SINAM

SINAM
Pertemuan Para Pimpinan


__ADS_3

di arena pertarungan, bangunan besar berbentuk melingkar, lengkap dengan tempat para penonton untuk duduk, sudah dipenuhi dengan manusia. tempat ini adalah arena pertarungan untuk empat Desa besar.


di lapangan arena yang berbentuk melingkar, empat kubu sudah berdiri berbaris, Desa Pedang Kembar, Desa Yama, Desa Sanji dan Desa Arkan.


seorang pria memasuki arena, dia adalah wasit yang mengenakan pakaian khas Desa Pedang Kembar, “baiklah, sebelum pertarungan di mulai, aku ingin sedikit berbicara. ” ucapnya, “pertarungan ini hanya pertarungan persahabatan, tujuan ini diadakan hanya untuk mempererat persahabatan antar Desa sekaligus memperlihatkan kebolehan daun muda dari setiap Desa, jadi tidak perlu berlebihan.. peraturannya sederhana, bertarung sampai ada yang menyerah ataupun tidak bisa bertarung lagi..” ucapnya lantang.


wasit menatap masing-masing anak dari setiap Desa, “satu lagi, untuk mempermudah para penonton untuk mengetahui asal kalian, aku akan memberikan kain pengikat kepala dengan warna berbeda-beda. ” ucapnya, “perwakilan dari kesepuluh murid silahkan maju, aku akan memberikan pengikat kepala ini pada kalian. ” lanjutnya.


setelah itu, Deiki maju perlahan mendekati wasit, begitu juga dengan tiga guru dari Desa lain, mereka beradu tatap cukup lama.


“Desa Pedang Kembar warna merah, Desa Yama warna putih, Sanji warna biru, dan Desa Arkan warna hijau..!! ” wasit berteriak kearah penonton.


Deiki melirik wasit, “aku tahu kau berasal dari Desa Pedang Kembar, tapi aku berharap kau berlaku adil dan tidak pilih kasih. ” ucapnya pelan, tapi penuh penekanan.


wasit melirik Deiki, “jangan khawatir, aku akan menjadi wasit yang adil. ” jawabnya.


guru dari Desa Pedang Kembar menoleh Deiki, “apapun yang kau katakan, kesepuluh murid dari Desa Yama akan dikalahkan dengan mudah oleh kesepuluh murid ku. ”


“yah, itu mungkin terjadi, tapi berbeda jika ada kesepuluh murid ku. ” guru dari Desa Arkan mulai bicara.


“tidak perlu berbicara hal yang tidak perlu, kita lihat saja pertarungan nanti, aku yakin kesepuluh murid ku membuat kalian terkejut. ” guru dari Desa Sanji juga ikut-ikutan.


Deiki melirik kearah tiga guru lainnya, “cih, mereka membuat ku kesal, jika tidak di situasi sekarang, mungkin aku sudah membunuh mereka. ” batinnya terlihat kesal.


wasit melirik kearah empat guru, “tidak perlu di perpanjang, sekarang kembali dan berikan kain itu pada kesepuluh murid kalian. ” ucapnya.


Deiki dan guru lainnya kembali ke tempat, lalu memberikan kain itu pada murid-muridnya.


Srak..


Sinam tidak langsung mengikat kepalanya dengan kain tersebut, begitu juga dengan Ryugu, sementara delapan yang lain langsung mengikat kepala mereka.


“Yosh.. aku sudah siap bertarung.! ” Sansiro bersemangat.


Sinam memandangi kearah kubu lawan, awalnya dia terlihat serius, namun perlahan tersenyum semangat, “jadi, mereka yang akan menjadi lawan kami.. sekuat apapun mereka, aku tidak akan kalah.!! ” batinnya, tiba-tiba pandangannya terhenti pada satu orang yang juga menatapnya sambil tersenyum, orang itu adalah Sanji, “Sanji, sepertinya dia dipenuhi dengan semangat.. ” batinnya.


diatas arena pertarungan, di lengkapi dengan kursi serta meja-meja, beberapa orang terlihat duduk santai dengan penuh wibawa, mereka adalah para pimpinan dari empat Desa.


Mikami Sato pimpinan Desa Yama, Judoro dari Desa Arkan, Ikumo sudah digantikan dengan adiknya yang bernama Komuki sebagai pimpinan Desa Sanji, Higuchi pimpinan Desa Pedang Kembar.


Ikumo juga ada di situ, dia duduk di samping Komuki, “setiap bertemu kalian, aku jadi teringat perang sembilan tahun yang lalu. ” ucapnya.


Mikami melirik Ikumo, “ya, perang yang membuat pimpinan Sanji harus melepaskan jabatan karena kehilangan tangan kirinya. ” dia meledek.


Ikumo tersenyum, “tidak terlalu buruk, adikku yang menggantikan posisi ku, aku juga tidak lebih bijaksana dari dia.. ” ucapnya.


Judoro melirik Mikami, “aku benci mengatakan ini, tapi.. Api Hijau milik pimpinan Desa Elemen benar-benar berbahaya, sampai sekarang tinju kanan ku tidak bisa di gunakan, padahal hanya terkena sedikit saja, lebih parahnya tidak ada yang mampu menyembuhkan. ” ucapnya lalu menoleh Ikumo, “aku sedikit terkejut karena Ikumo tidak mati walaupun sudah terkena sebanyak itu. ”


“hehehe, aku tidak akan mati semudah itu. ” Ikumo tertawa kecil, “tapi, jika aku tidak memotong langsung tangan ku saat itu, mungkin luka bakar itu terus menyebar dan aku akan kehilangan nyawa. ” ucapnya.


Mikami melirik tajam tinju kanan Judoro yang dibalut perban, “jadi, memang separah itu, ya.. aku beruntung karena tidak terkena Jurus pimpinan Desa Elemen. ” batinnya.

__ADS_1


Higuchi pimpinan Desa Pedang Kembar tetap diam karena tidak tahu arah pembicaraan, “aku tidak tahu seperti apa perang sembilan tahun yang lalu, tapi setidaknya itu menyelamatkan Desa Pedang Kembar.. jika itu tidak terjadi, mungkin Desa Pedang Kembar yang akan dihancurkan. ” batinnya serius.


Mikami menatap Ikumo tajam, “lalu, bagaimana dengan anak itu.? ” tanyanya.


“siapa maksud mu.? ” Ikumo bertanya balik.


“anak Hikasa sang Penguasa Petir.. ” ucap Mikami.


“Hitomi, ya. ” Ikumo tersenyum tipis, “dia menjadi petarung yang sangat kuat, pengendalian petirnya terus membuat ku terkejut, tapi dia jarang terlihat.. ”


“sebaiknya kau sedikit hati-hati padanya, bisa saja suatu saat dia menyerang balik.. aku berbicara seperti ini karena tidak ingin Desa Sanji hancur. ” ucap Mikami serius.


“tidak perlu khawatir, walaupun dia jarang terlihat, tapi dia cukup dekat dengan ku, dia tidak pernah melakukan keributan apapun. ” Ikumo tersenyum.


Mikami menatap tajam Ikumo, “kalau begitu, aku berharap kau tidak menjadikannya senjata untuk memberi rasa takut pada Desa lain.. ” ucapnya, Ikumo membalas dengan tatapan tajam.


“sudah cukup nostalgianya, pertarungan sebentar lagi akan dimulai. ” Judoro memotong.


setelah itu suasana menjadi hening, mereka terdiam sejenak.


“aku dengar anak pimpinan Sanji ikut dalam pertarungan ini, apa itu benar.? ” Judoro kembali membuka pembicaraan.


“benar, dia adalah anakku. ” sahut Komuki cepat.


“begitu, ya.. pastinya dia bukan anak biasa. ” Higuchi menyahut.


“ya, dia bukan anak biasa, dia penuh kekurangan. ” ucap Ikumo, “tapi kami percaya, suatu saat dia akan menjadi petarung yang kuat. ” kemudian tersenyum.


“tidak perlu dipikirkan, aku bahkan memiliki anak seorang pembangkang. ” Mikami terlihat kesal, wajah Kazuo terbayang.


“ayo cepat..!! ”


“mana pertandingannya.? ”


“kami sudah tidak sabar.!! ”


para penonton berteriak kesal.


wasit menatap datar kearah peserta pertarungan, “aku akan membacakan nama petarung yang akan bertarung.. yang namanya ku sebutkan silahkan maju, yang lainnya silahkan naik ke atas. ” ucapnya datar.


Sinam menatap wasit penuh harapan, “namaku, namaku, namaku.. ” batinnya.


“Kaito dari Desa Pedang Kembar, dan.. Saken dari Desa Yama..!! ” teriak wasit, teriakan para penonton langsung memenuhi bangunan tersebut.


Deiki bergegas pergi, “baiklah semua, ayo keatas.. ” ucapnya lalu menoleh Saken, “Saken, berjua.. ” dia menghentikan ucapannya, dia terkejut melihat raut wajah Saken.


Saken tersenyum jahat, wajahnya begitu mencekam, dia menatap kearah lawannya yang juga menatapnya, “aku merasakan sesuatu darinya.. mungkin dialah Pewaris Kekuatan Iblis dari Desa Pedang Kembar. ” batinnya.


“cih, sayang sekali bukan aku. ” Sinam terlihat kecewa, “baiklah Saken, berjuanglah..! ” lalu tersenyum.


semua orang sudah menjauh dan melihat dari atas, kini di arena hanya tinggal tiga orang, Saken, Kaito dan wasit.

__ADS_1


wasit melirik Saken dan Kaito bergantian, “kalian berdua, majulah.” ucapnya.


Tap.. Tap..


Saken berjalan perlahan mendekati Kaito, begitu juga sebaliknya, ketika cukup dekat mereka berhenti dan saling tatap.


Saken menatap Kaito sambil tersenyum jahat, “aku tahu kau seorang Pewaris Kekuatan Iblis.. jadi, tolong hibur aku. ” ucapnya.


Kaito tersenyum jahat, “Saken Takeyomi Pewaris Kekuatan Iblis Ular.. aku akan mengalahkan mu. ” ucapnya.


“jadi kau sudah tahu tentang ku, baguslah, kau pasti sudah tahu seberapa kuat diriku. ” ucap Saken dengan wajah mencekam.


wasit terkejut mendengar itu, “jadi mereka mewarisi kekuatan Iblis, itu artinya.. ini pertarungan sesama Iblis. ” batinnya, lalu tersenyum, “menarik.!! ”


“bersiaplah.. ” wasit mengangkat tangannya, “mulai..!! ” lalu menjatuhkan tangannya, gemuruh suara penonton langsung menyambut.


Tap..


Saken bersiap, “lihatlah kekuatan ku..!! ” teriaknya sambil mengubah kedua tangannya menjadi ular untuk menyerang Kaito.


Wushh..


kedua tangan ular milik Saken melesat cepat kearah Kaito.


“cepatnya.?! ” Kaito sedikit terkejut, melompat mundur untuk menghindar.


Bumm..


serangan Saken menghancurkan bumi, debu langsung muncul, sementara Kaito sudah mendarat di bumi.


Kaito tersenyum remeh, “lumayan.. ” ucapnya.


Saken terlihat kesal, mengubah ularnya menjadi tangan kembali, “bagaimana dengan yang ini.?! ” kemudian mengeluarkan puluhan ular dari lengan pakaiannya.


Kaito terkejut, “banyak sekali, tidak mungkin di hindari.! ” gumamnya


Srakk..


puluhan ular Saken melesat kearah Kaito yang hanya diam ditempat, itu memang mustahil di hindari.


“matilah..!! ” teriak Saken.


Srang.. Sring...


saat puluhan ular Saken hampir menyentuh Kaito, tiba-tiba terlihat sinar putih bergerak cepat, detik berikutnya tubuh ular sudah tercincang dan darah terciprat ke segala arah. disitu, terlihat tubuh Kaito sudah berubah, kedua tangannya sudah di lengkapi dengan capit kalajengking, Shaka ungu kehitaman membalut tubuhnya.


awalnya Saken terlihat terkejut, namun kemudian tersenyum jahat, “jadi, kau mewarisi kekuatan Iblis Kalajengking, ya. ” ucapnya.


“wah, padahal baru saja di mulai, tapi kita sudah disajikan dengan pertarungan langka seperti ini. ” Ikumo tersenyum menyaksikan pertarungan itu.


“kau benar, aku tidak menyangka Desa Yama dan Desa Pedang Kembar memiliki anak yang mewarisi kekuatan Iblis. ” sahut Judoro.

__ADS_1


disisi lain, Sinam terkejut menyaksikan pertarungan itu, “tangan anak itu berubah menjadi seperti capit kalajengking, itu artinya dia juga mewarisi kekuatan Iblis, bagi Saken sendiri ini akan menjadi pertarungan yang sulit. ” batinnya.


__ADS_2