SINAM

SINAM
Sinam Vs Jido


__ADS_3

Buakk.. Blakk..


Sinam dan Jido saling jual beli serangan, pukulan serta tendangan mereka lepaskan.


namun, tidak ada satupun serangan Jido yang menyentuh Sinam, sebaliknya, Jido terus diguyur tinju dan tendangan Sinam, tetapi seperti tidak berefek, Jido tetap berdiri, sepertinya kuda kudanya terlalu kokoh untuk di goyahkan.


wasit sedikit terkejut melihat Sinam yang bergerak lincah dengan sesekali berlompatan, “ jika dibandingkan dengan menghadapi Tori, Sinam sudah semakin gesit, sepertinya dia tipe orang yang cepat bertambah kuat. ” batinnya.


Buaakk..


satu tinju Sinam mendarat di pipi Jido, wajahnya sedikit bergerak, namun dia masih tetap berdiri.


“cih.! ” Jido terlihat kesal, lalu melayangkan tendangan yang terlihat penuh tenaga untuk menyapu Sinam yang ada didepannya.


*Tap..


Wushh*..


Sinam melompat mundur untuk menghindar, tendangan Jido tidak mengenai sasaran, suara kakinya bergesekan dengan udara terdengar menakutkan.


wasit memandang Jido, “Arkan memang terkenal dengan kekuatan fisiknya.. tendangan anak itu juga sangat kuat, tapi apalah artinya jika tidak mengenai sasaran, setiap serangan harus punya kecepatan. ” batinnya lalu menoleh Sinam, “Sinam memang cepat, tapi.. kecepatan tanpa kekuatan sama saja bohong. ”


saat ini, Sinam dan Jido cukup berjarak, keduanya saling tatap, angin berhembus mengobrak-abrik rambut keduanya.


Sinam terlihat berpikir, “aku rasa sudah saatnya, aku yakin dia kesulitan untuk menganalisis Jurus ku. ” batinnya.


Jido menatap Sinam, “sebelumnya dia terlalu agresif dan terus menyerang.. sekarang dia mengambil jarak, aku yakin dia bersiap menggunakan tekniknya.. setiap Jurus pasti memiliki persiapan sebelum digunakan. ” batinnya.


Tap..


detik selanjutnya, disaat bersamaan, keduanya melesat cepat saling memburu.


“sekarang.!! ” Jido tersenyum lalu mempercepat langkahnya, lalu mengarahkan tinju.


Blak..


Sinam menahan dengan kedua lengannya, dia terdorong beberapa langkah.


Jido terkejut, “ditahan? seharusnya dia bisa dengan mudah menghindar, kenapa.? ” batinnya.


Sinam tersenyum, “aku bisa merasakan Shakanya. ” lalu memaksa geraknya untuk cepat maju.


Tap.. Tap..


Sinam berlari lalu menerjang dengan tendangan lurus.


“terlalu mudah.!! ” teriak Jido menahan dengan telapak tangannya.


“berhasil.!! ” batin Sinam tersenyum, lalu menyeimbangkan tubuhnya.


Deg..


Tiba-tiba Jido tersentak, dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa, singkatnya tubuhnya kaku.


bola mata Jido bergerak menatap telapak tangannya yang kaku, “apa ini? tubuhku terasa kaku? apa aku terkena Jurusnya.? ” batinnya, “jadi ini yang dirasakan Tori. ”


Buaakk.. Blaak..


tanpa basa-basi, Sinam langsung menyerang, diawali dengan tendangan keras yang menghantam leher Jido, seperti patung, tetap kaku tapi tumbang. lalu Sinam melempar tubuh Jido tinggi keatas.

__ADS_1


tubuh Jido berputar-putar di udara, bola matanya melirik Sinam yang masih berpijak bumi, “sial..!! ” batinnya kesal.


Tap.


Sinam melompat tinggi, “ini baru dimulai.!! ” dia memburu tubuh Jido.


Deiki menonton pertandingan dengan serius, “ternyata bukan sebuah kebetulan, ini adalah teknik milik Sinam.. darimana dia mendapatkan Jurus sehebat ini.? ” batinnya.


wasit terlihat serius, “Jurus yang bisa membuat lawan tidak bisa bergerak, aku belum pernah dengar sebelumya. ” batinnya, “untuk seusia dia, hebat jika sudah mampu menguasai Jurus. ”


Buaakk.. Bakk..


saat di udara, Sinam menghajar habis-habisan, menendang serta meninju, sementara Jido tidak bisa memberikan perlawanan.


Sinam mencengkram kedua kaki Jido, memutar-mutar tubuh Jido, “sepuluh detik sudah cukup bagiku.! ” batinnya.


“HIAAA..!! ” Sinam berteriak sekeras-kerasnya sambil melemparkan tubuh Jido kearah bumi.


Wushh..


Boomm..


tubuh Jido melesat cepat, lalu menghantam bumi dengan dahsyat, tanah hancur dan asap langsung menggumpal.


Tap..


Sinam mendarat, “hosh.. hosh.. ” mengatur nafas dengan pandangan kearah debu yang menutupi Jido.


“aku tidak akan berharap dia sudah kalah, Arkan memiliki fisik yang sangat kuat, anak bernama Tori tadi masih bisa bertahan setelah terkena serangan seperti ini berkali-kali. ” batin Sinam.


debu mulai menghilang, terlihat Jido berjongkok diantara tanah yang hancur, tubuhnya di penuhi darah.


Jido berdiri perlahan, menatap Sinam tajam, “kenapa? kapan? aku tidak tahu kapan dia melepaskan Jurusnya. ” dia terlihat kesal, “ aku sudah menahan tendangannya, mustahil satu pukulan bisa membuat lawan tidak bisa bergerak, dan jika bisa, seharusnya dari awal dia tidak perlu mengecoh ku, dia bisa dengan mudah menyerang ku dengan Jurusnya, aku juga tidak merasakan dia menekan saraf-saraf tertentu, hanya telapak tangan ku yang menyentuh kakinya. ” bayangan bayangan pertarungan mereka kembali terlintas di kepala Jido.


“ hahaha..hahaha..!!” setelah beberapa saat berpikir, tiba-tiba Jido tertawa keras.


“kenapa dia tertawa? apanya yang lucu.? ” Sinam bertanya sambil memandang Jido dari kejauhan.


“jadi begitu, ya. ” Jido melangkah kearah Sinam, “kau sengaja tidak menghindari tinjuku karena kau ingin bersentuhan dengan ku, lalu kau melepaskan tendangan walaupun dengan gerakan memaksa karena sentuhan pertama dan kedua tidak bisa berjarak lama, itulah syarat berhasilnya Jurus mu. ” ucapnya keras.


“apa.?! ” Sinam terkejut.


“mungkin namanya adalah Jurus Dua Sentuhan, kau tidak harus memukul lawan, intinya kau harus bersentuhan dengan target dua kali, lalu kau mengunci pergerakan Shaka di tubuhku sehingga tubuh ku kaku sekitar sepuluh detik, benar bukan.? ” ucap Jido penuh keyakinan, “Sinam, kau benar-benar menarik, kau membuat semuanya menjadi rumit, aku akui kau lawan yang tangguh. ” Jido mengakui.


Sinam mengadu gigi, dia terlihat kesal, “apa aku melakukan kesalahan? dia terlalu jenius, dia bahkan tahu nama Jurus yang diajarkan guru Abame padaku. ” batinnya.


keempat pimpinan desa memandang pertarungan dengan serius, sepertinya mereka cukup menikmati itu.


“dia menganalisis semuanya dengan tepat, aku bahkan tidak menyadarinya. ” ucap Higuchi pimpinan desa Pedang Kembar.


“begitulah, Jido memang terkenal jenius, cara berpikirnya sangat tajam, aku yakin dia akan menjadi petarung yang kuat. ” sahut Judoro pimpinan Arkan.


“dia tidak jenius, itu namanya insting bertarung, jika orang lain yang berada dalam pertarungan, mungkin juga memahaminya. ” Mikami tidak terima.


Tap..


Jido bersiap, “aku sudah tahu tentang Jurus mu, sekarang saatnya giliran ku.! ” dia tersenyum jahat.


Sinam tersenyum, “kalau kau tahu memangnya kenapa? disini akulah yang diuntungkan, kita bertarung dengan tangan kosong, pasti ada saatnya aku berhasil menggunakan Jurus ku. ” ucapnya sombong, “kecuali.. kau menggunakan senjata. ”

__ADS_1


“menggunakan senjata katamu.? ” Jido mulai bergerak, “aku tidak butuh sampah seperti itu.!! ”


“sudah kuduga, Arkan memang sangat anti dengan senjata. ” Sinam mulai maju, “kalau begitu, kesempatan ku untuk menang semakin besar. ”


Blaak..


setelah saling memburu, keduanya pun beradu pukul, Sinam terdorong cukup jauh, sementara Jido tetap diposisi.


Jido tersenyum, “dengan begini, kau tidak akan bisa menggunakan teknik mu, aku tidak akan memberimu waktu.! ” ucapnya.


Sinam terlihat kesal, “cih, jika jaraknya seperti ini, aku tidak bisa menggunakan jurusku, sentuhan pertama dan kedua hanya berjeda sebentar.. dia sengaja membuatku jauh darinya. ” batinnya.


wasit melirik Jido, “lumayan, begitu tahu cara kerja Jurus lawan, dia langsung mencari antisipasinya. tapi, ini pertarungan fisik, suatu saat dia pasti memiliki celah. ” batinnya.


Jido tersenyum, “sekarang bagaimana? aku sudah tahu kelemahan jurus mu.! ” ucapnya remeh.


awalnya Sinam terlihat kesal, namun akhirnya tersenyum, “benarkah? ayo kita lihat sampai dimana kau bisa bertahan.! ” ucapnya remeh.


“ini adalah pertarungan fisik, pasti ada kesempatan dimana dia lengah. ” batin Sinam serius, lalu melesat maju.


“datanglah.!!” Jido terlihat semangat dan tersenyum jahat, sepertinya dia punya rencana.


Blak..


keduanya kembali bergesekan, benturan pertama diawali dengan tendangan Jido yang ditangkis Sinam dengan kedua tangan.


Sinam tersenyum, “sebaiknya kau tidak sembarangan menyerang, teknik ku hanya perlu sentuhan. ” ucapnya.


“ditangkis? itu artinya.. ” Jido tersenyum tipis.


Blakk..


Sinam mengarahkan tinju ke perut Jido yang langsung menahan dengan tangan kanan, saat ini keduanya sangat berdekatan.


“berhasil.!! ” Sinam tersenyum.


“sekarang..!! ” dengan sangat cepat, Jido berputar, lalu mengunci tubuh Sinam, kedua tangannya mengikat tangan Sinam dari belakang.


“apa.?! ” Sinam terkejut, melirik Jido dibelakangnya, “sebelum Jurus ku aktif, dia bergerak cepat mengunci pergerakan ku agar tidak bisa menyerang, dia sendiri sadar kalau sudah terkena Jurus ku... dia sudah memperhitungkan semuanya.. ” batinnya kesal.


Jido melirik mata Sinam yang juga melirik nya, “sekarang giliranku. ” batinnya.


Sinam mencoba melepaskan cengkraman tubuh Jido namun tidak bisa karena tubuh Jido sudah kaku, Sinam tersenyum tipis, “kau memang hebat, kau sudah memikirkan semuanya, tapi.. sampai kapan akan seperti ini.. yang berikutnya aku hanya tinggal menjaga jarak setelah melepaskan Jurus, dengan begitu kejadian seperti ini tidak akan terulang, lagipula kau juga tidak bisa menyerang.. kita sama-sama tidak bisa bergerak.” ucapnya.


Jido tidak menjawab karena memang tidak bisa, tapi bola matanya menatap Sinam remeh, seolah berkata ‘benarkah? ’


wasit menatap seriuss pertarungan, “anak bernama Jido itu lumayan juga, dia sadar dan sebelum Jurus Sinam aktif dia bergerak secepat mungkin untuk mengunci pergerakan Sinam, walaupun dia tidak bisa bergerak, tapi setidaknya Sinam juga tidak bisa menyerang, tidak ada yang dirugikan. ” batinnya.


Deiki terlihat serius, “menarik, keduanya tidak terlalu kuat, tapi cara berpikir mereka sangat hebat. ” batinnya.


Sinam meronta ronta, namun dia tidak bisa bergerak, “sial, karena dia terkena Jurus ku, aku tidak bisa membuatnya bergerak sedikitpun. ” batinnya kesal, sepertinya cengkraman Jido terlalu sulit untuk dilepas.


Deg..


Tiba-tiba Sinam tersentak, dia seperti merasakan sesuatu dan melirik kearah Jido.


“ada apa ini? kenapa tiba-tiba tubuh ku terasa lemas.? ” ucap Sinam melirik Jido curiga, “jangan-jangan, kau..? ”


“benar, aku menyerap Shaka mu.. ” Jido tersenyum jahat, “kau akan berakhir. ” lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2