
“pemenangnya adalah Sinam dari Desa Yama.!! ” teriak wasit mengangkat tangan Sinam ke atas.
“Yosh, aku berhasil.!! ” Sinam tersenyum lepas, dia terlihat bahagia.
“hebat, dia menang lagi.!! ”
“benar, menang dua kali berturut-turut, dia sangat hebat..! ”
setelah itu, semua penonton berteriak semangat.
disisi lain, Deiki dan yang lain terlihat sangat bahagia, mereka bersorak menyambut kemenangan Sinam.
Sansiro terlihat terharu, ”perjuangannya membuahkan hasil.!” ucapnya.
“sulit dipercaya, dia berhasil melakukannya. ” sahut Kaori.
Saken memandang Sinam kagum, ”hebat, dia berhasil menang dua kali berturut-turut.” batinnya, “sementara aku.. cih.” dia sedikit kesal.
wasit memandang Sinam yang melambaikan tangan kearah penonton, “ dari pertandingan ini aku sedikit belajar, selagi masih bisa berdiri, kita harus tetap bertarung walau kecil kemungkinan untuk menang. ” batinnya.
“ aku berhasil, aku menang.!! ” Sinam berteriak sambil berkeliling.
“eh.?! ” tiba-tiba Sinam kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.
“terjatuh.?! ” wasit bergerak cepat kearah Sinam.
Tap..
Tiba-tiba saja Deiki sudah berdiri di samping Sinam dan menahan tubuh Sinam.
“apa.?! ” wasit terkejut melihat Deiki, “dia cepat sekali.?! ” batinnya tidak percaya.
Sinam menoleh Deiki, “guru.?! ” ucapnya.
Deiki menoleh Sinam, “sepertinya kau kelelahan. ” ucapnya. “ada yang ingin ku tanyakan padamu. ” lanjutnya, kemudian menggendong Sinam dibelakang, kemudian Deiki berjalan keluar arena.
“apa itu.? ” Sinam bertanya.
Deiki melirik Sinam yang berada di punggungnya, “seharusnya kau sudah kehabisan Shaka, kenapa tiba-tiba kau memiliki Shaka begitu besar? apa yang terjadi.? ” dia bertanya.
untuk sesaat Sinam termenung, “ entahlah, tadi aku seperti bermimpi berada di tengah lautan, namun itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi. ” kemudian menjawab.
“mimpi.?! ” Deiki terlihat bingung.
“ya, setelah itu aku sadar dan Shaka ku seperti telah kembali, tidak, bahkan aku jadi lebih kuat dari yang biasanya. ” ucap Sinam.
Deiki terlihat serius, “ apa maksudnya dengan lautan? pewaris kekuatan iblis seharusnya berhubungan dengan iblis tersebut yang berwujud binatang.. lalu, mustahil seorang petarung memiliki dua jenis Shaka. ” batinnya. “ Sinam.. siapa sebenarnya dirimu.? ”
setelah itu, wasit memanggil nama dua petarung, satu berasal dari Desa Pedang Kembar yang mengenakan pengikat kepala berwarna merah, dan satu lainnya menggunakan pengikat kepala berwarna biru yang berarti dari Desa Sanji.
Ctang.. Cting..
Pertarungan dimulai, keduanya menggunakan senjata, suara besi beradu pun terdengar.
Desa Sanji, tepatnya di area hutan jauh dari pedesaan..
seorang pemuda berambut hitam panjang berjalan dibawah pepohonan, dia adalah Himiko Nogo, entah apa yang dicarinya.
“ aku bisa merasakannya, walau samar, sebenarnya dia sudah dekat. ” gumam Himiko dengan ekspresi datar.
setelah cukup lama berjalan melewati pepohonan yang rimbun, akhirnya terlihat cahaya bersama suara air yang cukup berisik, itu adalah air terjun yang jatuh ke ke sebuah kolam, sekelilingnya dipenuhi dengan pepohonan.
Himiko menatap tajam air terjun tersebut, “ akhirnya aku menemukan mu, penghianat.! ” kemudian bersiap.
Sringg..
__ADS_1
Himiko menarik pedangnya yang terselip di pinggang, kemudian mengayunkan pedangnya kearah air terjun tersebut.
Blaarr..
detik selanjutnya, api berkobar dan melesat menghantam air terjun yang jaraknya cukup jauh. derasnya air terjun terhenti beberapa saat karena terpotong, dibaliknya terlihat gua yang gelap.
Bzcipcipbzcip...
disaat itu juga, melesat beberapa sambaran petir yang berasal dari gua tersebut, itu terjadi sangat cepat.
“apa.?! ” Himiko terkejut.
*Tap..
Zuoorr*..
dengan gesit Himiko melompat untuk menghindar, pohon tersambar petir lalu terbakar.
Tap..
Himiko mendarat, dia menatap sambaran petir yang tertuju kearahnya, kemudian mengayunkan pedangnya untuk menebas petir tersebut.
Boomm..
Pedang Kembar Api milik Himiko bergesekan dengan petir, ledakan dahsyat terjadi, angin menghempas segalanya bersama debu yang beterbangan.
Beberapa saat kemudian, debu dan angin mulai mereda, disitu terlihat Himiko berdiri dengan tatapan datar ke suatu arah.
“ akhirnya kau keluar juga. ” ucap Himiko datar.
didepan Himiko, berdiri seorang laki-laki berambut hitam panjang, dari wajah terlihat tidak terlalu tua, namun dia sudah berusia hampir lima puluh tahunan, dia adalah Hikasa Nogo, kakak dari Hikaru dan Hikari, itu artinya dia adalah paman Himiko.
“padahal orang-orang dari Sanji tidak mengetahui keberadaan ku, tapi kau menemukan ku dengan mudah, itu artinya kau sudah menjadi petarung yang hebat. ” ucap Hikasa datar. “ tapi, cara mu memberikan salam pada paman sangat buruk.. ” kemudian tersenyum.
Himiko terlihat penuh kebencian, “ berhenti berbicara seolah kita masih sama seperti dulu.. semenjak kehancuran desa karena penghianatan mu, kau adalah orang pertama yang harus ku bunuh..! ” ucapnya keras.
“ semuanya sudah jelas.. aku sudah kehilangan keluarga.. desa.. satu-satunya yang tersisa hanyalah kebencian ini.. ” Himiko terlihat penuh kebencian, “ dan hari ini.. aku datang untuk membunuh mu.!! ” kemudian bersiap.
“ Jurus Bola Api..!! ” ucap Himiko sambil mengadu telapak tangannya.
Blaarr..
detik selanjutnya, keluar api yang berbentuk bola dari mulut Himiko, ukurannya cukup besar dan tertuju kearah Hikasa.
Hikasa menatap bola api tersebut, wajahnya memerah terkena sinar dan rambutnya terhempas kesana-kemari terkena tekanan udara.
Zuuorr..
terjadi ledakan dahsyat akibat bola api Himiko, pepohonan yang terkena terbakar cukup luas.
Himiko menatap datar hutan yang terbakar, namun dia tidak melihat jasad Hikasa.
“ aku disini.! ” Hikasa berteriak dari belakang.
Himiko menoleh kebelakang, dia melihat Hikasa berdiri di dahan pohon yang cukup tinggi, “ sudah ku duga. ” ucapnya datar.
Hikasa masih berdiri di atas dahan pohon, “ kau sudah menguasai elemen api dengan baik, kau semakin mirip dengan ayahmu.! ” ucapnya keras, “ jika kau sudah menguasai api biru dan hijau, sebaiknya langsung kau gunakan.! ”
“ cih. ” Himiko terlihat kesal, “ orang seperti mu tidak pantas berbicara tentang ayahku, dasar sialan.!! ” teriaknya lalu melompat keatas sambil menarik pedangnya memburu Hikasa.
*Sriing..
Tap*..
Hikasa menarik pedang lalu melompat kebawah memburu Himiko.
__ADS_1
setelah keduanya berdekatan, keduanya melesatkan tebasan di udara, terlihat di pedang Himiko berkobar api tipis.
Traangg..
kedua besi tersebut beradu, namun pedang Hikasa hancur berkeping-keping.
“ apa.?! ” Hikasa terkejut. saat ini keduanya masih di udara dengan posisi berdekatan.
Himiko tersenyum kematian, “ jangan meremehkan ku.!! ” teriaknya sambil mengarahkan ujung pedangnya kearah Hikasa.
cep..
pedang tersebut menancap dengan telak ke perut Hikasa.
“ akh.!! ” Hikasa memuntahkan darah.
Bukk..
tubuh Hikasa terjatuh ke bumi, sementara Himiko berdiri diatasnya sambil menekan tusukan pedangnya.
“ bagaimana bisa.?! ” tanya Hikasa terdengar berat.
“ yang ku gunakan saat ini adalah Pedang Api, pedang biasa akan hancur saat beradu dengan pedang ku.! ” dia tersenyum remeh.
“ begitu, ya.. sepertinya aku terlalu meremehkan mu.. ” ucapnya, perlahan tubuhnya berubah menjadi aliran listrik.
Bzcipcipbzcip..
“aakhh.!!” aliran listrik tersebut menyengat Himiko sehingga dia berteriak.
setelah itu, Himiko terduduk dengan tubuh yang bertumpu pada pedangnya, di sekujur tubuhnya terlihat asap tipis.
“ cih, dia mampu membuat tiruan tubuhnya dengan listrik.. aku tertipu. ” Himiko terlihat kesal, kemudian kembali membenarkan posisinya.
“ mewarisi Pedang Api, sepertinya kau memiliki jalan hidup yang berat, Himiko..!! ” terdengar suara dari air terjun.
Himiko menoleh kearah suara tersebut, dia melihat Hikasa berdiri diantara air terjun yang terbelah karena petir di tangannya.
“ itu semua berawal dari kehancuran desa elemen, dan kaulah penyebabnya, Hikasa.!” Himiko menatap tajam.
“ baiklah, jika aku yang mengawalinya, aku juga yang akan mengakhirinya, akan ku ambil semua penderitaan mu..! ” ucap Hikasa.
Bzcipcipbzcip..
dari tangan kanan Hikasa, melesat cahaya biru keputihan, itu adalah serangan elemen listrik yang tertuju lurus kearah Himiko.
Himiko bersiap, lalu menyambut serangan Hikasa dengan menahan menggunakan permukaan pedang api miliknya.
Hikasa masih menekan serangannya pada Himiko, “ jika pedang biasa, seharusnya sudah hancur begitu terkena serangan ku.. jadi ini pedang api yang telah lama hilang. ” batinnya sedikit terkejut.
Srekk..
Himiko masih menahan dorongan dari serangan Hikasa, namun perlahan-lahan kakinya terdorong.
“ cih.. ” Himiko terlihat kesal, “ Hiaaa.!! ” kemudian berteriak kesal sambil memaksa gerak pedangnya untuk membalikkan serangan Hikasa.
Blaarr..
serangan Hikasa berhasil dibalikkan Himiko, lalu menghantam air terjun yang berada di samping Hikasa sehingga ledakan tercipta, air terciprat ke segala arah.
Tap...
Hikasa melompat ke bumi, dia berdiri di samping kolam tersebut.
“ baiklah, aku akan serius menghadapi mu, Himiko. ” ucap Hikasa datar.
__ADS_1
Himiko menatap datar Hikasa, “ aku berhasil untuk bertahan hidup dari insiden sembilan tahun lalu.. itu artinya aku yang memiliki tanggung jawab untuk memikul semua kebencian penduduk desa.. ” ucapnya datar, “ tunjukkan semua yang kau punya, dan jangan buat aku kecewa.!! ” teriaknya.