SINAM

SINAM
Kembalinya Himiko


__ADS_3

Sinam dan yang lainnya masih berada di pinggiran lubang kehancuran, begitu juga dengan Deiki, mereka terus memandang kehancuran tersebut yang tercipta karena pertarungan.


Sinam berjalan kearah sisi lain lubang tersebut, “rasanya tidak puas jika tidak mengelilingi lubang ini, pemandangan ini hanya datang sekali, mungkin aku tidak akan pernah ke tempat ini lagi. ” batinnya.


Tap.. Tap..


Sinam terus berjalan mengelilingi, “lubang ini benar-benar luas. ” gumamnya.


“kau berasal dari Desa Yama, ya.” Tiba-tiba ada yang bersuara.


“eh.?! ” Sinam terkejut, lalu menoleh asal suara, dia melihat seorang anak laki-laki berambut putih sedang duduk di tepi lubang itu di sebelah Sinam, dia sendirian dan cukup berjarak dari orang sekitar, rambutnya di hembus angin sepoi-sepoi, dia adalah Sanji.


“kau.. bagaimana bisa tahu.? ” tanya Sinam.


Sanji menoleh Sinam, “tentu saja aku tahu, orang dari Desa Arkan memiliki postur tubuh


lebih dari orang pada umumnya, sementara orang dari Desa Pedang Kembar tidak mungkin sekagum itu memandang lubang ini. ” dia tersenyum.


“jadi, kau berasal dari Desa Sanji, ya.? ” tanya Sinam.


“ya, namaku Sanji, namamu siapa.? ” Sanji mengarahkan tangannya pada Sinam untuk bersalaman.


Sinam menyambut tangan Sanji dan bersalaman, “namaku Sinam, tapi siapa namamu? aku tahu kau berasal dari Desa Sanji. ” dia terlihat bingung.


“hehehe, seperti biasa, orang selalu bingung saat mendengar namaku. ” Sanji tertawa kecil, “namaku Sanji.. yah, Sanji. ” lanjutnya.


“Sanji.?” ucap Sinam, “sepertinya kau salah satu petarung dari Desa Sanji yang sangat kuat, namamu saja sudah melambangkan Desa Sanji. ” dia tersenyum.


“tidak, aku tidak sekuat itu, aku sangat lemah, bahkan aku tidak bisa menggunakan Shaka, tubuhku ini tidak memiliki Shaka. ” Sanji terlihat sedih.


Sinam terkejut, “tidak bisa memiliki Shaka.? ” ucapnya.


“ya, walaupun terlihat sehat, namun tubuh ku cacat bagian dalam. ” ucap Sanji, “aku bisa berada di sini karena ayahku yang terus menaruh harapan pada ku.. sebagai pimpinan Desa Sanji, dia terus berusaha untuk membuat diriku menjadi kuat.. tapi sebenarnya itu membuat diriku semakin di benci. ”


“jadi, dia anak pimpinan Desa Sanji. ” batin Sinam.


Sanji menunjuk kearah gerombolan orang dari Desa Sanji yang cukup jauh, “kau lihat, mereka adalah orang dari Desa Sanji yang diutus untuk melakukan pertandingan ini sama seperti ku, tapi mereka terus mengasingkan ku.. yah, tidak seharusnya aku yang lemah ini menjadi anak pimpinan Desa Sanji.. dan tidak seharusnya aku yang lemah ini mewakili Desa Sanji.” ucapnya.


Sinam menatap Sanji dengan dalam, “ jadi begitu,ya. pantas saja dia sendirian, aku mengerti sulitnya jadi dia. ” batinnya.


Sanji menatap Sinam, “kenapa kau menatap ku seperti itu? kau membuat ku terlihat semakin menyedihkan. ” dia tersenyum tipis.


Sinam menghela nafas panjang, “Sanji.. ” ucapnya, “aku tahu ini sulit bagimu, tapi.. itu bukan kuasa kita, orang seperti kita hanya bisa melakukan sebisa kita, jadi berjuanglah.! ” dia tersenyum hangat.


Sanji tertegun, tersenyum dan berdiri dari duduknya, “kau benar, aku akan berjuang, aku akan bertarung semampu ku.. lagipula aku sudah sampai di sini.. ” ucapnya.


Deiki memandang Sinam dari kejauhan, “padahal baru sebentar, tapi dia sudah memiliki teman, dia memang mudah akrab dengan orang lain. ” batinnya tersenyum.


“oi, Sinam.!! ” Deiki berteriak memanggil Sinam. “sudah saatnya kembali, kita harus istirahat untuk pertarungan besok.! ”


Sinam menoleh Deiki, lalu menatap Sanji, “sepertinya aku harus pergi, sampai jumpa di arena pertarungan, aku berharap bisa bertarung dengan mu. ” ucapnya.


Sinam berlari kearah Deiki dan yang lain, “baiklah, aku datang.! ” teriaknya.


Sanji memandang punggung Sinam yang semakin menjauh, “Sinam, ya.. setelah bertemu dia, aku seperti memiliki semangat baru.. mungkin karena sangat jarang orang mendukung ku.. terlebih orang asing yang berasal dari Desa lain. ” batinnya tersenyum.


Sinam sudah bergabung dengan Deiki dan yang lainnya, kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


“ayo pergi, kalian harus beristirahat lebih. ” ucap Deiki.

__ADS_1


Deiki melirik kearah gerombolan orang dari Desa Arkan yang berada di sisi lain lubang kehancuran, “jadi mereka orang-orang dari Desa Arkan, ya.. sepertinya fisik mereka memang sangat kuat. ” batinnya lalu melirik ke sisi lainnya, “lalu.. mereka orang dari Desa Sanji.. ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit. ”


★★★★★


seorang pemuda berjalan ditengah hutan, wajahnya tampan dengan mata tajam, dia terlihat begitu tenang, rambutnya hitam panjang, pakaiannya serba putih dengan sebilah pedang di pinggang, jika dilihat sekilas dia mirip dengan Uhara dari Desa Yama, bedanya Uhara memiliki rambut berwarna putih.


“sepertinya aku sudah memasuki wilayah Sanji. ” gumam pemuda itu, dia adalah Himiko Nogo, anak dari Hikaru sang pimpinan Desa Elemen yang telah hancur sembilan tahun yang lalu, dia juga merupakan kakak sepupu Sinam, saat ini dia berusia enam belas tahun.


Tap.. Tap..


Himiko terus berjalan dengan santai, dia melewati pepohonan, entah kemana tujuannya.


Tap..


Tiba-tiba muncul dua petarung dari Desa Sanji menghadang Himiko, keduanya terlihat dilengkapi dengan berbagai senjata.


“siapa kau? apa yang kau lakukan disini.?! ”


“hutan ini sudah masuk wilayah Sanji, jika kau tidak pergi kami akan membunuhmu.! ”


“ya, mungkin penyusup dari Desa lain. ”


ucap kedua orang itu bersahutan.


Himiko menghentikan langkah, menatap datar kedua orang itu, “pergilah, aku sedang tidak ingin membunuh. ” ucapnya dingin.


“apa katamu.?! ”


“cih, sepertinya anak ini sudah bosan hidup. ”


kedua orang itu bersiap, “ ayo maju..!! ” lalu maju menyerang Himiko secara bersamaan.


Tap..


Himiko melompat keatas dahan pohon, lalu menatap tajam kedua orang yang berada di bawahnya.


kedua orang itu menatap Himiko yang berada di atas, keduanya terlihat kesal.


“dia gesit sekali. ”


“benar, semua tebasan ku dihindari dengan begitu mudah. ”


keduanya mengakui kehebatan Himiko.


Himiko masih menatap tajam kedua musuhnya, “aku sudah mengingatkan kalian berdua, jadi terimalah ini.! ” dia terlihat bersiap.


“Jurus Api, Bola Api.! ” teriak Himiko, lalu menghembuskan api berbentuk bundar dengan ukuran besar menyerang kedua musuhnya.


kedua orang itu tersentak melihat bola api yang berada di atas mereka, keduanya mematung dengan wajah ketakutan.


“Jurus Api.? ”


“yang benar saja.? ”


keduanya masih diam ditempat, sementara bola api semakin mendekati mereka.


“menghindar.!! ”


Blaarr...

__ADS_1


bola api Himiko sudah menghantam tanah tempat kedua musuhnya berpijak, api itu melebar dan membakar hutan cukup luas, asap mengepul tebal.


Tap..


kedua orang itu masih selamat, mereka duduk di bawah pohon cukup jauh dari tempat pertarungan sebelumnya.


“hosh.. hosh.. ” keduanya mengatur nafas.


“hampir saja.. ”


“aku tidak menyangka anak itu menguasai Elemen Api, kita harus memberi tahu Desa. ”


ucap keduanya bergantian.


“tidak akan kubiarkan. ” Tiba-tiba Himiko muncul di belakang kedua orang tersebut.


kedua orang itu berkeringat dingin mendengar suara itu, lalu menggerakkan leher perlahan untuk menoleh kebelakang.


Himiko menarik pedangnya, mengarahkan tebasan kearah satu musuh, tiba-tiba pedang Himiko mengeluarkan Api yang sangat dahsyat, pepohonan yang berada di jangkauan serangannya terpotong terkena api dari pedangnya.


Tak..


tebasan Himiko mengenai leher orang itu tersebut, darah muncrat ke segala arah, kepalanya terjatuh ke tanah dan menggelinding.


Sring...


Himiko kembali menyarungkan pedangnya, lalu menatap orang yang terduduk di depannya.


orang itu memandang kepala rekannya yang terjatuh ke tanah, menoleh Himiko perlahan dengan wajah ketakutan.


Glek..


suara orang itu menelan ludah terdengar jelas, seketika tubuhnya basah karena keringat dingin.


“sekarang.. hanya tinggal dirimu. ” ucap Himiko datar.


orang itu membungkuk, “aku mohon lepaskan aku, aku berjanji tidak akan memberi informasi ini pada Desa Sanji. ” ucapnya dengan air di mata serta hidungnya, dia menangis karena ketakutan. “aku tidak akan mengatakan ada penguasa api yang masih hidup. ”


Himiko menatap datar orang itu, “baiklah, akan ku lepaskan kau, tapi kau harus menjawab pertanyaan ku. ” ucapnya.


“baiklah, baiklah. ” orang itu menghapus air di wajahnya.


“dimana Hikasa? aku tahu dia berada di wilayah Sanji. ” ucap Himiko dengan wajah mencekam.


orang itu terkejut, “Hikasa? maksudmu Sang Penguasa Petir? aku tidak tahu dia berada di mana.. aku benar-benar tidak tahu. ” orang itu terlihat sangat ketakutan.


Himiko menatap datar orang itu, “begitu, ya.. akan ku beri tahu satu hal lagi padamu, aku bukan hanya Pengendali Api, tapi juga pengguna Pedang Kembar Api.. ” dia menarik sedikit pedangnya.


“eh.?! ” orang itu terkejut.


Zrashh..


detik berikutnya, darah terciprat ke segala arah, terlihat tubuh orang itu sudah terkoyak menjadi dua dan terbakar, sepertinya dia terkena tebasan pedang Himiko, namun tidak terlihat entah kapan Himiko mengayunkan pedang.


Sring...


terlihat Himiko kembali menyarungkan pedangnya di pinggang, dia sudah membelakangi orang terakhir yang di bunuhnya.


“informasi itu hanya bisa di dapatkan dengan menukar nyawa.. aku juga tidak perduli dengan nyawa orang lain. ” gumam Himiko datar.

__ADS_1


Himiko kembali melanjutkan perjalanan, wajahnya terlihat serius dan mencekam, “Hikasa, tunggulah aku, aku akan menjemput nyawamu.. ” batinnya, “penghianatan mu yang telah menghancurkan Desa Elemen.. dendam ini ku awali dengan membunuhmu. ”


__ADS_2