Secret Wedding

Secret Wedding
Zara kembali


__ADS_3

Pagi harinya, Meli terbangun. wanita itu tersenyum saat suaminya tidur sambil memeluk pria itu dengan erat.


Meli menatap suami kakunya itu, Jhon kadang masih formal saat bicara dengannya. Hal itu membuat wanita itu kadang gemes.


Hujan badai membuat ia semalam harus mengunsi. Kini Keduanya berada di Mansion Nathan karena besok Zara akan sampai dengan membawa Nevan.


"Sayang, apa yang kita siapkan untuk menyambut Zara? tanya Meli.


"Kamu tahu Zara suka pancake?" tanya balik Jhon.


"Aku bisa menyiapkan sarapan spesial untuk Zara, mungkin kue pancake dan jeruk hangat," kata Meli sambil masih berada di dalam pelukan Jhon.


"Ide bagus, tapi apakah kau yakin mereka menyukainya? Nevan kan masih anak bayi?" tanya Jhon dengan senyum lembut di wajahnya.


"Kita juga bisa mempersiapkan beberapa mainan untuknya. Kita sedang menunggu keponakan kita, dan kita harus membuat waktu yang menyenangkan untuknya," Meli menjawab sambil memandangi Jhon.


Meli segera bangkit dari tempat tidur dan mulai mempersiapkan sarapan pagi di bantu pelayan. 


Meli senang karena akhirnya bertemu dengan pelayan yang dirindukannya, mereka sudah seperti keluarganya.

__ADS_1


Pagi itu langit terlihat mendung, namun hujan sudah reda. Meli  memasak bersama dan menata meja makan dengan rapi. Tidak lama kemudian, terdengar suara bel.


"Apa itu   Zara dan Nevan?" Meli bertanya dengan antusias.


"Mungkin, aku akan membukakan pintu untuk mereka," jawab Jhon sambil menuju pintu depan. Setelah membuka pintu, Jhon melihat Zara dan Nevan berdiri di depannya.


"Selamat pagi, Jhon dan Meli. Ini Nevan, anakku. Kamu bisa memanggilnya 'Nev'," Ucap Zara, sambil tersenyum.


Jhon dan Meli segera menyambut Zara dan Nevan. Para pelayan membantu memindahkan barang-barang mereka ke dalam Mansion, lalu menawarkan kue pancake dan jus jeruk hangat  untuk sarapan. 


Zara senang sekali makan pancake dan sangat menikmatinya, bahkan meminta untuk makan lagi. Setelah sarapan, Jhon dan Meli mengobrol bersama di ruang keluarga. 


"Nathan harus ke Berlin karena Mama dan Papa harus menangani masalah  di cabang perusahaan yang di sana, Mas Nathan tidak tega, jadi aku dan Nevan memutuskan langsung ke Paris saja," ujar Zara.


Jhon mengangguk paham, ia tahu bagaimana sifat Nathan.


Jam menunjukkan pukul satu siang, ketika Meli  memberitahu Zara  bahwa ia harus segera pergi.


Zara  merasa sedih karena waktu bersama Meli  terasa begitu singkat, Tapi  Jhon dan Meli berjanji untuk mengunjungi Zara dan Nevan lagi di waktu yang lain.

__ADS_1


Setelah itu Jhon  dan Meli pergi, wanita itu mengajak Jhon berjalan-jalan di taman  belakang mansion mereka nanti saat sampai. 


Setelah mengemudikan mobil selama empat puluh menit, pasangan suami istri itu berjalan-jalan diantara pohon-pohon dan menikmati suasana tenang. 


Di tengah-tengah jalan, tiba-tiba Jhon berhenti dan menarik tangan Meli.


"Sayang, kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu, bukan hanya sekedar kata-kata," kata Jhon dengan serius.


Meli terlihat terkejut, kemudian Jhon melanjutkan, "Kita sudah menikah selama tiga bulan lebih, tapi aku merasa cinta kita selalu sama segar seperti hari pertama kita bertemu."


Meli tersenyum bahagia mendengar kata-kata itu dan menjawab, "Aku juga mencintaimu, Bee. Selalu."


Keduanya bertatapan sejenak dan akhirnya berpelukan. Di saat yang sama, terdengar suara petir dan hujan mulai turun lagi. 


Keduanya berlari ke dalam mansion, saat sang istri akan duduk di sofa Jhon menarik  Meli untuk duduk di atas pangkuannya, sambil menatap hujan deras yang turun dari jendela. Dan di momen itu, Jhon dan Meli sama-sama merasakan bahwa cinta abadi mereka tumbuh lebih dalam.  


Saling mencintai dan saling merindukan satu sama lain setiap saat. Hujan mungkin terus berlanjut, namun cinta mereka tidak akan pernah pudar.


Meli ingat Zara juga bekerja, lalu apa warna itu masih bekerja setelah memiliki anak. Meli melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya."Bee, apa Tuan Nathan akan membiarkan nona Zara masih bekerja lagi?"

__ADS_1


Jhon menatap istrinya, pria itu hanya menggelengkan kepalanya.  Meli menjadi gemas ia sengaja membuat suaminya terangsang akan sentuhan di lehernya, tidak berselang lama Meli berteriak karena tiba-tiba suaminya mengankat tubuhnya dan membawa ke kamar.


__ADS_2