SINAM

SINAM
Pertarungan Antar Tim


__ADS_3

Saken dan Yoja berdiri menatap tajam Jiromaru dan Thakesi, begitu juga sebaliknya, jarak yang memisahkan antar tim ini hanya sekitar dua puluh meter.


suasana hening, semua penonton terdiam, sepertinya mereka menanti pertarungan yang akan terjadi.


Deiki melirik Jiromaru dan Thakesi, kemudian melirik Saken dan Yoja, “Takeyomi, Terui, Zaku dan Nakai.. keempat Klan ini lumayan terkenal di Desa Yama, jika anak dari Klan Takeyomi bukan Iblis Ular, aku sendiri tidak bisa menduga hasil pertandingan. ” batinnya.


Tap..


Jiromaru menatap Saken dengan sedikit ragu, kemudian berlari cepat sambil menggenggam Toya.


Saken tetap tenang, hanya tatapan matanya yang terlihat mencekam, kedua tangannya terlipat di depan.


Jiromaru sudah cukup dekat dengan Saken, dia melompat sambil mengarahkan pukulan Toya kearah kepala Saken, “matilah.!! ” teriaknya.


Brraak...


pukulan Toya Jiromaru menghancurkan tanah, namun Saken sudah menghilang dari tempatnya.


Jiromaru terkejut, “cepatnya.! ” batinnya dengan mata yang mencari keberadaan Saken.


Wushh..


tiba-tiba Jiromaru merasakan sesuatu di belakangnya, “dibelakang.?! ” tanpa menoleh dia langsung mengayunkan Toya kebelakang.


Blaak..


benar saja, Saken berada di belakang dan melayangkan satu tendangan, Toya dan kaki Saken berbenturan.


detik berikutnya, Jiromaru terdorong beberapa langkah kebelakang, sementara Saken melompat mundur.


disisi lain, Yoja juga sudah mulai bergerak, dia berlari menuju Thakesi untuk menyerang.


“aku datang. ! ” teriak Yoja penuh semangat.


Thakesi mengarahkan telapak tangan kearah Yoja, “Juru Penghalang. ” gumamnya.


seketika kubus transparan muncul untuk mengunci Yoja, namun Yoja terus bergerak dengan lihai sehingga tidak terkena.


“aku sudah tahu Jurus mu, aku hanya perlu bergerak cepat untuk menghindarinya. ” Yoja berlari ke sana kemari.


Thakesi menatap kesal Yoja, sudah entah berapa kubus yang dihindari Yoja, “sial, tidak ada yang kena. ” batinnya.


Yoja terus berlari kearah Thakesi yang terus menyerang menggunakan kubus nya, sesekali dia melompat untuk menghindar.


“ada apa dengan mu? apa hanya ini yang bisa kau lakukan.?! ” Yoja meremehkan.


“cih, dia meremehkan ku.! ” Thakesi terlihat kesal.


Yoja sudah dekat dengan Thakesi, dia melompat sambil mengarahkan pukulan, sementara Thakesi langsung mundur.


Thakesi menatap kesal Yoja, “aku menggunakan banyak penghalang, Shaka ku mulai habis. ” batinnya, “sementara dia belum menggunakan Shaka sedikitpun. ”


Yoja terus mengejar Thakesi yang juga berlari kearah Yoja, saat sudah dekat keduanya pun adu mekanik.


Blaakk..


pukulan Thakesi mendarat di wajah Yoja, namun tidak berefek sedikitpun.


“jujur saja, pertarungan jarak dekat dan tangan kosong aku lebih suka. ” batin Yoja tersenyum.


Buaak...


Yoja dan Thakesi melepaskan tendangan secara bersamaan, kedua kaki itu bertemu dan berbenturan, setelahnya Thakesi terlempar sementara Yoja masih diam ditempat.


Thakesi tergeletak, dia bangkit kembali dan menatap kesal Yoja, “cih, dia kuat sekali. ”


tanpa menunggu lagi, Yoja langsung memburu Thakesi dengan nafsu membunuh.


“Jurus penghalang.! ” Thakesi menggunakan jurus, namun kali ini kubus transparan yang muncul menutupi dirinya sendiri dari serangan Yoja.


Yoja sudah dekat dengan Thakesi, dia melihat kubus yang menjadi perisai Thakesi “jadi kau ingin bersembunyi, ya. ” ejek Yoja.

__ADS_1


Thakesi terlihat tenang, “aku harus menunggu sampai Shaka ku sedikit bertambah, baru kembali menyerang. ” batinnya.


Blaak..


Yoja melepaskan tendangan serta pukulan untuk menghancurkan kubus seperti kaca tersebut, namun tidak berguna.


“hosh.. hosh..! ” di samping itu, terlihat Jiromaru mulai kelelahan, luka di tubuhnya mulai terlihat. “sial, dia kuat sekali.! ” batinnya menatap Saken, saat ini dia dalam posisi jongkok.


Saken berdiri dengan tenang, angin berhembus mengobrak-abrik rambutnya, sorot matanya begitu tajam serta senyuman kematian dengan taring yang panjang, “kau sudah selesai.? ” ucapnya dengan tangan terlipat, Shaka hijau kehitaman masih begitu pekat terlihat.


“jika sudah, biarkan aku membunuhmu.! ” Saken mengarahkan tangannya ke depan, tiba-tiba tangannya berubah menjadi Ular yang sangat besar bersisik hijau.


“apa.?! ” Jiromaru terkejut, lalu kembali berdiri.


Wushh..


Ular besar tersebut melesat cepat kearah Jiromaru, mulutnya menganga lebar sehingga terlihat taringnya yang begitu mengancam.


“aku belum menguasai Jurus ini dengan sepenuhnya, tapi tidak ada pilihan lain. ” Jiromaru memainkan Toya, kemudian menusukkan ujung Toya ke tanah, sepertinya dia memasang kuda-kuda.


Jiromaru melesat maju menyambut mulut Ular yang begitu besar, “Jurus Toya, Serangan Penembus Besi.! ” ucapnya, Shaka Oranye mulai muncul.


setelah itu, Jiromaru mengarahkan tusukan Toya kearah mulut ular tersebut, namun akhirnya dia juga tertelan ular tersebut.


melihat itu, semua orang terkejut, sepertinya mereka berfikir bahwa Jiromaru sudah tertelan ular raksasa itu.


Zraakhh..


tiba-tiba ujung Toya Jiromaru menembus Ular itu sampai ekor dan bertemu dengan tangan Saken yang langsung terpukul mundur.


“apa.?! ” Saken terkejut, dia terlihat kesakitan.


Ular besar tersebut terlihat menggeliat karena sudah terlepas dari tangan Saken, tubuhnya dipenuhi darah, kemudian tergeletak di bumi.


Sinam terkejut memandang pertarungan tersebut, “dia membunuh Ular sebesar itu.? hebat.! ” batinnya.


Plak..


“jangan meremehkan Klan Zaku, karena gaya bertarung kami lihai seperti Kera Sakti. ” ucap Jiromaru.


Deiki menoleh Jiromaru, “Klan Zaku memang Klan hebat, hampir semua dari mereka menggunakan Toya, jika tangan kosong mereka juga lincah. ” batinnya tersenyum, “bisa dikatakan.. aliran Kera Sakti. ”


Mikami Sato tersenyum memandang pertarungan sengit di depan mata, “jadi, anak itu dari Klan Zaku.. tidak ku sangka dia bisa menekan mundur Iblis Ular dari Takeyomi. ” ucapnya.


“ya, melihat cara bertarungnya, sudah jelas dia dari Klan Zaku. ” sahut pengawal Mikami.


Rokuga Sato menatap pertarungan dengan serius, “semua anak tahun ini cukup kuat.. sementara Harumi hanya bisa bertarung dengan pedang.. ” batinnya.


“ayo Jiromaru, habisi dia.! ”


“tunjukkan bahwa Klan Zaku yang terhebat.! ”


penonton dari Klan Zaku berteriak mendukung Jiromaru dengan semangat.


Saken masih bisa tersenyum, namun senyuman yang mengerikan, “beraninya kau membunuh Ular ku. ”


Jiromaru kembali memainkan Toya, “baiklah, akan ku selesaikan dengan serangan berikutnya. ” ucapnya.


Tap..


Jiromaru berlari kearah Saken, saat sudah dekat dia mengarahkan ujung Toya kearah perut Saken.


“Serangan Toya, Tusukan Kematian..! ” ucap Jiromaru.


Saken tidak menghindar, dia juga tidak membalas, hanya matanya yang begitu mengancam.


Buukk..


Toya Jiromaru menusuk perut Saken dengan sangat keras. tidak hanya itu, Toya tersebut memanjang, tubuh Saken terdorong jauh sampai menghantam tembok Arena, debu menutupi dan terlihat retakan tembok yang dihempas tubuh Saken.


“memanjang.?! ” Deiki sedikit terkejut menatap Toya Jiromaru.

__ADS_1


tubuh Saken masih tertutup oleh debu, namun Jiromaru sudah tersenyum, “sepertinya sudah selesai. ” ucapnya.


debu mulai menghilang, terlihat tubuh Saken yang saat ini masih berdiri walau terbungkuk, ujung Toya Jiromaru yang memanjang masih menusuk perut Saken sehingga pakaiannya robek, terlihat darah menetes.


sekitar empat puluh meter, Jiromaru memegang ujung Toya yang lainnya, sepertinya dia tidak berniat melepaskan Saken begitu saja.


wajah Saken masih menunduk, rambut merahnya menutupi sorot matanya, dia terdiam seolah-olah sudah tidak bisa bergerak.


Jiromaru mendorong ujung Toya sehingga perut Saken tertekan, “kau sudah kalah, menyerahlah. ”


Csss...


Tiba-tiba asap tipis muncul di perut Saken yang masih di tusuk Toya Jiromaru, perlahan lukanya kembali sembuh.


“apa.?! ” Jiromaru terkejut. “di.. dia sembuh kembali.?! ”


Saken mengangkat kepalanya, menatap tajam Jiromaru sambil tersenyum jahat, “kau yang akan kalah. ” seringainya.


Deiki tersenyum tipis, “ sepertinya anak dari Klan Zaku ini tidak tahu apa-apa tentang iblis.. ” batinnya, “ketujuh iblis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, namun manusia yang mewarisinya bisa beregenerasi dengan mudah jika menggunakan Shaka iblis. ” batinnya.


Jiromaru menatap Saken tidak percaya, “kau.. bagaimana mungkin..?! ” dia terlihat mulai ketakutan.


“karena aku Iblis.. ” Saken menjawab dengan wajah mencekam, sebelah matanya tertutup rambut.


Sraak..


detik berikutnya, leher Saken memanjang, lalu melilit Toya Jiromaru dan terus menuju Jiromaru.


detik berikutnya, kepala Saken sudah dekat dengan kepala Jiromaru, “Aaaakh..! ” Jiromaru berteriak dengan wajah ketakutan.


Tlaang..


Toya Jiromaru terlepas, lalu kembali memendek dan tergeletak di tanah.


tubuh Saken yang tertusuk Toya sudah bebas, lalu mengejar kepalanya dengan memendekkan leher, “sekarang giliran ku.. ” seringainya.


Grebb..


Jiromaru mencoba mundur, namun dengan cepat Saken menangkap lehernya, lalu mencekiknya dengan erat.


“matilah.! ” Saken tersenyum jahat.


“akh..! ” Jiromaru kesakitan.


Saken melemparkan tubuh jiromaru sampai menghantam tembok dan tergeletak, mengejarnya kembali, lalu memukul serta menginjak-injak tubuh Jiromaru, Saken terlihat menikmati itu.


semua tim memandang Saken dengan wajah ketakutan, terdengar suara mereka menelan ludah.


Buakk.. Bukk..


Saken terus menerus menendang wajah Jiromaru yang sudah tergeletak lemah, wajahnya dipenuhi darah, sepertinya dia sudah tidak bisa bergerak.


Saken mengangkat ke atas kakinya, lalu menjatuhkan kearah kepala Jiromaru, “matilah.! ” teriaknya.


Greb..


tiba-tiba seseorang menangkap kaki Saken sehingga tidak berhasil menginjak Jiromaru.


Saken menoleh orang itu, seketika wajahnya berubah, “kakak..?! ” ucapnya.


orang itu adalah Akaza, kakak dari Saken, “bukankah ini sudah berlebihan.? ” dia melirik tajam Saken.


Saken terdiam, perlahan Shakanya mulai meredup, tatapan matanya kembali menumpul.


Akaza berniat meninggalkan Arena, “tatapan Iblis dari dalam dirimu membuatku muak.. jika dengan kekuatan mu sendiri kau bukanlah apa-apa. ” ucapnya dingin sambil melirik Saken.


“kenapa?! kenapa kau begitu membenciku.?! ” Saken bertanya dengan wajah sedih, sepertinya Akaza adalah sosok yang berharga bagi Saken.


“aku tidak membencimu.. tapi aku benci kehadiran mu, aku tidak membencimu.. tapi aku benci sosok yang ada dalam dirimu.. ” setelah itu, Akaza pergi meninggalkan Arena.


Kei Takeyomi terlihat kesal menatap Akaza, “Akaza sialan, dia menjatuhkan mental adiknya sendiri.. ” batinnya.

__ADS_1


Deiki menghela nafas, kemudian memandang Akaza, “padahal aku berniat menghentikan pertarungan tadi, tapi malah ada yang menghentikan lebih dulu.. sepertinya anak dari Kei Takeyomi memiliki hubungan yang buruk. ” batinnya.


__ADS_2