkan dirinya di sofa.


"Ini urusanku! Karena ini rumah pacarku!"


"Hanya pacar, bukan isteri," sahut Chae Eun sekenanya.


"Tetap saja kau tidak boleh di sini!" Tukas Hyunwoo.


Chae Eun mencondongkan tubuhnya pada Hyunwoo, menatap pria yang lebih muda satu tahun darinya itu dengan curiga.



"Kenapa kau sangat keberatan? Apa kau merencanakan sesuatu yang buruk pada Chun Bong-ku, hah?"


Perkataan Chae Eun membuat Hyunwoo salah tingkah. "K-kau ini berpikiran sempit sekali!" Hyunwoo tergagap.


Chae Eun mencibir, "aku yang berpikiran sempit, atau kau yang mencari kesempatan dalam kesempitan?"


"Di-diamlah, a-aku tidak mau bicara denganmu," kata Hyunwoo, berusaha tegas daripada yang dia rasakan sebenarnya —dia terintimidasi oleh Chae Eun—


"Dengar ya, Presdir VVIP Store yang katanya paling tampan di semenanjung Korea. Aku bukanlah orang yang segan, jika kau berani macam-macam dengan temanku, akan kupastikan kau tidak akan bisa menggunakan 'adik kecilmu' itu lagi," ancam Chae Eun, sembari melirik 'kebanggaan' Hyunwoo sebagai pria.


Keringat jagung membasahi kening Hyunwoo. Padahal kenyataannya yang memiliki niat mesum, dan macam-macam itu adalah Jessica, dia adalah orang yang mengundang Hyunwoo ke rumahnya, dan dia jugalah yang sering menyentuh Hyunwoo tak karuan.


Hyunwoo beranjak dari tempatnya," a-aku per-pergi dulu," katanya, sembari meraih mantelnya yang tersampir di sofa, kemudian berlari pergi meninggalkan rumah Jessica.



"Huh, dasar si Hyunwoo itu, beraninya dia macam-macam dengan temank...,"


"Hyunwoo oppa, bagaimana penampilanku, kau suka?"


Chae Eun tercengang, begitupun dengan Jessica.


"H-hey, C-Chun Bong, pakaian apa yang kau gunakan itu?" Chae Eun tergagap melihat temannya memakai lingerie hitam yang memerlihatkan lekuk tubuhnya.


"D-Di m-mana H-Hyunwoo?" Tanya Jessica, masih dalam kondisi tercengang.


"D-dia b-baru saja p-pergi," jawab Chae Eun. "C-Chun B-Bong, a-apakah aku mengganggumu?"


#BRAKK


Jessica masuk ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya itu dengan keras.



"Sepertinya aku memang mengganggu, ya?" Gumam Chae Eun.


●●●



Tatapan Jessica membuat Chae Eun mati kutu. Chun Bong menakutkan sekali, bisik hatinya.


"Kenapa kau di sini? Kenapa kau membawa koper? Kenapa kau membuat pacarku pergi? Kenapa kau..., menggangguku?"


Pertanyaan penuh penekanan Jessica membuat Chae Eun kesulitan menelan salivanya.

__ADS_1


D-dia..., marah ya?


"Aduh, kau jangan marah dong, Chun Bo..., Jessica. Aku ini sedang kesulitan, dan satu-satunya orang yang bisa kupikiran untuk membantu ya hanya kamu," kata Chae Eun, berhati-hati.


Mendengar itu, Jessica segera menghentikan tatapan tajamnya. Dia menghela napas panjang, "huhhh~ aku itu bukannya satu-satunya orang yang bisa kau pikirkan tapi, aku itu memang satu-satunya orang yang akan membantumu."


"Nah, kau tahu itu juga kan. Syukurlah." Seru Chae Eun.


Huhhh~ padahal aku sudah susah payah menyeret Hyunwoo kesini. Hiks hiks, aku bahkan membeli lingerie untuk menggodanya. Isak Jessica dalam hatinya.


"Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau sampai menyeret koper ke sini?" Tanya Jessica.


"Begini..., sebenarnya aku..., menjual rumahku yang di Gwanghwamun, dan apartmentku karena kehabisan biaya, aku belum sempat mengisi apartmentku —masih kosong mlompong— jadi aku ke sini, untuk..., sementara menumpang hidup padamu," kata Chae Eun, dengan memasang wajah memelas.


"Kenapa kau menjual rumahmu?" Jessica terkejut.


"Sebenarnya, dana yang dibawa kabur oleh penipu itu adalah dana dari hasil penjualan rumahku."


"Kau menjualnya untuk dana produksi?"


"Iya iya."


Seketika Jessica terenyuh.


Dalam pikiran Jessica; 'ini pertama kalinya Chae Eun mau berkorban sebesar ini. Aku..., selama ini aku salah karena berpikiran buruk tentangnya'.


Dalam pikiran Chae Eun; 'sebenarnya aku sudah menjual rumah itu satu bulan lalu ketika orang real estate memberitahuku bahwa harga tanah di Gwanghwamun akan turun. Namun, karena aku sibuk, aku jadi lupa membelanjakan uang itu, dan kemudian, secara kebetulan aku mendengar bahwa usaha perlengkapan kesehatan sangat menguntungkan. Aku berharap dapat untung besar, ehhh malah ditipu habis-habisan'.


"Astaga, Chae Eun. Kau benar-benar mulia sekali," gumam Jessica tanpa tahu kebenaran niat Chae Eun.


"Jadi, aku bolehkan menumpang padamu? Paling tidak sampai kondisi keuanganku stabil dan aku bisa mengisi apartmentku yang kosong itu."


Jessica terlihat berpikir. Sebenarnya Chae Eun kasihan sekali tapi, bagaimana aku bisa berduaan dengan Hyunwoo kalau dia ada di sini?


"Boleh tidak?" Tanya Chae Eun basa-basi. Padahal entah dibolehkan atau tidak, dia akan tetap seenaknya mempersilakan dirinya sendiri tinggal di rumah Jessica.


"Maksudmu aku harus bolak-balik Incheon-Seoul untuk bekerja setiap hari?" Sahut Chae Eun, dingin.


"Kalau begitu bagaimana dengan studiomu yang ada di Yongsan?"


"Studio itu kan sudah jadi gudang penyimpanan kak Chae Jung, kau ingat?" Sahut Chae Eun, malas.


Benar juga, kak Chae Jung menggunakan studio itu untuk menyimpan bahan-bahan dan aksesoris untuk designnya. Pikir Jessica.


"OH!!" Jessica berseru saat dia mengingat bahwa Chae Eun masih memiliki satu rumah lagi. "Bagaimana dengan rumah super mewahmu yang ada di Gangnam itu, huh?"


Chae Eun mendengus kesal, "kau pikir dari mana aku mendapatkan dana untuk menggantikan biaya produksi yang diambil penipu itu, huh?!"


Jessica tercengang, "kau menjual rumah mewah itu?"


"Tidak, aku hanya menyewakannya," kata Chae Eun.


"Begitukah?"


"Iya. Aku menyewakannya dua puluh juta tiap bulan." Chae Eun tersenyum sumringah.


"Hehhh. Dua puluh juta?" Jessica terkejut. "Wahhhh, siapa orang yang akan menyewa dengan harga semahal itu?" Tanya Jessica sembari menenggak air mineral yang baru saja diambilnya dari lemari es.


"Jin Ji."


~Buuuurrrrrrrrr


Jessica menyemburkan kembali air yang sedang diminumnya. "APA?!!!!!! Kau menyewakannya pada JIN JI? JIN JI aktor itu?!!!" Tanya Jessica sembari menekankan nama Jin Ji.


"Emm," sahut Chae Eun sekenanya.


"Waaahhhh kau picik sekali. Dia itu kan suamimu, kenapa kau menyuruhnya membayar sewa?" Jessica terheran-heran.

__ADS_1


"Lalu bagaimana aku bisa menggantikan dana produksi itu jika bukan begini caranya?"


"Kau bisa saja meminta pada keluargamu, mereka semua kaya raya."


"Tidak mungkin," tanggas Chae Eun.


Jessica menghela napas panjang, "benar juga. Bahkan kurasa kalau dunia hampir kiamat, kau tidak akan pernah mengemis pada keluargamu. Meskipun aku percaya bahwa kau yang akan maju terlebih dahulu saat pembagian warisan."


"Tentu saja! Akulah yang sudah bekerja keras demi Chae-gu Group, jadi wajar saja jika aku menuntut warisan," tukas Chae Eun.


"Ya ya ya, lagipula kakak-kakakmu tidak tertarik dengan warisan ayahmu. Tentu saja kau yang akan mendapatkan semuanya."


Chae Eun menguap, "haaaaa, aku lelah, aku mau tidur dulu." Dia hendak masuk ke kamar dengan menyeret kopernya ketika dengan cepat Jessica menahannya.


"Hey, siapa yang menyuruhmu masuk, huh?"


"Bukankah kita sudah bersepakat aku boleh tinggal di sini."


"Kapan kita sepakat?" Gumam Jessica. "Dengar ya, Chae Eun, aku ini adalah wanita dewasa, aku butuh privasi, ok? Jadi aku tidak bisa membiarkan kau tinggal di sini."


"Kenapa tidak? Kalau kau mengusirku, lantas aku tinggal di mana?" Chae Eun memelas.


"Tinggallah bersama Jin Ji."


"Kau gila?! Tidak mau!"


"Kenapa tidak mau? Dia kan suamimu. Kalian sudah menikah hampir satu tahun, sampai kapan mau seperti orang asing begini? Sudah sana keluar!" Tukas Jessica.


"Ayolah Chun Bo..., Jessica. Aku tidak bisa tinggal dengan Jin Ji. Aku tidak mau membuat dia terlibat masalah," aku Chae Eun.


"Eoh?"


"Dia sudah mengalami banyak kesulitan, jika sampai dia terkena rumor, mungkin semua akan lebih sulit lagi baginya."


Jessica terdiam barang sejanak. Sorot mata Chae Eun, mungkinkah dia..., "Chae Eun, mungkinkah kau sbenarnya..., menyukai Jin Ji?"


Epilogue


Chae Eun mematung di depan ponselnya.


"Rumah itu sangat berharga untuknya. Apakah harus kubiarkan dia tinggal di sana?" Gumam Chae Eun.


Dia mulai mengetik pesan untuk Jin Ji.


[Jin Ji, karena kau memiliki sebuah kenangan dengan rumah itu. Jadi kau boleh menempatinya jika mau]


Chae Eun membatu. "Tidak, tidak, tidak, jangan begini." Dia menghapus pesannya.


[Jika kau mau, kau boleh tinggal di rumah itu]


"Aahhhh tidak begini." Chae Eun menghapus lagi pesannya.


[Karena kau begitu menyukai rumah itu, kau boleh datang sesukamu]


Chae Eun menjadi suram. "Gila! Dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak jika aku mengirimkan pesan ini." Dia kembali menghapus pesannya.


"Aku harus bagaimana? Rumah itu sangat berharga baginya tapi, jika aku membiarkannya tinggal begitu saja. Pasti akan masalah, 'kan?"


Chae Eun kembali mengetik pesan untuk Jin Ji.


[hey, aku berpikir untuk membiarkanmu tinggal di rumah itu, mengingat kau memiliki banyak kenangan di sana tapi, pasti akan ada rumor jika kau tiba-tiba tinggal di rumah itu, maka agar semuanya tidak menjadi masalah di masa mendatang, kita buat saja kau sebagai penyewa. Sewa bulanannya duapuluh juta, itu sudah aku kasih diskon loh]


"Apa tidak keterlaluan jika meminta 20 juta perbulannya?" Chae Eun menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini sudah cukup. Kalau kuberi harga murah maka dia pasti salah paham."


Dia mengirimkan pesan itu pada Jin Ji, dan kembali mengirim pesan berbunyi.


[aku begini bukan karena ada maksud apapun, sungguh. Aku hanya merasa kasihan padamu karena kau sepertinya sangat peduli pada rumah itu]

__ADS_1


__ADS_2