SINAM

SINAM
Tragedi Sinam


__ADS_3

“matilah..!! ” Judoro berteriak sambil mengarahkan ujung kaki kanannya yang terbalut oleh Shaka Naga ungu yang siap menghantam kearah dinding es terakhir.


Drasshh...


dengan mudah Judoro menghancurkan perisai terakhir milik Hikari.


“gawat.! ” Hikari meletakkan tangannya yang tinggal sebelah sebagai pertahanan.


Buuuaakk...


ujung kaki kanan Judoro menusuk perut Hikari hingga tubuhnya meringkuk seperti akan patah.


“Akhh..! ” darah segar muncrat dari mulut Hikari.


Braakk.. Bruukk..


ujung kaki Judoro masih menempel sehingga tubuh Hikari terdorong dan terus menghantam semua yang ada.


Braakk..


Jurus Judoro sudah selesai, tubuh Hikari terhempas kebelakang dan menghantam perumahan sehingga hancur, lalu tertimbun puing-puing.


“Hosh.. Hosh..! ” Shaka ungu Judoro mulai lenyap dan berganti dengan keringat serta nafas yang terengah-engah.


Bukk..


kedua lutut Judoro terjatuh, dia memandang kedua telapak tangannya, “sial, ini sakit sekali, efek samping dari Jurus Raungan Naga Kematian benar-benar menyiksa.. ” gumamnya.


Tap.. Tap..


Mikami dan Ikumo mendekati Judoro.


“dengan Jurus yang begitu dahsyat, aku yakin Shaka mu benar-benar terkuras habis.. ” ucap Mikami datar.


“sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk membunuh mu. ” Ikumo terlihat mengejek.


Judoro melirik Ikumo, “tutup mulut mu dasar sialan! setidaknya aku yang mampu membunuh penguasa air sialan itu. ” ucapnya disela-sela nafasnya.


Mikami memandang kearah puing-puing yang menimpa Hikari, “sepertinya dia masih hidup, aku bisa merasakan Shaka nya. ”


“aku juga merasakannya, tapi sudah sangat melemah. ” sahut Ikumo.


Judoro memandang kearah puing-puing yang menimbun Hikari, “hebat jika dia masih bisa bertahan hidup, tapi dia pasti akan segera mati. ”


beberapa saat kemudian, puing-puing yang menimpa Hikari terangkat secara perlahan, kemudian terlihat Hikari membungkuk dengan wajah penuh darah.


“Hosh.. Hosh..! ” Hikari menatap Judoro sambil mengatur nafas, “sial, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, serangannya yang barusan begitu mematikan, jika terkena secara langsung, mungkin aku sudah mati sekarang. ” batinnya.


“bagaimana Hikari? apa kau masih ingin melanjutkan pertarungan? belum ada yang selamat setelah terkena Jurus Raungan Naga Kematian. aku yakin kau sebentar lagi akan mati. ” Judoro berdiri tegak dan tersenyum remeh menatap Hikari.


“Hoah..Hosh.!” Hikari menatap Judoro, kemudian memandang tanah dengan nafas tidak beraturan, “dia benar, aku pasti akan mati, Shaka ku sudah habis, aku tidak bisa menang.. bagaimana ini? apa aku harus mati tanpa membunuh satu orang pun diantara mereka.? ” batinnya.


Degg...

__ADS_1


tepat disaat itu, Hikari tersentak, dia terdiam dengan wajah serius.


“apa ini? perasaan ini.. apa yang terjadi pada Hayumi.? ” batinnya, “kenapa ini bisa terjadi? apa kakak dan Himiko terbunuh? apa mereka tidak berhasil menyelamatkan Hayumi dan Sinam.? tapi.. walau sangat lemah aku masih bisa merasakan Shaka kakak. ” lanjutnya.


Hikari membalikkan tubuhnya, “aku harus menyelamatkan Sinam, aku harus bertahan sedikit lagi. ” kemudian melangkah pergi dengan gemetaran.


Mikami menatap Hikari, “aku akan mengejarnya, kita tidak boleh membiarkan dia lolos. ”


“tidak perlu.! ” Judoro menahan, “dia pasti akan mati, dia sudah tidak bisa disembuhkan. ”


Judoro menatap telapak tangan kanannya yang terluka, “sekarang, aku harus mencari penguasa api, aku harus membunuhnya dengan tangan ku sendiri karena telah membakar tangan ku ini. ”


Hikari terus berlari dan berlari melewati kerumunan mayat ke suatu arah , desanya yang sebelumnya indah kini hancur dan bersimpuh darah.


“sial, kenapa ini harus terjadi.? ” dia terlihat sedih, “kakak, jika kau berkhianat, apa sebenarnya alasan mu hingga mengorbankan seluruh penduduk desa.? ” batin Hikari sambil terbayang wajah seseorang, yaitu Hikasa, kakaknya sekaligus penguasa petir.


★★★★★


Zrashh.. Zrashh...


seorang wanita bertarung dengan gagah, dia sudah banyak menebas lawannya dengan pedang di tangan, namun luka di tubuhnya sudah sangat parah, beberapa pedang tertancap di perutnya dan berlumur darah.


wanita itu adalah Hayumi, istri dari Hikari, saat ini dia mencoba membela diri dari pasukan musuh yang ingin membunuhnya serta anaknya.


“sial, wanita ini hebat sekali.! ”


“benar, kemampuan berpedangnya tidak bisa dianggap remeh.


didepan Hayumi, berjejer pasukan musuh yang siap menyerang, mereka terlihat geram karena banyak teman mereka terbunuh.


“maju.! ” salah seorang musuh memberi komando, mereka pun menyerbu Hayumi.


Ctang.. Ting..


adu pedang kembali terjadi, dengan gesit Hayumi menghadapi semua musuh.


Zrashh.. Crakhh..


beberapa lawan terkena tebasan Hayumi, kemudian disusul dengan suara teriakan.


Chep..


salah satu lawan berhasil menusuk Hayumi dari belakang dengan pedang, pedang tersebut tetap menancap.


Hayumi mundur mendekati anaknya, sepertinya dengan luka yang terlalu banyak dia sudah tidak bisa bertarung, “Sinam, awalnya ibu ingin kau tetap hidup.. tapi sepertinya itu mustahil.. maafkan ibu Sinam.. ibu tidak bisa menyelamatkan mu.. ” bisiknya ditelinga bayi tersebut.


Hayumi mulai kehilangan kesadaran, dia sudah tidak bisa berdiri dan hampir tumbang.


Greeb..


tiba-tiba ada yang menahan tubuh Hayumi sehingga tidak terjatuh.


Hayumi menoleh dan tersenyum tipis, “kenapa kau lama sekali.? ” dia melihat Hikari.

__ADS_1


“kau sudah bertahan sangat baik, Hayumi.. ” ucap Hikari.


Hayumi memandangi tubuh Hikari yang dipenuhi luka, memperhatikan tangan kanan Hikari yang sudah tidak ada, “walaupun kita pasti terbunuh, aku ingin anak kita selamat, aku percaya dia akan menjadi petarung yang hebat. ” dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


“siapa dia? ”


“sepertinya dia bukan orang sembarangan. ”


“ayo maju..! ”


melihat Hikari, pasukan musuh langsung maju.


“Hayumi, menjauh sebisa mu, aku akan menahan mereka. ” Hikari menarik pedangnya.


“aku yang sekarang bukanlah apa-apa, aku sudah kehabisan Shaka dan tidak bisa menyerang dengan airku. ” batin Hikari.


Trang.. Ting..


Hikari dan pasukan musuh berpadu pedang, terlihat Hikari sudah sangat lemah dan lambat, sementara musuh terlalu banyak, Hikari pun kewalahan.


Hayumi menggendong Sinam sang buah hatinya untuk pergi dari tempat itu, namun beberapa langkah dia pun terjatuh sehingga bayi tersebut terbentur tanah.


Sinam menangis dengan polosnya, sementara Hayumi tergeletak menatap Sinam dengan air mata menetes, dia sudah tidak bisa bergerak, wajahnya terlihat menyimpan kepedihan mendalam.


“maafkan ibu Sinam.. dan... tetaplah hidup.. ” batin Hayumi sambil menutup mata untuk selamanya.


disaat yang bersamaan, Sinam menangis sejadi-jadinya, dia meronta-ronta dari kain putih penuh darah yang membalutnya, sepertinya dia sadar bahwa telah ditinggalkan oleh wanita yang melahirkannya.


“Hayumi..! ” Hikari menghentikan pertarungan dan mundur untuk mendekati Hayumi.


Hikari memeluk Hayumi, “Hayumi, bertahanlah, kau tidak boleh mati sekarang..! ” matanya mulai berkaca-kaca, namun Hayumi tetap diam karena memang sudah tidak bernyawa.


“menyedihkan.. pemandangan ini sangat menyedihkan.. hahaha..! ”


“benar, aku sungguh terharu, tapi kita tetap harus membunuhnya.. ”


“hahaha, kau membuatku tertawa. ”


ejek pasukan musuh.


“sudahlah, ayo kita habisi dia.! ”


semua pasukan musuh bergegas maju untuk menyerang, sementara Hikari masih tetap memeluk Hayumi.


Wushh..


Tap..


tiba-tiba muncul seorang pria berjubah hitam serta bertopeng bersama hembusan angin.


Traangg...


dengan sekali tebasan pedang yang dialiri Shaka hijau, pria berjubah hitam tersebut mematahkan semua serangan musuh.

__ADS_1


Pria berjubah hitam menoleh Hikari, “sudahi sedih mu sahabat ku, itu tidak akan merubah apa-apa. ” ucapnya.


Hikari menoleh kebelakang dan menatap orang tersebut, “Rokuga.?! ”


__ADS_2