
Sinam memandang kearah Sansiro yang penuh luka, lalu menoleh Yoja yang tergeletak, “ kami... benar-benar berantakan. ” batinnya.
Satoru berdiri dengan gagah, dia tidak terluka sedikitpun, wajahnya menatap datar kearah Sinam.
Tap..
Sinam mendekati Sansiro, “ Sansiro, apa kau baik-baik saja.? ” dia bertanya.
Sansiro tersenyum semangat, “ daripada menghawatirkan ku, lebih baik kita habisi saja dia. ” ucapnya menatap tajam Satoru.
Sinam terlihat bersiap, lalu menatap Satoru serius, “ Harumi, Kaori, ayo kita serang bersama-sama, tapi di samping itu kita harus saling melindungi. ” ucapnya memberi komando.
Harumi menatap Sinam cukup lama, “ memangnya kau siapa memberi perintah.? ” ucapnya dengan sombong.
“ sudahlah Harumi, bukan saatnya kita berdebat. ” sahut Kaori.
Tap..
Tiba-tiba Aozora datang dan berdiri di samping Sinam, dia bersiap dengan cakar besi senjata kebanggaannya.
“ aku juga ikut.! ” ucap Aozora sambil tersenyum semangat.
Sansiro melirik Sinam, “ kali ini.. pasti kita bisa mengalahkannya. ” ucapnya sambil tersenyum.
Sinam tidak menjawab, dia menatap Satoru serius, namun belum ada pergerakan sampai saat ini.
Wusshh..
angin berhembus menerpa, dedaunan berguguran menghiasi arena pertempuran, rambut Satoru bergerak kesana-kemari membuat wajahnya semakin tampan.
diantara begitu banyak dedaunan, ada sehelai daun yang melayang ditengah-tengah, antara Satoru dan Sinam berada, daun itu menuju bumi dengan perlahan.
Syuut..
hingga akhirnya sehelai daun itu jatuh ke bumi dengan lembut.
“ ayo maju..!! ” teriak Sinam lalu bergerak.
“ ya..!! ” Sansiro, Harumi, Kaori dan Aozora menyusul dengan cepat.
Sinam berlari kearah Satoru yang terlihat tenang, langkah kaki Sinam sangat cepat bersama bola matanya yang menatap tajam, ekspresinya begitu mencekam.
saat sudah dekat dengan target, Sinam mengayunkan pedangnya ke belakang, lalu mengarahkan tebasan ke depan dengan keras.
“ matilah..!! ” batin Sinam penuh amarah.
Satoru menatap datar, “ aku bisa merasakan kemarahan dari dalam dirinya. ” batinnya lalu bersiap dengan pedangnya.
Ctaang..
tebasan Sinam beradu dengan tebasan Satoru, suara dentingan besi terdengar bersama terciptanya percikan api.
Wuushh..
detik selanjutnya, tekanan udara menjadi tinggi, terlihat gelombang udara muncul dari kedua pedang yang beradu tersebut, debu beterbangan.
Ctaang.. Ctiing..
setelah itu, Sansiro, Harumi, Kaori, serta Aozora datang menyerang Satoru bersamaan dengan senjata mereka.
Ctang.. Traang..
Sansiro dan Harumi mengarahkan tebasan, Kaori menyerang dengan tusukan dua pedangnya, sementara Aozora dengan cakar besinya yang berukuran besar.
Satoru terlihat kewalahan menangkis semua serangan lawan, namun dia tersenyum jahat, “ menarik, mereka berhasil memojokkan ku. ” batinnya.
bola mata merah Satoru bergerak cepat mengikuti gerakan semua serangan lawan, serangan kombo Sinam dan yang lain memang sangat mematikan dan tidak terduga.
__ADS_1
Zrassh.. Zrassh..
disuatu kesempatan, Satoru berhasil di lukai, kaki dan lengannya tergores sedikit dan mengeluarkan darah.
Satoru melebarkan serangan pedangnya, dia terlihat kesal melihat dirinya yang terluka, “ cih. ” giginya beradu.
Satoru menarik nafas dan bersiap mengeluarkan Jurus, “ Jurus Pedang, teba.... ” dia menghentikan Jurus, menoleh keatas karena menyadari sesuatu.
Wusshh..
benar saja, Sinam berada di atas Satoru dengan ujung pedang yang siap menusuk.
Tap..
Satoru melompat mundur untuk menghindar, lalu mendarat dan menatap Sinam dan yang lain dengan datar.
Cep..
ujung pedang Sinam menancap di tanah, kemudian dia berdiri menatap Satoru serius.
“ hosh.. hosh.. ” disisi lain, Harumi, Kaori dan Aozora terlihat ngos-ngosan, mungkin pertarungan singkat barusan memaksa mereka bergerak cepat sehingga kelelahan.
Sinam melirik kearah ketiga gadis kecil itu, “ mereka memang tidak terluka, tapi mereka sudah kelelahan.. ” batinnya.
“ bagaimana? apa kau sudah melihat seberapa kuat kami.?!! ” Sansiro berteriak semangat walau penuh luka.
Sinam menoleh Sansiro, “ berbeda dengan Sansiro, rasa sakit dan rasa lelah membuat nafsu membunuhnya semakin meningkat.. jika orang lain mungkin sudah tumbang dari tadi. ” batinnya, “ tapi.. setelah pertarungan selesai, dia juga akan merasakan sakit luar biasa. ” lanjutnya.
Satoru menatap datar kearah musuh, melebarkan kedua pedangnya yang saling terhubung dengan rantai, dia berpose seperti elang yang siap menerkam, perlahan tekanan udara semakin meningkat di sekitarnya, debu beterbangan.
Sinam terkejut, “ apa yang akan dia lakukan.? ” dia terlihat ketakutan.
“ Jurus Pedang, Tebasan Pemecah Kesunyian.! ” ucap Satoru, selanjutnya gerakan pedangnya tidak terlihat bersama terdengar suara yang sangat menyakitkan telinga.
Ciing..
Sinam menutup telinganya, “ kuping ku... sakit sekali. ” batinnya, dia melihat serangan Satoru yang berbentuk Shaka merah seperti tebasan berjalan tertuju kearahnya dan yang lain, “ gawat.! ” dia ketakutan.
Braak..
Aozora yang kelelahan, tidak mampu bertahan dan akhirnya menjatuhkan kedua lututnya.
Sinam menoleh kearah Aozora, “ gawat, dia tidak bisa bertahan. ” batinnya.
Sinam menatap Sansiro, Harumi, dan Kaori yang menutup telinga, dia berteriak keras mengatakan sesuatu, namun suara Jurus Satoru membuat suaranya tidak terdengar.
Harumi memandang Sinam yang berteriak sambil menutup telinga, “ apa dia mengatakan sesuatu.? ” batinnya.
Sinam menoleh kearah serangan Satoru yang semakin dekat, lalu berlari kearah Aozora dengan cepat.
Greb..
Sinam memeluk Aozora, lalu melompat jauh untuk menghindari serangan Satoru, begitu juga dengan yang lain.
Zuuoorr..
serangan Satoru melebar, lalu ledakan datang menyusul.
“ Aaaakhh..!! ” diantara ledakan itu, juga terdengar suara teriakan.
Braak..
tubuh Sinam yang memeluk Aozora menghantam bumi, punggungnya penuh luka gores dan mengeluarkan darah, sepertinya itu akibat serangan Satoru barusan.
Aozora tidak apa-apa, dia menatap Sinam yang penuh luka, “ kenapa.. kau menolongku.?” dia bertanya dengan wajah sedih.
Sinam tersenyum tipis, “ ini hanya karena kita teman, tidak ada yang lain.. jadi jangan menyukai ku. ” jawabnya lalu tertawa kecil.
__ADS_1
“ bodoh.! ” Aozora sedikit kesal dan mencoba berdiri, namun dia tidak bisa dan hanya duduk.
disisi lain, Harumi dan Kaori tergeletak lemah dengan tubuh penuh luka gores dan berdarah karena serangan Satoru, mereka pingsan.
diantara puing-puing, Sansiro terduduk dengan tubuh penuh darah, wajahnya menunduk, dia tidak bergerak seolah tidak bernyawa lagi.
“ ini masih belum berakhir.! ” dengan tiba-tiba Sansiro mengangkat kepala sambil tersenyum jahat.
Tap.. Tap..
Ryugu berjalan mendekati Sinam dan Aozora, “ jadi kau baik-baik saja, ya. ” ucapnya menatap Aozora.
Aozora menatap kesal Ryugu, “ mau sampai kapan kau berdiam diri, sementara teman-teman mu terluka. ” ucapnya.
“ teman.? ” Ryugu menatap datar Aozora.
Ryugu menatap Sinam yang kebetulan menatapnya, “ kau.. kenapa kau selalu mengurusi hidup orang lain? kenapa kau sangat suka membantu orang lain tanpa perduli kondisi mu sendiri.? ” dia bertanya datar sambil melirik semua luka Sinam. “ memangnya Aozora pernah melindungi mu? atau ayahnya membantu mu.? ” lanjutnya.
Sinam menatap Ryugu serius, lalu tersenyum hangat, “ karena aku tidak ingin teman-teman ku terluka, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan. ” ucapnya.
Ryugu menatap datar Sinam, “ sebenarnya apa maksud ‘ teman ’ yang selalu kalian bicarakan itu.? ” dia bertanya.
“ teman adalah.. tempat kita berbagai kebahagiaan dan rasa sakit.. sekaligus pemecah kesepian.. ” jawab Sinam sambil tersenyum lepas.
Ryugu menatap Sinam cukup lama, lalu menoleh Aozora, “ ayo Aozora, kau sudah tidak bisa bertarung, aku tidak ingin ayahmu marah padaku. ” ucapnya.
Sinam berdiri dari duduknya, “ ya, sebaiknya kau istirahat saja Aozora, berdiri saja kau sudah tidak bisa. ” ucapnya sambil tersenyum.
Aozora menatap Sinam dengan rasa bersalah, “ maaf, ya.. pada akhirnya aku hanya menjadi beban. ” ucapnya.
Sinam menoleh ke suatu arah, “ baiklah, bagaimana dengan keadaan yang lain. ” batinnya lalu bergerak.
disisi lain, Satoru terlihat berdiri dengan gagah, dia menatap datar kearah gumpalan debu yang semakin tipis, sepertinya dia ingin memastikan kondisi lawan.
dari kejauhan, Akaza memandang kearah pertempuran, “ suara apa yang barusan? apa itu terjadi karena Jurus Satoru.? ” gumamnya, “ Satoru di paksa mengeluarkan Jurus kuat seperti itu, teman sekelas Saken memang hebat... aku jadi ingat, anak bernama Sinam itu kalau tidak salah adik angkat Uhara. ” dia tersenyum.
Matsuda mematung menyaksikan kejadian yang barusan, “ Jurus itu.. suara yang menyakitkan telinga itu.. tidak salah lagi adalah Jurus si Setan Merah.. kecepatan pedangnya bergesekan dengan udara sehingga menciptakan suara yang benar-benar dahsyat.. ” batinnya berkeringat dingin, “ aku tidak menyangka akan melihatnya langsung, ternyata suaranya lebih menyakitkan dari yang mereka katakan. ”
Tap.. Tap..
Sinam mengangkat Harumi dan Kaori yang pingsan, dia meletakkan kedua temannya itu di bawah pohon.
Sinam menatap Harumi dan Kaori yang pingsan, “ yang terakhir Sansiro.. aku yakin dia masih bisa bertahan. ” gumamnya.
Sansiro berdiri menatap Satoru dari kejauhan, tubuhnya berlumuran darah, “ akhirnya aku menemukan mu. ” dia tersenyum jahat.
Satoru menatap Sansiro dari kejauhan, “ sepertinya masih ada yang bertahan. ” ucapnya datar.
Tap..
Sinam mendarat di depan Satoru, sementara Sansiro ada di belakangnya.
Sansiro memandang Sinam, “ sudah kuduga, dalam pertarungan sesungguhnya dia takkan pernah menyerah. ” ucapnya sambil tersenyum jahat.
Satoru menatap Sinam, “ padahal kau terlihat biasa saja, tapi kau masih bisa bertahan hingga saat ini.. ” ucapnya datar.
Sinam menjawab dengan tatapan kesal, bayangan semua temannya yang terluka melintas, dia memejamkan mata, “ perut Thakesi terkena tebasan, lengan Jiromaru patah, Yoja dan Aozora tidak sanggup untuk berdiri, Harumi dan Kaori pingsan.. apa yang harus ku lakukan.? ” batinnya, lalu membuka mata, “ yang tersisa, hanya aku dan Sansiro yang terluka parah. ” lanjutnya.
Sinam terlihat kesal, “ Jurus Dua Sentuhan tidak bisa ku gunakan, dia tipe Petarung pengguna pedang, itu terlalu beresiko. ” batinnya mengadu gigi, “ lalu.. aku juga belum menguasai Jurus Satu Tarikan Nafas, sial.! ”
Sansiro sudah berdiri di samping Sinam, dia menatap Sinam serius, “ Sinam.. apa yang sedang kau pikirkan.? ” dia bertanya.
“ Sansiro.. apa yang harus kita lakukan? dia benar-benar kuat. ” Sinam menjawab dengan pertanyaan.
Sansiro menatap Sinam serius cukup lama, lalu tersenyum lepas, “ kita berdua sama-sama bodoh, jadi tidak ada gunanya saling bertukar pikiran, benar bukan temanku.? ” ucapnya.
Sinam tertegun menatap Sansiro, lalu tersenyum lepas, “ kau benar. ” ucapnya.
__ADS_1