SINAM

SINAM
Larilah!!


__ADS_3

Tap.. Tap..


dibawah matahari sore, tepatnya di sebuah jalan yang berada di tengah hutan, terlihat dua ekor kuda sedang berlari cepat membawa gerobak masing-masing, itu adalah gerobak Matsuda dan gerobak Ryugu.


Matsuda yang berada di gerobak pertama melirik ke belakang dengan serius, lalu menatap jalan sambil memukul kuda agar mempercepat langkah, “ aku harus cepat sampai ke Sanji, lalu kembali membawa pertolongan untuk anak itu. ” batinnya, dia mengingat sosok Sinam.


di gerobak kedua, Ryugu termenung dengan wajah datar, “ kenapa dia melakukan itu? apa untungnya bagi dia? mengorbankan diri untuk orang lain, sebenarnya apa tujuannya.? ” batinnya, wajah Sinam saat tersenyum hangat sambil mengacungkan jari jempol kembali terlintas, “ dan senyumannya itu... terlihat begitu tulus.. kenapa dia mengganggu pikiran ku.? ” dia memegangi kepala.


di samping Ryugu, Aozora menangis tanpa suara, namun air matanya terus menetes, “ Sinam.. maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. ” ucapnya tersedu-sedu.


Tap..


Sinam berdiri dengan gagah, dia menatap ke depan, disitu terlihat dua orang yang bergerak semakin mendekati, itu adalah Satoru dan Akaza.


“ mereka datang. ” ucap Sinam serius.


Tap..


Satoru dan Akaza berhenti, mereka menatap Sinam dengan datar.


“ jadi kau berniat mengorbankan diri, ya. ” ucap Satoru datar, “ kau masih memiliki kesempatan, aku akan membiarkan lari. ” lanjutnya.


Sinam menatap Satoru serius, lalu tersenyum sombong, “ tidak, aku tidak akan lari, aku akan menghadapi mu. ” ucapnya.


“ menghadapi ku.? ” ucap Satoru tersenyum tipis, “ apa yang membuatmu rela mengantarkan nyawa.? ” lanjutnya.


“ aku tidak akan membiarkan mu menyakiti teman-teman ku lebih dari ini, lagipula siapa yang mengantarkan nyawa.. aku berniat untuk menghabisi mu. ” jawab Sinam meyakinkan.


“ baiklah, kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan. ” ucap Satoru.


Sriing..


Satoru bersiap dengan pedang di tangan kanannya, lalu melirik Akaza, “ akan ku urus anak ini secepat mungkin, kau lihat saja dengan tenang. ” ucapnya.


“ baiklah, baiklah. ” Akaza tersenyum lepas.


Sinam bersiap dengan pedang, dia terlihat serius menatap Satoru, “ apapun yang terjadi, aku harus menahannya.. aku akan bertahan sebisa mungkin, yang terpenting teman-teman sampai di Sanji dengan selamat. ” batinnya.


Akaza menatap Satoru, “ sepertinya dia akan menjadikan ini pertarungan cepat. ” batinnya, lalu menoleh Sinam, “ dan Sinam, sayang sekali dia harus berakhir di sini.. padahal jiwa pengorbanannya itu sangat mirip dengan Uhara.. ” batinnya sambil tersenyum jahat.


Satoru bersiap, “ Jurus Pedang, Irisan Kematian. ” dia mulai menjurus.


“ Jurus ini.? ” Sinam terlihat serius.


Wusshh..


detik selanjutnya, Satoru sudah melewati Sinam, namun pedangnya tidak mengenai apa-apa selain udara.


Satoru melirik pedangnya yang bersih dan kilat, lalu menoleh ke belakang, “ dihindari.? ” dia tidak melihat Sinam ditempatnya.


Tap..


Sinam mendarat di depan Satoru cukup berjarak, sepertinya dia melompat mundur untuk menghindari serangan Satoru.


Sinam tersenyum tipis, “ aku berhasil menghindarinya.. ” batinnya.


Akaza terkejut memandang Sinam, “ dia menghindari Irisan Kematian milik Satoru.? ” batinnya tidak percaya, “ itu artinya dia lebih cepat dari gerakan Satoru. ” lanjutnya.


Satoru menatap Sinam, “ bagaimana bisa? seharusnya gerakan biasa tidak akan bisa menghindar dari Jurus ku. ” ucapnya.


Sinam tersenyum menatap Satoru, “ aku sudah banyak tahu tentang mu, aku memperhatikan Jurus mu.. Irisan Kematian milik mu memang sangat cepat dan mustahil untuk dihindari, tapi pola serangnya bergerak lurus menuju target.. aku bergerak sebelum kau bergerak.! ” jawabnya sombong sambil tersenyum.


“ begitu, ya.. itu memang masuk akal, Irisan Kematian memang tertuju untuk target yang tidak bergerak. ” ucap Satoru lalu menoleh Akaza, “ Akaza, pergilah, jangan biarkan Matsuda sampai ke Sanji, bunuh dan ambil uangnya, itu pantas didapatkannya karena mengkhianati Kaisar Besi. ” ucapnya.


Akaza terkejut, lalu tersenyum jahat, “ jadi kau menarik kata-kata mu kembali, ya.. berarti anak ini cukup merepotkan. ” ucapnya.


“ sepertinya menghadapi ini cukup memakan waktu, aku hanya tidak ingin misi kita sia-sia. ” jawab Satoru datar.


“ kau terdengar seperti seseorang yang membuat buat alasan. ” Akaza tersenyum jahat lalu bergerak cepat.

__ADS_1


Sinam menatap Satoru, “ Akaza.? ” batinnya lalu menoleh Akaza dengan seksama, namun kain di wajah Akaza membuatnya sulit dikenali, “ jangan-jangan orang ini.. kakak Saken.! ” lanjutnya, wajah Akaza yang berada di daftar pencarian orang kembali teringat.


Tap..


Akaza berlari kearah Sinam, berpapasan, lalu melewati Sinam.


Sinam menatap setiap langkah Akaza, lalu mengadu gigi pertanda kesal, “ tidak akan ku biarkan.! ” batinnya lalu bergerak.


“ aku lawan mu.! ” Satoru melesat cepat memburu Sinam.


“cih.! ” Sinam memutar kepala untuk menoleh Satoru.


Ctaang..


pedang Sinam beradu dengan pedang Satoru, Sinam terhempas ke belakang, namun dia berhasil menyeimbangkan posisi dengan berjongkok.


Sinam menoleh kepergian Akaza, lalu menghela nafas, “ paman Matsuda.. aku serahkan teman-teman ku padamu. ” batinnya.


Satoru menatap datar Sinam, “ bagaimana, apa kau tidak berniat untuk lari? kau masih memiliki kesempatan. ” dia memberi tawaran.


Sinam menatap tajam Satoru, “ hehehe.. ” lalu tertawa kecil sambil berdiri dari jongkoknya, “ aku Sinam, tidak akan lari dan siap mati untuk teman-teman ku.!! ” teriaknya meyakinkan.


Satoru sedikit tertegun, lalu mengubah ekspresi menjadi serius, “ memangnya apa yang kau dapatkan setelah kau melakukan itu, seharusnya kau tahu kau akan berakhir jika menghadapi ku.. ” ucapnya.


“ mungkin kau benar, mustahil aku mengalahkan mu sendirian. ” Sinam tersenyum tipis.


“ lalu, kenapa kau masih menahan ku, kenapa kau tidak lari saja.? ” tanya Satoru.


“ entahlah, aku hanya tidak ingin melihat teman-teman ku terluka, melihat mereka disakiti, aku merasa tersakiti, dan itu buatku menjadi berani, tidak perduli jika harus menemui kematian, aku akan melindungi mereka. ” jawab Sinam lalu tersenyum.


Satoru terkejut, kenangan malam berdarah itu kembali terbayang, tragedi saat Klan Taro dibantai oleh Kelelawar Merah, saat ibu, ayah dan anggota Klan Taro lainnya di bunuh dengan tragis merasuki kepala Satoru, dan saat itu dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melarikan diri.


“ cih, padahal kau masih anak-anak, tapi kau tidak takut dengan kematian, menyebalkan. ” Tiba-tiba Satoru terlihat penuh kebencian, “ akan ku hancurkan keteguhan mu itu, setelah rasa sakit kau terima, aku yakin kau akan mengerti apa itu rasa takut. ” lanjutnya.


“ mungkin benar rasa sakit melahirkan rasa takut, tapi.. ” Sinam tersenyum semangat, “ rasa takut juga akan hilang karena rasa sakit. ” lanjutnya.


Sinam melangkah maju, “ jika kau tidak mengerti, itu artinya kau tidak pernah melihat orang berharga bagimu dilukai. ” ucapnya.


“ mengerti apa kau tentang ku.? ” seketika Satoru terlihat mencekam.


Ctaang.. Ctiing.. Traang..


detik selanjutnya, keduanya beradu tebas dengan gerakan cepat, pedang Sinam terus bergesekan dengan dua pedang Satoru, jangkauan gerakan mereka cukup luas dengan sesekali berlompatan.


Sinam melesatkan tebasan bertubi-tubi, “ bukankah kau memiliki banyak Jurus pedang, kenapa kau tidak mengeluarkannya.? ” ucapnya sambil tersenyum, “ begitu, ya.. sepertinya kau sudah kehabisan Shaka. ” lanjutnya.


Ctaang.. Ctiing..


Satoru membalas dengan tebasan pedang yang begitu cepat, “ aku hanya ingin menikmati pertarungan melawan bocah seperti mu, kau benar-benar anak yang menarik. ” jawabnya datar.


Ctaang.. Traang..


gerakan Sinam sangat cepat, dia berhasil membuat Satoru kerepotan, percikan percikan api bermunculan setiap pedang keduanya gesekan, indah seperti kembang api.


Satoru tersenyum tipis, “ seperti biasa, diawal pertarungan gerakannya sangat gesit dan tidak terduga, tapi itu tidak bertahan lama, sebentar lagi dia akan kehabisan stamina. ” batinnya.


Sinam tersenyum tipis, “ aku berhasil memojokkannya, aku pasti bisa menahannya lebih lama lagi. ” batinnya.


Ctaang.. Traang..


Satoru berputar cepat, kedua pedangnya menari-nari dengan indah, dia berhasil menepis tebasan dan tusukan Sinam.


Ctaang..


keduanya beradu tebas, lalu terdorong mundur bersama jarak yang memisahkan.


Sinam menatap Satoru, “ hosh.. hosh.. ” dia ngos-ngosan, “ sial, aku harus mengambil nafas sejenak. ” batinnya.


Satoru menatap Sinam tersenyum tipis, “ aku sudah tahu sedikit tentang mu, walaupun gerakan mu sangat gesit dan cepat, tapi itu tidak bertahan lama, stamina mu sangat terbatas. ” ucapnya, “ mungkin benar aku memang mulai kehabisan Shaka, tapi untuk mengeluarkan beberapa Jurus bukanlah sebuah masalah, aku hanya ingin menikmati pertarungan dengan mu, aku ingin melihat ketakutan di dalam dirimu. ” lanjutnya.

__ADS_1


Sinam menatap Satoru, dia mengadu gigi pertanda kesal.


Satoru menatap datar Sinam, “ teknik berpedang mu sangat hebat, baru kali ini ada Petarung yang mampu mengimbangi kecepatan pedang ku, aku yakin suatu saat kau akan menjadi Petarung pedang yang ditakuti. ” ucapnya, “ aku akan memberikan mu penawaran terakhir, bagaimana jika sekarang kau lari saja. ” lanjutnya.


Sinam terlihat kesal menatap Satoru, “ jika kau punya waktu untuk menyuruh ku lari, kenapa kau tidak kau gunakan saja untuk membunuh ku.? ” ucapnya, “ aku tahu kau ingin menghancurkan keberanian ku, tapi itu hanya akan sia-sia, aku tidak akan membiarkan mu lewat. ” lanjutnya.


Sinam menatap Satoru sambil tersenyum sombong, “ membiarkan mu lewat sama saja membiarkan teman-teman ku mati, aku lebih baik mati daripada hal itu terjadi, membiarkan orang berharga bagi kita dilukai, itu sangat memalukan bukan.? ” ucapnya.


Satoru tersentak, sekali lagi dia dipaksa mengingat kejadian malam itu, darah berceceran dimana-mana, teriakan kematian menggema di telinganya, saat itu dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Satoru menatap tajam Sinam, “ keberanian mu membuat diriku terlihat menjijikkan, keberadaan mu harus di hapuskan, enyahlah.! ” dia terlihat penuh kebencian, lalu melesat maju.


Tap.. Tap..


disisi lain, Akaza terus berlari cepat, dia memandang kearah gerobak kuda yang semakin dekat.


“ sedikit lagi. ” ucap Akaza tersenyum jahat.


Tap..


disaat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mendarat di samping Akaza seolah baru saja melompat, lalu melewati Akaza, orang itu adalah Ryugu, sepertinya dia menuju ke tempat Sinam berada.


Akaza terlihat bingung melihat Ryugu yang melewatinya, “ anak itu..? ” gumamnya, “ tidak perlu dipikirkan, tidak ada waktu lagi, Matsuda sudah hampir sampai Sanji, aku harus menghentikannya. ” lanjutnya lalu bergerak maju.


Ctaang..


Satoru melesatkan tebasan dua pedang dengan gaya menyilang, Sinam menahan dengan pedangnya, namun dia terhempas.


Buuaakk..


Sinam terhempas dan menabrak batang pohon, lalu terduduk di situ.


“ hosh.. hosh.. ” Sinam kelelahan dengan wajah babak belur, sebelah matanya tertutup menahan sakit, “ sial. ” dia terlihat kesal.


Tap.. Tap..


Satoru berjalan perlahan mendekati Sinam, “ kesabaran ku sudah habis, aku tidak akan memberikan mu penawaran lagi, jadi.. ”


Satoru melompat ke arah Sinam sambil mengarahkan tebasan, “ enyahlah.!! ” dia berteriak.


Sinam menatap pedang Satoru yang hampir membelahnya, “ berakhir.! ” dia memejamkan mata.


Ctaang..


terdengar suara besi beradu, lalu terlihat sebuah sabit berukuran besar melayang di udara, sementara Satoru terhempas mundur, Sinam terselamatkan.


Sinam membuka mata, “ aku terselamatkan. ” lalu menoleh ke suatu arah, “ Ryugu.?! ” dia terkejut.


Greeb..


Ryugu menangkap sabitnya, saat ini dia berpijak di dahan pohon, dia terlihat tenang dengan wajah datar.


Satoru dalam posisi jongkok, dia melirik tajam Ryugu, “ lagi-lagi ada yang mengganggu, tapi.. bertambah satu orang tidak akan mengubah apapun. ” batinnya.


Ryugu menatap Satoru datar, “ mulai sekarang, aku yang akan mengambil alih pertarungan. ” ucapnya.


“ pergantian pemain, ya. ” Satoru tersenyum tipis sambil membenarkan posisinya.


“ ya, apa ada keluhan.? ” Ryugu melompat dan mendarat cukup dekat dengan Satoru.


“ tidak sama sekali. ” jawab Satoru tersenyum tipis.


Tap.. Tap..


Satoru berlari cepat ke arah Ryugu yang juga berlari kearahnya, keduanya saling memburu bersama jarak yang terpangkas.


“ dibalik wajah datarnya itu, aku merasakan kekuatan yang tersembunyi. ” batin Satoru tersenyum jahat.


“ pesta baru saja dimulai, berdansa lah sesuka mu.!! ” teriak Satoru, tiba-tiba dia menjadi semangat.

__ADS_1


__ADS_2