
Nathan dan Jhon baru saja sampai di kantor. Kedua pria tampan itu langsung disambut oleh beberapa karyawan. Siapa yang tidak mengenal Jhon dan bosnya saat ini.
Nathan langsung masuk ke ruang kerjanya. Pria itu berkutat dengan berkas yang baru saja diletakkan oleh Jhon.
"Tuan, saya baru dapat email dari Tuan Rangga jika Tuan Satya akan berkunjung."
"Hem, jangan lupa sambut mereka saat datang."
"Baik, Tuan.
Setelah mengatakan itu Jhon segera keluar dari ruang kerja Nathan.
Nathan menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat, pria itu ingin bertemu dengan Rehan untuk bekerja sama dan nanti juga akan mengajak Satya untuk berkunjung di ITZ.
Tepat pukul tiga sore Jhon kembali masuk karena ia baru saja pulang dari meeting.
“Tuan saya sudah membuat janji dengan Tuan Rehan untuk konfirmasi kerjasama kita yang terhenti saat ibu mertua Anda meninggal,” ujar Jhon.
“Apa kamu masih menyimpan berkas itu, Jhon?” tanya Nathan.
“Masih, Tuan.” Jhon segera keluar dari ruang Nathan dan tidak lama kembali lagi dengan membawa berkas di mana ada proposal kerjasama dengan ITZ.
“Jhon kamu bersihkan dan selesaikan pekerjaan wanita itu setelah aku pergi!” perintah Nathan.
“Sudah, Tuan. Sedangkan Apartemen saya mendapatkan laporan dan proposal yang selama ini dibocorkan oleh mantan kekasih Anda kepada Mike,” ujar Jhon lengkap.
Nathan menatap tajam pada pria yang selama ini ikut dengannya itu. “Jangan sebut wanita itu mantanku, hal itu membuatku merasa bersalah pada mama dan Zara.”
“Maaf.” Jhon segera pamit karena pekerjaannya masih banyak.
Setelah itu, Nathan melanjutkan pekerjaannya dengan fokus. Ia bekerja keras dan efisien, menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Jhon, sebagai asisten pribadinya, selalu siap membantu Nathan dalam segala hal.
Beberapa jam kemudian, Nathan menerima telepon dari rekan bisnisnya, Ranga. Mereka membicarakan rencana kunjungan Satya ke kantor Nathan.
"Tuan Nathan, Satya akan datang besok pagi untuk membahas proyek baru," kata Rangga dengan suara yang penuh semangat.
Nathan tersenyum dan menjawab, "Baik, beri tahu Tuan Satya bahwa saya sudah konfirmasi.”
Jhon masuk tanpa mengetuk pintu, hal itu membuat Nathan menatapnya tajam.” Jhon, Persiapkan pertemuan dengan Rangga dan segala sesuatunya dengan baik."
“Baik, Tuan.”
"Maksud saya Ranga dan Satya. Kita harus memastikan bahwa semuanya berjalan lancar."
“Apa akan ada jamuan makan malam, Tuan?” tanya Jhon.
“Kamu atur saja, Jhon.”
Nathan setuju dengan saran Jhon untuk mengadakan jamuan makan malam, lalu ia memerintahkan Jhon untuk mengurus segala persiapan jamuan tersebut.
Nathan melihat jam di tangan kirinya, pria itu tersenyum. ia segera membereskan berkas di atas mejanya.
Saat Nathan keluar dari ruang kerjanya, Jhon sudah menunggu di depan pintu.
“Mau langsung pulang, Tuan?” tanya Jhon.
“Hem.”
Jhon segera menekan tombol lift, saat pintu lift terbuka Nathan segera masuk diikuti oleh Jhon.
Suara pintu lift terbuka kedua pria itu keluar, beberapa karyawan yang melewati keduanya langsung menunduk.
Nathan hanya diam dan acuh pada beberapa karyawan wanita yang diam-diam memperhatikannya. Keduanya segera masuk mobil.
Jhon mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Saat di perjalanan, tepatnya mobil berhenti karena lampu merah Nathan bertanya, ”Sebaiknya kamu bawa istrimu ke kantor agar orang tahu kalau kalian sudah menikah.”
Jhon menatap Nathan, apa bosnya tidak sadar kalau masih menyembunyikan pernikahannya dengan Zara.
Mobil sampai di mansion Nathan, pria itu keluar dan tidak lama Meli datang karena suaminya sudah mengirimkan pesan untuk langsung pulang.
__ADS_1
Setelah mobil yang dikemudikan Jhon sudah keluar dari gerbang, Nathan masuk dan senyum mengembang saat melihat istrinya baru saja menuruni tangga.
“Loh, Meli mana?” tanya Zara saat tidak melihat sahabatnya itu.
“Sudah pulang,” jawab Nathan hendak mencium putranya, tapi Zara langsung menahan kening suaminya.
“Ayah mandi dulu,” kata Zara.
“Daddy, Sayang,” kata Nathan.
“No, Ayah ya, Nak.” Zara mendorong suaminya agar segera naik ke lantai dua.
Nathan mengerucutkan bibirnya, pria itu akhirnya naik ke lantai dua. Zara melihat suaminya seperti hanya tersenyum, andai sedang tidak menggendong anaknya pasti sudah menarik pipi ayah satu anak itu karena gemas.
Zara duduk memberikan anaknya pada pengasuhnya, wanita itu segera naik ke lantai dua. Ia hanya menarik napas panjang saat melihat suaminya bukannya mandi, tapi kini sedang berbaring di atas ranjang.
“Mas, kenapa?” tanya Zara.
“Ingin peluk,” jawab Nathan dengan mata yang masih terpejam.
Zara terkekeh, suami tuanya sekarang begitu manja.
Zara memeluk tubuh Nathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Nathan tersenyum, ia mengecup kepala sang istri yang terbungkus hijab.
"Sayang, kemungkinan besok aku pulang telat, ada jamuan makan dengan Satya."
"Tuan Satya ke sini?" tanya Zara terkejut.
Nathan mengangguk, pria itu menarik kedua pipi istrinya gemas.
"Aku mandi dulu, ya. Tunggu di ruang keluarga kasihan Nevan sama pengasuhnya," pinta Nathan.
Zara mengangguk, setelah suaminya masuk kamar mandi. Wanita itu segera menyiapkan pakaian dan keluar dari kamar.
Zara meminta kepada pelayan untuk menyiapkan makan malam karena suaminya pasti sudah lapar.
"Apa anak Daddy ini rewel, Bun?" tanya Nathan.
"Ayah, Mas! Is." Zara menatap suaminya kesal.
Nathan terkekeh dan berkata," Kalau Ayah itu Ayah Tama, papa itu Albert. Yang gendong Nevan Daddy."
Zara menatap suaminya dengan tangan terlipat di dada, hal itu membuat Nathan langsung pecah tawa.
Para pelayan saling pandang, sejak pulang dari Indonesia Tuan mereka sedikit manusiawi bisa tertawa lepas dan lebih banyak bicara.
Setelah tawa Nathan sudah tidak terdengar lagi, Zara bersandar pada lengan suaminya.
Sedangkan Nevan di pangkuan Daddynya, akhirnya Zara mengalah memanggil Daddy dan Mommy walaupun awalnya ia risi.
Setelah Nevan tidur di pangkuan Daddynya, Zara mengambil alih dan membawa naik ke lantai dua untuk di baringkan. Tak berselang lama ibu satu anak itu kembali lagi dan mengajak suaminya untuk makan malam.
Selama makan keduanya hanya diam, setelah selesai Nathan langsung ke ruang kerja guna menyiapkan berkas yang akan dibahas dengan Satya besok.
****
Esok harinya, ketika Satya dan Ranga tiba, Nathan menyambut tamunya dengan hangat.
Mereka berbicara tentang rencana proyek baru, saling bertukar ide, dan membuat kesepakatan penting.
Nathan bertindak sebagai pemimpin dalam pertemuan tersebut, dan ia memberikan arahan dan bimbingan kepada Satya dan Ranga.
Kemampuan kepemimpinan Nathan terlihat jelas, dan proyek tersebut menjadi semakin menjanjikan.
Setelah pertemuan selesai, Nathan mengungkapkan apresiasi dan terima kasih kepada Satya dan Ranga.
Setelah itu mereka meninggalkan kantor, Nathan dengan perasaan senang dan optimis akan kerjasama yang baru saja terjalin.
__ADS_1
Nathan merasa puas dengan hasil pertemuan tersebut. Ia memuji Jhon atas kerja kerasnya dalam mengatur segala persiapan, dan keduanya merasa bangga akan prestasi yang mereka capai.
Malam itu, Nathan pulang dengan hati yang bahagia.
Ia tahu bahwa pekerjaannya memberikan dampak positif dalam karier dan kehidupannya. Dengan semangat dan dedikasi yang terus tumbuh.
Nathan siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya di dunia bisnis.
Kali ini Nathan tidak diantar oleh Jhon. Pria itu memilih mengemudikan mobil sendiri.
Jhon bukan lajang lagi, Meli di rumah pasti seperti Zara sedang menunggunya pulang.
Namun, Nathan entah kenapa mengambil jalan pintas agar segera sampai mansion karena sudah begitu lelah.
Mobil yang dikemudikan Nathan melaju dengan kecepatan tinggi, tapi Nathan melihat ada mobil berhenti di depannya.
Nathan hendak mundur, tapi mobilnya menabrak mobil yang entah sejak kapan berada di belakangnya.
"Sial!" kata Nathan kesal.
Nathan belum keluar dari mobil, pria itu melihat mobil yang melintang di depannya pintunya terbuka, keluar empat Orang dari arah pintu mobil masing-masing.
Nathan melihat spion, dari belakang juga keluar empat Orang. Ia menarik napas panjang, ditautkan jarinya dan segera merenggangkannya.
Nathan terlonjak saat sebuah kayu menghantam bumper mobilnya.
Nathan mengirimkan lokasinya pada Jhon dan istrinya agar anak buahnya datang.
Setelah itu Nathan keluar dari mobil, pria itu membuka jas dan segera memasukkan dalam mobil. Ia menggulung lengan bajunya sampai ke siku.
Natan kini berdiri sambil bersandar di pintu mobilnya." Ada apa kalian menutup jalanku?"
Keempat pria itu saling pandang, kalau mereka tertawa dan sedetik kemudian dia menatap Nathan dengan tajam.
"Serahkan kunci mobil dan semua yang berharga pada kami!" bentak pria yang terlihat lebih besar dari pada yang lainya.
Mendengar kalau mereka hanya meminta harta, Nathan yakin mereka hanya para begal saja.
Nathan sempat berpikir jika delapan pria itu utusan dari musuh bisnisnya.
Nathan menatap empat orang yang berada di sisi kanan dan kirinya.
"Kalau aku tidak memberikannya, bagaimana?" tanya Nathan.
"Bos sepertinya orang ini main-main dengan kita, singkat saja, Bos!" teriak pria yang di sebelah kanan Nathan.
Mendengar itu tidak membuat Nathan takut atau gentar.
Tiba-tiba keempat pria yang di sisi kanan dan kirinya langsung menyerangnya.
Nathan langsung menghindar dan menangkis serangan ke empat orang itu yang datang bertubi-tubi. Sesekali ia memberikan tendangan dan bogeman mentahnya.
Dua orang ia buat tidur sadarkan dirinya setelah mendapatkan pukulan di tengkuknya. Kini tinggal dua orang lagi, bagai Nathan melumpuhkan preman itu hal kecil.
Ia berputar dengan tangan bertumpu pada kap mobil depan. Sekali gerakkan tendangannya mengenai wajah pria yang kurus tinggi itu. Darah segera keluar dari hidung dan mulutnya.
Kini tinggal satu lagi yang barus ia bereskan, tapi Kali ini Nathan harus lebih waspada karena pria itu mengeluarkan pisau lipatnya.
Nathan, harus segera membereskan kekacauan di depannya, ia tidak ingin membuat Zara dan Putranya yang berumur empat bulan itu menunggu lama.
Nathan lebih banyak menghindari, lawannya kali ini tidak bisa dianggap sepele.
Ia harus menjauh dari mobilnya agar gerakannya lebih bebas, tapi saat ia akan menghindari dan kembali menyerang dari arah belakang ada yang menyerangnya.
Walaupun sempat menghindar, mata pisau itu berhasil mengores lengannya.
Nathan segera menarik dasinya, ia mengikat lengannya dan setelah itu ia harus melawan kelima pria itu.
Suara motor sport menggema, Nathan tersenyum karena menyangka kalau itu anak buahnya bersama Jhon.
__ADS_1
Saat suara motor sport itu kian mendekat, ia melihat sosok yang tidak asing. Pria itu membulatkan matanya saat helm dilepas.