
Judoro dan pasukan berjalan ke suatu arah dibawah derasnya hujan, sepertinya mereka bergegas pergi dari Desa Elemen yang saat ini luluh lantak.
“apakah sudah selesai.? ” tiba-tiba Mikami dan Ikumo muncul dan menghadang langkah Judoro dll.
“semuanya sudah tewas, saatnya untuk kembali, aku tidak ingin berlama-lama disini. ” jawab Judoro santai.
“bagaimana dengan penguasa air? siapa yang membunuhnya.? ” Mikami menatap tajam Judoro.
“dia datang untuk menolong penguasa api dan anaknya, tapi tiba-tiba dia tumbang tanpa alasan, aku juga tidak mengerti. ” Judoro tersenyum tipis, “sepertinya dia terluka parah terkena serangan ku sebelumnya dan kehabisan Shaka. ”
“tiba-tiba tumbang? lalu dimana anak penguasa api? apakah kalian sudah memastikan kematiannya.? ” Mikami terlihat serius.
Judoro tersenyum, “ada apa dengan mu, kenapa kau jadi banyak bicara.? ” ucapnya, “anak penguasa api jatuh ke lautan, dia tidak mungkin selamat. ”
“apa katamu.? ” Mikami terlihat marah, “kenapa kalian tidak mencari jasadnya, jika dia masih hidup, dia pasti bertekad untuk balas dendam, kita tidak bisa meremehkannya dimasa depan. ”
Ikumo melirik Mikami, “tidak ada yang perlu dikhawatirkan, anak itu pasti sudah mati. ” ucapnya datar.
Mikami melirik pasukannya yang berjejer di belakang Judoro, “untuk jaga-jaga, aku ingin kalian memastikan keberadaan anak itu, mati atau hidup. ” tegasnya.
“penguasa air mati secara tiba-tiba, dan anak penguasa api jatuh ke lautan, bisa jadi ini trik yang dimainkan penguasa air sebelum mati. ” batin Mikami serius.
“baiklah.! ” beberapa orang pasukannya pergi meninggalkan tempat itu.
“huh, hujan ini membuatku mengantuk, ayo segera pergi.! ” ucap Judoro.
setelah itu, Judoro, Mikami dan Ikumo serta pasukannya pergi meninggalkan tempat itu.
★★★★★
seorang pria berpakaian putih tertutup berjalan dibawah hujan dengan menggunakan payung, rambutnya berwarna hitam panjang, serta berwajah tampan, usianya mungkin mendekati kepala empat. orang itu adalah Hikasa, penguasa petir sekaligus kakak dari Hikaru dan Hikari.
di samping pria tersebut, seorang anak laki-laki berjalan dengan menggunakan payung, pakaian serta wajahnya mirip dengan Hikasa, dia adalah Hitomi, anak dari Hikasa yang saat ini sudah berusia sebelas tahun.
“ada apa ini? kenapa aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi di desa.? ” batin Hitomi.
Wushh..
derasnya hujan diselingi dengan angin kencang, Hikasa dan Hitomi tetap basah walaupun sudah menggunakan payung.
Hitomi menoleh ayahnya yang terus diam, “apa kau memikirkan sesuatu ayah? kau tidak seperti biasanya. ” ucap Hitomi.
Hikasa menoleh Hitomi, “tidak ada apa-apa, ayah hanya belum siap menghadapi mu nanti. ” dia memegang kepala Hitomi.
Hitomi menatap Hikasa dengan rumit, “apa maksud ayah.? ”
__ADS_1
Hikasa berjalan beberapa langkah, “aku tidak ingin kau membenci ku sekarang, setidaknya langkah kaki kita ini sedikit mengundur kebenaran. ” dia melirik kebelakang dengan serius lalu kembali melangkah.
Hitomi membisu menatap ayahnya yang berada di depannya, “apa ini? apa arti dari ucapan ayah tadi? lalu... perasaan apa ini..? ” batinnya penuh rasa takut.
Hikasa dan Hitomi kembali melanjutkan perjalanan, suasana hening, yang terdengar hanya deruan hujan yang begitu lebatnya.
Tap.. Tap...
cukup jauh berjalan, tiba-tiba pasukan tiga desa yang baru saja menghancurkan desa Elemen terlihat di depan Hikasa dan Hitomi.
Hikasa menghentikan langkah, menatap tajam Judoro, Mikami dan Ikumo yang kini berada di depannya.
“apakah sudah selesai.? ” tanya Hikasa.
“ada apa ini ayah? kenapa mereka disini.?! ” belum sempat dijawab, Hitomi langsung bertanya dengan suara keras.
saat ini, mereka berada di jalan kecil yang di pinggirannya hanya ada rumput hijau bagaikan padi, tepatnya di perbukitan sehingga bebas melihat.
Hikasa menatap Himiko, lalu menunjuk kearah desa Elemen yang saat ini terlihat hancur dari kejauhan, “Hitomi, lihatlah! desa kita telah hancur, merekalah yang menghancurkannya. ”
Hitomi tersentak saat melihat daerah yang ditunjuk Hikasa, payungnya terlepas dan langsung terbang terbawa angin dan hujan, air pun membasahi nya.
“apa ini? ini bohong kan? ini tidak mungkin terjadi. ” Hitomi menatap desanya tidak percaya.
“benar, kamilah yang menghancurkannya. ” jawab Judoro datar.
Bztcipcip..
setelah itu listrik muncul dikedua tangan Hitomi, dia terlihat bersiap menyerang.
“petir.?! ” Mikami sedikit terkejut.
Judoro menatap Hitomi remeh, “hey, bocah tengik! ada apa denganmu? apa kau belum tahu kebenarannya.? ”
“tidak ada yang perlu dibenarkan disini, kalian sudah sepenuhnya salah dan tidak pantas hidup. ” Hitomi terlihat begitu mencekam.
Tap.. Tap..
Hitomi berlari kearah Judoro, “matilah dasar sialan.! ” teriaknya sambil mengarahkan petir dikedua tangannya.
listrik di tangan Hitomi hampir mengenai Judoro, namun tiba-tiba ujung kaki Mikami melesat ke perutnya hingga dia terpental, lalu terduduk di samping Hikasa.
Hitomi kembali berdiri, lalu menatap Hikasa, “ayah, ada apa denganmu? kenapa kau tidak menyerang mereka? mereka sudah menghancurkan desa. ” ucapnya setengah berteriak.
“cukup Hitomi.! ” teriak Hikasa.
__ADS_1
Hitomi menatap Hikasa tidak percaya, “ayah... ada apa denganmu.? ”
“ayahmu sudah tahu penyerangan ini, dan dia bersekongkol dengan kami untuk menghancurkan desa mu. ” tiba-tiba Ikumo mengangkat suara.
Hitomi terkejut mendengar itu, dia membisu serta mematung, ekspresinya saat ini benar-benar rumit, seperti orang bodoh, tidak percaya, kecewa serta sedih semua bercampur menjadi satu.
“dengan kata lain, ayahmu adalah penghianat. ” lanjut Mikami.
Hitomi menggerakkan lehernya untuk menoleh Hikasa dengan penuh keraguan, “benarkah itu ayah.? ” tanyanya ragu.
Hikasa menghela nafas panjang, “benar, ayah berkhianat, ayah sengaja merencanakan ini. ” jawabnya.
Hitomi mengalihkan pandangannya, lalu menatap tanah, “pantas saja kau mengajak ku pergi keluar desa.. ternyata semua ini akan terjadi. ” ucapnya penuh kesedihan, “paman, bibi, Sinam.. lalu Himiko.. mereka semua terbunuh.. orang-orang yang sangat berharga bagiku..” air mata mulai menetes walau tersamarkan oleh hujan.
Hikasa melepas payungnya yang langsung terbawa arus hujan, “ayah memang penghianat desa, ayah sudah merencanakan semuanya dengan tiga desa besar, jadi kau bisa membenci ayah sekarang. ” ucapnya datar.
Hitomi menoleh Hikasa dengan cepat, “tapi apa alasannya..?! ” dia berteriak.
“masih terlalu cepat untukmu,Hitomi. suatu saat nanti kau pasti mengetahui kebenarannya. ” jawab Hikasa.
“tutup mulutmu, aku hanya butuh jawabannya.! ” teriak Hitomi. “jika dari awal aku tahu akan seperti ini, aku lebih baik memilih tinggal di desa dan mati bersama dengan mereka. ”
Judoro menatap kejadian tersebut, “sepertinya penguasa api memang belum memberi tahu anaknya apa-apa. ” gumamnya pelan.
Hikasa menatap serius Hitomi, “Hitomi, kau memiliki dua pilihan, setelah mengetahui kenyataan ini, kau bisa ikut dengan mereka atau tetap ikut denganku. ”
“cih, aku adalah anak seorang petarung yang hebat, bukan seorang penghianat. aku akan memilih jalanku sendiri. ” ucap Hitomi penuh kebencian. “dan suatu saat aku pasti membunuh mu.. ” lanjutnya.
Hitomi memandang pasukan musuh, “aku akan bergabung dengan pasukan yang telah menghancurkan desa.. ” ucapnya.
Judoro, Mikami serta Ikumo terkejut, mereka menatap Hitomi dengan wajah serius.
“benar, mulai sekarang aku akan berjalan sendirian, dijalan kegelapan yang selalu dibayangi oleh rasa bersalah, Sinam.. Himiko.. maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian, tapi jika kalian masih hidup, kita pasti bertemu di ujung jalan, mulai sekarang aku akan menjadi kuat, dan terus bertambah kuat, sampai berada di paling puncak.. ” batin Hitomi.
Hikasa terdiam sejenak, lalu melangkah mendekati Judoro, Mikami dan Ikumo, “jagalah dia sebaik mungkin, jika kalian membunuhnya, walaupun seorang diri aku bisa membunuh kalian dengan kondisi sekarang.. ” bisiknya penuh ancaman.
Tap.. Tap..
setelah itu, Hikasa melangkah bergegas pergi, sementara Hitomi tidak melihat sekalipun.
Hikasa menghentikan langkah, “Hitomi, jika kita bertemu lagi aku harap kau jauh lebih kuat. ” ucapnya tanpa menoleh. lalu kembali berjalan, antara ada dan tidak, air mata seperti menetes di pipinya, air hujan membuat semua itu samar.
Hitomi menatap tiga pasukan musuh, “walau sulit menerima kenyataan, mulai sekarang... aku akan hidup di desa yang telah menghancurkan desa ku, lalu menusuknya dari dalam.. ” batinnya.
Mikami menatap tajam Hitomi, lalu melirik Ikumo, “Ikumo, sepertinya bocah ini lebih pantas hidup di desa mu, aku takut membunuhnya jika aku selalu melihatnya. ” ucapnya.
__ADS_1
“tidak masalah. ” jawab ikumo.
disisi lain, Hikasa sudah jauh dari tempat Hitomi dan yang lainnya berada, dia menghentikan langkah dan menatap langit, “ayah, ini adalah jalan yang ku pilih.. bukan yang ku pilih, tapi tidak ada pilihan lain.. ” air hujan langsung menusuk wajahnya.