SINAM

SINAM
Kebenaran Hikasa (2)


__ADS_3

Hikasa menatap Serano yang menunduk, “ siapa... sebenarnya orang ini..? ” batinnya penuh curiga.


Huyabasa menatap Serano, lalu memandang semua penduduknya, “ baiklah semua, besok pagi datanglah ke tempat ini, untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin Hikasa dan Hikaru akan bertarung. ” ucapnya keras, semua penduduk terlihat bersemangat, sepertinya mereka setuju dengan hal itu.


Hikasa dan Hikaru saling menatap, kemudian menoleh Huyabasa, “ ayah.. apa ini tidak berlebihan.? ” ucapnya pelan.


“ tidak ada pilihan lain, ini demi kepuasan mereka.. dengan begitu, siapa yang akan jadi pemimpin mereka terpaksa menerima. ” ucap Huyabasa tanpa menoleh.


Tap.. Tap..


Hikasa berjalan diantara pepohonan, kemudian dia berhenti di depan sebuah sungai yang berair jernih, disitu terlihat Hikari duduk ditepi sungai sambil memainkan Teknik pengendalian airnya.


“ seperti biasa, kalau kau tidak ada di desa, kau selalu di tempat ini.. ” ucap Hikasa menyapa.


Hikari sedikit terkejut, gelombang air di udara yang dikendalikan nya jatuh ke sungai, “ kakak.. ” dia menoleh Hikasa.


setelah itu Hikasa duduk di samping Hikari, keduanya berada di tepi sungai menatap keindahan alam sambil berbincang-bincang.


“ jadi begitu, ya.. ” ucap Hikari, “ tidak pernah terpikir ku akan jadi seperti ini. ” lanjutnya.


“ bertarung melawan Hikaru, ya.. ” ucap Hikasa tersenyum kecil, “ benar-benar diluar dugaan.. penduduk terpecah tanpa kita sadari, aku takut kutukan itu benar. ” lanjutnya.


“ kutukan.? ” Hikari terlihat serius.


“ ya, kutukan yang ditinggalkan oleh pendahulu kita, Aizawa Nogo dan Izuno Taro.. ” jawab Hikasa, “ bahwa pengguna api dan petir akan terus bertarung sampai kapan pun. ” lanjutnya.


“ jadi, kakak berpikir bahwa kutukan itu benar, ya. ” Hikari tersenyum kecil.


“ tidak. ” jawab Hikasa.


“ tapi, sebenarnya kakak merasa takut bahwa kutukan itu benar.. lalu berpikir bahwa kak Hikaru juga merasakan hal yang sama.. jauh dalam lubuk hati kalian.. kalian berdua curiga.. ” ucap Hikari. “ ingatlah, rasa curiga kalian bisa menjadi nyata jika kalian terus seperti ini. ”


Hikari berdiri dari duduknya, “ kakak terlalu takut sehingga sulit mengambil keputusan.. ” lalu berjalan, “ kakak, singkirkan rasa takut mu dari pikiran bodoh mu itu.. lalu ambilah keputusan yang bijaksana seperti biasanya. ” dia menghentikan langkah sejenak sambil tersenyum, lalu kembali berjalan.


Hikasa tertegun, “ Hikari, kau. ” ucapnya, namun Hikari terus berjalan.


Hikasa termenung, kemudian tersenyum sambil berdiri dari duduknya, “ benar, aku terlalu takut dengan pikiran ku sendiri.. hal bodoh yang seharusnya menjadi lelucon. ” batinnya, “ aku terlalu menjaga hubungan dengan Hikaru karena terlalu takut kutukan itu nyata.. bukan karena kasih sayang adik dan kakak... aku benar-benar menyedihkan. ”


Keesokan paginya di tanah yang lapang..


“ ayo senior Hikasa..! ”


“ ayo Senior Hikaru...!! ”


“ ayo, ayo, ayo..! ”


terdengar suara penduduk desa berteriak, mereka tidak sabar menyaksikan pertarungan ini.


ditengah-tengah para penduduk, Hikasa dan Hikaru berdiri saling berhadapan, keduanya bersiap dengan sebilah pedang.


Hikasa tersenyum hangat, “ jadi kita akan bertarung, ya.. Hikaru.. ini mengingatkan ku saat kita kecil dulu. ” ucapnya.


“ dulu aku selalu menang karena kakak mengalah.. aku selalu mengikuti langkah kakak, tapi kali ini berbeda.. aku harap kakak bertarung dengan serius. ” Hikaru tersenyum.


Huyabasa menatap keduanya, “ baiklah, pertarungan di mulai.! ” ucapnya.


“ baiklah, Hikaru.. kali ini aku akan serius.! ” Hikasa bergerak maju.


“ majulah, kakak.! ” Hikaru bersiap maju.


Ctaang.. Ctingg..


pertarungan dimulai, keduanya bertarung menggunakan pedang, mereka saling tebas dan tahan.


“ boleh juga kau, Hikaru. ” Hikasa tersenyum sambil mendorong pedang Hikaru.


“ ya, sudah lama kita tidak seperti ini. ” jawab Hikaru mendorong balik.


“ ayo ayah..! ” teriak seorang anak laki-laki, dia adalah Himiko yang saat itu berusia enam tahun, dia memberi semangat pada Hikaru dan berdiri di samping Huyabasa, kakeknya.


“ ayo ayah, kalahkan paman..! ” teriak Hitomi, dia berdiri di samping Himiko dan Huyabasa, saat ini dia berusia sepuluh tahun.


“ hosh.. hosh.. ”


“ hosh.. hosh.. ”

__ADS_1


setelah cukup lama beradu pedang, keduanya mulai kelelahan, mereka mengatur nafas sejenak.


“ mengalahkan mu lebih sulit dari yang kuduga, Hikaru. ” ucap Hikasa.


“ benarkah.?! ” Hikaru tersenyum.


Plak..


Hikaru mengadu telapak tangannya.


“ dia mulai serius.! ”


“ ya, dia menggunakan Jurus Api.! ”


semua penduduk memandang Hikaru, mereka langsung bereaksi dengan berteriak.


“ Jurus Bola Api.! ” ucap Hikaru.


Zuoorr..


setelah itu, bola api berukuran besar melayang kearah Hikasa.


Tap..


Hikasa melompat keatas, lalu mengarahkan dua jarinya kearah Hikaru yang berjarak jauh.


“ Jurus Tombak Listrik. ” ucap Hikasa.


Bzcipcipbzcip..


detik selanjutnya, aliran listrik mengalir di kedua jari Hikasa, memadat dan melesat lurus kearah Hikaru, namun gerakannya tidak cepat seperti biasanya.


Tap..


dengan gesit, Hikaru menghindar dengan melompat ke belakang.


Huyabasa memandang pertarungan, “ Hikasa.. dia sengaja memperlambat serangannya agar Hikaru bisa menghindar.. itu artinya dia berniat mengalah. ” batinnya lalu tersenyum, “ mungkin penduduk tidak menyadarinya, tapi.. aku yang mengajarinya elemen petir tidak mungkin tertipu. ”


Huyabasa memandang kearah penduduk, “ semuanya, menjauhlah jika kalian tidak ingin terkena dampak serangan Hikasa dan Hikaru.!! ” teriaknya.


*Zuoorr..


Bzcipcipbzcip..


Boomm*..


Hikasa dan Hikaru menggunakan keahlian mereka, berkali-kali mereka saling serang menggunakan elemen yang mereka kuasai. namun, sejauh ini belum terlihat siapa yang akan menang.


“ hebat.. kekuatan mereka tidak diragukan lagi.! ”


“ jadi ini.. pertarungan antara penguasa elemen. ”


“ seandainya aku bisa menguasainya. ”


para penonton terkesima menyaksikan pertarungan itu.


” ya, seharusnya kita diajari untuk menguasai kelima elemen.. bukan hanya anak-anaknya saja. ” tiba-tiba ada seorang pria yang berbicara, dia adalah Serano.


“ kau.. orang yang memberi usul kemarin. ” penduduk mengingat wajah Serano.


“ pimpinan selalu mencari-cari kekuatan, tapi dia tidak mau mengajari kita teknik menguasai elemen, dia hanya orang yang serakah. ” ucap Serano.


“ bukankah dia mengatakan jika semua orang menguasai kekuatan elemen.. hanya akan menimbulkan perselisihan.. desa kita akan hancur. ” jawab orang di samping Serano.


“ lagipula mempelajari lima elemen bukanlah hal yang mudah.. kita harus mempunyai Shaka besar seperti Klan Nogo. ” sahut yang lainnya.


“ diantara begitu banyak penduduk, tentunya ada yang memiliki Shaka besar.. tapi pimpinan tidak pernah berpikir untuk mengajarkan kekuatannya pada kita.. jika dia takut menimbulkan perselisihan, itu artinya dia tidak percaya dengan kita. ” ucap Serano. “ dia hanya mewariskan kekuatannya pada anak-anaknya dan itu hanya satu elemen setiap orang.. itu bukti bahwa dia orang yang serakah. ” lanjutnya.


tidak jauh dari tempat Serano berdiri, ada seorang laki-laki sedang menguping, “ ternyata benar dugaan senior Hikasa.. ada yang ingin memecah desa Elemen. ” gumamnya pelan.


Zuoorr..


beberapa bola api memburu Hikasa, dia terus menghindar dengan berlompatan ke sana kemari serta berlari.


Tap..

__ADS_1


tiba-tiba Hikaru berada di depan Hikasa, dia bersiap dengan tebasan.


Ctaang..


walau terkejut, Hikasa masih sempat menangkis dengan pedang miliknya, namun dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.


Buaakk..


mendapat kesempatan, Hikaru langsung melesatkan tendangan yang langsung mendarat di dada Hikasa dengan telak.


“ akh.! ” Hikasa kesakitan, terhempas jauh lalu tergeletak ditanah.


Hikasa berniat berdiri, saat masih setengah berdiri dia di kejutkan dengan ujung pedang Hikaru yang begitu mengancam hampir menyentuh wajahnya.


“ kau kalah, kakak..! ” ucap Hikaru sambil mengarahkan ujung pedangnya.


Hikasa tersenyum, “ ya, kau benar-benar kuat, aku mengaku kalah.! ” ucapnya.


“ hebat.. penguasa api hebat.! ”


“ senior Hikaru hebat.! ”


Teriak para pendukung Hikaru, mereka terlihat sangat bahagia, sementara pendukung Hikasa terlihat kecewa walau hanya diam.


“ ayah hebat, ayah berhasil menang.! ” teriak Himiko, dia terlihat begitu polos.


“ paman Hikaru hanya beruntung. ” Hitomi terlihat kesal melirik Himiko, “ tapi.. tadi itu benar-benar menegangkan. ” lanjutnya.


“ kakak benar, suatu saat nanti kita yang akan menggantikan mereka. ” ucap Himiko.


Huyabasa menoleh Hikasa dan Hikaru, kemudian menoleh kearah penduduk, “ dengan ini semuanya sudah jelas, Hikaru yang akan menggantikan ku menjadi pimpinan selanjutnya.! ” teriaknya keras.


“ selamat untuk senior Hikaru..! ”


“ kau berhasil, senior.! ”


para penduduk memberi selamat pada Hikaru.


Hikasa dan Hikaru bersalaman, “ selamat Hikaru, kau yang akan menggantikan ayah. ” ucapnya sambil tersenyum, “ lagi-lagi kau berhasil menang. ” lanjutnya pelan.


“ ya, sama seperti dulu, kali ini kau juga mengalah. ” Hikaru tersenyum hangat.


“ kau menyadarinya.?! ” Hikasa terkejut.


“ tentu saja, sandiwara mu terlalu buruk. ” jawab Hikaru.


“ dari awal aku memang tidak menginginkan posisi ini, berbeda dengan mu.. kita bertarung hanya tuntutan dari para penduduk. ” ucap Hikasa pelan.


Huyabasa melirik Hikaru, “ begitu, ya.. jadi dia juga menyadarinya.. ” batinnya.


beberapa saat kemudian, setelah semuanya bubar dan resmi dinyatakan bahwa Hikaru yang menjadi pimpinan selanjutnya, terlihat segerombolan orang sedang berkumpul di warung kopi.


“ sungguh mengecewakan. ”


“ bisa-bisanya senior Hikasa dikalahkan. ”


“ benar, bagaimanapun.. senior Hikasa yang pantas menjadi pimpinan. ”


ucap orang-orang itu bersahutan, mereka seolah tidak puas, sepertinya mereka adalah penduduk yang mendukung Hikasa.


“ senior Hikasa bukan dikalahkan.. tapi dia mengalah. ” sahut seseorang, dia adalah Serano.


“ apa maksud mu.? ” ucap salah seorang.


“ kalian bodoh, ya.. apa kalian tidak merasakan bahwa senior Hikasa mengalah.. itu sungguh jelas terlihat. ” ucap Serano.


“ benar.. aku juga merasakan hal yang sama. ” sahut yang lain.


“ ya.. itu wajar, kita saja mustahil melukai adik sendiri.. ”


“ sampai kapanpun aku tidak terima.. Hikaru tidak pantas menjadi pimpinan. ”


“ ya, benar.. aku setuju.! ”


semua orang terlihat memanas, sementara Serano tersenyum jahat, sepertinya ini yang dia inginkan.

__ADS_1


tidak jauh dari tempat itu, seorang pria berjubah menguping dari balik bayangan, “ Serano, ya.. aku harus memberi tahu senior Hikasa tentang ini.. jika tidak bisa berbahaya. ” batinnya.


__ADS_2