
Sinam dan Sansiro terlihat berjalan di hari yang masih pagi ini, dipinggir kiri mereka terdapat hutan, sementara disebelah kanan mereka hanya hutan tipis.
“huh! pusat Desa belum terlihat juga, ternyata hidup di pinggiran Desa cukup menyedihkan. ” ucap Sinam sambil mengelap keringat.
“benar katamu, aku yakin yang lainnya sudah sampai di Arena Pertarungan.. ” sahut Sansiro, “tapi, setelah kita selesai dari Desa Pedang Kembar.. kita bisa tinggal di pusat Desa. ” dia tersenyum.
“itu memang benar, tapi itu artinya aku tidak bisa melihat kakek dan nenek lagi.. ” Sinam terlihat lesu.
“hey, kita bisa sesekali pulang ke rumah, lagipula kakek dan nenek mu mungkin lebih bahagia tanpa mu. ” Sansiro tertawa kecil.
“apa katamu.?! ” Sinam terlihat kesal menatap Sansiro yang langsung memalingkan wajahnya.
“aduh..! ” Tiba-tiba Sinam merintih.
Sansiro terkejut, “kau kenapa.? ”
Sinam memegang perutnya, “Sansiro, sebaiknya kau lebih dulu saja, perutku sangat sakit, sepertinya ini karena aku makan makanan terlalu pedas tadi.” ucapnya.
“baiklah, tapi kau harus menyusul nanti. ” ucap Sansiro.
tanpa menjawab, Sinam langsung berlari masuk ke dalam hutan sambil memegang bokongnya, “sungai, sungai, sungai.. aku harus segera menemukan air. ” ucapnya.
Sansiro terbodoh, “memangnya separah itu, ya. ” gumamnya lalu kembali berjalan.
Beberapa Menit Kemudian...
“ah, lega sekali, aku seperti baru saja melepaskan beban yang begitu berat. ” gumam Sinam dengan tampang bodoh, dia berjalan keluar dari sungai yang berair jernih dan dangkal, ikan kecil dan bebatuan terlihat jelas.
“eh.?! ” Sinam memandang ke suatu arah, di situ terlihat orang sedang berjalan diantara pepohonan hutan, gelapnya bayangan pohon membuat dia sulit untuk melihat.
“siapa itu.?! ” Sinam mengejar orang itu, sepertinya dia penasaran.
Sinam menoleh ke segala arah, “cih, dia cepat sekali. ” batinnya, lalu menuju suatu arah, “aku yakin dia ke arah sini. ” gumamnya.
Tap.. Tap..
Sinam melompat ke arah dahan pohon, lalu melompati dahan yang lain dan seterusnya.
Sinam melompat ke bumi, dia menghentikan langkah dengan ekspresi kesal, “sial, aku kehilangan dia. ” batinnya.
“hey, bocah! kau mencari siapa.?! ” tiba-tiba terdengar suara yang begitu lantang sehingga menggema di hutan.
“eh.?!” Sinam menoleh kearah suara yang berasal dari atas, dia melihat seorang pria berambut coklat pendek sedang duduk di teras rumah pohon yang sangat tinggi, usianya sekitar dua puluh enam tahun, dia adalah Abame.
“hey, bocah! sedang apa kau disini.?! ” tanya Abame, wajahnya terlihat songong, “pulanglah, berbahaya jika kau berlama-lama di hutan ini.! ” lanjutnya sambil memakan buah.
Sinam menoleh Abame, “dia di hutan ini hanya sendiri, aku yakin dia bukan orang sembarangan. ” batinnya.
“hey, paman! bagaimana jika kita bertarung sebentar, jika kau kalah, jadikan aku murid mu.! ” teriak Sinam.
__ADS_1
“kau bodoh, ya. ” Abame tersenyum, “jika aku kalah, bagaimana mungkin aku menjadi gurumu, seharusnya kau yang menjadi guruku. ”
Tap..
Abame melompat dan mendarat di bumi, dia berdiri di hadapan Sinam sambil tersenyum.
“tapi, baiklah.. jika kau kalah, anggap saja kau tidak melihatku dan melupakan hari ini.! ” ucap Abame.
Abame terlihat serius, “jika anak ini memberi tahu pada Desa bahwa aku berada di hutan ini, bisa gawat. ” batinnya, “aku juga tidak ingin mengotori tangan ku dengan darah anak ini. ”
Sinam tersenyum menatap Abame, “baiklah paman, bukan hal sulit untuk melupakan mu. ” ucapnya.
“kalau begitu, sebelum bertarung, aku ingin tahu siapa namamu.? ” ucap Abame.
“namaku Sinam.. ingat baik-baik, suatu hari nanti aku akan menjadi petarung terkuat. ” jawab Sinam penuh semangat.
Abame terkejut, “Sinam.?! ” batinnya, lalu tersenyum tipis, “mungkin saja hanya namanya yang sama. ”
Sinam bersiap, “baiklah, paman, aku datang.! ” kemudian berlari ke arah Abame.
Tap..
tiba-tiba Abame menghilang, dia tidak terlihat lagi di posisi semula, sepertinya dia juga sudah bergerak.
Sinam menghentikan langkah dan terkejut, “menghilang?! kemana dia.?! ” batinnya menoleh ke kanan dan kiri.
“kau mencari siapa.? ” tiba-tiba terdengar suara Abame dari belakang Sinam.
Blakk..
dengan sangat santai Abame menahan pukulan Sinam.
“pukulan mu sangat lemah, mustahil kau bisa menjadi petarung terkuat.. ” Abame tersenyum.
“sial.!! ” Sinam kesal dan mengarahkan tendangan menyamping.
Buaakk..
tendangan Sinam dibalas Abame dengan tendangan, kaki Sinam terdorong, sepertinya tenaganya bukan apa-apa dibandingkan Abame.
Abame tersenyum, “kau sudah terkena Jurus ku. ” ucapnya.
“Jurus.?! ” Sinam kebingungan.
Sinam mencoba mengayunkan tinju, tapi tidak bisa, “ada apa ini?! kenapa tangan ku tidak bisa bergerak, tu.. tubuhku terasa kaku.. ” batinnya.
Abame tersenyum, lalu memukul kepala Sinam pelan, “pasti sekarang kau tidak bisa bergerak, aku memberi namanya, Jurus Dua Sentuhan. ” ucapnya.
“Jurus Dua Sentuhan.?! ” ucap Sinam terkejut, “aku terkena Jurusnya, sejak kapan.?! ” batinnya.
__ADS_1
Abame tersenyum, “kau sudah kalah, sekarang pergilah.! ” ucapnya.
Sinam sudah bisa bergerak, “aku sudah bisa bergerak.! ” batinnya, “Jurus Dua Sentuhan sangat hebat. ” batinnya.
Sinam membungkukkan badan, “paman, jadikan aku murid mu.! ” ucapnya penuh semangat.
“jadi kau menarik kata-kata mu, ya. ” ucap Abame tersenyum.
“bukan seperti itu, aku hanya ingin menjadi lebih kuat, tolong jadikan aku murid mu.! ” Sinam masih menunduk.
Abame menatap Sinam serius, “sebelum itu, kau harus menjawab pertanyaan ku, jawaban mu akan menentukan aku mau atau tidak. ” ucapnya datar.
“jika anak ini Sinam anak dari Hikari, seharusnya dia tidak memiliki orang tua lagi, dan mungkin dia tidak tahu siapa orang tuanya, Rokuga pasti merahasiakannya. ” batin Abame serius.
Sinam mengangkat kepalanya, lalu menatap serius Abame, “baiklah, aku akan menjawab pertanyaan mu. ” ucapnya.
“siapa orang tuamu? dan di mana mereka sekarang.?! ” Abame menatap tajam Sinam.
Sinam terkejut, lalu terlihat bersedih, “aku tidak tahu siapa orang tua ku, aku juga tidak tahu dimana mereka sekarang, setiap aku bertanya pada kakek dan nenek, mereka terus diam. ” jawabnya, “jadi.. karena itu.. demi mengetahui siapa orang tuaku.. tolong.. tolong jadikan aku murid mu.. aku harus menjadi petarung yang kuat. ” lanjutnya.
Abame terkejut, “benar.. dia adalah anak Hikari.. sembilan tahun lamanya aku mencari keberadaannya.. sekarang aku menemukannya.. aku sudah banyak berhutang budi pada Hikari, menjadikan anaknya murid bukan masalah bagiku. ” batinnya tersenyum bahagia.
Abame menatap Sinam, “baiklah, mulai sekarang kau harus memanggilku guru Abame. ” ucapnya.
Sinam tersenyum lepas, “benarkah? terima kasih guru Abame. ” ucapnya.
Abame tersenyum tipis, “Rokuga selalu merahasiakan tentang keberadaan Sinam dariku.. sekarang aku menemukannya.. walaupun aku bukan lagi petarung Desa Yama, tapi aku akan menjadikan Sinam petarung yang hebat. ” batinnya, “Hikari.. sepertinya Sinam akan menjadi petarung yang kuat, tapi.. aku tidak tahu jalan mana yang akan dia ambil setelah tahu semua kebenarannya.. tentang jati dirinya yang berasal dari Desa Elemen. ”
“baiklah, ayo kita istirahat sebentar. ” Abame melompat ke rumah pohon yang berada di atas, Sinam mengikutinya.
“dengan begini, aku tidak perlu ke Arena pertarungan.. aku akan menjadi lebih kuat bersama guru Abame. ” batin Sinam penuh semangat.
Abame duduk di teras dengan tangan yang memegang buah pisang, “jadi, apa kau tertarik dengan Jurus ku yang barusan? aku yang menciptakan Jurus itu, namanya Jurus Dua Sentuhan. ” ucapnya sambil mengunyah.
Sinam mengangguk, “ya, ya, tolong ajarkan aku Jurus hebat itu.! ” ucapnya semangat. “tapi, kenapa namanya Jurus Dua Sentuhan? aku tidak mengerti. ” lanjutnya.
Abame tersenyum tipis, “Jurus ini sangat sederhana, juga tidak terlalu hebat, tapi bisa membuat lawan kesulitan menyerang dengan tangan kosong. ” ucapnya. “Dua Sentuhan, penggunanya hanya perlu memberikan sentuhan pada lawan lewat pukulan ataupun tendangan, bisa juga saat menahan pukulan lawan.. sentuhan pertama, kita harus mengumpulkan Shaka di bagian tertentu pada tubuh yang akan menyentuh lawan.. ketika Shaka kita berbenturan dengan tubuh lawan, Shaka kita akan merespon Shaka milik lawan, pada dasarnya setiap orang memiliki Shaka didalam tubuhnya. ”
“lalu.? ” tanya Sinam.
“setelah Shaka kita berbenturan dengan Shaka lawan, dalam beberapa detik kita harus bisa membuat Shaka kita merasakan Shaka lawan, lalu sentuhan kedua kita mengunci aliran Shaka lawan karena sudah mengenalnya.. ” jawab Abame, “setiap bagian tubuh yang dialiri Shaka oleh lawan, akan terkunci sekitar sepuluh detik.. terutama kaki dan tangan. ”
“wah, hebat.! ” Sinam terlihat bersemangat. “itu artinya, setelah kita menggunakan Jurus Dua Sentuhan pada lawan, yang berikutnya kita hanya perlu melakukan satu sentuhan karena Shaka kita sudah mengenal Shaka lawan. ”
“tidak bisa.. sentuhan pertama dan kedua hanya memiliki jeda beberapa detik, jika terlalu cepat maka Shaka kita belum sempat merespon Shaka lawan, jika terlalu lama akan kehilangan rasa Shaka lawan.. ” jawab Abame, “pada akhirnya.. itu tergantung cara kita mengendalikan Shaka.. walaupun seperti itu, Jurus ini hanya cocok digunakan ketika menghadapi lawan yang tangan kosong, jika lawan menggunakan senjata, malah bisa membuat kita bahaya. ”
“sentuhan pertama dan kedua hanya berjarak beberapa detik, setelah terkunci hanya bertahan sekitar sepuluh detik.. ” ucap Sinam, “cara kerja Jurus ini sangat sederhana, tapi sangat merepotkan.. jika lawan sudah tahu, itu artinya dia tidak mungkin menyerang kita sembarangan. ” lanjutnya.
“jika kau ingin menguasai Jurus ini, kau harus belajar mengendalikan Shaka mu dengan sempurna.. ” ucap Abame, “jika kau sudah menguasainya, bukan berarti kau sudah kuat, jika kau menggunakan Jurus Dua Sentuhan terhadap petarung yang kuat, bisa jadi itu tidak berguna.. ”
__ADS_1
“baiklah, aku mengerti. ” ucap Sinam semangat.