Secret Wedding

Secret Wedding
Tragedi


__ADS_3

Seiringnya waktu berlalu, kandungan Zara kini sudah berumur tiga puluh enam Minggu, wanita itu sudah tidak selincah sebelumnya. 


Nathan melarang istrinya untuk naik ke lantai dua, pada hal rencana ingin melahirkan di Turki karena mertuanya sudah mulai aktif ke kantor.


Namun, melihat kondisi Zara seperti itu. Nathan tidak sampai hati jika sang istri naik pesawat begitu lama.


Akhirnya mereka memutuskan untuk melahirkan di Jakarta, sedangkan Jhon dan Meli sudah lebih dulu kembali ke Turki karena  Papa Albert juga sibuk dengan bisnisnya.


Nathan yang baru keluar dari kamar mandi, pria itu panik karena tidak Zara tidak ada di tempatnya.


Ia segera memakai pakaian dan keluar kamar. Pria itu jalan buru-buru dengan berteriak," Zara - Zara, kamu di mana , Sayang!"


Tama yang duduk di ruang keluarga menatap kesal ke arah menantunya itu.


"Kamu ini kenapa, Nathan?" tanya Tama dengan tatapan tajam.


"Zara,  Ayah." Nathan terlihat begitu panik.


"Zara kenapa?" Tama refleksi berdiri.


"Zara tidak ada di kamar, Ayah." 


Tama menarik napas panjang, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Istrimu di pos depan,"  kata Tama.


Tanpa menjawab Nathan segera menuju ke pintu utama, pria itu segera berjalan cepat di pos.


Mata Nathan membola melihat istrinya kembali makan bakso dengan kuahnya sampai warna merah, bukan karena saus, tapi karena cabe.


"Zara!" seru Nathan dengan berlacak pinggang.


Zara yang terkejut langsung tersedak, wanita itu memegang lehernya yang terasa begitu panas karena kuah bakso yang warna merah itu.


Penjaga segera memberikan minum di gelasnya, tapi Nathan langsung mencegah karena ada botol air dingin milik istrinya.


Zara langsung meneguk air itu hingga tandas. Ditatapnya suaminya dengan tajam." Mas mau bunuh aku!"


"Kenapa aku yang disalahkan?"  Nathan mengusap wajahnya frustasi.


"Jelas-jelas Mas yang buat   aku kaget," jawab Zara kembali mengambil mangkok baksonya.


"Zara cukup!" Nathan mengambil alih mangkuk dan memberikan pada penjualan bakso yang masih mangkal di depan tidak jauh dari rumah mertuanya.


"Mas!" Zara tidak terima wanita itu berjalan cepat dengan memegang perut bawahnya.


Semua ibu-ibu yang sedang menunggu pesan baksonya teriak histeris saat mobil melaju ke arah Zara.


Nathan langsung menoleh, Pria itu refleks membuang mangkuk dan berlari untuk menyelamatkan istrinya.

__ADS_1


Suara klakson dan decitan ban karena si pengemudi menginjak rem.


Zara bukannya lari, wanita itu berdiri mematung seakan menunggu mobil itu untuk menabraknya.


Sedetik kemudian benturan keras terdengar bersamaan teriakan dari warga sekitar.


Si kemudi mobil membanting setir ke arah kanan hingga membentur tiang listrik.


Nathan langsung memeluk istrinya, Zara masih terlihat shock. Tama yang mendengar teriakan dan benturan segera berlari keluar pagar.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Nathan.


Zara hanya mengangguk, tapi tubuh wanita itu bergetar. Nathan yang merasakan hal itu langsung menggendong istrinya membawanya pulang.


Warga yang lain menyelamatkan pengemudi mobil itu dan langsung dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya berlumuran darah.


Tama yang tahu akan cerita dari beberapa warga, pria itu segera ikut pergi ke rumah sakit. Bagaimanapun si pengemudi itu sudah menyelamatkan anak dan cucunya.


Andai saja pria itu tidak membanting setir ke kanan, pastinya saat ini Zara dan kandungannya akan terjadi sesuatu.


Tama tidak sanggup untuk membayangkannya. Sementara itu di rumah, Zara didudukkan di sofa, pelayan mengambil air minum untuk Nonanya.


Nathan segera membantu sang istri untuk minum agar lebih tenang.


"Maaf," kata Nathan.


Zara menatap suaminya dan bertanya,"Bagaimana jika tiang listrik itu tadi aku?"


Nathan menatap istrinya yang kini sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dengan Isakkan.


"Jangan berpikir terlalu berat, Ayah ikut para warga untuk mengantarkan si kemudi tadi," kata Nathan.


Zara mengangguk, wanita itu minta antar suaminya untuk istirahat di kamar. Sedangkan Nathan melihat istrinya seperti itu tidak tega untuk meninggalkannya.


Padahal rencana setelah istrinya istirahat, pria itu akan menyusul ke rumah sakit.


Zara membaringkan tubuhnya, dengan bantal guling untuk mengganjal kakinya. Wanita itu beruntung kakinya tidak bengkak.


Zara sedang menunggu hari untuk bersalinan, sebenarnya kalau sang istri mau operasi bagai Nathan tidak masalah. 


Akan tetapi, Zara ingin merasakan melahirkan normal seperti bundanya dulu saya melahirkannya.


Zara memeluk tangan suaminya, Nathan segera mengirimkan pesan pada mertuanya kalau belum bisa ke rumah sakit karena  istrinya masih shock.


Setelah mendapatkan balasan dari mertuanya, Nathan segera berbaring di samping istrinya.


"Maaf, aku hanya khawatir akan perutmu nanti jika makan pedas banyak. Kamu harusnya tahu, Sayang. Asam lambung itu bukan sepele." Nathan memeluk istrinya dari belakang.


Baru saja akan memejamkan matanya handphone Nathan berbunyi tanda ada pesan masuk.

__ADS_1


Pria itu perlahan melepaskan pelukan istrinya, ia turun dari ranjang dan wajahnya seketika terkejut.


Bagaimana tidak ayah Tama mengatakan jika pria itu tidak selamat karena benturan di dadanya begitu kuat.


Nathan menatap istrinya, pria itu menarik napas panjang dan segera mengambil jaket dan kunci mobi.


"Bibi kalau Zara bangun,.katakan aku sedang ke rumah sakit," ya pesan Natha .


"Baik, Tuan."


Setelah itu  pria itu segera keluar dan masuk mobil, Nathan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Pria itu masih memikirkan keselamatannya karena masih ada istri dan calon anaknya.


Setelah empat puluh lima menit, mobil yang dikemudikan Natan sampai di rumah sakit, pria itu tertegun melihat tangis wanita dan anak berusia sekitar empat tahun itu.


"Ayah," kata Nathan lirih.


"Akhirnya kamu datang, bagaimana dengan Zara apa masih ketakutan. Anak itu mudah sekali trauma," kata Tama.


Nathan hanya mengangguk, ia sebenarnya tidak tenang meninggalkan sang  istri dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.


Dilihatnya Diego sedang mengurus kepulangan jenazah.


"Kamu kenapa?" tanya Tama melihat menantunya begitu gelisah.


"Aku tidak tenang meninggalkan Zara di rumah, Ayah."


Tama mengangguk pria itu paham akan apa yang dipikirkan menantunya, setelah urusan selesai. Jenazah dibawa pulang ke rumah duka malam ini juga dam besok  akan segera dimakamkan karena masih menunggu ibu dari korban tersebut.


Setelah dari pihak keluarga pamit dengan Tama dan Nathan. Kedua pria beda usia itu segera keluar dari rumah sakit, tapi saat sampai mobil yang kebetulan saling bersebelahan handphone keduanya berbunyi.


Keduanya saling pandang, Nathan segera mengangkat teleponnya, pria itu begitu terkejut mendengarnya istrinya menangis.


Tama yang melihat Nathan hanya diam saja, pria itu mengambil alih pekerjaan menantunya.


"Bawa Zara ke rumah sakit sekarang, Kami menunggu di depan UGD!" perintah Tama.


Setelah itu panggilan berakhir, Tama menepuk bahu menantunya karena begitu mengkhawatirkan istrinya.


Sementara itu di rumah Tama, Zara masih di kamar. Pelayanan masuk dan memberitahukan jika akan langsung ke rumah sakit terdekat karena Nathan sedang menunggu di depan UGD.


Zara turun dari ranjang, tapi wanita itu begitu terkejut data melihat air mengalir di sela kakinya.


"Bibi ini air apa? Aku enggak pipis kok?" Zara begitu heran dari mana air itu berasal.


"Tenangkan diri Anda , itu sepertinya Air ketubannya pecah, Nona." 


Zara yang baru masuk mobil  langsung menatap wanita seusai bundanya itu sedang menjelaskan pada sopirnya."Apa kata bibi, Pa?" 


Zara penasaran karena bibi hanya berbisik saja.

__ADS_1


__ADS_2