
Ctang... Cting.. Tang...
dibawah sinar matahari yang begitu terik, tepatnya di sebuah desa yang awalnya makmur, terjadi pertempuran habis-habisan, terlihat tiga jenis pasukan yang mengenakan pakaian berbeda sedang menyerang sebuah desa kecil, desa itu pun luluh lantak dan penuh api yang berkobar.
tiga pasukan itu adalah Arkan, Sanji dan Yama, sepertinya mereka beraliansi untuk menghancurkan desa kecil ini. namun, bukan tanpa perlawanan, desa kecil yang disebut sebagai desa penguasa elemen itu juga berhasil memberikan tekanan sekalipun mereka kalah jumlah.
“hebat, jadi ini kekuatan sang penguasa elemen api, jauh lebih hebat dari yang kuduga. “ ucap seorang pria dengan tubuh kekar, kepalanya botak licin, hanya menggunakan celana panjang dengan sepatu bot, dia adalah Judoro sang pemimpin pasukan Arkan yang saat ini tersenyum.
“kau benar, jika kita tidak cepat bertindak, mungkin kita berada dalam bahaya.“ ucap seorang pria, usianya sekitar empat puluhan, rambutnya panjang dengan ekspresi serius, mengenakan pakaian tertutup dilengkapi sebilah pedang ditangannya, dia adalah pemimpin pasukan Yama, Mikami.
“sekalipun kita menyerang sekarang, seandainya Hikasa tidak berkhianat, kemungkinan kita untuk menang sangatlah tipis, aku yakin pengendalian petir miliknya tidak kalah hebat dari api adiknya. ” sahut seorang pria lagi, pakaiannya tertutup, di sekujur tubuhnya dilengkapi dengan berbagai senjata, namanya adalah Ikumo, pemimpin pasukan Sanji.
sekitar tiga puluh meter dari ketiga orang tersebut, berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluhan tahun, pakaiannya serba putih, dia adalah Hikaru sang pemimpin desa elemen yang saat ini terlihat murka.
“kenapa kalian menyerang desa ku? apa kemunculan kami begitu mengancam sehingga kalian beraliansi? ” tanya Hikaru dengan wajah yang sangat serius.
saat ini, keempat orang tersebut berada di pinggir desa, cukup berjarak dengan para prajurit yang saat ini sedang bertempur, di sekeliling mereka terdapat sebuah perumahan yang sudah terbakar.
“benar, kekuatan kalian sangat mengancam, jika kami tidak menghancurkan desa ini sekarang, tidak ada jaminan kalian tidak akan menyerang kami dimasa depan. ” jawab Mikami juga serius.
Hikaru menatap tajam ketiga pimpinan pasukan musuh tersebut, “baiklah kalau begitu, walaupun tidak mungkin bisa mengalahkan kalian, tapi aku juga tidak berniat mundur. ”
Hikaru mulai melangkah maju, dia tidak membawa senjata apapun, namun Shaka(energi ditubuh yang terlihat) merah ditubuhnya terlihat begitu mencekam.
Judoro, Mikami dan Ikumo terkejut melihat Hikaru, lalu bersiap melangkah maju secara bersamaan.
“Shaka yang begitu kuat, semakin menarik saja! ” ucap Judoro sambil tersenyum.
“Judoro, aku tahu tubuhmu sangat kuat, tapi jangan pernah meremehkan sang penguasa api! ” Mikami mengingatkan.
Tap.. Tap..
ketiga pimpinan tersebut maju bersamaan untuk menyerang Hikaru.
“datanglah! akan ku perlihatkan api sejatiku! ” teriak Hikaru.
Hikaru menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dari mulut yang ternyata keluar beberapa bola api.
Blaarr...
bola api tersebut mengarah ketiga lawannya.
“cih, dia langsung mengeluarkan apinya! ” Mikami terkejut menatap bola api yang semakin mendekatinya.
Tap..
Buuumm...
__ADS_1
Mikami dengan gesit menghindar, bola api menghancurkan tanah.
“hanya seperti ini bukanlah ancaman bagi ku! ” Ikumo berteriak sambil mengayunkan pedangnya.
Wushh..
pedang Ikumo menebas bola api yang langsung terbelah dua.
Judoro tersenyum memandang bola api dan tetap diam, bola api menghantam tubuhnya, namun dia tidak terluka sedikitpun.
“hahaha, jangan berpikir serangan seperti ini bisa melukaiku.! ” ejek Judoro.
Mikami masih melayang di udara, dia melirik Ikumo, “mengaliri Shaka ke pedang untuk menebas bola api, pimpinan Sanji memang tidak bisa diremehkan! ” batinnya.
“cih, para pimpinan memang kuat! ” ucap Hikaru.
Hikaru bersiap menyerang dengan teknik berikutnya, namun tiba-tiba merasakan sesuatu di belakangnya.
Hikaru menoleh kebelakang, “ cepatnya?! ” dia terkejut melihat Mikami yang sudah siap dengan tusukan.
Blaarr..
saat ujung pedang Mikami hampir menusuk Hikaru, tiba-tiba api menyala dan membatasi Hikaru dengan Mikami.
“apa?! ” Mikami melompat mundur dan berjongkok di sebuah atap rumah.
Hikaru menatap Mikami, kemudian melirik kearah Judoro dan Ikumo yang bersiap menyerangnya.
Blaarr..
Judoro terlihat kesal, “sial, dia menggunakan teknik ini untuk menjaga jarak. ”
Ikumo mundur secara perlahan,“ aku dengar, ini adalah salah satu teknik andalannya, siapapun yang menerobos masuk pasti akan terbakar. ”
Mikami menatap Hikaru yang diselubungi api, “benar-benar menakutkan, jika kami tidak menghancurkan desa ini sekarang, maka desa Yama pasti akan hancur.. ” batinnya “ aku yakin dia sudah menguasai teknik api biru, atau mungkin api hijau..”
saat masih diam ditempat, tiba-tiba Mikami dihujani bola api milik Hikaru dengan sangat ganas, Mikami berhasil menghindari dan atap rumah pun terbakar.
dari dalam lingkaran api, Hikaru memandang Mikami dengan tajam, “Mikami, kecepatan mu memang sudah diakui di seluruh penjuru, tapi sampai kapan kau bisa bertahan..? ”
Tap
Mikami mendarat di dekat Judoro dan Ikumo, ketiganya memandangi Hikaru yang masih tertutup perisai api.
“Mikami, apa kau punya rencana? ” Judoro melirik Mikami.
“ menembus perisai api itu tidak sulit, tapi yang sudah masuk pasti akan terbakar.. ” sahut Ikumo.
__ADS_1
“jika kita ingin menyerang, hanya atas yang terbuka dan dengan ketinggian itu pasti sangat sulit, sepertinya kita hanya bisa menunggu Shaka miliknya mulai melemah. ” ucap Mikami datar.
Wushh..
bola api kembali menghujani, ketiga pimpinan itu hanya bisa menghindar dan menghindar.
jauh dari keempat orang itu bertarung, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun mengintip dari sebuah rumah yang sebagiannya roboh, dia memandang kearah Hikaru dengan wajah cemas.
“ayah.. ” ucap anak laki-laki itu, dia adalah Himiko, anak dari Hikaru.
★★★★★
Ctang... Cting...
pasukan Arkan, Sanji dan Yama terus menekan pasukan Elemen. pasukan Elemen yang jumlahnya jauh lebih kecil terus dipukul mundur, sudah banyak prajurit yang berjatuhan darah pun tumpah dimana-mana
adu pedang terus terjati, teriakan kepedihan menggema dan menyayat hati, tidak ada belas kasihan disini, hari dimana akan menjadi simbol paling berdarah.
“menyerahlah! jika kalian menyerah dan bergabung dalam pasukan kami, kalian tidak akan mati! ” teriak salah seorang pasukan Arkan.
“jangan bermimpi! kami lebih baik mati daripada harus menjadi penghianat! ” jawab pasukan Elemen.
“baiklah kalau begitu, kami juga tidak memberi penawaran dua kali, bersiaplah menerima kematian! ” sahut pasukan Sanji.
pasukan Elemen sudah sangat hancur, tetapi mereka tidak sedikitpun berniat mundur, namun sudah bisa dipastikan mereka akan kalah.
“kenapa bisa jadi seperti ini? dimana pimpinan?! ”
“pimpinan sedang menghadapi ketiga pimpinan lawan! ”
“lalu, dimana kakak pimpinan? kenapa petir miliknya belum terlihat? ”
“apa maksud mu? dialah penghianat desa, dialah penyebab kita dalam situasi ini! ”
“dasar penghianat! sialan! ”
pasukan Elemen berbincang dengan berteriak sambil menghadapi musuh, wajah mereka terlihat kesal.
disisi lain, sangat jauh dari desa Elemen yang saat ini luluh lantak, tepatnya sedang berdiri diatas padang rumput yang berada di tepi hutan serta alur sungai, seorang pria berwajah tampan berusia sekitar kurang tiga puluh tahun berdiri menatap langit, dia adalah Hikari, adik dari Hikaru.
Hikari menatap langit bukan tanpa alasan, dia melihat seekor burung elang melintas di atasnya sambil berkeliling, seketika wajah Hikari menjadi lebih serius.
“apa yang terjadi? ” Hikari mengangkat tangannya ke atas dan elang tersebut hinggap ditangannya, di paruh burung tersebut menyelip selembar kertas.
Plak..
Hikari mengambil kertas tersebut dan bergegas membacanya,sesaat berikutnya ekspresi wajah Hikari terlihat begitu murka.
__ADS_1
“istriku, tunggulah aku! Sinam, ayah takkan memaafkan orang yang membuatmu terluka! ”
Hikari melesat cepat meninggalkan tempat itu, Elemen air yang dia gunakan mempercepat gerakannya.