
Lokasi Shooting Reality Show Man Are You
"Oh, Haejun sunbae, kau sudah datang," sapa Jin Ji, sembari menghampiri Haejun yang sedang beristirahat dibangkunya.
"Jin Ji!! Waaahh senang sekali bisa melihatmu, semenjak kau terkenal sangat sulit untuk melihat sehelai rambutmu," goda Haejun, senior Jin Ji di dunia akting, dan juga seniornya di Starscript Intertaiment, agensi yang menaungi Jin Ji, Haejun, dan beberapa selebritis terkenal lainnya.
"Sunbae, kau terlalu memujiku, ini semua lagipula berkat sunbae. Kalau saja waktu itu sunbae tidak merekomendasikanku pada sutradara Gangnam Class, pastinya aku masih menjadi aktor nugu. Terimakasih banyak, sunbae," ucap Jin Ji, tulus.
Haejun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "ah tidak begitu. Kau itu memang sudah berbakat, jadi wajar saja jika kau bisa terkenal."
"Haejun! Jin Ji! Shooting akan di mulai, bersiaplah," teriak sang asisten sutradara.
"Baik~" jawab Jin Ji dan Haejun bersamaan.
"Sunbae, kalau begitu akan pergi bersiap dulu."
"Ok." Senyum Haejun perlahan memudar ketika Jin Ji meninggalkannya. Haejun mengepalkan tangannya dengan kuat, sampai buku-buku jemarinya menonjol tegas. Bocah sialan itu! Beraninya menyapaku seperti itu, dia pikir aku temannya?! Brengsek! lihat saja, akan kuberi dia pelajaran!
"Hey, Jin Ji, kenapa kau masih saja baik padanya?" Tanya Seok Woo, berbisik pada Jin Ji.
"Memangnya tidak boleh?" Jin Ji balik bertanya. "Oh, sepertinya ini sudah cukup, terimakasih ya, noona." Jin Ji beralih pada penata riasnya.
Seok Woo menghela napas panjang, "ya, dia memang senior yang selalu baik padamu. Namun, tetap saja dia pernah menjebakmu waktu itu. Jadi, rasanya menyebalkan saja melihatmu masih bersikap baik padanya."
Jin Ji terdiam barang sejenak, dan kemudian dia tersenyum kecil, "sudahlah, kak. Di dunia hiburan ini jika menyimpan dendam, maka kita tidak akan bisa sukses. Lagipula Haejun sunbae mengatakan bahwa dia sangat menyesal, dan juga telah merekomendasikanku pada sutradara Gangnam class sebagai bentuk penyesalannya, dan sekarang, kakak lihat sendiri bahwa berkat gangnam class aku bisa terkenal."
"Benar, memang begitu adanya tapi, tetap saja...,"
"Baiklah, kita akan bersiap dalam sepuluh detik!" Teriak sang sutradara untuk memberitahukan pada semua kru dan artis agar bersiap-siap.
"Kak, kau pergilah," bisik Jin Ji.
"Baiklah." Seok Woo meninggalkan frame, dan menunggu Jin Ji diruang tunggu.
●●●
Man Are You adalah program reality show tentang bagaimana para pria merespon sesuatu. Awalnya, Jin Ji tidak tergabung dalam program ini. Namun, berkat drama Gangnam class yang dibintanginya dan membuatnya menjadi pria kesayangan dunia, membuat Jin Ji menjadi panelis tetap diacara tersebut.
"Hari ini kita akan memilih topik pertama untuk pembahasan hari ini," kata sang pembawa acara, sembari memutar rodan spin. "Kira-kira apa yang akan kita bahas hari ini ya?"
Roda spin terus berputar, hingga perlahan menjadi lambat dan akhirnya berhenti, "hari ini kita akan membahas tentang kontroversi kencan berbayar!" tukas sang pembawa acara, Kim Tae Hyi.
Haejun entah kenapa tersenyum begitu puas, sedangkan Jin Ji kini memucat, dia bahkan meremas ujung jaketnya.
"Jadi bagaimana tanggapan kalian sebagai pria tentang kencan berbayar? Seperti yang kita tahu, belakangan ini terjadi perdebatan tentang keberadaan kencan berbayar, ada yang setuju, ada yang tidak, dan bahkan ada yang tidak peduli. Jadi, sebagai pria, bagaimana kalian menanggapinya? Haejun?" Tanya Tae Hyi, memberikan pertanyaan pada Haejun.
"Emmm, menurutku sih tidak masalah, karena kedua belah pihak menyetujui hal tersebut, dan juga sama-sama mendapatkan keuntungan. Iya, 'kan, Jin-ah?" Haejun merangkul Jin Ji, dan memberikan senyum tersirat pada juniornya tersebut.
"N-nde? A-aku..., aku...,"
"Ini memang topik yang sensitive, tapi tidak masalah untuk memberikan pendapatmu, Jin-ah," sela Haejun.
"Benar, tidak apa-apa untuk berpendapat," sang pembawa acara menimpali.
"A-aku..., aku rasa yang dikatakan sunbae itu..., tidak masuk akal, bagaimanapun negara kita adalah negara yang ketat dengan moralitas, jadi...,"
"Kau benar, Jin-ah, meskipun tidak masalah untuk negara lain seperti barat, kencan berbayar itu memang tidak layak untuk negara kita. Semua orang tahu itu, terutama untuk..., selebritis seperti kita. Kencan berbayar itu..., akan menghancurkan segalanya jika sampai orang seperti kita terlibat, benar, 'kan?" Kata Haejun, penuh sirat.
Jin Ji semakin gugup, dia meremas ujung jaketnya lebih keras. Apa dia sengaja? Pikir Jin Ji.
Di sisi lain, di sudut ruangan. Seok Woo yang melihat apa yang terjadi hanya bisa memandangi Haejun dengan penuh kebencian. Dia pasti sengaja! Pikir Seok Woo.
Waktu terus berlalu, shooting berlangsung dengan baik. Namun, Jin Ji masih tetap terbelengu oleh rasa gugupnya karena salah satu topik dalam pembahasan tersebut.
"Hey, Jin Ji, kau baik-baik saja? Sepanjang shooting wajahmi terlihat pucat," tegur sang sutradara.
"Ah, benarkah? Apakah harus diulang?" Tanya Jin Ji.
"Tidak perlu, editor kami bisa mengaturnya. Tapi, kau sungguh tidak apa-apa, 'kan? Kau tidak boleh sampai sakit, nanti para penonton akan memprotesku kalau kau tidak muncul dilayar tv mereka," canda sang sutradara, membuat Jin Ji tersenyum lebar. Namun, dalam hatinya, dulu sutradara Hwang tidak pernah bersikap seperti ini padaku sebelumnya. Semua ini..., hanya kepalsuan.
"Iya, aku akan berusaha untuk baik-baik saja. Kalau begitu, aku pergi dulu, sutradara."
__ADS_1
Jin Ji masuk ke ruang tunggunya. Di sana dia mendapatkam minuman dari Seok Woo. "Dia pasti sengaja!" Kata Seok Woo.
Jin Ji meminum minuman yang diberikan Seok Woo padanya. Kemudian menjawab, "lupakan saja, kak."
"Jin-ah, tidak boleh terus begini! Sebaiknya kita laporkan saja semuanya pada polisi, sebelum semuanya menjadi kacau!" Tukas Seok Woo.
Jin Ji meletakkan minumannya diatas meja, dan kemudian menatap Seok Woo dengan dingin, "kau yang paling tahu bahwa aku tidak akan menang melawan siapapun di industri ini. Aku..., memiliki banyak cacat. Jadi, lupakan saja, kak." Jin Ji bersikap tegar daripada apa yang dia rasakan sebenarnya, dia takut, gelisah, dan merasa tertekan dengan semua yang menimpanya baik di masa lalu, maupun sekarang.
Disisi lain.
Ruang tunggu Haejun.
"Kau lihat wajahnya?" Tanya sang manager dengan riang.
Haejun menampilkan sebuah senyuman jahat, "itulah sebabnya, dia seharusnya tidak belagak dihadapanku. Hanya artis kacangan yang berhasil sedikit populer, dasar Jin Ji sialan!" Rutuk Haejun. Sejak dulu Haejun memang selalu iri pada Jin Ji. Jin Ji pada dasarnya memiliki potensi untuk sukses. Namun, karena tidak ingin tersaingi, Haejun memaksa direktur dengan menggunakan ketenarannya untuk tidak memberikan peran besar pada Jin Ji, itulah alasan mengapa Jin Ji tak kunjung sukses. Haejun juga berpura-pura baik pada Jin Ji untuk memastikan bahwa Jin Ji tidak bisa lebih populer darinya. Namun, suatu hari...,
"Tapi, kak Haejun, bagaimana jika orang itu tahu apa yang kau lakukan hari ini?"
Degggg
Haejun seketika menegang.
"Kakak sudah berjanji padanya untuk tidak menyentuh Jin Ji, jika dia tahu...,"
"Kau..., kau ini merusak kebahagiaan saja! La-lagipula aku kan hanya bersenang-senang sedikit. Aku..., aku tidak benar-benar berniat menjatuhkan Jin Ji," Haejun tergagap.
Tok
Tok
Tok
Manager Haejun membukakan pintu untuk orang yang mengetuk, dan...,
"K-kau...,"
●●●
Jin Ji keluar dari mobil dengan gontai membuat Seok Woo khawatir.
"Tidak usah, kak. Hari ini banyak sekali jadwal kita, jadi kakak pulang dan istirahat saja."
"Serius tidak mau kutemani?"
"Iya," kata Jin Ji, dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Seok Woo melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah Jin Ji.
Jin Ji melangkah masuk ke rumahnya, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dan menghela napas cukup panjang. "Hari ini..., lelah sekali. Ibu, aku rindu ibu," gumamnya.
"Rumah abu ibumu di Busan, hanya perlu dua jam kesana. Kau mau pergi?" Pertanyaan dari kegelapan itu mengejutkan Jin Ji.
"SIAPA ITU?!!!!"
Pemilik suara itu menghela napas panjang, dan kemudian menyalakan lampu ruang tamu. "Ini aku, bodoh. Kau tidak hapal suaraku?"
"Nona Ch-Chae Eun? Kenapa kau di sini?"
"Ini rumahku, jangan lupa!" Jawab Chae Eun, sembari melangkah menuju sofa yang berada di samping sofa yang Jin Ji duduki.
Jin Ji menghela napas panjang, "ya~ ini memang telah menjadi rumahmu. Tapi, aku membayar duapuluh juta tiap bulannya untuk rumah ini, ok?"
"Tetap saja ini rumahku!" Tukas Chae Eun.
"Bagaimana jika ada wartawan yang melihat ini?"
Chae Eun memandang Jin Ji dengan wajah serius, "benar! Aku sempat melihat ada orang yang mengintip di luar saja, kudu ottokae?" Goda Chae Eun, membuat Jin Ji panik.
"Kau serius?!" Jin Ji beranjak dari tempatnya, dan kemudian memeriksa semua jendela apakah sudah tertutup rapat atau belum.
"Hahahahah, bodohnya~" kekeh Chae Eun, membuat langkah Jin Ji terhenti.
__ADS_1
"Kau...," Jin Ji terdiam barang sejenak, dan berpikir. "Kau membohongiku?!"
"Pikir saja sendiri, memangnya ada orang yang mampu memanjat pagar setinggi tiga meter itu, eoh? Dan juga jarak dari gerbang ke rumah ini sampai sepuluh meter. Hal mustahil orang bisa mengendap-endap kecuali..., kau."
"Ck, menyebalkan!" Keluh Jin Ji sembari melangkah kembali ke sofa, dan menjatuhkan dirinya di sana. "Aku tidak mengendap-endap, hanya..., hanya ehmm..., tidak sengaja masuk saja," Jin Ji bergumam pada kata terakhir yang dia ucapkan. Namun, tetap saja Chae Eun mendengarnya.
Chae Eun menghepa napas panjang. "Lupakan saja. Ini sudah malam, aku mau tidur."
Jin Ji terbangun dari berbaringnya, "kau tidur di sini?!"
"Eoh."
"Kau gila?! Bagaimana jika sampai ada gosip?"
"Oh jadi kau sangat takut imagemu tercemar ya? Tenang saja, aku akan hidup bagaikan hantu di sini, meskipun ini adalah rumahku sendiri," sahut Chae Eun.
"Hidup bagaikan hantu? Kau berniat tinggal di sini?"
"Betul sekali! Seratus untuk Jin Ji. Kalau begitu aku tidur dulu." Chae Eun hendak masuk ke kamar ketika Jin Ji dengan cepat menahannya.
"Hey, aku sudah membayar sewa untuk rumah ini selama setahun ya! Jadi kau tidak bisa seenaknya begini!" Tegur Jin Ji. "Dan lagi, kamar yang hendak kau masuki itu adalah kamar yang kugunakan tahu!"
Chae Eun terdiam barang sejenak, dan memerhatikan wajah Jin Ji dengan seksama. Kemudian, sebuah senyuman jahil mengembang di wajahnya, "astaga, kita kan sudah suami isteri, jadi tidak ada yang namanya kamarku, atau kamarmu. Yang ada hanyalah kamar kita, dan lagi..., suamiku tampan sekali hari ini, buat aku ingin...," Chae Eun menyentuh wajah Jin Ji, membuat wajah pria itu merah merona.
"K-kau i-ingin apa?" Jin Ji tergagap.
"Ingin memakanmu," bisik Chae Eun, membuat wajah Jin Ji semarin memerah.
"Gila! Kau pakai saja kamar itu sepuasnya, aku akan tidur dikamar lain!!!!!" Jin Ji berlari meninggalkan Chae Eun, dan masuk ke kamar yang ada di sudut ruangan.
Chae Eun tertawa keras melihat tingkah Jin Ji, "hahahaha menyenangkan sekali menggoda dia. Kedepannya harus sering kugoda."
Di dalam kamar, Jin Ji menyentuh wajahnya yang terasa panas. "Astaga kenapa dia menyebalkan sekali?! Dan lagi kenapa dia di sini? Jika sampai ada yang tahu kami tinggal bersama, maka dia yang akan lebih banyak terluka. Fansku, direktur, dan rekan-rekan bisnisnya pasti akan menghujatnya." Jin Ji menghela napas panjang.
Epilogue
"Hey, Direktur, kau menyuruh pak Uhm pergi ke mana? Kulihat dia buru-buru sekali saat keluar dari ruang kerjamu ini." Tanya Jessica sembari menyerahkan dokumen yang memerlukan tanda tangan Chae Eun.
"Hanya melakukan tugas sederhana," jawab Chae Eun sekenanya.
Jessica menautkan alisnya, "menyebalkan. Kalau diingat-ingat pak Uhm itu baru bekerja denganmu selama satu tahun, dan kerjaannya pun sepertinya mudah mengingat dia tidak tergabung dalam divisi manapun diperusahaan ini, tapi, kenapa gajinya lebih besar?!" Protes Jessica. Selama ini Jessicalah yang menyalurkan gaji para karyawan, dan nominal yang tertera untuk Pak Uhm tiap kali dia mentransfer uang, membuat dia iri setengah mati.
"Memangnya kau bisa mengancam orang? Kalau bisa kau boleh mengambil alih tugas pak Uhm," kata Chae Eun sembari memelajari dokumen yang baru saja Jessica bawa.
Jessica terbelalak. "Mengancam? Apakah kau mengancam para klien yang berhutang pada perusahaan kita, huh? Kau gila?! Kita punya kontrak, punya tata krama, dan punya aturan, kenapa harus pakai mengancam?"
Chae Eun menghela napas panjang, dia segera menandatangani dokumen yang Jessica berikan, dan memberikannya kembali pada Jessica. "Jangan banyak berpikir, bawa saja dokumen ini, bukankah dokumen ini penting? sana!"
"Ck, menyebalkan!"
Jessica hendak keluar ketika Chae Eun berkata, "hey, Chun Bong, kau tidak suka aku tinggal bersamamu, 'kan? Kalau begitu, dengan alasan itu aku akan pergi meninggalkan rumahmu."
"Ehhh?" Jessica tak mengerti.
"Sudah sana pergi."
Jessica menggelengkan kepalanya sebelum dia pergi meninggalkan ruang kerja Chae Eun.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Chae Eun menerima panggilan masuk dari Uhm Jae Hyeong di ponselnya tersebut.
"Bagaimana, pak Uhm?"
"Sudah beres, nona. Dia bilang dia tidak akan melakukannya lagi."
"Baguslah. Kalau begitu lanjutkan mengawasi Jin Ji, jika ada yang berbuat onar dengannya lagi, laporkan padaku."
"Baik."
Telepon diakhiri.
__ADS_1
Beraninya Haejun sialan itu mencoba memojokkan suamiku. Jika bukan karena aku tidak mau frontal membantu suamiku, aku pasti sudah membuat karirnya mati di industri hiburan!