SINAM

SINAM
Saudara Angkat


__ADS_3

Uhara menoleh Sena dan Sinam, “Sena.?! ” ucapnya.


Sinam menatap Uhara dengan songong, “dia siapa kak.? ” kemudian menoleh Sena.


Sena menatap angkuh Uhara, “ entahlah, aku melupakannya. ” ucapnya.


“seperti biasa, kau selalu berlagak angkuh di hadapan mu. ” ucap Uhara datar menatap Sena.


Sena menatap datar Uhara, “aku pikir kau melupakan teman sekelas mu, jadi tidak masalah jika aku juga berpura-pura lupa. ” ucapnya datar.


“seperti biasa, kau selalu banyak bicara. ” Uhara berucap datar, dia memalingkan wajah dari Sena.


“apa katamu.?! ” Sena tiba-tiba marah, dia berdiri dari duduknya dengan tangan siap meninju Uhara, “kau mengajakku berkelahi.? ”


“tidak, tidak. aku tidak berniat bertarung dengan gadis berisik seperti mu. ” Uhara tersenyum terpaksa.


“berisik.?! ” Sena terlihat kesal, “siapa yang kau sebut berisik.?! ”


Uhara menatap Sena, “padahal sudah lama tidak berjumpa, tapi dia selalu bersikap seperti biasa. ” batinnya.


“huh.! ” Sena menghembuskan nafas kasar, lalu kembali duduk.


Sinam masih menatap Uhara, lalu menoleh Sena, “sepertinya kakak kenal orang ini, kalian terlihat dekat. ” ucapnya polos.


“dekat.?! ” Sena menoleh Sinam, “apa kau bercanda.? ”dia seperti tidak suka dengan ucapan Sinam.


Uhara menoleh Sinam, “siapa bocah ini? aku tidak tahu kau punya adik laki-laki. ” ucapnya sedikit terkejut.


“aku hanya menganggapnya adik. ” Sena berucap cepat, “namanya Sinam. ”


“Sinam.?!” Uhara terkejut.


Sinam menatap Uhara, “aku Sinam, namamu siapa.?! ” ucapnya lantang.


“aku Uhara.. sepertinya kau terlalu kecil untuk mengingat ku saat itu Sinam. ” Uhara menatap Sinam serius.


“Uhara, ya. ” Sinam terlihat berpikir, “sepertinya aku pernah mendengar nama itu.. ” dia masih berpikir.


Uhara menatap Sinam serius, “jika dia Sinam yang ku kenal, apa mungkin dia tidak mengingatku sedikitpun. ” batinnya.


“oh, ya.. aku ingat! barusan kak Sena mengatakan kau petarung hebat.! ” tiba-tiba Sinam terlihat semangat.


“eh.?! ” Sena terkejut, menoleh Uhara dengan pipi memerah, lalu menundukkan kepala. sepertinya dia merasa malu.


Uhara menoleh Sena, “begitu, ya. ” kemudian kembali menoleh Sinam, “apa hanya itu yang kau tahu tentang ku? apa kau tidak pernah mendengar nama ku dari nenek dan kakek mu.? ”


“kakek dan nenek.? ” Sinam kembali berpikir, “ya, kau benar! kakek dan nenek selalu menyebut-nyebut namamu. ” dia kembali bersemangat.


plaak..


Uhara meletakkan tangannya di rambut Sinam.


“eh?! ” Sinam terkejut.


“sudah lama sekali, ya.. Sinam.. ” Uhara tersenyum hangat, “kau tumbuh terlalu cepat, aku tidak bisa mengenali mu. ”


“eh.?! ” Sena juga terkejut, “jadi kalian saling kenal? ”


Uhara menoleh Sena sambil tersenyum, “Sinam adalah adik angkat ku, aku dulu tinggal bersamanya sebelum masuk akademi. ”


Sinam tertegun, dia menatap Uhara bingung, “jadi, orang ini pernah tinggal di rumah kakek dan nenek.?! ” batinnya.

__ADS_1


Uhara menoleh Sinam sambil tersenyum, “baiklah, Sinam. ayo pulang, aku rindu masakan nenek. ” dia terlihat penuh semangat, dia tersenyum penuh kebahagiaan.


“yosh..! ” Sinam menjawab dengan semangat.


Uhara dan Sinam pergi meninggalkan Sena tanpa rasa bersalah, sepertinya mereka tidak perduli lagi dengan Sena.


Sena terdiam di tempat, “ mereka tidak mengajakku.? ” batinnya, “aku merasa di campakkan. ” dia terlihat kesal.


setelah itu Sena tersenyum, “tapi setidaknya itu bisa membuat Uhara tersenyum lepas.. sudah lama aku tidak melihatnya seperti itu..” batinnya.


Sinam dan Uhara terus berjalan, saat ini mereka sudah berada di tempat yang tidak terlalu ramai, namun di kanan kiri mereka terdapat perumahan.


“hey, kak Uhara! apa benar kakak seorang petarung hebat.? ” tanya Sinam.


“kau jangan terlalu memuji, semua itu tidak benar. ” jawab Uhara.


Tap.. Tap...


tiba-tiba terdengar suara orang berlari di belakang Sinam dan Uhara.


“Sinam sialan, aku sudah mencari mu.?! ” teriak seseorang.


Sinam dan Uhara menoleh kebelakang, mereka melihat sosok Sansiro.


“kau ya, Sansiro.? ” Sinam terlihat biasa saja.


“hosh.. hosh.. ” Sansiro mengatur nafas, “dasar tidak setia kawan, kau meninggalkan ku. ” ucap Sansiro.


Uhara menoleh Sansiro, lalu menatap Sinam, “dia temanmu.? ” tanyanya.


“tidak perlu di pikirkan, kita harus segera pulang, nenek pasti merindukan mu. ” ucap Sinam lalu kembali berjalan.


Tap.. Tap..


Sansiro berlari dan memotong Sinam.


“Sinam, lihat ini!” Sansiro menarik pedang yang ada di punggungnya, pedang itu berukuran sangat besar dan tebal, “bagaimana.? ”


Sinam memandang pedang Sansiro, “kau sudah gila, ini terlalu besar untuk anak seperti kita. ”


Sansiro tersenyum, “ini akan membuat fisik ku semakin kuat. anggap saja latihan mengangkat barang berat. ”


“biar ku coba. ” Sinam mengambil pedang yang dari Sansiro.


Braakk..


pedang Sansiro jatuh ke tanah, sepertinya Sinam tidak mampu mengangkatnya.


“sial, ini berat sekali. ” ucap Sinam.


“hehehe, sudah ku duga kau tidak mampu menahannya. ” Sansiro tertawa kecil.


Uhara memandang Sansiro, “anak ini.. padahal pedang ini sudah pasti berat.. tapi dia membawanya kemana-mana, di masa depan dia pasti menjadi petarung hebat. ” batinnya.


Sansiro menoleh Uhara, “Sinam, orang ini siapa.? ”


“hey, Sansiro, kau harus sopan pada kak Uhara, dia adalah petarung hebat. ” jawab Sinam.


“Uhara.? ” Sansiro menatap Uhara, “sepertinya aku pernah mendengarnya.


★★★★★

__ADS_1


“jadi kau akan masuk akademi petarung, ya. ” Uhara menatap Sinam sambil tersenyum, di hadapan mereka tersaji hidangan ayam panggang.


“benar, kak Uhara, aku dan Sinam akan masuk akademi, itu sebabnya aku membeli pedang ini. ” sahut Sansiro sambil mengunyah ayam.


“nenek pikir kau tidak akan pernah mengunjungi kami lagi. ” nenek tersenyum hangat menatap Uhara.


“aku tidak mungkin melupakan orang yang sudah merawat ku waktu kecil, jika aku tidak sibuk aku akan sering ke tempat ini. ” jawab Uhara, “tapi kalau dipikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak bertemu kakek dan nenek, tapi kalian terlihat masih muda. ”


kakek menatap Uhara, “aku dengar kau bergabung dengan Kelelawar Merah, apakah itu benar. ” dia terlihat serius.


“benar, itu yang membuat ku sibuk. ” jawab Uhara.


“begitu, ya. ” kakek tersenyum yang di dalamnya terselip kekecewaan.


“Kelelawar Merah, apa itu.? ” tanya Sinam menatap Uhara sambil mengunyah ayam.


Sraak..


Uhara mengangkat kain yang menjadi penutup punggung pakaiannya, di situ terlihat lambang seekor kelelawar berwarna merah.


“hanya organisasi biasa. ” jawab Uhara.


Sinam memandang lambang kelelawar merah tersebut dengan seksama, “gambar ini artinya apa, kak Uhara.? ”


“bukan apa-apa. ” Uhara tersenyum namun terlihat memaksa.


Keesokan harinya..


di tempat pelatihan akademi..


Akaza berdiri di tengah arena, dia merenung, sepertinya dia menunggu seseorang.


di depan Akaza, berdiri seorang pria, dia mengenakan pakaian petarung desa Yama, dia adalah orang yang akan menjadi wasit pertarungan antara Akaza dengan Uhara.


wasit melihat jam, “jika lima menit lagi tidak datang, Uhara kalah dan kau yang menjadi pemenang. ” kemudian menatap Akaza.


“sabarlah sedikit senior, dia pasti datang. ” ucap Akaza.


“ada apa ini?”


“dimana Uhara?! ”


“cepatlah, kami sudah tidak sabar untuk melihat pertarungan Uhara.!! ”


para penonton yang berada kursi mulai heboh, sepertinya mereka mulai kecewa dengan pertarungan yang tidak kunjung di mulai.


Akaza memandang ke suatu arah di kursi penonton, di situ terlihat seorang pria berusia sekitar empat puluhan tahun lebih, rambutnya merah seperti Akaza, tatapan mata pria itu datar menatap Akaza, dia adalah ayah Akaza.


di samping ayah Akaza terdapat seorang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan Sinam, rambutnya merah seperti Akaza, dia adalah adik Akaza yang saat ini terlihat khawatir menatap Akaza.


“ada apa ini? kenapa Uhara tidak datang.? ” batin Akaza, “tujuan ku bukan untuk menjadi anggota Kelelawar Merah dan di sebut semua orang sebagai petarung hebat, aku hanya butuh pengakuan keluarga ku. ” dia memandang ayahnya.


Tap.. Tap..


Uhara, Sinam dan Sansiro berlari dengan cepat, sepertinya mereka menuju arena pertarungan.


“sial, hari aku sangat bersemangat. ” Sansiro berlari sambil tersenyum, pedang besar di punggungnya tidak memperlambat langkahnya.


“kau benar, aku tidak sabar untuk melihat kak Uhara bertarung. ” sahut Sinam penuh semangat.


“jangan terlalu mengira aku hebat, aku takut kalian kecewa. ” ucap Uhara yang berada di paling depan.

__ADS_1


__ADS_2